"Seorang manusia kecil macam aku ini, apa artinya dibanding dengan kekuasaan Tuhan? Segala kehendak-Mu pasti terjadi, tiada kekuasaan didunia maupun akhirat yang mampu merubahnya...."
Kakek itu lalu bernyanyi dan turun dari batu karang, berjalan perlahan meninggalkan tempat itu. suara nyanyiannya terdengar makin perlahan dan akhirnya lenyap. Setelah suara kakek itu tak terdengar lagi, barulah Kim-mo Taisu bangkit berdiri sambil menarik tangan puterinya. Ia menarik napas panjang dan wajahnya membayangkan penyesalan dan kekecewaan hebat.
"Sayang sekali bahwa aku tidak dapat menaati nasihatnya dan pergi ikut dengannya, Eng Eng...."
"Siapakah dia, Ayah?"
"Dia seorang yang bahagia, Anakku, seorang yang sudah dapat membabaskan diri dari segala-galanya, dia disebut orang Bu Kek Siansu, manusia setengah dewa."
"Akan tetapi dia begitu peramah dan halus sikapnya, mengapa Kakek cebol dan Kong-kong yang sakti lari ketakutan?"
Kim-mo Taisu tersenyum.
"Bicara tentang kesaktian, Bu Kek Siansu sukar dicari keduanya, dan sukar diukur sampai dimana tingkatnya. Akan tetapi yang membuat ia disegani semua tokoh bukan hanya kesaktiannya, terutama sekali karena sikapnya. Ia tidak pernah melawan, tidak pernah mendendam, tidak pernah membenci, dan selalu mengulurkan tangan kepada siapapun juga, tidak peduli orang baik maupun jahat. Inilah yang membuat Bu Kek Siansu menjadi manusia sakti yang ditakuti. Orang-orang yang merasa telah berbuat sewenang-wenang mengandalkan kepandaiannya, segan dan malu berjumpa dengannya."
"Ayah, tadi Bu Kek Siansu menganjurkan Ayah supaya mengundurkan diri dan tidak melibatkan diri dengan urusan perang. Bukankah begitu? Kalau Ayah menganggap dia seorang yang amat mulia dan sakti patut diturut nasihatnya, mengapa Ayah masih melanjutkan niat Ayah mencari dan membasmi musuh?"
Kim-mo Taisu menarik napas panjang sebelum menjawab, lalu memegang lengan puterinya, diajak kembali ke pondok sambil berkata,
"Engkau tentu tahu akan semua penderitaan ibumu. Sesungguhnyalah, tadinya tidak sedikit pun hatiku tertarik akan persoalan perang, akan tetapi mengingat betapa ibumu menderita, mengingat pula akan harapan ibumu, maka aku harus membalaskan semua penderitaan itu kepada mereka yang menjadi sebabnya. Hanya dengan jalan ini sajalah aku dapat membalas budi ibumu, Eng Eng, seperti telah kukatakan tadi sebelum datang gangguan, aku akan pergi mencarikan tempat untuk Bu Song. Kau baik-baiklah disini bersama Bu Song. Paling lama dua tiga bulan aku tentu datang kembali."
Maka berangkatlah pendekar ini meninggalkan puncak Min-san. Niatnya hendak lebih dulu mengunjungi Shan-si dimana kini telah berdiri Kerajaan Hou-han. Selain hendak menyelidiki tentang kerajaan baru ini dan tentang kemungkinan masa depan yang baik bagi calon mantunya, juga ia hendak menemui Tok-siauw-kwi yang oleh Kong Lo Sengjin disebut-sebut sebagai seorang diantara musuh-musuh mereka! Dari Hou-han ia akan mengunjungi kerajaan-kerajaan lain, mencarikan tempat untuk calon mantunya menempuh ujian dan mendapatkan kedudukan. Sementara itu, Eng Eng yang ditinggal ayahnya dan kini sudah tahu bahwa dia ditunangkan dengan Bu Song, menanti pulangnya pemuda itu dengan hati berdebar-debar.
Ia merasa malu, bingung dan takut bertemu muka dengan pemuda itu, pemuda yang biasanya menjadi kawan bermain sejak kecil, yang ia anggap seperti saudara atau kakak sendiri. Kalau ia teringat betapa beberapa hari yang lalu Bu Song pernah menciumnya dan membuatnya tersipu-sipu sejenak biarpun bukan hal aneh kalau Bu Song menciumnya, seperti sering dilakukannya sejak mereka masih kanak-kanak. Dan Bu Song agaknya telah tahu akan perjodohan mereka ketika menciumnya kemarin dulu! Teringat akan ini, gemetar tubuh Eng Eng dan membuatnya gelisah ketika menanti pulangnya Bu Song. Entah sudah berapa kali ia meneliti bayangannya di cermin, akan tetapi selalu ia masih khawatir kalau-kalau ada sesuatu yang tidak beres pada rambut atau pakaiannya.
Lu Sian duduk termenung didalam kamarnya dalam istana Kerajaan Hou-han yang indah dan mewah. Keadaan mewah, kehidupan yang serba cukup, berenang dalam lautan kemewahan dan kedudukan tinggi mulia yang diperoleh semenjak ia tinggal didalam istana ini, mulai membosankannya. Kini hatinya risau. Ternyata pemuasan nafsu-nafsunya selama ini, memilih pangeran dan orang-orang muda sesuka hatinya, hanya merupakan kesenangan lahir yang sementara saja. Ia tetap merasa kurang puas, tetap belum dapat merasakan kebahagiaan hidup. Kesenangan tak pernah dapat puas, makin dikejar makin hauslah ia, dan akhirnya malah menimbulkan rasa muak dan jemu. Kebosanan menggerogoti hatinya setiap malam sunyi kalau ia sudah tidak ada hasrat pula memilih teman. Memang tiada kesenangan didunia ini yang akan dapat mendatangkan bahagia. Kesenangan lahir hanya akan dinikmati oleh tubuh dalam waktu singkat saja. Kesenangan lahir hanya indah apabila dikejar dan belum dapat diperoleh. Namun, sekali berada ditangan, kesenangan itu bukan kesenangan lagi, menimbulkan bosan.
Lu Sian duduk menghadapi meja, memandang lilin yang bernyala tenang karena terlindung dari gangguan angin. Ia merenung memikirkan keadaan dirinya. Dalam keadaan seperti itu, rindu yang hebat menggoda hatinya, rindu kepada puteranya! Belasan tahun sudah ia meninggalkan puteranya. Kini usianya sudah empat puluh tahun lebih. Puteranya tentu telah menjadi seorang pemuda dewasa. Alangkah rindu hatinya untuk dapat berjumpa dengan puteranya, dengan Bu Song! Seringkali air matanya bertitik turun apabila ia mengenangkan puteranya dan peyesalan menusuk-nusuk hatinya. Didalam istana ia selalu dilayani amat baik oleh Coa Kim Bwee, sahabat dan muridnya yang setia. Banyak sudah ilmu ia turunkan kepada wanita selir raja itu dan sekarang Kim Bwee telah menjadi seorang wanita yang berilmu tinggi pula. Namun Kim Bwee selalu bersikap hormat dan manis kepadanya.
"Aku harus pergi dari sini,"
Keluhnya dalam hati. Ia sudah bosan! Ingin ia bebas lagi, terbang melayang tanpa tujuan. Alangkah nikmatnya hidup bebas.
Kasihan Liu Lu Sian. Ia dipermainkan nafsunya sendiri. ia tidak tahu bahwa kebebasan liar seperti itupun hanya indah dan nikmat dalam khayalan belaka. Kenyataannya tentu akan jauh berbeda dengan khayalan. Ia kini merasa rindu kepada puteranya, ingin ia mencari puteranya dan hidup di samping puteranya. Ia kini maklum bahwa usia tua akan menelannya, perlahan akan tetapi tentu ia akan diseret ke jurang kematian yang tak dapat dielakkan lagi. Biarpun ia dapat mempertahankan wajah dan tubuhnya sehingga tetap kelihatan muda, namun ia tahu bahwa ia tidak akan dapat mempertahankan usia mudanya.
"Bu Song...!"
Ia mengeluh lagi, teringat betapa kini namanya sudah menjadi buah bibir orang. Betapa sebagian besar orang kang-ouw memusuhinya.
Dia tidak takut. Apalagi selama berada dalam istana ini, ia berada di tempat yang aman dan kuat. Sukar bagi musuh-musuhnya untuk mencapainya. Jangankan di dalam istana dimana ia mempunyai banyak teman dan pembela, bahkan andaikata ia berada di luar sekalipun ia tidak akan gentar menghadapi musuh-musuhnya. Akan tetapi kalau ia teringat akan puteranya, mau tak mau ia menjadi menyesal sekali. Bagaimana perasaan puteranya kalau tahu bahwa ibunya adalah seorang wanita yang dianggap iblis betina? Seorang wanita gila laki-laki dan suka mencari musuh? Padahal ia dapat menduga bahwa Bu Song tentu terdidik sebagai seorang laki-laki yang baik oleh ayahnya, Kam Si Ek! Ia teringat akan bekas suaminya ini, seorang laki-laki gagah perkasa yang menjujung tinggi kebajikan dan kesetiaan. Seorang laki-laki yang anti seratus prosen akan perbuatan maksiat!
Tiba-tiba Lu Sian tersentak kaget dan sadar daripada lamunannya yang menggores perasaan. Suara gaduh jauh di luar menyatakan bahwa disana terjadi pertempuran. Agaknya perusuh-perusuh itu datang lagi. Ia menarik napas panajng. Sudah banyak ia membunuh orang-orang yang menyerang istana. Sesungguhnya sama sekali tidak ada permusuhan antara dia dan penyerbu-penyerbu itu, karena mereka itu menyerbu dengan dasar permusuhan pengikut kerajan-kerajaan. Sudah banyak ia membunuh mata-mata dari Cin, kemudian Kerajaan Han Muda. Banyak pula pengikut-pengikut yang ia tahu adalah kaki tangan Kong Lo Sengjin, orang-orang yang menamakan dirinya pengikut setia Kerajaan Tang. Ia tidak senang melakukan pembunuhan ini, karena sesungguhnya ia hanya turun tangan untuk membela Kerajaan Hou-han. Padahal ia sama sekali tidak menempatkan dirinya sebagai pembela Kerajaan Hou-han. Akan tetapi ia tinggal di istana Hou-han, menerima kebaikan dari raja sendiri berikut keluarganya. Bagaimana ia dapat tinggal diam saja? Suara diluar makin gaduh.
Lu Sian tetap duduk tenang. Mudah-mudahan saja para pengawal akan dapat mengatasi perusuh-perusuh itu. atau andaikata para pengawal itu kalah, di sana masih ada Coa Kim Bwee yang ia tahu memiliki kepandaian tinggi. Ia mengharap agar malam ini ia tidak terganggu, tidak usah turun tangan menghadapi perusuh yang hendak mengacau istana Hou-han. Sebetulnya, baginya sendiri, ia tidak peduli aka keselamatan Raja Hou-han sekeluarga. Akan tetapi, ia ingat aka kebaikan Coa Kim Bwee dan karenanya merasa tidak enak hati kalau tidak membantu. Maka biarpun suara gaduh itu jelas membayangkan betapa para pengawal agaknya kewalahan menghadapi perusuh yang datang, ia tidak ambil peduli dan tetap tenang-tenang saja di dalam kamarnya. Akan tetapi kini ia tidak dapat melanjutkan lamunannya seperti tadi lagi. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dari luar dan Coa Kim Bwee masuk terhuyung-huyung, rambutnya riap-riapan, mukanya pucat dan kakinya terpincang-pincang.
"Cici... tolonglah dia amat lihai...!"
Katanya terengah-engah.
Lu Sian mengerutkan keningnya. Dari cermin disudut ia dapat melihat betapa Kim Bwee terluka kakinya, berdarah paha kirinya. Melihat rambut Kim Bwee yang awut-awutan itu, ia tahu bahwa selir raja ini telah mempergunakan ilmu mainkan rambut yang sudah lihai. Akan tetapi kalau sampai kalah padahal terang bahwa selir ini dibantu para pengawal yang cukup kuat pula, hal ini membuktikan betapa lihainya lawan yang datang menyerbu. Ia menjadi marah. Bukan marah karena musuh menyerbu istana dan melukai Kim Bwee melainkan marah karena penyerbuan musuh itu mengganggunya dari lamunan. Tanpa menjawab tubuhnya berkelebat keluar dari kamarnya setelah menyambar pedang dan menyelipkan pedang dipunggung. Dengan ilmunya yang hebat, sebentar saja Lu Sian tiba di tempat pertempuran.
Ia mengira bahwa yang datang tentulah musuh dalam jumlah banyak. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat bahwa ditempat pertempuran itu, para pengawal mengeroyok seorang lawan saja! Lawan itu seorang laki-laki bertubuh sedang, wajahnya tidak begitu jelas karena gerakannya sangat gesit dan keadaan disitu pun tidak terang, hanya remang-remang. Akan tetapi melihat laki-laki itu menghadapi lawan hanya mempergunakan sebatang kipas yang kadang-kadang terbuka kadang-kadang tertutup, hati Lu Sian berdebar keras. Mungkinkah? Mungkinkah orang mati dapat hidup kembali? Mungkinkah orang terjungkal ke dalam jurang yang tak tampak dasarnya tidak mati? Mungkinkah Kwee Seng hidup kembali? Senjata kipas sehebat itu hanya Kwee Seng seorang yang dapat memainkannya, dan bentuk tubuhnya pun ia dapat mengenal. Karena penasaran, ia melompat dekat. Beberapa orang pengawal yang melihat munculnya Lu Sian, menjadi girang dan cepat berseru,