Halo!

Suling Emas Chapter 132

Memuat...
ID
ID
ID

"Lalu kalian ini hendak menyerbunya secara bagaimanakah? Dia pandai terbang, bagaimana kalian dapat mengejarnya?"

"Kami akan menyerbu sarangnya, Kongcu. Sudah kami ketahui dimana sarangnya, dipuncak batu karang sebelah selatan. Agaknya dia bertelur disana. Kita akan obrak-abrik sarangnya tentu dia akan lari ketakutan dan biar dia minggat mencari tempat lain! Hendak kami lihat apakah dia berani melawan api, ha-ha!"

Bu song tertarik sekali.

"Boleh aku ikut menonton?"

"Ha-ha, tentu saja boleh. Dengan adanya Kongcu, kami makin tidak takut terhadap burung raksasa itu,"

Jawab mereka. Berangkatlah rombongan itu sebanyak dua puluh lima orang. Kui Sam menjadi pemimpin rombongan berjalan didepan. Bu Song berjalan disampingnya. Mereka bernyanyi-nyanyi dan bersenda-gurau seperti seregu pasukan hendak maju perang melawan musuh! Diam-diam Bu Song mengalami kegembiraan yang belum pernah ia rasakan selama ini. Orang-orang ini benar gagah, pikirnya. Perjalanan mulai sukar, mendaki sebuah puncak yang penuh batu-batu seperti karang, runcing tajam dan kasar. Namun mereka adalah penduduk gunung yang sudah biasa melalui jalan seperti itu, maka perjalanan dapat dilanjutkan tanpa banyak kesukaran.

Hanya kini tidak ada yang bernyanyi lagi, tidak ada yang bersendau-gurau, karena keringat telah membasahi tubuh yang telah membasahi tubuh yang lelah dan hati mulai berdebar tegang. Makin dekat dengan sebuah batu karang berbentuk menara yang menjulang tinggi di puncak, makin berdebarlah hati mereka. Di ujung batu karang itulah si burung raksasa bersarang. Akhirnya mereka tiba dibawah batu karang seperti menara itu, terengah-engah menyusuti keringat. Tiba-tiba terdengar bunyi bercicit-cicit nyaring diatas batu karang, lalu terdengar kelepak sayap dan... mereka menjadi gelisah ketika tampak seekor burung hitam raksasa terbang melayang keluar dari atas batu karang. Inilah si Rajawali Hitam yang ganas itu. Bulunya kehitaman, matanya mencorong seperti api bernyala.

"Cepat nyalakan obor!"

Seru Kui Sam dan ramai-ramai mereka nyalakan obor. Ada yang mulai melepas anak panah ke arah burung itu karena si Rajawali kadang-kadang menyambar ke bawah sambil memekik-mekik nyaring. Akan tetapi, anak panah itu disampok runtuh oleh sayapnya yang besar seakan-akan anak-anak panah itu hanyalah mainan kanak-kanak belaka. Orang-orang itu berteriak-teriak dan mengacung-acungkan tombak serta obor. Benar saja, karena melihat api, burung itu tidak berani menyerang, hanya terbang mengitari mereka dari atas sambil memekik-mekik marah. Selama orang-orang itu berkumpul dan melindungi kepala dengan api, burung itu tidak berani apa-apa.

"Hayo kita keatas, kita bakar sarangnya!"

Teriak Kui Sam. Akan tetapi jalan pendakian keatas batu karang itu amat sempit, hanya dua orang saja dapat bersama mendaki keatas, itupun amat sukar. Kui Sam dan seorang lain lagi mendaki, akan tetapi baru kurang lebih tiga meter, burung rajawali itu menyambar dari atas.

"Awas...!!"

Teriak mereka yang tinggal dibawah. Kui Sam dan temannya terkejut, cepat mengangkat obor ditangan kanan untuk melindungi kepala sedangkan tangan kiri memegang batu karang yang menonjol. Bahkan Kui Sam menggerakkan tombak untuk menusuk ketika bayangan hitam itu menyambar. Akan tetapi, kibasan sayap yang besar dan amat kuat sekaligus memadamkan dua buah obor, mematahkan tombak dan membuat kedua orang itu terlempar jatuh kebawah! Baiknya teman-teman di bawah segera menerima tubuh mereka dan yang tertimpa ikut roboh bergulingan. Biarpun babak-belur, namun mereka selamat. Kembali burung itu menyambar, akan tetapi sambil memekik marah ia terbang keatas kembali setelah semua orang menyatukan obor dan mengacung-acungkan keatas.

"Dia takut api dan tidak berani menyerang kita!"

Kata Kui Sam yang masih merasa mendongkol.

"Akan tetapi mana bisa kita mendaki bersama? Paling banyak hanya dua orang yang bisa mendaki bersama, dan hal itu berbahaya. Menghadapi dua obor saja ia tidak takut!"

Kata yang lain.

"Kita gunakan panah api! Kita ikatkan benda bernyala diujung anak panah dan kita panahkan kebagian atas. Agaknya sarang itu berada dipuncak, dalam sebuah gua,"

Kata Kui Sam.

"Lihat itu...!"

Tiba-tiba Bu Song berkata. Pemuda ini sejak tadi menonton dan tidak ikut-ikut membawa obor. Ia merasa kagum bukan main menyaksikan gerakan dan sepak terjang burung rajawali hitam itu. ketika melihat penuh perhatian kearah puncak karang, ia tiba-tiba melihat tiga buah kepala burung muncul, tiga buah kepala burung yang lucu sekali karena tidak berbulu, matanya melotot. Semua orang berdongak memandang.

"Itu anak-anaknya. Kita serang dengan anak panah...!"

Kata Kui Sam. Lebih mudah dikatakan daripada dilakukan usul ini, karena selain terlindung batu karang yang menonjol, juga semua anak panah disapu habis oleh rajawali hitam yang melindungi anak-anaknya.

Bahkan terjadi ribut dan gempar ketika seorang diantara mereka tertusuk anak panah yang runtuh dari atas, tepat mengenai daun telinganya sehingga robek. Tiba-tiba Bu Song meloncat dari tempat duduknya. Ia sejak tadi memperhatikan anak-anak burung itu dan melihat betapa seekor diantara mereka agaknya tertarik oleh ribut-ribut di bawah, entah tertarik entah ketakutan, akan tetapi anak burung yang seekor ini bergerak-gerak makin kepinggir. Ia sudah khawatir sekali, maka begitu melihat anak burung itu tergelincir keluar dan jatuh kebawah, ia sudah melompat dan menerima burung kecil itu dengan kedua tangannya! Dari bawah burung itu kelihatan kecil, akan tetapi setelah ia terima dengan tangannya, ternyata sebesar bebek!

"Saudara-saudara, harap mundur. Tak baik ribut-ribut ini dilanjutkan!"

Bu Song berkata dengan suara keras. Entah suaranya yang berwibawa, entah karena mereka menganggap ia seorang pendekar murid Kim-mo Taisu, akan tetapi semua orang berhenti memanah dan mengundurkan diri, memandang kepada Bu Song yang memegang anak burung itu ditangannya.

"Sekarang aku mengerti."

Kata Bu Song.

"Rajawali itu mencuri kambing untuk memelihara anak-anaknya. Kalau anak-anaknya sudah pandai terbang, tentu mereka akan pergi meninggalkan tempat ini, karena asal mereka bukan disini."

Anak burung itu bercicit ditangan Bu Song dan induk burung beterbangan diatas, memekik-mekik dan menyambar-nyambar kearah Bu Song, akan tetapi tidak menyerang pemuda itu karena Bu Song mengangkat anak burung itu diatas kepalanya. Kemudian dengan tenang pemuda itu lalu mendaki batu karang berbentuk menara itu, perlahan-lahan dan hati-hati ia mendaki keatas. Burung rajawali hitam menyambar-nyambar lagi sambil memekik-mekik dan orang-orang dibawah sudah menahan napas melihat betapa burung besar itu menyambar kearah Bu Song.

Namun, burung itu tidak menyerang. Agaknya melihat pemuda itu memegangi anaknya sambil mendaki dan tidak membawa api yang ditakuti, burung itu dapat mengerti niat orang menolong anaknya. Setelah tiba dipuncak, Bu Song melihat sebuah gua yang besar. Kiranya didalam gua itulah sarang si Rajawali, karena lubang itu penuh dengan rumput kering. Ia menaruh anak burung itu didekat dua saudaranya, dua ekor burung kecil yang serupa dan yang memandang Bu Song dengan mata melotot-lotot lucu. Bu Song tertawa dan mengelus-elus kepala mereka. Tiba-tiba matanya tertarik oleh setumpuk benda putih kekuningan dipinggir sarang, benda seperti agar-agar kering.

Ia teringat akan cerita suhunya tentang khasiat liur burung yang sudah kering dalam sarang burung wallet, maka tanpa ragu-ragu ia lalu mengambil setumpuk benda itu, kemudian turun lagi kebawah. Burung rajawali itu mengeluarkan suara aneh terbang berputaran mengelilingi tempat itu dan matanya selalu melirik kearah Bu Song. Sama sekali ia tidak mengganggu Bu Song yang mendaki turun. Setibanya dibawah, orang-orang menyambut Bu Song dengan kening berkerut. Mereka merasa tidak puas karena belum berhasil membasmi musuh, malah pemuda dari puncak Min-san ini seakan-akan berpihak kepada musuh! Bu Song seorang pemuda yang luas pandangan cerdik. Ia maklum akan isi hati orang-orang itu, maka ia segera berkata,

Post a Comment