Halo!

Suling Emas Chapter 139

Memuat...

"Minggir! Sian-toanio sudah tiba!"

Mendengar seruan ini, para pengawal yang jumlahnya dua puluh orang lebih dan ramai-ramai mengeroyok seorang laki-laki berpakaian putih itu, mundur dengan girang. Sudah terlalu banyak teman mereka terluka oleh pemegang kipas yang lihai ini dan mereka tadi pun mengeroyok dari jarak jauh saja karena gentar.

Cepat mereka mengundurkan diri, memberi jalan kepada Lu Sian yang cepat melangkah maju. Mereka berdiri berhadapan, tak bergerak seperti arca, saling pandang dengan sinar mata penuh perasaan bercampur aduk. Karena jarak antara mereka kini hanya empat meter dan kebetulan sinar obor dan lampu terarah kemuka mereka, Lu Sian dapat mengenal laki-laki ini. Memang Kwee Seng! Sudah agak tampak tua, akan tetapi masih sama dengan dahulu! Malah lebih matang dan sinar matanya langsung menembus hati. Kwee Seng? Terdapat dorongan dihati Lu Sian untuk lari menubruk dan memeluknya! Begitu berhadapan, terjadi keanehan didalam hati Lu Sian. Seakan-akan seorang yang sudah lama merantau jauh dan merindukan kampung halaman kini bertemu dengan sahabat baik sekampung halaman. Seakan-akan ia menemukan sesuatu yang sudah lama terhilang dari dalam hatinya.

Terasa kegembiraan mendalam yang belum pernah ia rasai. Dilain pihak, Kim-mo Taisu bengong terlongong karena terheran-heran. Benarkah wanita jelita yang berdiri dengan sikap penuh wibawa didepannya ini adalah Liu Lu Sian, gadis lincah jenaka dan yang pernah menawan hatinya kemudian menghancurkan hatinya itu? Memang ia sudah mengharapkan bertemu dengan Lu Sian didalam istana ini karena ia sudah mendengar dari Kong Lo Sengjin bahwa Tok-siauw-kwi adalah Lu Sian. Akan tetapi kalau benar wanita ini Lu Sian, mengapa masih begini muda dan sama sekali tidak berubah sejak hampir dua puluh tahun yang lalu? Kalau wanita ini Lu Sian, tentu sudah berusia empat puluh tahun, akan tetapi mengapa masih tampak seperti baru dua puluh tahun usianya?

Para pengawal merasa heran pula karena kedua orang sakti itu tidak lekas-lekas bertanding mengadu ilmu, melainkan hanya berdiri saling pandang tanpa bergerak. Ada diantara mereka mengira bahwa kedua orang ini tentu sedang mengadu ilmu melalui pandangan mata! Tiba-tiba tubuh Lu Sian melesat cepat sekali menyambar kearah Kim-mo Taisu, akan tetapi mereka tidak saling serang, dan bagaikan seekor burung terbang, tubuh Lu Sian mencelat lagi keatas langsung melompat keatas genteng istana dan dilain detik tubuh musuh aneh itupun melesat lenyap mengejar. Karena cepatnya gerakan mereka berdua, para pengawal itu tidak tahu bahwa tadi Lu Sian membisikkan kata-kata kepada Kim-mo Taisu. Memang hal ini disengaja oleh Lu Sian. Dengan kepandaiannya, ia tadi berbisik ketika tubuhnya menyambar,

"Kwee-twako, kau ikutlah aku!"

Kedatangan Kwee Seng atau Kim-mo Taisu ke istana ini memang dengan niat menjumpai Tok-siauw-kwi yang menurut penuturan Kong Lo Sengjin adalah seorang diantara musuh-musuh isterinya, bahkan yang mengirim pembunuh itu ke Min-san.

Maka kini mendengar bisikan Lu Sian, ia cepat mengejar. Memang lebih baik lagi kalau ia dapat bicara dengan wanita itu tanpa terganggu orang lain. Namun ia merasa kaget dan kagum juga melihat gerakan Lu Sian. Bukan main hebatnya ilmu meringankan tubuh itu! sama sekali tidak boleh dikatakan kalah atau di bawah tingkatnya. Tentu saja ia tidak tahu bahwa Lu Sian sekarang bukanlah Lu Sian dua puluh tahun lebih yang lalu! Lu Sian sekarang telah mewarisi ilmu gin-kang yang tiada keduanya dari Hui-kiam-eng Tan Hui. Agaknya Lu Sian juga ingin memamerkan kepandaiannya, maka wanita ini menggunakan ilmu lari cepat sambil mengerahkan ilmunya. Larinya cepat sekali seperti terbang.

Namun ia sama sekali tidak merasa heran melihat kenyataan bahwa Kim-mo Taisu dapat mengejar dan mengimbangi kecepatannya. Memang ia sudah tahu betul bahwa Kwee Seng memiliki kepandaian yang amat tinggi. Hanya ia tidak tahu bahwa untuk dapat mengimbangi kecepatannya, Kim-mo Taisu juga telah mempergunakan seluruh kepandaiannya! Karena kecepatan yang luar biasa ini, sebentar mereka telah berada jauh diluar kota raja, di luar sebuah hutan yang sunyi dan jauh dari perkampungan. Kembali mereka berdiri saling berhadapan, di bawah sinar bulan yang muncul lewat tengah malam. Berdiri saling pandang tanpa bergerak maupun bicara sampai lama sekali.

"Kwee-twako...!"

Akhirnya Lu Sian mengeluarkan suara, setengah menjerit setengah mengeluh, lari menubruk dan merangkul leher Kim-mo Taisu lalu menangis terisak-isak didadanya.

Semua rindu dendamnya akan kebahagiaan, rindu terhadap puteranya, semua ia tumpahkan didada laki-laki itu. Semua kekecewaan hidupnya selama ini, ia carikan hiburan diatas dada yang lapang itu. semua rasa kasih sayang yang bebas daripada nafsu, ia rasakan kini bergelora dalam hatinya terhadap laki-laki ini. Selama ini, ia menganggap semua laki-laki sebagai hiburan dan permainannya sehingga ia merasa muak dan bosan. Ia haus dan rindu akan kasih sayang mulus dan murni disamping perlindungan seorang pria. Dan kini ia sadar bahwa andaikata dahulu ia menjadi isteri Kwee Seng, kiranya hidupnya tidak akan serusak sekarang ini. Dan kini ia telah bertemu Kwee Seng yang disangkanya telah mati. Belum terlambatkah dia?

Masih terbukakah pintu kebahagiaan baginya, setelah terombang-ambing gelombang permainan nafsu selama ini? Sudah terlalu banyak dosa-dosanya, penyelewengannya. Kalau saja Kwee Seng tahu akan semua sepak terjangnya, tentu... tentu...! Tiba-tiba ia sadar betapa hanya seketika tadi saja jari-jari tangan Kwee Seng membelai rambutnya, kini laki-laki itu sama sekali tidak membelai rambutnya, bahkan urat-urat tubuh itu menegang, kaku dan dingin. Tiba-tiba teringatlah Lu Sian bahwa kedatangan Kwee Seng malam hari itu adalah untuk mengacau istana. Padahal semua orang tahu bahwa Tok-siauw-kwi berada didalam istana itu! jadi kedatangan Kwee Seng adalah untuk memusuhinya! Seketika ia merenggutkan diri meloncat ke belakang, lalu bertanya dengan suara ketus.

"Kwee-twako! Dengan maksud apakah kau menyerbu istana Hou-han?"

Sikap dan pandang mata Kim-mo Taisu dingin ketika menjawab,

"Dengan maksud mencarimu, Tok-siauw-kwi."

"Kwee-twako! Kau sudah tahu bahwa Tok-siauw-kwi adalah aku. Apakah kau juga seperti mereka, memusuhi aku dan menyebutku Tok-siauw-kwi? lupakah engkau bahwa aku ini Liu Lu Sian?"

Sejenak jantung Kim-mo Taisu terguncang keras. Memang inilah Lu Sian, satu-satunya wanita yang pernah merampas cinta kasihnya secara mendalam! Akan tetapi ia mengeraskan hati dan dengan suara dingin ia menjawab,

"Tidak ada Lu Sian lagi didunia ini, dia sudah mati...."

"Kwee Seng...!!"

"Juga Kwee Seng sudah mati, yang ada sekarang Tok-siauw-kwi dan Kim-mo Taisu."

Watak Lu Sian memang keras. Biarpun ia sudah bukan orang muda lagi, namun kekerasan wataknya tak pernah hilang. Kini pandang matanya tajam, alisnya berdiri. Dibandingkan dengan Kwee Seng, ia dahulu bukan apa-apanya dan sama sekali bukan tandingannya, akan tetapi sekarang ia tidak takut. Bahkan ada keinginan hatinya untuk menguji kepandaiannya yang telah maju dengan hebat selama dua puluh tahun lebih ini.

"Hemmm, begitukah? Jadi selama ini engkau mendendam kepadaku karena peristiwa dua puluh tahun yang lalu itu? Dan sekarang engkau mencariku untuk membikin beres perhitungan lama?"

"Sudah kukatakan, tidak ada lagi urusan dahulu. Yang ada hanya urusan antara Tok-siauw-kwi dan Kim-mo Taisu."

"Bagus!"

Kata Lu Sian dengan suara mendongkol.

"Aku Tok-siauw-kwi, selamanya baru sekarang ini bertemu dengan Kim-mo Taisu. Apakah kehendakmu mencariku?"

"Tok-siauw-kwi, apakah engkau bersekutu dengan musuh-musuh keluarga Kerajaan Tang lama?"

"Siapakah mereka?"

"Diantaranya ada orang-orang Khitan, juga Ma Thai Kun, Pouw Kee Lui, dan terutama sekali Ban-pi Lo-cia."

"Cih! Mengapa aku harus bersekutu dengan orang-orang macam itu? Kim-mo Taisu, tuduhanmu ini sama sekali tidak masuk akal!"

"Tok-siauw-kwi, mengapa engkau memusuhi Kong Lo Sengjin?"

Lu Sian mengerutkan kening dan memandang tajam, kemudian tersenyum lebar dan diam-diam Kim-mo Taisu terheran-heran melihat deretan gigi putih dibalik bibir merah itu. Benar-benar tidak ada perubahan sedikitpun juga pada diri Lu Sian, pikirnya.

"Hik! Kakek lumpuh menjemukan itu? Heh, Kim-mo Taisu, aku tidak tahu hubungan apa adanya antara engkau dengan kakek lumpuh itu, dan aku tidak tahu pula mengapa engkau memeriksaku seperti seorang hakim memeriksa pesakitan. Akan tetapi dengarlah baik-baik. Secara pribadi aku tidak mempunyai permusuhan dengan Kong Lo Sengjin si kakek lumpuh. Akan tetapi karena aku tinggal di istana Hou-han dan dia datang menyerbu istana, tentu saja aku menghadapinya! Kalau kakek lumpuh itu tidak kuat menghadapi aku lalu minta bantuanmu, benar-benar lucu dan tak tahu malu!"

"Tok-siauw-kwi, mengapa engkau mengirim seorang pembunuh ke Min-san untuk membunuh keponakan perempuan Kong Lo Sengjin?"

Kim-mo Taisu bertanya memancing. Lu Sian bangkit kemarahannya. Ia membanting-banting kakinya ketanah, dan diam-diam Kim-mo Taisu merasa terharu. Benar-benar tidak ada perubahan pada diri Lu Sian. Kebiasaan membanting kaki kalau marah-marah pun masih sama dengan dulu!

"Kim-mo Taisu! Apakah engkau ini seorang gila? Kalau aku memang menghendaki nyawa seseorang, perlu apa aku menyuruh orang lain? Kalau aku ingin membunuh keponakan Kong Lo Sengjin, biarpun ada seratus orang keponakannya itu, apa kau kira aku tidak bisa melakukannya sendiri? Entah macam apa siluman betina itu sehingga engkau sampai bersusah payah mencari pembunuhnya dan menuduh aku pula."

"Siluman betina itu adalah isteriku..."

Post a Comment