"Lie-kongcu, sekarang apakah syarat-syaratnya kalau aku menjadi pengawal pribadimu?"
"Syaratnya? Eh... syaratnya tentu saja kau tidak boleh berpisah dari sampingku, siang.. malam... jadi... eh, kau selalu mendampingiku dan kalau kau suka menerimanya, aku... aku akan berterima kasih sekali. Biar aku berlutut didepanmu....!"
Pangeran muda yang sudah tergila-gila oleh kecantikan Lu Sian itu benar-benar hendak berlutut! Dengan halus Lu Sian menyentuh pundaknya, melarangnya berlutut.
"Nanti dulu, Kongcu. Kau mempunyai syarat, aku pun mempunyai permintaan sebagai syarat. Pertama, aku harus mendapat kebebasan bergerak didalam istana ini, kecuali tempat tinggal Raja tentu saja."
"Baik, baik, hal itu dapat dilaksanakan."
"Kedua, diluar kehendakku, orang lain tidak boleh bertanya-tanya tentang diriku, dan ketiga, segala permintaanku harus kau turuti, juga setiap saat aku meninggalkan tempat ini, tak boleh ada yang menghalangiku."
"Baik, baik, asal Sian-li suka menjadi pelindungku, pengawal pribadiku yang tak pernah meninggalkanku siang malam..."
"Dan tentang berlutut itu, nanti malam saja boleh kau berlutut sepuas hatimu!"
Mendengar ini, Si Pangeran Muda menjadi girang dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu bangkit dan merangkul leher Lu Sian yang mandah saja terbuai dalam belaian Si Pangeran Muda yang muda dan tampan. Bahkan dengan halus ia berbisik.
"Senja telah lewat, disini sudah mulai gelap dan dingin, lebih baik kita masuk saja."
Menghadapi rayuan seorang wanita yang berpengalaman seperti Lu Sian Pangeran muda itu bertekuk lutut dan benar-benar jatuh. Sampai-sampai di dalam kamar Pangeran yang mewah dan bersih itu ketika mereka makan minum menghadapi meja, Si Pangeran menuruti segala perintah Lu Sian biarpun ia disuruh minum arak dari sepatu Lu Sian yang dijadikan cawan! Disuruh berlutut, disuruh mengembalikan perhiasan apa saja yang dikehendaki Lu Sian. Memang tidak ada kegelian yang lebih menggelikan dapat menghinggapi seorang pria daripada kalau ia sudah tergila-gila kepada seorang wanita!
Dua hari dua malam Lu Sian dan Pangeran Lie Kong Hian tak pernah meninggalkan kamar, tenggelam kedalam permainan nafsu. Pada pagi hari ketiga, ketika Lu Sian terbangun dari tidurnya, pangeran itu sudah tidak berada didalam kamar. Ia bangkit dan dengan malas-malasan Lu Sian duduk menghadapi cermin yang besar, mengambil sisir dan menyisir rambutnya yang dilepas sanggulnya dan terurai panjang sampai kepinggul. Rambutnya hitam halus, berombak dan berbau harum. Sambil tersenyum-senyum puas dan girang karena kini ia merasai kenikmatan hidup seperti seorang puteri istana, tiba-tiba ia mendengar suara ribut-ribut diluar. Cepat ia bangkit dan mengintai dari balik pintu kamar.
Kagetlah hatinya ketika ia melihat Pangeran Lie Kong Hie berdiri dengan muka pucat dengan kedua lengan terpentang, sedangkan didepannya berdiri seorang wanita muda yang cantik bersikap galak, membawa pedang ditangan dan dibelakangnya terdapat seorang gadis lain berpakaian pelayan, juga membawa pedang telanjang! Lu Sian cepat meraba kantung jarumnya, sambil mengintai ia bersiap dengan jarum-jarum merahnya. Ia tidak segera turun tangan karena hendak melihat dan mendengar dulu apa yang terjadi. Kalau gadis cantik itu hendak membunuh Kong Hian, tentu ia akan mendahuluinya dengan jarum-jarum yang tak pernah meleset!
"Kau bersekongkol dengan pemberontak!"
Si Gadis membentak dengan suara yang nyaring sedangkan matanya memancarkan sinar berapi,
"Hayo, serahkan dia kepadaku, ataukah kau benar-benar hendak membelanya karena ia kabarnya cantik jelita? Mata keranjang! Kau rela bersekongkol dengan pemberontak hanya karena dia cantik?"
"Tidak... tidak... Kim Bwee... eh, ibu... dia bukan pemberontak. Dia... dia pengawal pribadiku, dan malah menolongku daripada serangan kaum pemberontak!"
"Tapi dia Tok-siauw-kwi...!"
"Orang-orang jahat menamakan dia begitu akan tetapi dia seorang Dewi! Dia bukan pemberontak. Kim... eh, ibu... harap suka bersabar dan jangan menuruti hati cemburu..."
"Siapa cemburu?? Biar engkau kumpulkan... eh, seribu orang perempuan lacur, aku tidak peduli! Akan tetapi sekali engkau bersekongkol dengan pemberontak, pedangku sendiri yang akan menembus dadamu...!"
Wanita itu mengancam dan menodongkan pedangnya kedepan dada Lie Kong Hian. Sedangkan pelayan yang juga berpedang itu sudah bergerak mengurung.
"Chit-moi (Adik ke Tujuh)... tahan pedangmu...!"
Tiba-tiba terdengar jerit tertahan dan selir raja ke tiga, ibu Lie Kong Hian sudah datang berlari-lari dan memeluk puteranya, kemudian menghadang didepan puteranya memandang kepada wanita berpedang itu.
"Chit-moi, jangan engkau main-main dengan senjata tajam! Mengapa kau bersikap begini?"
"Sam-cici (Kakak ke Tiga), puteramu yang bagus ini bersekongkol dan menyembunyikan seorang perempuan pemberontak dalam kamarnya. Bagaimana aku dapat mendiamkannya saja? Bukankah hadirnya seorang pemberontak, betapa cantiknya pun, berarti membahayakan kita semua, terutama Sri Baginda?"
"Tenanglah, Chit-moi. Memang betul ada datang seorang wanita yang telah menolong nyawa Hian-ji (Anak Hian) ketika ia diserang pemberontak. Tentu saja kami percaya kepada penolong itu dan hatiku malah lega ketika mendengar bahwa ia suka menjadi pengawal pribadi anakku. Kalau ia pemberontak, mengapa ia menolong Anakku? Dan andaikata ia pemberontak sekalipun, hal itu bukanlah salahnya Anakku, melainkan dia yang menyelundup dengan tindakan palsu. Mengapa kau tidak menyelidikinya lebih dulu sebelum bertindak terhadap puteraku?"
"Memang aku akan menyelidikinya! Dia Tok-siauw-kwi, berarti dia pemberontak. Dia di kamarmu bukan?"
Pertanyaan ini ditujukan kepada Kong Hian yang menjadi merah sekali wajahnya, dan mengangguk.
Wanita berpedang yang cantik dan galak ini memang Coa Kim Bwee, selir ke tujuh Sri Baginda. Memang mudah diduga bahwa selain berkepandaian tinggi, Coa Kim Bwee yang masih amat muda dan cantik itu tentu saja merasa tidak puas menjadi selir ketujuh. Wataknya memang berandalan dan genit, dan Lie Kong Hian bukanlah satu-satunya "anak tiri"
Yang ia jadikan kekasihnya! Adapun tindakannya sekarang ini selain menaruh curiga, juga sebagian besar terdorong oleh rasa cemburu, mendengar bahwa seorang diantara kekasihnya yang paling ia sayangi ini mengeram seorang wanita cantik dari luar sampai dua hari dua malam! Coa Kim Bwee bersuit dan muncullah lima orang wanita pelayan lain yang sudah siap memang, dengan pedang ditangan masing-masing. Kini enam orang pelayan wanita itu mengikuti Coa Kim Bwee melangkah perlahan menuju ke kamar Pangeran Lie Kong Hian!
Setelah mendengar dan melihat semua yang terjadi diluar, Lu Sian tersenyum. Ia sudah senang tinggal di istana pangeran ini dan memang ia mulai bosan dengan perantauan yang kadang-kadang amat sengsara. Kalau ia turun tangan membunuh Coa Kim Bwee dan enam orang pembantunya, tentu ia tak mungkin dapat tinggal dalam istana lebih lama lagi. Coa Kim Bwee adalah selir terkasih dari Raja tentu kematiannya akan menimbulkan geger. Dan melihat betapa Coa Kim Bwee agaknya berpengaruh dan dapat bertindak sesukanya di istana, ia rasa lebih baik wanita ini ia dekati dan untuk dapat melaksanakan niat ini, ia harus mampu menaklukkan wanita ini yang melihat dari langkahnya memiliki ilmu kepandaian yang lumayan. Maka melihat Coa Kim Bwee dan enam orang pembantunya yang semua memegang pedang telanjang itu menuju ke kamarnya, ia cepat duduk kembali didepan cermin dan menyisir rambutnya dengan sikap tenang. Coa Kim Bwee muncul disebelah belakangnya. Mereka bertemu pandang melalui cermin dan tanpa menyembunyikan rasa kagumnya melihat wajah cantik terhias rambut hitam panjang itu, Coa Kim Bwee memandang lalu membentak.
"Apakah engkau Tok-siauw-kwi?"
Bentakannya mengandung keraguan karena ia benar-benar tidak mengira akan menemui seorang wanita yang demikian cantik jelita, lagi masih muda. Sepanjang pendengarannya, Tok-siauw-kwi tentu telah berusia empat puluh tahun, karena ketika Tok-siauw-kwi masih menjadi isteri Jenderal Kam Si Ek, dia sendiri baru berusia sepuluh tahun! Karena inilah ia ragu-ragu dan bertanya. Tanpa menoleh, Lu Sian menjawab melalui cermin.
"Kalau betul, mengapa? Mau apakah engkau datang bersama enam orang pembantumu dengan pedang ditangan?"
Kembali Coa Kim Bwee tertegun. Sikap wanita ini demikian tenang dan manis, namun sinar mata melalui cermin itu membuat tengkuknya berdiri. Banyak sudah Coa Kim Bwee menghadapi lawan tangguh, namun belum pernah ia merasa jerih seperti pada saat ini. Akan tetapi ia memberanikan hati dan membentak lagi.
"Aku datang untuk menangkapmu. Menyerahlah baik-baik sebelum pedang kami memaksamu!"
Lu Sian tersenyum makin lebar. Giginya berkilat putih.
"Adik yang manis, kalau ada urusan yang hendak dibicarakan, mengapa tidak masuk sendiri dan bicara baik-baik tanpa diganggu enam orang pelayanmu yang menjemukan?"
Coa Kim Bwee marah. Ia memberi isyarat dengan pedangnya kepada enam orang pembantunya sambil berkata,
"Tangkap dia!"