Mengapa cari ujung sebuah mangkok?
Mengapa cari titik awal akhir sebuah bola?
Akhirnya semua itu kosong hampa, sesungguhnya tidak ada apa-apa!"
Demikianlah bunyi sajak terakhir itu dan sampai tiga kali Ciu Bun membaca sajak itu, terus diikuti oleh tiupan suling Bu Song. Setelah habis, terdengar Ciu Bun berseru,
"Ya Tuhan....!!"
Bu Song memegang suling itu dan memandang Kakek Ciu Bun. Ia terkejut melihat wajah kakek itu makin pucat, seperti kehijauan, akan tetapi mata kakek itu bersinar-sinar, mulutnya tersenyum sehingga biarpun wajah itu amat pucat, namun seperti berseri-seri. Kedua kakinya ditekuk dan bersila, kedua tangan memegang kitab, lalu bibirnya bergerak.
"Dapat sudah sekarang... ya Tuhan, dapat sudah..."
Bu Song tidak mengerti, lalu bertanya hormat,
"Paman, apakah yang Paman maksudkan?"
"Bu Song, kau sudah hafal akan isi kitab?"
Tiba-tiba kakek itu bertanya, suaranya biasa kembali.
"Sudah, Paman."
"Kalau begitu tinggalkan kitab ini padaku dan kau bawalah suling itu pergi dari sini. cepat! Kau sudah tahu akan rahasia isi kitab dan suara suling. Bahagialah kau, Bu Song."
Bu Song mendekati.
"Akan tetapi, kalau Paman disini tertawan, marilah Paman ikut pergi dengan saya. Untuk apa tinggal dipulau berbahaya ini?"
"Tertawan? Berbahaya? Ahh, tidak sama sekali. Sudahlah, kau pergi cepat jangan sampai dia datang mendapatkan kau disini."
"Tapi, Paman..."
"Keraguan hati akan merintangi kemajuanmu, orang muda. Pergilah!"
Kakek itu berkata dengan suara tegas sehingga Bu Song tidak berani membantah lagi. Ia menjatuhkan diri berlutut didepan kakek yang bersila diatas batu, menghaturkan terima kasih lalu bangkit berdiri dan berjalan pergi dari situ, menuju ketempat ia mendarat tadi. Dibelakangnya ia mendengar suara kakek itu membaca sajak terakhir dan ketika tiba di dua kalimat terakhir, suara itu seperti berteriak girang.
Akhirnya semua itu kosong hampa, sesungguhnya tidak ada apa-apa!
Ketika Bu Song tiba ditepi pulau, diatas batu karang, ia melihat layar perahu nelayan itu dari jauh. Bu Song menaruh kedua tangan dipinggir mulutnya lalu berseru sambil mengerahkan khikang didadanya,
"Kak nelayan...! Kemarilah...!!"
Layar itu makin besar dan kini tampaklah perahu kecil itu bersama Si Nelayan yang berwajah ketakutan. Setelah perahu itu dekat, dalam jarak lima meter Bu Song lalu meloncat keatas perahu. Akan tetapi Si Nelayan memandang ke arah pulau dengan muka pucat dan tubuh menggigil, sehingga kedua tangannya tidak dapat lagi mengemudi perahu. Bu Song terheran dan cepat menoleh. Untung ia sudah berada diatas perahu karena ternyata ditepi pulau itu berdiri dua orang manusia aneh yang tadi menunggang kuda dan mereka itu membawa sebuah batu karang besar yang kini mereka lemparkan kearah perahu!"
Dua batu karang itu besarnya seperut kerbau dan dilempar dengan kekuatan dahsyat kearah perahu!
"Cepat jalankan perahu ketengah!"
Bu Song masih sempat berteriak dan ia melompat kebuntut perahu, memasang kuda-kuda dan ketika dua batu karang itu datang menyambar, ia menggunakan kedua tangannya mendorong sambil mengerahkan sin-kangnya.
"Byurrr...!"
Dua batu karang itu dapat terdorong menyeleweng dan jatuh keair, akan tetapi saking hebatnya tenaga lemparan itu, kedua kaki Bu Song melesak ke bawah karena papan atas perahu yang diinjaknya jebol! Selain itu, dua batu karang yang terbanting keair itu menimbulkan gelombang hebat sehingga perahunya miring dan hampir saja terbalik. Baiknya nelayan itu tahu akan bahaya dan sudah cepat-cepat mengatur keseimbangan perahunya, mengemudi layar dan cepat sekali angin besar mendorong perahu menjauhi pulau! Dua manusia aneh itu meloncat-loncat di tepi pulau dan sebentar saja lenyap.
"Kongcu.... Mereka itu tadi.... Siluman.... Atau ibliskah.....?"
Bu Song tersenyum. Biarkan para nelayan ini ketakutan agar tidak berani mendekati pulau Pek-coa-to, karena kalau mendekati pulau itu memang besar kemungkinan mereka akan tewas, mengingat betapa selain di pulau itu terdapat banyak binatang buas dan berbisa. Juga disitu tinggal Kong Lo Sengjin dan dua orang pelayannya yang gila dan kejam.
"Agaknya mereka itu iblis pulau. Untung kita dapat melarikan diri!"
Jawab Bu Song. Jawaban ini membuat nelayan itu makin ketakutan dan ia mengerahkan seluruh kecakapannya untuk berlayar secepat mungkin menyeberang kedaratan yang aman.
Bu Song menyimpan sulingnya diselipkan diikat pinggang dan tertutup baju. Ia maklum bahwa suling itu tentu akan menimbulkan perkara kalau sampai terlihat orang jahat. Orang-orang kang-ouw mencarinya tentu mengharapkan hikmatnya, sedangkan orang-orang jahat tentu juga menginginkannya karena harganya. Suling ini terbuat dari emas yang tentu saja mahal harganya. Setelah tiba didarat, Bu Song menambah hadiah sepotong perak kepada nelayan itu yang menjadi girang sekali karena hari itu ia benar-benar mendapatkan rejeki besar. Kemudian Bu Song meninggalkan pantai dan melakukan perjalanan cepat ke utara. Ia harus mencari suhunya dan menceritakan semua pengalamannya di Pulau Pek-coa-to.
Makin ke utara, makin ramailah ia mendengar orang bicara tentang perubahan besar di kerajaan. Ia mendengar bahwa seorang panglima besar yang gagah perkasa telah mengambil alih kekuasaan dan medirikan kerajaan baru, yaitu Kerajaan Sung! Juga mendengar bahwa kaisar baru ini amat murah hati, tidak akan menghukum siapapun juga asal tidak mengadakan perlawanan. Karena berita inilah maka di kota-kota kecil tidak timbul keributan, dan para pembesar melakukan tugasnya seperti biasa sambil menanti perkembangan lebih lanjut. Pada waktu itu, Bu Song berusia dua puluh tiga tahun. Maklum bahwa suhunya tentu memperhatikan perubahan di kota raja, ia mengambil keputusan untuk pergi ke kota raja mencari suhunya
Kita tinggalkan dulu Bu Song yang melakukan perjalanan menuju ke kota raja, dan mari kita menengok keadaan Suma Ceng, gadis bangsawan yang tak dapat menahan gelora cinta kasihnya sehingga mengadakan hubungan rahasia dengan Bu Song, pegawai ayahnya itu. Melihat betapa puterinya telah mencemarkan nama keluarga, Pangeran Suma Kong marah bukan main.
"Anak macam itu hanya akan menyeret nama orang tuanya kedalam lumpur kehinaan!"
Ia memaki setelah menerima laporan puteranya.
"Lebih baik mati daripada dibiarkan hidup! Boan-ji (Anak Boan), enyahkan saja dia dari muka bumi!"
Suma Boan terkejut. Ia juga merasa tak senang dan marah melihat adiknya melakukan perhubungan gelap dengan Bu Song. Akan tetapi betapapun juga Suma Boan menyayang adiknya. Ia tidak mempunyai saudara lain kecuali Suma Ceng. Bagaimana ia tega membunuhnya? Diam-daim ia merasa kecewa dan menyesal sekali mengapa Bu Song sampai dapat lolos dari tangannya.
"Ayah, harap ampunkan Ceng-moi. Betapapun juga, yang salah besar dan jahat adalah Bu Song. Ceng-moi seorang yang masih muda, tentu saja mudah dibujuk dan dipikat. Ayah, karena hal itu telah terjadi, maka sebaiknya kita mencari jalan keluar."
"Jalan keluar satu-satunya hanyalah menyuruhnya minum racun agar habis riwayatnya dan tidak mengotori nama keluarga kita!"
Bentak Pangeran Suma Kong marah.
"Bukan begitu, Ayah. Yang kumaksudkan adalah jalan keluar yang baik dan terhormat. Betapapun juga, Ceng-moi adalah adikku, mana aku tega kepadanya? Ayah, sahabatku Pangeran Kiang pernah melihat Ceng-moi dan pernah dalam keadaan mabok ia memuji-muji Ceng-moi didepanku. Ayah, aku dapat atur agar Ceng-moi segera dijodohkan dengan dia! Selain sahabat baik, dia pun belajar silat kepadaku, dan dalam segala hal, dia selalu menurut kepadaku."