Halo!

Rajawali Lembah Huai Chapter 19

Memuat...

Sampai lama dia melihat para kuli angkut sedang memangguli dan membongkar muatan dari atau ke perahu-perahu yang berlabuh di bandar sungai Yang-ce pinggir kota Wu-han. Ketika dia melihat empat orang memanggul sebuah peti besar, dan mereka itu nampak terhuyung dan hampir tidak kuat sehingga semua kuli yang lain merasa khawatir, Goan Ciang cepat melompat maju mendekat, menyusup ke bawah peti di tengah-tengah, menggunakan kedua lengannya menyangga peti lalu berteriak, “Kalian berempat lepaskan peti ini, biar kuangkat sendiri!”

Empat orang yang tadinya sudah ketakutan akan terhimpit peti yang amat berat itu, ketika tiba-tiba merasa betapa peti itu tidak lagi menekan pundak mereka, diangkat oleh kedua tangan seorang pemuda yang tiba-tiba menyusup di tengah-tengah antara mereka, segera melepaskan peti dan melompat ke samping sehingga kini peti itu diangkat sendiri oleh kedua tangan Goan Ciang. Empat orang itu terbelalak, lalu terdengar seruan-seruan kagum ketika Goan Ciang dengan tenang melangkah dan menurunkan peti itu ke tempat di mana barang- barang bongkaran itu dikumpulkan. Meledaklah sorak dan tepuk tangan memujinya karena semua orang merasa kagum bukan main. Peti itu hampir tak terangkat empat orang kuli yang bertubuh kokoh kuat, namun pemuda yang tinggi tegap dan sederhana itu dengan mudahnya mengangkat peti itu seorang diri, dan nampak ringan saja!

Setelah menurunkan peti itu, Cu Goan Ciang segera meninggalkan tempat itu karena maksudnya tadi hanya hendak menyelamatkan empat orang kuli yang akan terhimpit peti, dan melihat semua orang memujinya, dia tidak ingin berlama-lama di tempat itu.

“Heii, tunggu dulu, orang muda yang kuat!” terdengar seruan orang dan diapun menoleh. Seorang pendek gendut berjalan setengah berlari terseok-seok menghampirinya, wajahnya yang bulat itu penuh senyum lebar. Orang itu berusia sekitar empat puluh tahun dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang mandor kuli yang mengepalai rombongan kuli yang bekerja di situ. Goan Ciang sudah mendengar bahwa di bandar itu terdapat ratusan orang kuli, terbagi dalam beberapa kelompok atau rombongan dan masing-masing ada mandor atau kepalanya yang mengatur dan membagi pekerjaan.

“Ada apakah, paman?” tanyanya.

Si gendut itu mengerutkan alisnya, agaknya tidak suka disebut paman. Dia masih merasa terlalu muda untuk disebut paman, dan biasanya para kuli menyebutnya toako (kakak tertua), sebutan yang juga merupakan sebutan kehormatan dalam suatu kelompok, karena toako bukan saja berarti yang tertua, melainkan juga yang terkuat, terpandai dan biasanya yang menjadi pemimpin disebut toako.

“Orang muda, maukah engkau bekerja kepada kami?” “Bekerja apa?”

“Apa lagi? Aku adalah mandor kuli, tentu saja bekerja mengangkut barang-barang, membongkar dan memuat di perahu-perahu yang berlabuh di sini.”

Goan Ciang berpikir sejenak. Memang dia membutuhkan uang untuk makan, dan dia harus bekerja. “Kalau upahnya memadai...”

“Tentu saja! Kalau engkau mau mengangkat peti-peti seperti tadi seorang diri, kami akan membayarmu lima belas keping sehari.” Goan Ciang mengerutkan alisnya. Lima belas keping tidak terlalu banyak, hanya cukup untuk makan sehari saja. Lalu bagaimana dia dapat membeli pakaian? Bekerja seberat itu tentu cepat menghabiskan pakaiannya. “Berapa upah mereka itu sehari?” katanya menunjuk kepada para kuli yang sibuk bekerja.

“Sama saja, lima belas keping sehari.”

“Akan tetapi, aku dapat bekerja empat lima kali lipat dari mereka!”

“Baiklah, kuberi dua puluh lima keping untukmu, akan tetapi engkau harus bekerja dari pagi sampai sore, hanya berhenti mengaso untuk makan di tengah hari seperti yang lain.”

Hemm, dua puluh lima keping, lumayan, pikir Goan Ciang. Diapun mengangguk dan mulailah dia bekerja. Tenaganya memang besar, maka mandor itu merasa gembira bukan main. Dengan menerima Goan Ciang bekerja di situ, dengan gaji kurang dari dua orang, berarti dia untung besar. Dia dapat memasukkan di daftar gaji lima orang untuk pemuda itu, karena memang hasil pekerjaannya sama dengan hasil pekerjaan lima orang.

Baru dua hari Goan Ciang bekerja di situ ketika terjadi peristiwa yang membuat dia kehilangan pekerjaannya. Hari itu adalah hari gajian bagi rombongan kuli di mana dia bekerja, yang terdiri dari dua puluh orang. Dalam dua hari bekerja, semua kuli menaruh hormat kepada Goan Ciang yang pendiam dan bertenaga amat kuat, namun tidak sombong atau berlagak itu. Setelah sore, pekerjaan dihentikan dan para kuli itu berdiri dalam antrian untuk menerima gaji mereka yang dibagikan oleh si gendut yang duduk di atas bangku menghadapi meja kecil dan di belakangnya berdiri dua orang tinggi besar yang berwajah bengis. Mereka adalah tukang-tukang pukul yang mengawal mandor itu. Tukang-tukang pukul ini bertugas untuk menjaga agar para kuli tidak malas dan tidak melakukan pencurian terhadap barang-barang yang diangkut, dibongkar dan dimuat di perahu-perahu.

Semua berjalan lancar ketika tiba giliran seorang kuli dan Goan Ciang yang menjadi orang terakhir dan berdiri di belakang kuli itu. Kuli itu masih muda, berusia dua puluhan tahun, kurus dan agak pucat tanda bahwa dia tidak sehat namun memaksakan diri bekerja karena membutuhkan uang. Ketika tiba giliran si kurus itu, mandor gendut menghitung beberapa keping uang sambil berkata, “Nah, ini gajimu untuk sepuluh hari!”

Orang muda itu menerima dan menghitungnya, dan dia berkata heran, “Eh, Lai-toako, kurasa engkau salah menghitung. Kenapa dikurangi begini banyak? Mestinya aku menerima seratus keping, bukan lima puluh!”

“Hemm, engkau sudah lupa barangkali? Potongan pajak lima puluh keping, dan potongan yang lima puluh keping adalah untuk mengganti kerusakan barang dari peti yang kau angkut seminggu yang lalu.”

“Tapi, toako, itu bukan kesalahanku. Peti itu sudah kutumpuk dengan baik, lalu ada anjing yang berlari menubruk peti sehingga terguling. Bukan salahku kalau isinya ada yang rusak!”

“Tidak perduli! Yang jelas, pemiliknya minta ganti dan mana mungkin aku minta ganti kepada anjing itu? Engkau yang mengangkut dan menaruh di situ, engkau pula yang harus mengganti.” “Tapi... aku butuh sekali uang ini, ibuku sakit dan...”

”Cukup, jangan banyak rewel, atau engkau ingin dihajar?” bentak mandor gendut itu dengan muka merah dan mata melotot.

“Biarlah lain kali saja potongan itu, Lai-toako, sungguh mati, sekarang aku membutuhkan uang itu untuk berobat ibuku...”

“Ibumu boleh mampus, apa sangkut pautnya denganku?” Si gendut itu memberi isarat kepada dua orang tukang pukulnya. “Usir dia!”

Dua orang tukang pukul yang tinggi besar itu melangkah maju. Yang berjenggot lebat seperti jenggot kambing bandot maju dan menangkap lengan kanan pemuda itu, lalu memutar lengan itu sehingga si pemuda berteriak kesakitan. Tukang pukul ke dua, yang kepalanya botak, juga maju dan mengamangkan tinjunya yang sebesar kepala kanak-kanak itu ke depan hidung si pemuda yang menyeringai kesakitan karena lengannya masih dipuntir. “Kau ingin mukamu kuhancurkan? Hayo cepat minggat dari sini!” bentaknya

Melihat ini, Cu Goan Ciang tidak sabar lagi. Dia melangkah ke depan dan sekali tangannya bergerak, dia menangkap siku lengan kanan si jenggot yang sedang memuntir lengan pemuda itu.

“Aduuuuhhhhh...!” Si jenggot itu berteriak-teriak karena merasa betapa lengan di bagian siku seperti terjepit baja dan tulang lengannya seperti retak-retak rasanya, nyeri bukan main sampai kiut-miut rasanya menusuk jantung. Terpaksa dia melepaskan lengan si pemuda, Cu Goan Ciang tidak berhenti sampai di situ saja, tangan kirinya bergerak mencengkeram ke arah dagu si jenggot lebat dan sekali dia mencengkeram dan merenggut, jenggot itu jebol dan dagu itu berdarah.

”Adoouuuhhhh... augghhhh...” Si jenggot yang kehilangan jenggotnya itu mengaduh-aduh sambil memegangi dagunya yang berdarah, berjingkrak kesakitan.

Melihat ini, tukang pukul pertama yang kepalanya botak menjadi marah dan diapun sudah mengayun tinjunya yang besar ke arah kepala Cu Goan Ciang. Cu Goan Ciang mengelak ke samping, secepat kilat dia menangkap pergelangan tangan yang memukul itu, kemudian dengan pengerahan tenaga, dia mendorong tangan yang terkepal itu sehingga memukul kepala si penyerang itu sendiri. Kepalan yang besar itu kini memukul kepala yang botak.

“Takkk...!!” Si botak itu terpelanting dan ketika dia merangkak bangun, dia mengelus kepala botaknya yang kini tumbuh benjolan sebesar telur angsa!

Cu Goan Ciang sudah melangkah maju. Melihat mandor gendut hendak melarikan diri, tangannya dijulurkan dan dia menangkap orang itu, mencengkeram pada pundaknya sehingga si gendut berteriak-teriak seperti kerbau disembelih.

“Aduhhh... aduhhhh... ampun, lepaskan aku... aughhhh...”

Goan Ciang memaksanya duduk kembali di atas bangkunya. Si gendut terpaksa duduk dan tubuhnya menggigil, mukanya pucat. “Cu Goan Ciang... apa... apa yang kauinginkan...?” tanyanya, suaranya tiba-tiba menjadi pelo dan gemetar saking takutnya. “Apa artinya potongan pajak tadi? Sehari pajak lima keping, apa artinya ini?”

“Ahh... itu... itu sudah peraturan, aku hanya melaksanakan saja. Sudah menjadi aturan sejak bertahun-tahun...”

“Aturan siapa itu? Gaji sehari lima belas keping, dipotong pajak lima keping? Ini perampokan namanya! Hayo katakan, aturan siapa ini? Aturan yang kaubuat sendiri? Kuhancurkan kepalamu!”

“Tidak, tidak...! Bukan aku... aku hanya mandor, eh, hanya pengawal, ini aturan yang telah ditetapkan oleh Yo-loya (tuan besar Yo)...!”

“Tidak perduli aturan siapa, itu perampokan dan tidak boleh dilakukan! Hayo bayarkan kembali seluruh pajak tadi kepada mereka semua, dan kerusakan barang itupun tidak boleh dipotong. Cepat!!”

Post a Comment