Halo!

Suling Emas Chapter 149

Memuat...

"Sudah terlambat, Lu Sian. Dan lagi, apakah kau hendak menghancurkan kebahagiaan puteramu sendiri?"

"Apa...?"

Lu Sian meloncat mundur dan memandang wajah Kim-mo Taisu dengan mata terbelalak. Kim-mo Taisu tersenyum. Dadanya tidak terasa sakit lagi setelah semalam diobati oleh Lu Sian yang mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk memulihkan kesehatan bekas kekasihnya. Juga ramuan obat simpanan Lu Sian amat manjur untuk menyembuhkan luka didalam tubuh.

"Lu Sian, kau tidak tahu bahwa bertahun-tahun puteramu, Kam Bu Song, telah ikut denganku dan menjadi muridku. Malah kini ia akan menjadi mantuku."

Lu Sian terbelalak, mulutnya ternganga dan tak terasa lagi air matanya bertitik-titik turun membasahi pipinya. Rasa girang, haru, dan duka menyesak didadanya.

"Ceritakan..."

Dia berbisik.

"ceritakan tentang dia..."

Dengan singkat Kim-mo Taisu lalu menceritakan pertemuannya dengan Bu Song dan betapa Bu Song menjadi muridnya, kemudian betapa ia menjodohkan Bu Song dengan Eng Eng.

"Anakmu itu aneh, dan bijaksana tidak seperti kita, Lu Sian. Dia benci akan ilmu silat dan sama sekali tidak mau belajar ilmu silat, malah ia menganggap ilmu silat, suatu ilmu yang amat jahat."

"Hee...? Mengapa begitu? Kalau begitu, dia menjadi muridmu... belajar apakah?"

"Belajar ilmu membaca dan menulis, menggambar dan menulis indah. Belajar sastera. Malah sekarang ia hendak kusuruh menempuh ujian di kota raja, setelah lulus ujian barulah pernikahan dilangsungkan. Lu Sian, kau tentu setuju, bukan, demi kebahagiaan puteramu?"

Lu Sian menundukkan mukanya.

"Kalau begitu... dia... dia tentu membenciku..."

"Dia tidak membenci siapapun juga. Hanya, tentu saja dia tidak tahu bahwa ibunya adalah Tok-siauw-kwi..."

"Aahhh...!"

Lu Sian terisak menangis. Akan tetapi kekerasan hatinya segera menguasai hati dan pikirannya. Ia meloncat berdiri.

"Tidak peduli! Biar dia menjadi putera ayahnya, menjadi orang baik-baik, menjadi pembesar!"

Aku Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian lalu meloncat pergi dan meninggalkan Kim-mo Taisu.

"Lu Sian...!"

Kim-mo Taisu memanggil, akan tetapi wanita itu tidak kembali lagi.

Diam-diam ia menarik napas panjang, amat kasihan melihat nasib bekas kekasihnya itu. Ia maklum bahwa ceritanya tentang Bu Song tadi menghancurkan hati Lu Sian dan mendatangkan tekanan batin yang hebat sekali kepada wanita itu merasa kehilangan segala-galanya. Betapa tidak harus dikasihani kalau seorang wanita seperti Lu Sian itu, oleh perbuatannya sendiri diwaktu muda, setelah tua kini dimusuhi semua orang, bahkan tidak dikehendaki oleh puteranya sendiri? Kim-mo Taisu sendiri sama sekali tidak pernah bermimpi bahwa nasibnya sendiri juga amat buruk. Ia menyedihkan keadaan Lu Sian, menaruh kasihan kepada Lu Sian, akan tetapi sama sekali ia tidak tahu bahwa pada saat itu keluarganya tertimpa bencana hebat. Kwee Eng, puteri tunggalnya, satu-satunya orang yang menjadi keluarganya didunia ini telah direnggut maut nyawanya dalam keadaan yang amat menyedihkan!

Memang banyak sekali hal-hal terjadi di dunia ini yang amat menyedihkan dan membingungkan manusia. Banyak terjadi hal-hal yang kelihatannya tidak adil. Namun sesungguhnya tidaklah demikian adanya. Semua peristiwa yang terjadi sudah menjadi kehendak Tuhan yang mengatur dengan sesempurna-sesempurnanya. Hanya karena semua itu menjadi rahasia besar, maka manusia tidak dapat menyelaminya dengan akal dan pikiran, sehingga bagi manusia kadang-kadang kelihatannya aneh dan janggal serta tidak adil. Bagi pendapat umum, agaknya sudahlah sepatutnya kalau orang seperti Liu Lu Sian setelah tua hidup menderita oleh karena ia memetik buah daripada semua perbuatannya sendiri di waktu ia masih muda. Masih muda menjadi hamba nafsu, setelah tua timbul sesal dan duka. Akan tetapi bagaimanakah dengan Kim-mo Taisu? Mengapa ia selalu hidup merana dan sengsara? Bukankah dia seorang pendekar besar, seorang yang berbudi baik?

Mengapa ia pun mengalami hidup menderita di waktu tua? Memang sudah semestinya begitulah! Dunia ini berputar oleh dua sifat yang bertentangan dan saling dorong, saling menghidupkan. Ada terang ada gelap, ada panas ada dingin! Sudah semestinya begitu. Yang menderita karena gelap, yang menderita karena panas atau dingin! Bahagialah mereka yang tidak menderita karena terang atau gelap, karena panas atau dingin. Mereka inilah sesungguhnya manusia yang sudah sadar dan dapat menyesuaikan diri dengan segala peristiwa yang menimpa dirinya karena maklum bahwa semua itu adalah kehendak Tuhan! Segala peristiwa yang sudah semestinya terjadi di dunia ini, terjadilah sesuai dengan rencana-Nya dan kehendak-Nya. Tiada kekuasaan lain didunia yang mampu mengubahnya. Peristiwa pun terjadilah. Tidak ada susah atau senang. Susah atau senang merupakan hasil tanggapan si manusia yang menghadapinya. Manusia bijaksana dan sadar akan menerima penuh kesadaran dan kesenangan, baik peristiwa itu menguntungkan maupun merugikan dirinya.

Sebaliknya, orang yang belum sadar akan menerimanya dengan sorak-sorai kesenangan atau tangis keluh kedukaan. Penerimaan macam inilah yang akan membentuk akibat-akibat dan perbuatan-perbuatan yang tiada berkeputusan, membentuk lingkaran-lingkaran. Karma yang makin kuat membelenggu manusia. Kim-mo Taisu bukanlah seorang bodoh, akan tetapi ia seorang yang lemah. Peristiwa-peristiwa yang menimpa dirinya diterimanya dengan perasaan hancur dan menyebabkan ia menanam bibit kebencian dan dendam yang mendalam terhadap musuh-musuh keluarga isterinya. Kematian isterinya dan puterinya membuat pendekar ini hanya mempunyai satu cita-cita didalam hatinya, yaitu membalas dendam dan membasmi musuh-musuh keluarga isterinya. Mulailah ia merantau dan mulai saat itu, nama Kim-mo Taisu menjadi terkenal sebagai seorang yang sepak terjangnya menakutkan. Para tokoh yang merasa pernah bermusuhan dengan Kerajaan Tang, yang pernah bermusuhan dengan Kong Lo Sengjin atau Sin-jiu Couw Pa Ong diam-diam menyembunyikan diri, takut bertemu dengan Kim-mo Taisu yang amat hebat ilmu kepandaiannya itu.

Bu Song juga terpukul hatinya oleh peristiwa kematian Eng Eng. Akan tetapi ia seorang muda yang kuat menderita. Agaknya karena banyak menderita semenjak kecil, membuat hatinya menjadi kuat dan kebal. Tidak mudah ia runtuh semangat. Agaknya karena tubuh sehat batin kuat inilah yang membuat Bu Song dapat melakukan perjalanan cepat dengan penuh gairah hidup. Matanya yang tadinya redup sayu mulai bersinar-sinar lagi, kedua kakinya melangkah lebar. Berhari-hari ia melakukan perjalanan naik turun gunung. Ia mentaati pesan gurunya dan mulailah ia makan sarang burung rajawali hitam. Enak rasanya, gurih dan harum. Juga setiap kali makan perutnya terasa kenyang dan tahan sampai sehari tidak makan. Pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa benda yang dimakannya adalah obat kuat yang amat langka didapat, obat yang membuat darahnya menjadi bersih dan tulang-tulangnya menjadi kuat.

Setelah melakukan perjalanan lima belas hari, habislah bekal sarang burung itu dan mulailah ia mencari buah-buahan disepanjang jalan dan ada kalanya ia membeli masakan diwarung sebuah dusun yang dilaluinya. Bekal yang diberikan gurunya cukup banyak. Pada suatu hari ketika ia melalui sebuah lereng gunung yang terjal, ia mendengar suara orang bertempur. Suara itu datangnya dari bawah lereng dan yang membikin Bu Song tertarik dan kaget adalah suara melengking tinggi yang aneh, seperti orang tertawa akan tetapi juga seperti suara wanita menangis. Ia lalu mempercepat langkahnya menuju kearah suara itu. Benar saja, disebuah tikungan, ia melihat seorang wanita cantik sedang bertanding melayani dua orang laki-laki tua. Akan tetapi pertandingan itu amat aneh. Si wanita duduk bersila dibawah pohon, sedangkan dua orang laki-laki itu berdiri didepannya.

Yang seorang adalah kakek berkepala gundul bersenjata toya sedangkan yang kedua seorang kakek tinggi kurus berambut panjang dan berpedang yang berkilauan cahayanya. Anehnya, kedua orang kakek itu hanya mengancam dengan senjata mereka sedangkan Si Wanita hanya tertawa-tawa mengejek, sama sekali tidak bergerak dari tempat ia bersila. Pada saat Bu Song tiba ditempat itu dan mengintai dari balik sebuah batu besar, wanita itu berkata, suaranya merdu akan tetapi dingin menyeramkan.

"Sekali lagi kuperingatkan kalian. Jangan ganggu aku dan pergilah. Aku tidak memusuhi Siauw-lim-pai, juga tidak memusuhi Kong-thong-pai. Adalah partai kalian yang selalu memusuhi aku. Aku sudah bosan bertempur, bosan membunuh. Pergilah dan jangan ganggu aku!"

"Siluman betina, dendam diantara kita sedalam lautan. Harus ditebus dengan nyawa!"

Seru kakek itu sambil menggerakkan pedangnya membacok.

"Omitohud, Tok-siauw-kwi, pinceng juga bukan tukang berkelahi, akan tetapi dosamu terhadap Siauw-lim-pai sudah terlalu banyak. Kewajiban pinceng untuk menghukummu!"

Kata Si Hwesio pula sambil melangkah maju.

Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan suara lengking tinggi dan rambutnya yang panjang itu bergerak kedepan, berubah menjadi segulung sinar hitam yang menyambar dahsyat. Dua orang kakek itu terkejut sekali. sia-sia saja mereka menggerakkan senjata untuk membebaskan diri karena senjata mereka itu tahu-tahu telah terlibat rambut dan tanpa dapat mereka cegah lagi, senjata toya dan pedang itu sudah terbang pergi dari tangan mereka dan terlempar ke dalam jurang!

"Kalian bukan lawanku. Pergilah, aku beri ampun kalian!"

Wanita itu berkata lagi, tetap masih duduk bersila, bahkan kini meramkan mata seperti orang hendak samadhi. Akan tetapi dua orang kakek itu kelihatan menjadi makin marah.

"Tok-siauw-kwi siluman jahat! Kami tidak takut mati. Engkau atau kami yang harus mati saat ini juga!"

Hwesio itu menyambar sepotong ranting pohon dan mempergunakannya sebagai tombak yang ia lontarkan sepenuh tenaga ke arah wanita itu. adapun kakek dari Kong-thong-pai itupun mengeluarkan batang senjata piauw yang ia sambitkan sekuat tenaga kearah tiga bagian tubuh yang berbahaya.

Melihat ini diam-diam Bu Song merasa ngeri. Jarak antara kedua orang itu dan Si Wanita cantik yang duduk bersila meramkan mata dibawah pohon tidaklah jauh, sedangkan serangan itu luar biasa cepat dan kuatnya. Ia membayangkan betapa wanita itu akan tewas dalam keadaan mengerikan dan ada juga rasa penasaran didalam hatinya yang menganggap perbuatan dua orang laki-laki itu sama sekali tidak dapat dipuji. Jelas bahwa wanita itu sudah mengalah, akan tetapi dua orang itu nekat saja, bahkan melakukan penyerangan yang amat curang. Akan tetapi tiba-tiba mata Bu Song menjadi silau melihat cahaya terang keluar dari kedua tangan wanita itu. Entah apa yang terjadi ia tidak dapat mengikuti dengan jelas, akan tetapi tahu-tahu kedua orang kakek itu menjerit keras dan... dada Si Hwesio sudah tertusuk ranting yang ia lontarkan tadi, adapun Si Kakek mendekap dadanya yang dimakan oleh tiga batang piauwnya sendiri.

Hebat sekali luka mereka, dengan mata terbelalak mereka berputaran lalu roboh berkelojotan dan tak lama kemudian tewaslah kedua orang itu. Wanita itu mengeluarkan suara melengking keras seperti orang menangis. Ketika Bu Song memandang lagi, ternyata wanita itu sudah lenyap, tidak ada lagi ditempat tadi. Berdebar jantung Bu Song. Peristiwa yang amat hebat dan mengerikan terjadi didepan matanya. Peristiwa pembunuhan, lagi-lagi dilakukan oleh orang-orang yang memiliki ilmu tinggi. Ia keluar dari tempat sembunyinya, melangkah lebar menghampiri dua orang yang sudah menjadi mayat itu, lalu menarik napas panjang. Dengan hati rasa penasaran ia berdongak dan berkata dengan suara keras.

"Dendam! Pembunuhan! Bunuh-membunuh! Apakah hanya untuk ini manusia dilahirkan didunia?"

Kemudian Bu Song turun tangan, menggulung lengan baju dan membongkar batu-batu dibawah pohon, menggali lubang yang cukup lebar untuk mengubur dua jenazah kakek yang tidak dikenalnya itu. Sambil mengerjakan ini, wajah wanita itu terbayang didepan matanya dan berulang kali Bu Song menarik napas panjang. Wanita yang patut dikasihani, pikirnya. Hidup bergelimang dalam gelombang permusuhan yang tak dapat disingkiri dan yang agaknya mengejar-ngejarnya terus. Kali ia menang. Apakah lain kali akan dapat menang terus? Kepandaian tidak ada batasnya dan sekali waktu tentu wanita itu yang menjadi korban, tewas mengerikan seperti keadaan dua orang kakek ini.

Masih baik kedua orang kakek ini tewas didepannya sehingga masih ada yang mengubur jenazah mereka! Setelah selesai mengubur dua mayat itu, Bu Song mengebut-ngebutkan pakaiannya dari debu, menyandangkan bungkusan pakaian yang tadi ia turunkan, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu. matahari sudah condong ke barat dan dengan ujung lengan bajunya Bu Song menghapus peluhnya. Tiba-tiba ia berhenti dan memandang penuh perhatian kedepan. Tadi melihat bayangan berkelebat dan kini tahu-tahu didepannya telah berdiri Si Wanita cantik berambut panjang yang tadi membunuh dua orang kakek itu! Bu Song memandang jantungnya berdebar. Dilihat sepintas lalu, wanita ini tidak menakutkan sama sekali. Bahkan amat menarik dan cantik, akan tetapi pandang matanya dingin dan kerut pada mulutnya membayangkan sesuatu yang mengerikan.

"Mengapa engkau mengubur mereka?"

Wanita itu bertanya, matanya tajam memandang penuh selidik. Bu Song menengok kebelakang, kearah kuburan kedua orang kakek itu, lalu ia balas memandang dan menarik napas panjang. Sedikit pun ia tidak takut kepada wanita ini dan teguran wanita itu bahkan mendatangkan rasa penasaran didalam hatinya. Ia maklum bahwa wanita ini menderita batinnya dan berusaha menutupi penderitaan batinnya dengan sikap yang dingin dan keras.

Post a Comment