Halo!

Suling Emas Chapter 168

Memuat...

Berseri sedikit wajah Suma Kong yang tadinya keruh. Pangeran Kiang yang dimaksudkan puteranya itu memang betul bukan seorang yang cukup "berharga"

Untuk menjadi mantunya. Seorang pangeran miskin, sudah tiada ayah lagi, hanya mengandalkan Jenderal Cao Kuang Yin yang menjadi pamannya. Akan tetapi betapapun juga orang muda itu masih seorang pangeran! Tidak buruk!

"Sesukamulah. Akan tetapi atur supaya cepat-cepat menikah, dalam bulan ini juga. Siapa tahu..."

Suma Kong mengigit bibir dan menggeleng-geleng kepalanya.

"Aku mengerti, Ayah."

Demikianlah, dengan perataraan Suma Boan, urusan perjodohan itu dibicarakan. Pangeran Kiang adalah seorang pangeran muda yang tidak punya ayah lagi, menganggur, hidupnya hanya bersenang-senang, menjadi sahabat, murid, juga "antek"

Suma Boan.

Mendengar usul dan bujukan Suma Boan, serta merta ia menyatakan setuju dengan hati girang. Ibunya miskin, pamannya yaitu adik ibunya, Jenderal Cao Kuang Yin yang terkenal, adalah seorang pembesar bu (militer) yang jujur dan setia sehingga hidupnya sederhana dan tidak kaya raya, sehingga bantuan dari paman inipun hanya sekadarnya. Kalau disatu pihak Pangeran Kiang Ti girang bukan main atas usul Suma Boan, karena dia sendiri sampai mati pun tidak berani lancang melamar puteri Pangeran Suma Kong yang kaya raya itu, adalah dilain pihak Suma Ceng mendengarkan berita yang disampaikan kakaknya itu, dengan banjir air mata.

"Koko... ah, mengapa begini...?"

Ratap tangisnya.

"Dimana... Kanda Bu Song...? Kau apakan dia...? Suma Boan marah sekali kepada adiknya, akan tetapi kasih sayangnya sebagai seorang kakak membuatnya kasihan juga. ia mendongkol bahwa dalam keadaan seperti itu adiknya masih saja memikirkan Bu Song!

"Ceng Ceng! Kau ini puteri seorang bangsawan agung! Puteri seorang pangeran besar! Pergunakanlah pikiranmu dan akal sehat. Mengapa kau merendahkan diri sedemikian rupa? Apakah kau hendak menyeret nama baik ayah dan keluarga kedalam lumpur?"

"Aku... aku... cinta padanya, Koko..."

"Setan! Sudah, jangan sebut-sebut lagi namanya. Bu Song sudah mampus!"

Ceng Ceng menangis tersedu-sedu.

"Kau bunuh dia...! Ah, kau bunuh dia, Koko... kenapa kau tidak bunuh aku sekali...!"

"Goblok? Kalau tidak ada kakakmu ini yang berjuang mati-matian, apa kau kira sekarang kau masih hidup? Ayah lebih senang melihat kau mati daripada kau bermain gila dengan seorang macam Bu Song."

"Ohhh..., Ayah...!"

Suma Ceng makin sedih mendengar hal ini.

"Dengar, Ceng-moi. Mengadakan hubungan gelap, apalagi dengan seorang yang kedudukannya rendah, hukumannya hanya mati bagi seorang gadis bangsawan. Akan tetapi aku berhasil meredakan kemarahan Ayah dan mengusulkan agar kau dijodohkan dengan Pangeran Kian Ti."

"Aku tidak mau... tidak sudi...!"

"Plak!"

Suma Boan menampar pipi adiknya sehingga Suma Ceng hampir terpelanting jatuh.

"Auuhhh!"

Suma Ceng berdiri, memegangi pipinya dan memandang dengan mata terbelalak kepada kakaknya. Biasanya, kakak kandungnya ini amat mencintanya, tidak pernah memukulnya. Maka ia menjadi kaget dan heran, lupa akan kesedihannya dan memandang dengan mata terbelalak.

"Ceng-moi, kau tahu apa artinya kalau perbuatanmu yang tak tahu malu ini diketahui orang luar? Cemar yang menimpa keluarga kita berarti menodai nama keluarga raja! Dan akibatnya, tidak hanya kau yang menerima hukuman, juga Ayah dan kita sekeluarga! Mungkin Ayah akan dihentikan, dipecat, dan dibuang! Nah, inginkah kau melihat hal itu terjadi?"

Suma Ceng menundukkan kepala, terisak-isak dan menggeleng-gelengkan kepala. Suma Boan mendekati dan mengelus rambut adiknya.

"Kau tahu aku sayang kepadamu dan aku melakukan ini untuk kebaikanmu pula. Kiang Ti adalah seorang pemuda yang baik, dia keturunan pangeran setingkat dengan ayah. Tentang dia miskin bukanlah hal yang perlu dipikirkan. Bukankah Ayah keadaannya cukup? Nah, adikku yang manis, kau harus menurut demi kebaikanmu dan kebaikan keluarga kita."

Suma Ceng menubruk dan menyembunyikan muka didada kakaknya sambil menangis tersedu-sedu. Suma Boan mengelus rambut adiknya dan tersenyum, maklum bahwa bujukannya berhasil. Demikianlah, dalam enam bulan itu juga, secara meriah sekali Suma Ceng dikawinkan dengan Kiang Ti, pangeran yang miskin. Dibalik tirai yang menutupi mukanya, Suma Ceng menangis. Sebaliknya, Kiang Ti tersenyum-senyum girang. Memang ia pernah melihat Suma Ceng dan mengagumi kecantikan puteri pangeran ini. Kini gadis yang membuatnya rindu dan mabok kepayang itu secara tak terduga-duga dijodohkan dengannya.

Ia benar-benar merasa heran karena belum pernah ia mimpi kejatuhan bulan! Ia merasa untungnya baik sekalil. Akan tetapi, kurang lebih dua tahun kemudian setelah Suma Ceng menjadi isteri Kiang Ti, keadaannya menjadi terbalik sama sekali. Kini keluarga Suma Konglah yang merasa untungnya baik karena mempunyai mantu Kiang Ti. Seperti telah diketahui, Kiang Ti adalah putera seorang pangeran yang menjadi keponakan Jenderal Cao Kuang Yin. Dan kebetulan jenderal inilah yang menggulingkan tahta kerajaan, kemudian menjadi kaisar pertama dari Dinasti Sung! Tentu saja, Kiang Ti sebagai keponakan Kaisar, kini menjadi pangeran yang terhormat dan tinggi kedudukannya dan kerena itu, keluarga Suma juga ikut terangkat naik! Memang hal ini sedikit banyak ada pengaruhnya dan menguntungkan Suma Kong. Dia terkenal sebagai seorang pangeran yang korup.

Akan tetapi kaisar baru, yaitu bekas Jenderal Cao Kuang Yin, walaupun tahu akan watak korup pangeran ini, namun mengingat bahwa masih ada pertalian keluarga melalui Kiang Ti, tidak mau mengutik-utik tentang perbuatan-perbuatannya yang lalu, hanya memberi pensiun kepada Pangeran Suma Kong dan membiarkan keluarga pangeran yang sudah kaya raya itu pindah dari kota raja, ke kota An-sui. Adapun pangeran Kiang Ti yang masih keponakan Sang Kaisar, tentu saja dapat tinggal di kompleks istana yang megah, bersama isterinya yang telah mempunyai seorang putera. Pangeran Kiang Ti amat mencinta isterinya, dan karena sikap yang amat baik, penuh cinta dan penuh kesabaran dari Kian Ti ini maka sedikit banyak kepahitan hati Suma Ceng karena terpisah dari kekasihnya terobati.

Demikianlah keadaan keluarga Suma selama dua tahun itu, dan kini biarpun Suma Boan tinggal di An-sui bersama ayahnya, namun karena ia kaya raya dan masih terhitung keluarga kerajaan, ditambah pula dengan ilmu kepandaian yang tinggi sejak ia menjadi murid Pouw kai-ong, Suma Boan amat terkenal di kota raja. Siapakah yang tidak mengenal Suma Kongcu yang berjuluk Lui-kong-sian Si Dewa Guntur? Mengandalkan kedudukan keluarganya sebagai sanak kaisar, serta harta benda dan ilmunya, pemuda bangsawan ini malang melintang di kota raja dan sekitarnya tanpa ada yang berani mengganggunya.

Bu Song meninggalkan pantai selatan dan menuju ke utara. Akan tetapi baru saja ia meninggalkan pantai, ia mendengar suara aneh diatas kapalnya. Ketika ia memandang keatas, ternyata seekor burung yang buruk rupanya terbang melintas dekat kepalanya sambil mengeluarkan bunyi "kuk-kuk-kuk!"

Dan teringatlah Bu Song bahwa pulau Pek-coa-to tadi pun serasa pernah ia melihat burung ini, akan tetapi ia lupa lagi entah dimana. Burung itu adalah burung hantu, atau burung malam yang matanya berkilauan seperti mata kucing, bertelinga seperti kucing pula. Burung itu terbang cepat sekali dan lenyap didalam sebuah hutan kecil di depan. Hari telah menjelang senja ketika Bu Song mempergunakan ilmu lari cepat memasuki hutan kecil itu. Hutan itu kecil namun liar dan gelap, hutan belukar yang agaknya tidak pernah didatangi manusia. Banyak bagian yang gelap, apalagi karena disitu terdapat batu karang. Agaknya di jaman dahulu, air laut sampai dibagian daratan ini.

"Aduhhh...! Setan iblis siluman tak bermata! Perut orang diinjak-injak seenaknya, keparat!"

Bu Song juga kaget bukan main. Tadinya tidak ada apa-apa didepannya, bagaimana ketika ia berlari, kakinya sampai bisa menginjak perut orang tanpa ia ketahui? Betapapun suram dan agak gelap tempat itu, tak mungkin ia tidak melihat seorang tidur telentang didepannya menghalang jalan.

Tak mungkin! Tadinya benar-benar tidak ada siapa-siapa, bagaimana tahu-tahu kakek aneh itu dapat terinjak perutnya oleh kakinya? Ia demikian kaget sampai ia berjungkir-balik kebelakang dan mendengar suara marah-marah itu ia memandang penuh perhatian. Seorang kakek yang aneh. Tubuhnya pendek sekali seperti seorang anak berumur belasan tahun. Kakinya yang kecil telanjang, kedua tangannya juga kecil. Akan tetapi kepalanya besar, kepala seorang kakek tua renta penuh jenggot dan kumis panjang. Rambutnya panjang terurai. Benar-benar seorang kakek aneh dan kalau memang di dunia ini ada setan iblis atau siluman seperti makian kakek tadi, kiranya kakek inilah patut menjadi seorang diantaranya. Akan tetapi karena kakek itu pandai mengumpat caci, agaknya ia manusia biasa, pikir Bu Song. Cepat-cepat ia menjura dan memberi hormat.

"Mohon maaf sebesarnya, Kek. Saya tidak buta dan tidak sengaja menginjak perutmu, akan tetapi aku berani bersumpah bahwa tadi aku tidak melihat ada orang disini!"

"Memang tidak ada! Kalau aku tidak sengaja membiarkan perutku tersentuh kakimu, apa kau kira akan mampu menginjak perutku? Cih!"

Diam-diam Bu Song terkejut dan juga mendongkol. Ia dapat menduga bahwa kakek ini tentu seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan sengaja hendak mempermainkannya, karena ia benar-benar tadi tidak melihat ada orang tidur ditengah jalan. Hal ini saja sudah membuktikan betapa hebat ilmu kepandaian kakek itu sehingga dapat membiarkan dirinya terinjak tanpa dia yang mengijaknya melihatnya! Karena yakin bahwa kakek itu seorang sakti, ia cepat-cepat memberi hormat lagi dan berkata,

"Maafkan saya, Locianpwe (Orang Tua Sakti). Sesungguhnya seorang muda seperti saya mana berani bersikap kurang ajar terhadap seorang tua? Apalagi sampai menginjak perut Locianpwe, selain tidak berani juga takkan sanggup melakukannya. Bolehlah saya bertanya, Locianpwe siapakah dan apakah maksud hati Locianpwe mempermainkan seorang muda seperti saya yang tidak bersalah apa-apa terhadap Locianpwe?"

Tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak. Suara ketawanya amat tidak enak didengar, bukan seperti suara manusia. Bu Song teringat akan suara burung hantu yang tadi terbang lewat dan... benar saja, dari atas kini terdengar suara burung itu dan sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu burung hantu yang tadi itu kini sudah hinggap diatas pundak kanan kakek pendek itu!

"Siapa main-main? Aku sengaja membiarkan perutku kau injak atau tidak, itu urusanku! Tapi yang jelas dan tak dapat dibantah lagi, kau sudah berlaku kurang ajar menginjak perutku. Betul tidak? Hayo, kau sangkal kalau berani, kau... eh, siapa namamu?"

Kata-kata dan sikap kakek ini amat menggelikan, tidak karuan dan seperti orang gila, atau seperti anak kecil yang nasar (mau menang sendiri).

"Nama saya Bu Song, Locianpwe, she... Liu."

"Heh, Bu Song! Hayo bilang, kau tadi menginjak perutku atau tidak?"

"Heh... betul... tapi... tapi saya tidak sengaja Locianpwe."

Post a Comment