Maklum ia tidak dapat melepaskan diri dari jepitan yang amat kuat dan maklum pula bahwa lawannya ingin merampas wanita dalam panggulannya, ia sengaja melepaskan tubuh Eng Eng. Bu Song terkejut karena tiba-tiba tubuh Eng Eng dapat ia tarik sehingga hampir terbanting jatuh. Terpaksa ia melepaskan jepitan pada leher dan menerima tubuh Eng Eng. Siapa kira, monyet itu cerdik dan cepat sekali. Begitu lehernya dilepaskan, monyet itu membalik dan tiba-tiba Bu Song terpelanting karena perutnya dihantam sekerasnya dan dilain saat ketika tubuhnya terpelanting, Eng Eng telah berhasil diserobot kembali dan dipanggul terus dibawa lari.
"Binatang jahat, hendak lari kemana kau?"
Bu Song sudah bangkit lagi dan mengejar. Monyet itu ketakutan. Agaknya ia tahu bahwa lawannya amat kuat, dihantam sedemikian kerasnya tidak mampus bahkan mengejar lagi. Cepat monyet itu melompat-lompat dari batu ke batu naik ke puncak. Puncak Api yang menakutkan. Sebagai seorang manusia, Bu Song yang tidak terlatih tentu saja payah mengejar seekor monyet yang mengambil jalan pendakian yang amat sukar itu. namun Bu Song tidak gentar dan terus mengejar, walaupun ia mulai tertinggal jauh.
Bukan main sukarnya perjalanan ke puncak, amat curam dan sekali saja kaki terpeleset, tentu tubuhnya akan melayang ke bawah ratusan meter dalamnya dan akan terbanting hancur di atas batu-batu karang di sebelah bawah. Kalau saja ia tidak sedang marah dan gelisah memikirkan nasib Eng Eng, agaknya biar Bu Song seorang pemberani pun akan ngeri kalau melihat ke bawah. Ia mengejar terus dan hanya beberapa belas meter lagi monyet itu tentu akan mencapai puncak.
"Binatang jahat, lepaskan dia...!"
Berkali-kali Bu Song berseru marah dan mempercepat pengejarannya. Tiba-tiba terdengar kelepak sayap dan tampaklah tubuh burung rajawali hitam yang besar itu menyambar turun. Melihat burung itu, Bu Song cepat berseru,
"Hek-tiauw-ko (Saudara Rajawali Hitam), tolonglah Eng Eng. Hajar monyet busuk itu!"
Aneh sekali. burung itu agaknya mengenal Bu Song yang telah menolong anaknya dan agaknya mengerti pula bahwa monyet itu musuh Bu Song. Ia menyambar kebawah dan dengan kuku-kuku yang runcing mengerikan ia mencengkeram ke arah kepala monyet yang memanggul tubuh Eng Eng! Namun monyet itupun bukan binatang sembarangan. Dengan geram marah monyet itu menggerakkan tangan kanannya menghantam. Burung rajawali menggerakkan sayapnya dan tubuhnya mumbul sedikit, mengelak hantaman monyet, kemudian mencengkeram lengan kanan monyet itu.
"Ceppp... kraakkkk!"
Sekali kedua kaki rajawali bergerak, lengan monyet itu hancur, daging kulitnya robek-robek, tulangnya patah-patah! Monyet itu memekik keras dan karena ia menggunakan tangan kirinya untuk menghadapi lawan yang kuat itu, tanpa terasa lagi ia melemparkan tubuh Eng Eng dari pundaknya. Untung Bu Song sudah tiba disitu dan cepat pemuda ini menubruk Eng Eng dan mencegah tubuh gadis itu terguling kedalam jurang. Karena tempat disitu amat berbahaya dan satu-satunya tempat yang agaknya dapat dipakai merawat Eng Eng yang masih pingsan hanya di puncak yang tinggal beberapa meter lagi, Bu Song memanggul tubuh Eng Eng dan merayap naik sambil jalan memutar, menjauhi tempat pertempuran.
Agaknya pekik monyet tadi telah menarik datang kawan-kawannya karena dari atas puncak itu berloncatan banyak sekali monyet besar-besar seperti yang menculik Eng Eng. Namun monyet pertama begitu memekik, kepalanya sudah hancur dicengkeram rajawali hitam, dan begitu monyet-monyet itu datang menyerbu, terjadilah pertandingan yang amat hebat dan menarik. Monyet-monyet itu liar dan ganas dan agaknya andaikata rajawali hitam tidak pandai terbang, tentu ia takkan sanggup menghadapi monyet yang puluhan banyaknya itu. Namun rajawali hitam adalah seekor burung raksasa, dikeroyok puluhan ekor monyet itu ia sama sekali tidak menjadi gentar, bahkan kelihatan gembira sekali. sambil mengeluarkan suara menantang-nantang, burung itu terbang mengitari tempat itu dan sekali-kali menyambar ke bawah merobohkan seekor monyet.
Monyet-monyet itu memekik-mekik marah, berjingkrakan dan ada pula yang menyambitnya dengan batu. Hiruk-pikuk dibawah puncak itu, ramai sekali pertandingan antara rajawali hitam yang dikeroyok banyak monyet. Sementara itu, Bu Song mencapai puncak. Bukan main indahnya pemandangan di puncak itu. Puncak penuh dengan hutan pohon yang besar-besar dan berdaun merah. Inilah agaknya yang menjadi sebab mengapa puncak ini tampak kemerahan seperti api menyala dari jauh. Namun pada saat itu, perhatian Bu Song seluruhnya ditujukan kepada Eng Eng sehingga ia tidak mempedulikan keindahan pemandangan, melainkan cepat-cepat ia menurunkan tubuh Eng Eng diatas tanah.
"Eng-moi... Eng-moi..."
Bu Song mengguncang-guncang pundak Eng Eng dan merasa gelisah sekali melihat gadis itu meramkan mata dengan muka pucat. Eng Eng merintih lirih, menggerakkan kepala kekanan kiri dan membuka matanya perlahan. Pemandangan pertama ketika ia membuka mata adalah hutan kemerah-merahan di depannya. Gadis ini kaget, bangkit dan merangkul Bu Song, katanya,
"Song-ko... apakah kita berada di sorga?"
Bu Song mendekap kepala itu, memeluknya dengan hati sebesar bukit. Ia mencium rambut di kepala itu dan berbisik,
"Tidak, Moi-moi. Kita masih hidup, kita diselamatkan burung hek-tiauw yang kini masih bertanding dikeroyok banyak monyet jahat. Bagaimana, Moi-moi? Kau tidak apa-apakah? Tidak sakit-sakit tubuhmu?"
Mendengar suara penuh getaran ini terharulah hati Eng Eng. Perasaan wanitanya dapat menangkap rasa kasih sayang yang amat besar dari pemuda ini kepadanya. Ia mengangkat muka, menggelengnya kemudian merangkul leher Bu Song. Baru saja terlepas dari bahaya maut membuat hati kedua orang muda ini makin dekat dan saling menyayang. Kali ini Eng Eng tidak marah ketika Bu Song menciumnya penuh kasih sayang, ciuman yang dilakukan saking girangnya hati melihat kekasihnya selamat. Eng Eng tidak marah, malah tanpa sengaja ia mempererat rangkulannya. Tiba-tiba Bu Song mendorong tubuh Eng Eng kesamping sambil berkata kaget,
"Moi-moi, awas...!!"
Matanya terbelalak memandang kedepan. Eng Eng terkejut sekali, cepat memutar tubuh sambil melompat berdiri disamping Bu Song yang sudah berdiri pula. Dan ia pun terbelalak kaget ketika melihat bahwa didepan mereka telah berdiri seekor monyet berbulu merah yang besar sekali, lebih besar dari manusia! Bulu monyet ini halus dan merah, matanya juga merah dan taringnya putih mengkilat tampak jelas karena monyet ini meringis dan matanya memandang penuh ancaman. Mengingat bahwa kekasihnya tidak pandai silat, Eng Eng segera maju dan berkata perlahan,
"Koko, kau sembunyilah!"
Kemudian gadis ini dengan gerakan gesit sekali menerjang maju, mengirim pukulan ke arah dada binatang itu sedangkan kakinya membuat gerakan menyapu kaki.
Cepat sekali gerakan ini, namun monyet merah itu ternyata tidak kalah gesitnya. Anehnya, gerakan monyet itu seperti gerakan orang bersilat pula ketika ia melangkah mundur dan meloncat menghindarkan diri daripada sapuan kaki Eng Eng, bahkan sebelum kakinya turun ketanah, monyet itu sudah membalas dengan cengkeraman tangan yang berkuku panjang meruncing kearah pundak Eng Eng. Gadis ini cepat miringkan tubuhnya dan dari samping ia menendang. Puteri Kim-mo Taisu tentu saja memiliki ilmu kepandaian yang lumayan sungguhpun ayahnya diam-diam mengakui bahwa puterinya ini tidak begitu besar bakatnya. Tendangannya menyamping cepat sekali dan sebelum binatang yang amat gesit itu sempat mengelak, kaki gadis itu sudah mengenai lambungnya.
"Bukkk!!"
Eng Eng mengeluarkan seruan kaget.
Tendangannya tadi dilakukan dengan pengerahan tenaga cukup keras, akan tetapi ia merasa seakan-akan menendang sebuah batu besar, kakinya membalik dan terasa sakit sekali. akan tetapi monyet besar itupun agaknya kesakitan karena ia memekik dan menjadi makin marah. Dengan gerakan cepat dan dahsyat ia menubruk dengan kedua tangan dan kakinya seperti seekor harimau menerkam. Kembali Eng Eng mengelak dengan menggulingkan tubuh keatas tanah. Tubrukan luput, akan tetapi binatang itu sudah dapat berjungkir balik dan kini menyerang dan menerjang lagi. Tiba-tiba gerakan binatang itu terhenti karena Bu Song yang tidak tega melihat begitu saja kekasihnya berkelahi melawan binatang liar ini, sudah melompat maju dan karena Si Monyet membelakanginya, Ia telah menerkam pundak dan leher binatang itu, terus menggumulnya dan menjepit leher binatang dengan lengan kanannya, sedangkan lengan kirinya menjepit perut.
Binatang itu kaget dan meronta-ronta, menggereng dan kedua tangannya menangkap lengan Bu Song. Namun ia tidak dapat melepaskan diri dari jepitan tangan Bu Song yang amat kuat. Binatang itu menggulingkan diri, mereka bergumul, namun seperti seekor lintah menempel di kaki kerbau, Bu Song tidak dapat dilepaskan oleh monyet raksasa yang memekik-mekik marah. Celaka bagi Bu Song adalah kuku-kuku panjang dari tangan monyet itu yang mencengkeram lengannya. Biarpun Bu Song amat kuat, namun ia terlambat mengerahkan tenaga dalam yang diluar pengetahuannya telah memenuhi tubuhnya itu kearah lengan. Masih baik baginya begitu kuku-kuku itu menancap lengan, ia mengerahkan tenaga sehingga lengannya tidak sampai terobek. Kuat sekali monyet itu, tenaganya liar dan ganas, mereka bergulingan mendekati jurang!
"Koko, lepaskan dia...!"
Eng Eng berteriak penuh kengerian melihat betapa kekasihnya bersama monyet itu bergulingan dekat jurang yang curam. Gadis ini meloncat dekat dan mengerahkan tenaga memukul kepala monyet raksasa. Namun kembali ia terkejut karena kepalan tangannya tidak sanggup meremukkan kepala, bahkan terasa sakit. Namun bukan tidak ada pengaruhnya pukulan ini karena si Monyet kembali memekik kesakitan dan kedua tangannya yang mencengkeram lengan Bu Song terlepas.
Pemuda ini maklum pula akan bahayanya bergumul dekat jurang, maka ia melepaskan jepitannya dan mendorong punggung monyet itu sambil melompat kebelakang. Monyet itu marah sekali kepada Eng Eng yang dua kali telah memukulnya. Kini ia meloncat dan menerjang Eng Eng dengan pukulan-pukulan dan cengkeraman dahsyat, gerakannya tidak berbeda dengan ahli silat tinggi yang ahli dalam ilmu jiauw-kang (ilmu mencengkeram). Eng Eng berusaha mengelak, akan tetapi malang baginya, rambutnya yang tadi terlepas dan terurai panjang itu dapat tertangkap oleh tangan monyet yang terus menarik dan mengayunnya. Tubuh Eng Eng terbawa oleh ayunan ini. Monyet itu memekik dan mengerahkan tenaga melontarkan dan... tubuh Eng Eng tanpa dapat dicegah lagi melayang ke arah jurang yang amat curam!
"Eng-moi...!!"
Bu Song menjerit penuh kengerian dan kegelisahan melihat tubuh kekasihnya melayang masuk jurang. Ia lari kepinggir jurang dan ketika monyet itu menerkamnya, sekali menggerakkan tangan kirinya Bu Song berhasil membuat monyet itu terlempar! Dalam keadaan gelisah ini, secara tidak sadar Bu Song telah mempergunakan sin-kang yang sudah mengeram dalam tubuhnya sehingga sekali sampok tangan kirinya sanggup melemparkan monyet yang begitu kuat. Tanpa ingat akan bahaya lagi Bu Song lalu ikut meloncat kedalam jurang dengan tangan diulurkan untuk menolong Eng Eng. Tentu saja tubuhnya ikut pula melayang turun dengan kecepatan seperti burung terbang.
"Eng-moi...!"
Ia berseru keras sekali, seluruh perhatiannya tercekam oleh kekhawatiran akan keselamatan Eng Eng, seujung rambut pun ia tidak ingat bahwa dia sendiri melayang-layang turun menghadapi maut yang mengerikan.
"Koko...!"
Eng Eng berteriak, merupakan jeritan lemah karena gadis yang sadar akan maut yang mengancam ini telah pingsan! Barulah kini Bu Song sadar pula akan keadaan mereka. Namun seluruh hasratnya hanya tercurah untuk menolong dan menyelamatkan nyawa kekasihnya, maka ia lalu berteriak keras sekali, sekuat paru-parunya mengeluarkan suara itu.
"Hek-tiauw-ko...! Tolonggg...!!"
Karena tubuh Bu Song jauh lebih berat daripada tubuh Eng Eng, maka dalam luncuran kebawah ini ia lebih cepat menyusul tubuh Eng Eng. Dengan kemauan keras, Bu Song mengulur tangan dan berhasil memegang lengan Eng Eng. Akan tetapi kini karena kedua tubuh mereka menjadi satu maka berat badan menjadi bertambah dan mereka meluncur kebawah dengan kecepatan yang mengerikan. melihat kebawah Bu Song merasa seakan-akan buka mereka yang meluncur ke bawah, melainkan batu-batu karang dibawah yang melayang keatas menuju mereka!
"Hek-tiauw-ko...!"
Ia menjerit lagi dan terdengarlah bunyi kelepak sayap ketika burung rajawali hitam yang besar itu menyambar kearah mereka. Karena burung ini hanya mengenal Bu Song, maka agaknya hanya kepada pemuda inilah ia mau menolong. Cepat sekali kakinya sudah menyambar pundak Bu Song. Pemuda itu merasa pundaknya tertusuk kuku, akan tetapi maklum bahwa hanya burung ini yang akan mampu menolong mereka berdua,
Ia cepat menggunakan tangan kirinya merangkul keatas dan berhasil memeluk leher burung rajawali hitam, sedangkan tangan kanannya tetap memegang lengan Eng Eng. Berat tubuh mereka berdua terlalu berat bagi burung rajawali yang sudah lelah dan terluka karena dikeroyok monyet-monyet tadi. Maka betapapun ia menggerakkan sayapnya, ia tidak kuasa menahan luncuran kebawah dan melayang-layanglah mereka bertiga, biarpun tidak begitu pesat seperti tadi karena tertahan gerakan sayap burung yang berusaha mengangkat mereka, namun masih terus meluncur, tak tertahankan lagi! Burung itu mengeluarkan suara seperti orang merintih ketika mereka telah dekat sekali dengan dasar jurang, lalu burung itu mengerahkan kaki mengangkat tubuh Bu Song keatas sambil membalikkan tubuh sehingga tubuhyalah yang berada dibawah.