Bu-tek Siu-lam menahan guntingnya dan bertanya marah. Ia merasa penasaran sekali melihat ada seorang pemuda berani menandinginya, akan tetapi karena ia tahu bahwa pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang tidak sembarangan, tentu murid orang pandai dan cukup berharga untuk ditanya.
Hauw Lam menyeringai. Padahal di dalam hatinya, pertemuan senjata yang menggetarkan lengan dan membuat bahunya terasa akan patah itu telah mengagetkan hatinya. Namun ia masih tertawa-tawa untuk mengelabuhi lawan.
"Hehheh, siapa tidak mengenal Bu-tek Siu-lam? Biarpun belum melihat orangnya, namanya sudah dikenal semua orang termasuk aku. Siapa aku? Kau tanyalah kepada Nona itu, namaku Berandal karena aku suka berandalan. Kau tanya Guruku? Ada ratusan orang, terlalu panjang kalau disebut satu demi satu"
"Bocah ingusan, Tak kau sebut juga apa kau kira aku tidak bisa mengenal ilmu silatmu ceker ayam? Kau bergeraklah.."
Setelah berkata demikian, sambil terkekeh genit Bu-tek Siu-lam sudah menerjang maju lagi, kini ia menyerang dengan gerakan yang amat lihai. Gerakan guntingnya membentuk lingkaran lebar yang melingkari tubuh Hauw Lam dan menutup semua jalan keluar.
"Aiihhh, hebat. Eh, Siu-lam, kau memang tampan, biarpun sudah tua bangka. Kau ini laki-laki atau wanita?"
Tang Hauw Lam biarpun harus cepat mengelak dengan repot karena gunting itu menyambar-nyambar dari segala jurusan, namun masih sempat berkelakar untuk memanaskan hati lawan.
Di samping ini, memang pemuda ini cerdik luar biasa. Ia kini maklum bahwa ejekan-ejekannya tadi berhasil membuat lawannya panas hati dan penasaran dan tentu tokoh aneh ini akan berusaha sedapat mungkin mengenal ilmu silatnya dengan cara menyerang dan mengurung agar ia mengeluarkan ilmu silat simpanannya untuk dikenal. Ia dapat menduga bahwa kakek tampan itu tentu segan membunuhnya sebelum berhasil mengenal ilmu silatnya. Karena inilah Hauw Lam lalu menyambut serangan-serangannya dengan ilmu silat yang ia peroleh dari petunjuk-petunjuk gurunya yang terakhir, kakek sakti yang luar biasa, yang muncul dari dalam kuburan, yaitu Bu-tek Lojin. Karena itu, gerakan-gerakannya amat aneh dan betapapun gunting di tangan Bu-tek Siu-lam menerjang dan mengurungnya, namun pemuda itu dapat membebaskan diri daripada lingkaran, bahkan membalas dengan sambaran goloknya yang bukan tak berbahaya bagi tokoh barat itu.
Sementara itu, melihat munculnya Tang Hauw Lam, Kwi Lan menjadi gembira dan ia cepat-cepat menghampiri Po Leng In. Begitu jari tangan Kwi Lan menggerayang dan menotok atau mengusap, pulih kembali jalan darah di tubuh Po Leng In. Wanita murid Siang-mou Sin-ni ini merasa malu sekali. Rambutnya terbabat separuh, tinggal segumpal lagi. Kini ia menggunakan tangan kiri memegang rambut berusaha menutupi dadanya yang telanjang, tangan kanannya mengambil pedangnya, lalu ia sejenak memandang wajah Kwi Lan. Kemudian ia membungkuk dan berbisik.
"Terima kasih banyak, mudah-mudahan aku akan dapat membalas budimu. Kau lihai sekali dengan kerikil kecil sanggup memukul runtuh pedangku dari tangan Bu-tek Siu-lam."
"Kerikil? Meruntuhkan pedang? Aku tidak.. ah, agaknya Si Berandal yang melakukannya."
"Si Berandal?"
"Yang bertempur melawan Bu-tek Siu-lam itu."
Wanita itu menengok dan mengerutkan keningnya. Biarpun pemuda yang disebut Berandal oleh penolongnya ini cukup lihai, namun jelas terdesak hebat oleh Bu-tek Siu-lam. Tiba-tiba pandang mata Po Leng In yang tajam melihat berkelebatnya bayangan putih, dan seorang pemuda pakaian putih telah berdiri di bawah pohon, tidak berapa jauh dari tempat itu. Ia memandang tajam dan pada saat itu, terdengar suara pemuda yang melawan Bu-tek Siu-lam, yang biarpun terdesak masih tertawa-tawa.
"Eh, eh, aku dengar kau ini bukan pria bukan wanita, kau banci. Heh-heh, lucu sekali. Apa kau sudah mengenal ilmu silatku?"
Bu-tek Siu-lam makin marah. Memang harus ia akui bahwa sampai belasan jurus pemuda itu melawannya, ia sama sekali belum dapat mengenal gerakan lawan, bahkan dasar gerakannya pun belum dapat menduganya dari cabang persilatan mana, Aneh, namun begitu cepat dan bertenaga. Saking panas hatinya, Bu-tek Siu-lam mengeluarkan senjatanya yang ke dua, yang biasanya hanya ia pergunakan kalau menghadapi lawan tangguh. Pemuda ini sebenarnya bukan lawan yang terlalu tangguh baginya, akan tetapi karena ia ingin memaksa Si Pemuda mengeluarkan ilmu silat simpanan agar dapat ia kenal asalnya, maka terpaksa ia mengeluarkan senjatanya jarum besar diikat benang. Dengan dua jari tangan kiri ia menjepit jarum itu, siap dipergunakan bila perlu.
"Heh-heh, memang kau bertubuh pria berhati wanita, maka selalu main-main dengan jarum dan gunting. Eh, kau sendiri tukang menggunakan senjata gelap berupa jarum, kenapa kau tuduh aku yang bukan-bukan menyerangmu secara menggelap?"
"Bocah setan. Kau tadi menyambitku dengan kerikil, sekarang tunggulah, setelah mengenal ilmu silatmu, aku akan menggunting-gunting tubuhmu kemudian menjahitnya kembali dengan jarumku ini"
"Heh-heh, tak mudah, sobat. Katanya kau suka sekali dengan laki-laki muda, apakah kau akan menjahit tubuhku lalu kau jadikan barang mainan? Cih, tidak tahu malu. Kalau laki-laki, kau tua bangka dan kakek-kakek, kalau wanita, kau juga sudah nenek-nenek. Siapa sudi.. aiiiihhh.."
Hauw Lam berseru terkejut dan cepat ia melemparkan tubuh ke belakang dan berguling sambil memutar golok melindungi diri. Gerakan memutar golok sambil bergulingan ini berasal dari ilmu golok Bu-tong, akan tetapi gerakannya membabat berlainan, kalau biasanya diputar dari kiri ke kanan, sekarang dari kanan ke kiri. Karena itu sungguh tidak tepat kalau dikatakan ilmu golok itu dari partai Bu-tong-pai. Pemuda itu menyelamatkan diri dari sambaran jarum dan gunting yang amat cepat dan bertubi-tubi.
"Aihhh, bukan berandal yang menyambitkan kerikil"
Kwi Lan berkata. Akan tetapi Po Leng In sudah melihat pemuda baju putih dan mengangguk-angguk, kemudian sekali lagi ia memberi hormat kepada Kwi Lan lalu berlari cepat meninggalkan tempat itu. Ia sudah dihina dan mendapat malu, kemudian tertolong oleh orang-orang muda yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi daripada ilmu kepandaiannya sendiri, maka Po Leng In merasa tidak ada gunanya berada di situ lebih lama lagi. Ia harus cepat pulang untuk melapor kepada gurunya.
Kwi Lan belum melihat pemuda yang muncul itu, pemuda berpakaian serba putih, karena perhatiannya tertuju kepada Hauw Lam yang mulai payah menghadapi lawan tangguh itu. Ketika ia bergerak hendak mencabut pedangnya dan meloncat membantu Hauw Lam, tiba-tiba berkelebat bayangan putih di depannya dan tahu-tahu seorang pemuda berpakaian putih berkata halus dengan ucapan serius dan telunjuk kanannya menuding ke arah pertempuran.
"Tahan, Nona. Lihat Bu-tek Siu-lam amat lihai. Kalau ia menghendaki, apakah tidak sudah tadi pemuda sembrono itu menjadi korban guntingnya? Bu-tek Siu-lam masih belum dapat mengenal ilmu goloknya yang aneh dan selama pemuda itu tetap dapat merahasiakan ilmu silatnya, ia takkan dirobohkan. Kalau Nona maju membantu, menjadi lain lagi halnya dan engkau bahkan membahayakan keselamatannya dan keselamatanmu sendiri."
Kwi Lan terkejut dan memandang orang yang tiba-tiba muncul dan mencegahnya membantu Hauw Lam itu. Ia seorang laki-laki muda yang berwajah serius, bahkan wajahnya membayangkan kematangan jiwa sehingga tampak guratan-guratan nyata. Wajah yang tampan dan penuh kesabaran, penuh pengertian, namun sinar matanya amat kuat berwibawa. Pakaiannya sederhana serba putih dari kain yang kasar, pakaian dan topinya seperti seorang pelajar. Usianya tentu sudah dua puluh lima atau dua puluh enam tahun. Ada sesuatu yang amat menarik hati Kwi Lan pada wajah orang ini. Namun hatinya mendongkol karena ia dicegah membantu Hauw Lam.
"Justeru karena Si Berandal terdesak maka aku akan membantunya"
Bentaknya penasaran karena ia anggap orang ini aneh, sudah tahu Hauw Lam terdesak mengapa malah melarangnya membantu? "Apa kau kira aku tidak mampu menandingi tua bangka genit itu?"
Tanpa menoleh kepadanya laki-laki itu berkata, suaranya tetap halus namun penuh kesungguhan.
"Dia itu lihai sekali dan keji, harap Nona jangan mendekat. Akulah lawannya dan biar aku membantu temanmu itu"
Sebelum Kwi Lan sempat membantah laki-laki itu sudah berkelebat ke depan, gerakannya ringan sekali sehingga mau tidak mau Kwi Lan menjadi kagum dan heran. Apalagi ketika pemuda itu menyerbu ke dalam pertempuran, terdengar Bu-tek Siu-lam berseru kaget dan meloncat mundur, ia makin kagum.
Pemuda itu telah mengeluarkan sepasang senjatanya yang aneh, yaitu sebatang pensil bulu dan pensil kayu di kedua tangannya. Senjata ini amat pendek dan amat kecil, juga lemah, akan tetapi mengapa Bu-tek Siu-lam terkejut dan menghindar sambil meloncat mundur? Ia tidak tahu bahwa dalam segebrakan saja, tadi, pemuda itu telah menotok tujuh belas jalan darah terpenting dengan sepasang senjatanya kalau mengenai sasarannya akan cukup kuat merobohkan lawan sekuat Bu-tek Siu-lam. Karena inilah Bu-tek Siu-lam terkejut dan terpaksa meloncat mundur menghindarkan diri.
Selagi Kwi Lan menonton dengan wajah tegang karena kini Bu-tek Siu-lam digempur oleh dua orang pemuda itu dan pertandingan berjalan amat cepat dan seru, tiba-tiba ada angin dahsyat menyambar ke arahnya dari belakang. Kwi Lan terkejut dan cepat membalikkan tubuhnya sambil menangkis, akan tetapi inilah kekeliruannya. Gadis ini tidak menduga dan tidak tahu siapa yang menyerangnya, maka ia yang amat percaya akan kekuatan sendiri lalu menangkis. Ia sama sekali tidak tahu bahwa yang menyerangnya dari belakang adalah Thailek Kauw-ong, tokoh yang paling lihai di antara kelima "dewa,"
Jadi lebih lihai daripada gurunya sendiri, Tangkisannya tidak ada artinya. Kalau ia mengelak, mungkin ia masih dapat menghindar dari bahaya, akan tetapi karena ia menangkis, lengannya ditangkap dan di lain saat pundaknya sudah dipencet, membuat gadis ini lemas kehilangan semua tenaga, bahkan tak dapat mengeluarkan suara lagi. Dengan mudah saja Thai-lek kauw-ong mengempit tubuh gadis itu di lengan kiri, lalu kedua kakinya berloncatan cepat sekali meninggalkan puncak.
"Heh-heh, biar dirasakan oleh Bu-tek Siu-lam. Dua orang itu akan membuatnya sibuk. Kalau aku membantu keenakan untuk dia"
Gerutu kakek gundul tinggi besar ini yang sama sekali tidak mempedulikan kesetiakawanan.
Sementara itu, Bu-tek Siu-lam yang tadinya merasa penasaran bukan main karena sebegitu lama belum juga dapat membuka rahasia ilmu silat Hauw Lam, tiba-tiba diserang pemuda baju putih dengan dua macam pensilnya. Ia kaget melihat gerakan ini karena mendatangkan dua macam angin pukulan yang berlawanan, juga gerakannya amat halus seperti orang mencorat-coret membuat tulisan, namun di dalam kehalusan gerak ini tersembunyi tenaga yang amat dahsyat. Tahulah ia bahwa pemuda baju putih ini bukan orang sembarangan pula. Diam-diam ia mengeluh. Pemuda berandalan yang bergolok besar itu sudah memiliki tingkat kepandaian yang jauh melampaui pemuda-pemuda sebayanya, bahkan memiliki ilmu silat aneh yang tak dikenalnya sama sekali. Sekarang muncul pemuda lain yang demikian dahsyat ilmunya. Benar di dunia telah muncul jago-jago muda yang amat hebat.
"Hi-hi-hik, bocah tampan dan halus. Kau siapakah dan mengapa menyerangku? Apakah kau sahabat dia.. eh, Si Berandal mentah ini?"