"Orang muda, sikapmu jauh lebih baik daripada ayahmu. Akan tetapi engkau tidak tahu mengapa aku menumpahkan semua makanan itu ke atas lantai. Aku terpaksa melaku-kan itu, dan siapapun yang menyuruhku, aku tidak akan sudi membersihkannya. Terserah kepadamu, akan tetapi aku tidak sudi membersihkan tumpahan itu!"
Sepasang mata yang jeli itu mengeluarkan sinar berkilat.
"Paman, aku tidak suka bermusuhan dengan siapapun, akan tetapi aku tadi mendengar tantanganmu kepada ayahku. Kalau engkau tidak mau membersihkannya, terpaksa aku akan mewakili Ayah untuk memberi hajaran kepadamu."
Sikap ini terlampau memandang rendah dan tentu saja Ciok Kim Bouw menjadi marah. Kiranya di balik kelemah-lembutan sikap pemuda ini tersembunyi kesombo-ngan yang luar biasa.
"Orang muda, tidak perlu banyak cakap lagi. Keluarkan senjatamu dan mari kau coba untuk memberi hajaran kepadaku!", tantangnya sambil melintangkan golok besarnya di depan dada. Golok besar dan berat, berkilauan saking tajamnya dan nampak mengerikan. Ciok Kim Bouw adalah seorang yang lihai, dan dengan golok di tangannya, dia seperti seekor harimau tumbuh sayap. Para tamu ingin sekali melihat bagaimana putera tuan rumah ini akan menghadapi Ciok Kim Bouw atau Cin-sa-pangcu yang lihai itu dan senjata apa yang akan dipergunakannya. Akan tetapi, betapa kaget dan heran hati mereka ketika melihat pemuda itu tersenyum berkata lembut,
"Paman, pergunakanlah golokmu, aku akan menghadapimu dengan kedua tangan kosong saja."
Ciok Kim Bouw sendiri terbelalak mendengar ini. Betapa sombongnya anak ini, pikirnya. Menghadapi golok besarnya dengan tangan kosong? Siapa tokoh di dunia persilatan akan berani melakukan hal itu? Akan tetapi, pemuda itu sendiri yang mencari penyakit. Dia akan menghajar pemuda ini, tentu saja tidak berniat untuk membunuhnya atau melukai-nya secara hebat.
"Baiklah, agaknya engkau memiliki kepandaian yang setingkat mendiang guruku maka berani menghadapi golokku dengan tangan kosong. Nah, bersiaplah untuk menerima seranganku, orang muda yang sombong!"
Ciok Kim Bouw memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk mempersiapkan diri dengan memasang kuda-kuda, akan tetapi, pemuda itu tetap berdiri seperti tadi, seperti orang bermalas-malasan, dengan kedua lengan tergantung di kanan kiri, berdiri seenaknya.
"Aku sudah siap siaga, Paman. Mulailah dengan seranganmu!"
"Bagus! Lihat golokku!"
Bentak Ciok Kim Bouw sebelum menyerang dan di lain detik, goloknya telah berubah menjadi sinar menyilaukan mata yang menyambar-nyambar. Golok itu membuat gulungan sinar putih yang lebar, dan menyerang ke arah pemuda itu dari berbagai jurusan, bertubi-tubi dan susul menyusul, ganas bagaikan seekor burung garuda menyambari anak-anak ayam. Kalau tadinya para tamu merasa terkejut dan khawatir, kini mereka memandang dengan mata terbelalak dan mulut celangap.
Mereka melongo melihat betapa tubuh pemuda itu pun lenyap dan kini hanya nampak bayangannya saja berkelebatan di antara gulungan sinar golok! Hebat bukan main tontonan itu. Kiranya pemuda itu memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa sekali, yang membuat dia dapat menyelinap di antara sambaran golok secara cepat. Diam-diam Ciok Kim Bouw sendiri terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa putera Siangkoan Lohan yang masih semuda itu telah memiliki ilmu yang demikian hebat. Dia merasa seperti menyerang sesosok bayangan saja, maka kalau tadinya dia hanya ingin mengalahkan pemuda itu tanpa melukainya, hal itu kini sama sekali tidak mungkin dan dia pun menyerang dengan sungguh-sungguh, mengerahkan tenaganya dan mengeluarkan jurus-jurus terampuh dari ilmu goloknya. Namun, tetap saja bayangan pemuda itu tidak dapat tercium ujung goloknya,
Bahkan kini pemuda itu membalas dengan tamparan-tamparan dan tendangan yang cepat datangnya, yang beberapa kali hampir saja mengenai tubuhnya. Dari serangan balasan ini pun dia sadar bahwa selain ilmu meringankan tubuh yang hebat, pemuda itu memiliki pula sin-kang (tenaga sakti) yang amat kuat sehingga tamparannya didahului angin pukulan yang mantap. Maklumlah dia bahwa dia menghadapi seorang lawan yang amat lihai. Pantas saja pemuda ini tadi demikian sombong-nya, tidak tahunya memang berkepandaian tinggi sekali. Para penonton kini banyak yang melongo dan penuh kagum. Bahkan Sin-kiam Mo-li sendiri sampai terbelalak kagum. Ia dapat menilai ilmu golok ketua Cin-sa-pang itu. Jauh lebih lihai dibandingkan dengan mendiang Louw Pa, ketua Cin-sa-pang yang dulu.
Ia sendiri tentu akan sanggup merobohkan Ciok Kim Bouw, akan tetapi jelas tidak dengan kedua tangan kosong! Dan kini apa yang dilihatnya? Seorang pemuda berusia muda sekali paling banyak dua puluh tahun, menghadapi ketua Cin-sa-pang itu dengan tangan kosong, bahkan ia melihat benar betapa pemuda itu mempermainkan lawannya! Bukan main! Dan pemuda itu demikian tampan, seperti perempuan! Kagumlah hatinya. Ia sudah mendengar betapa tuan rumah hanya memiliki seorang anak, yaitu laki-laki yang tidak pernah diperkenalkan kepada para tamunya. Bahkan ketika diadakan pesta tadi, pemuda ini tidak memperlihatkan diri. Sekarang, kemunculannya menggegerkan orang. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh lengannya. Sin-kiam Mo-li menengok dan ternyata Toat-beng Kiam-ong yang menyentuhnya dan memandangnya dengan alis berkerut.
"Engkau kagum melihatnya? Ingat, ada aku di sini...."
Bisik laki-laki itu, agak cemburu. Sin-kiam Mo-li tersenyum dan memutar lengannya sehingga tangannya dapat menangkap tangan Raja Pedang itu, lalu digenggamnya sejenak sebelum dilepas lagi.
"Ihhh, belum apa-apa sudah cemburu,"
Bisiknya kembali.
"Akan tetapi, hati siapa yang tidak kagum kepada pemuda itu? Masih begitu muda, akan tetapi kepandaian silatnya sudah demikian lihainya!"
"Tidak perlu diherankan, memang Siangkoan Liong amat lihai, mungkin sekarang malah lebih lihai dari ayahnya sendiri,"
Kata Giam San Ek yang mengenal baik keadaan keluarga sahabatnya itu.
"Ehhh? Bukankah ayahnya yang menjadi gurunya?"
"Benar, guru pertama. Akan tetapi dua tahun yang lalu dia bertemu dengan seorang manusia dewa yang menjadi gurunya...."
"Manusia dewa....?"
"Ssttt, lihat....!"
Kata Toat-beng Kiam-ong sambil menunjuk ke arah dua orang yang masih bertanding dengan seru itu. Sin-kiam Mo-li cepat menengok dan kini terjadi perubahan pada pertempuran itu. Gulungan sinar golok menjadi lemah dan menyempit, dan ternyata pemuda itu yang kini mendesak dengan tamparan-tamparan dan tendangannya yang dilakukan amat cepat dan dengan cara aneh dari segala posisi! Akhirnya, betapapun Ciok Kim Bouw hendak bertahan, sebuah tendangan mengenai tangannya yang memegang golok, disusul totokan pada siku kanannya.
"Tranggg....!"
Golok itu terpaksa lepas dari tangannya dan jatuh ke atas lantai! Ciok Kim Bouw berdiri tegak, memegang siku lengan kanan dengan tangan kiri dan memijit-mijitnya karena lengan kanan itu setengah lumpuh. Kemudian dengan muka berubah agak pucat dia mengangguk ke arah Siangkoan Lohan dan berkata dengan suara lantang,"
"Siangkoan Lohan, aku Ciok Kim Bouw hari ini mengaku kalah terhadap puteramu. Sudahlah, aku memang tidak berguna dan juga tidak sudi untuk bergaul dengan datuk-datuk sesat!"
Dia lalu memungut goloknya dan melangkah keluar dari tempat pesta. Dua puluh orang lebih yang tadi mendukungnya, kini juga bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu tanpa banyak cakap. Mereka adalah orang-orang yang selalu menentang golongan sesat, dan merasa betapa kini Siangkoan Lohan telah berubah dan mereka tidak mau ikut terlibat dalam urusan persekutuan dengan datuk-datuk sesat. Ketika mereka yang keluar dari tempat pesta itu tiba di ruang luar, ternyata masih ada lagi belasan orang yang ikut pula meninggal-kan tempat itu! Melihat ini, Siangkoan Lohan mengerutkan alisnya.
"Siancai"., kalau mereka semua dibiarkan pergi, tentu gerakan kita akan gagal sebelum dimulai!"
Kata Thian Kek Sengjin, tokoh besar Pek-lian-kauw itu kepada Siangkoan Lohan. Ketua Tiat-liong-pang itu mengangguk-angguk sambil mengerutkan alisnya, kemudian memberi tanda dengan tangan. Lima orang murid kepala cepat datang menghadap.
"Bawa teman-teman dan saudara-saudara secukupnya, mereka tadi harus dibasmi. Kalian tahu apa yang harus dilakukan,"
Katanya dan lima orang murid itu mengangguk, lalu menyelinap pergi.
"Aih, ini adalah tugas kita bersama,"
Kata Sin-kiam Mo-li.
"Aku akan membantu anak buahmu, Lohan."
"Aku akan membantumu pula, Sian-li,"