Halo!

Si Rajawali Sakti Chapter 74

Memuat...

"Heiittt! Jangan main-main! H jawab, ke mana semalam engkau per Hayo jawab!" Bu Eng Hoat menggaruk-garuk ke nya. Bukan main gadis ini, bertanya ngan nada seorang hakim memer terdakwa, atau seorang isteri menur»' suaminya. Dia merasa geli juga, m bayangkan dirinya menjadi suami gadis ini menjadi isterinya yang me "I ngkau jelas berbohong. Hayo katakan, toya ini milik siapa?"

riksa Ingin mengetahui ke mana sema suaminya pergi! "Aku..... aku " sukar dia menjaw

"Alaaaaa , akui saja sejujurn

Semalam engkau pergi ke gedung Mentf Liong, bukan? Engkau membunuh Ment Liong dan ini toyamu tertinggal di angan itu. Hayo mengaku saja, bukti sudah jelas!"

Bu Eng Hoat menghela napas panjat "Tidak akan kusangkal. Aku memang t malam pergi ke gedung Merteri Lior akan tetapi aku tidak membunuhnya

"Bohong lagi! Malam-malam ke sa bawa senjata bahkan senjatanya terti gal di sana dan Menteri Liong tew Kalau engkau tidak membunuhnya, v; kah engkau datang ke sana mau jala jalan lalu tersesat, begitu? Hayo m nyefah, atau terpaksa aku akan men gunakan kekerasan menghajarmu ieT dulu!"

Bu Eng Hoat 'mengerutkan allsn yang tebal. Hatinya mulai merasa pan Gadis ini menuduhnya secara keras tan memberi kesempatan kepadanya unti mberi keterangan. Watak pemuda ini tiang keras.

"Heh, gadis sombong! Kamu ini siapa i, lagakmu seperti seorang hakim! Ada j apakah engkau hendak menangkap u?" dia bertanya marah.

Eh-eh, aku ditugaskan oleh Istana 'l ik menjaga keamanan dan menangkap n jahat dan pembunuh macam kamu!" "Engkau menuduh aku bohong, engkau mdiri yang bohong! Tidak mungkin Is-Lma mempunyai petugas seorang anak prempuan kecil macam kamu!"

"Keparat! Aku adalah Hek I Lihiap >ng Kui Lin, kepercayaan Keluarga itana, tahu? Hayo engkau menyerah, lau harus kuparahkan dulu kedua kaki-

iu?"

"Siapa takut kepadamu? Mau tangkap *u? Cobalah kalau engkau mampu!" Bu I ng Hoat tiba-tiba menyerang dengan ksud untuk merampas toya dari tangan |

"Bangsat, jangan lari!" Kui Lin j melompat dan melayang turun menge Akan tetapi setelah tiba di halaman ya luas dari hotel itu, Eng Hoat berhen dan menanti Kui Lin. "Siapa hendak lari? Aku bukan pen cut. Aku tidak lari melainkan meno tempat yang luas. Nah, engkau bot maju mengeroyokku. Aku tidak bersa dan aku tidak sudi menyerah!"

Mendengar ini, Kui Lin menoleh mengangkat tangan kirinya menyet para perajurit pengawai yang sudah bo lari turun dari loteng.

"Kalian tidak boleh melakukan pen royokan. Biarkan aku sendiri yang nangkap pembunuh ini!" teriaknya perwira itu lalu memberi isarat ke, anak buahnya untuk mengepung saja laman itu agar si pembunuh tidak da melarikan diri.

Kini Kui Lin yang berhadapan deng Bu Eng Hoat berkata sambil tersenyu

K' gejek. "Nah, aku tidak akan melaku «i pengeroyokan! Sebaiknya engkau yerah saja sebelum aku mematahkan dua kakimu!"

"Bocah sombong! Aku tidak bersalah, pu bukan pembunuh, maka aku tidak Ikan menyerah kepadamu!" Lalu dia me-1« bahkan dengan senyuman mengejek, fcngkau boleh menggunakan senjataku h u, aku akan melawanmu dengan tangan ipsong!" Kui Lin semakin marah. "Ini tongkat |" ngemismu, aku tidak butuh!" Lalu se-lr ah melemparkan tongkat itu yang diterima oleh Bu Eng Hoat, Kui Lin h e loloskan pedang sabuknya dan tampak rahaya pedang itu berkilauan.

"Hemmm, dengan pedangku ini, mungkin bukan hanya kedua kakimu yang patah, melainkan lehermu yang akan putus. Maka, sebelum terlanjur mampus, katakan siapa namamu!"

"Aku tidak pernah menyembunyikan nama. Aku Bu Eng Hoat yang selalu nkan menentang segala bentuk kejahatan termasuk wanita galak sewenang-wenang seperti kamu!" Bu Eng Hoat sudah dengan tongkatnya.

"Haaaiiittttt !!" Tiba-tiba Kui

mengeluarkan pekik melengki.ig dan mulai menyerang. Tubuhnya berga cepat, dan pedangnya sudah meluncuw depan menusuk ke arah dada lawan. 1 dang sabuk milik Song Kui Lin ini ada pemberian gurunya, Louw Keng T<1 Tampaknya hanya sebatang pedang tF sekali sehingga dapat dilipat seba sabuk. Pedang itu lemas dan lentur, a' tetapi setelah dipegang oleh Kui ¿1 pedang itu seolah menyatu dengan ( ngannya sehingga dengan penyaluran t naga saktinya, ia dapat membuat peda itu menjadi kaku dan kuat seperti bc tebal yang mampu menembus batu k rang dan mematahkan besi!

Melihat tusukan yang secepat kil itu, Bu Eng Hoat segera menangkis ngan tongkatnya.

"Tranggggg !' Pertemuan ant

pedang dan tongkat itu membuat kedu nya tergetar. Diam-diam mereka t kejut karena dari pertemuan perta

|i 4a mereka itu saja mereka sudah ft tahui bahwa lawan mereka me-ki tenaga dalam yang amat kuat. Kembali Kui Lin menyerang, kini nya membacok dari atas ke arah % »la lawan, lalu kaki kirinya menyusul-¡1 tendangan ke arah perut lawan. Se- igan ini amat berbahaya karena lawan i.incing perhatiannya untuk menghadapi i angan pedangnya yang datang dari i sehingga tendangan susulan itu yang "pakan serangan inti pada saat lawan dang mencurahkan perhatiannya ke

Akan tetapi dengan tangkas sekali Hg Hoat menggerakkan tongkatnya de-,m jurus "Menyangga Langit Menekan imi", ujung tongkat kirinya menangkis dang lawan dari bawah dan ujung tong-.it kanannya menangkis tendangan kaki_ awan dengan cara m^r^kan.

"Cringgg dukkk'" Kembali serangan

m Lin gagal, bahkan kaki kirinya yang rtemu dengan tongkat terasa agak iyeri. la marah sekali dan makin mem-rgencar serangannya. Akan tetapi Bu

Eng Hoat tidak tinggal diam. Karen.i maklum bahwa gadis muda itu b benar amat hebat dan ganas, maka lain mengelak dan menangkis, dia mulai membalas dengan dahsyat. Ter lah pertarungan yang amat seru hebat, membuat mereka yang meny kannya menjadi bengong dan kagum, mikian cepatnya gerakan dua orang mj yang sedang bertanding itu sehingga dan mereka tidak tampak jelas. Y tampak hanya dua sosok bayangan ] bungkus gulungan sinar pedang dan I tongkat! Bagi mereka yang ilmu silat belum mencapai tingkat tinggi, t tidak dapat mengikuti jalannya per dingan dan tidak tahu siapa di an mereka yang menekan atau terta Apalagi mereka yang tidak paham i! silat bahkan mungkin melihat pertand an itu sebagai sepasang penari yang dang menari saja!

Akan tetapi Liu Cin yang berada situ pula dengan Hui Lan, terbangun suara gaduh itu dan ikut menonton, rasa khawatir. Liu Cin maklum bah

I nrang yang bertading itu memiliki I m la t yang tinggi dan keadaan mere- mbang. Bukan tidak mungkin se-3K di antara mereka akan roboh terberat atau Kahkan tewas. Tentu saja tidak menghendaki hal ini terjadi. , begitu tiba di pekarangan itu dia ra mengenal pemuda yang memain-sepasang tongkat itu. Pemuda yang ruh dia temui ketika pemuda itu me-fr mg Ang Hwa Niocu Lai Cu Yin! Sepit dia bergaul dengan Ang Hwa Niocu Cu Yin dan mengetahui orang ma-.., apa adanya wanita itu, baru dia hu bahwa pemuda itu berada di pihak n.ir. Pemuda itu adalah seorang pen- ar yang mendengar akan kejahatan i Hwa Niocu membunuhi para pemuda ka berkeras hendak membunuh wanita lis itu.

"Hui Lan, pemuda itu bukan pem-> h. Aku mengenal dia sebagai seorang idekar yang menentang kejahatan." >vik Liu Cin. "Hemmm, kalau begitu, gadis itu Jiilak boleh membunuhnya. Kita harus melerai perkelahian itu dan men kesempatan kepada pemuda itu ui membela diri dan memberi keteranga

Biarpun Liu Cin dan Hui Lin b suami isteri. bahkan bukan sepasang kasih resmi karena sampai kini Hui masih belum berani mengaku bahwa mencinta Liu Cm, namun di antara dua orang itu terdapat hubungan b; yang amat erat. Mereka amat peka sama lain dan hal ini terjadi setC mereka berdua melatih ilmu Tr a -te yang Sin- kun bersama-sama. Maka s kata-kata tadi sudah merupakan ke katan dan keduanya lalu melompat tengah halaman di mana Bu Eng i dan Song Kui Lin sedang bertanding se

Post a Comment