Si tinggi besar kini bergerak dengan hati-hati. Kini ia gerakkan tangan dan kakinya menyerang dengan hebat. Penonton menjadi cemas ketika melihat betapa orang itu berlaku curang, tidak hanya bergerak hendak merampas jambul semata-mata, tapi bahkan menyerang Ong Sin dengan hebatnya! Jelas sekali bahwa orang itu mengandung maksud baik. Sebentar saja mereka bertempur betul-betul biarpun Ong Sin masih berada dalam barongsay! Ong Sin bergerak dengan mengagumkan sekali dan dia tidak hany adapat hindarkan tiap serangan dengan baik, bahkan beberapa kali hampir berhasil menggigit ujung baju si tinggi besar.
Pada suatu saat ketika si tinggi besar menyerang ke arah dada barongsay itu loncat secepat kilat ke samping dan anak yang pegang ekorpun ikut meloncat, kemudian dengan sekali saut gigi barongsay itu berhasil menyangkut ujung baju si tinggi besar! Tentu saja penonton menjadi gembira dan bersorak sambil menyatakan bahwa si tinggi besar telah kalah. Tapi tidak dinyana bahwa dalam kekalahannya, si tinggi besar masih mau bertindak curang. Ia berseru keras dan tangan kanannya yang merdeka mengayun pukulan keras ke arah kepala barongsa di mana tersembunyi kepala Ong Sin! Semua orang berseru kaget, tapi pada saat berbahaya itu Ong Sin masih sempat berkelit sambil melepas barongsaynya yang terpukul hancur! Juga adiknya yang pegang ekor lalu loncat menyingkir. Si tinggi besar yang merasa malu dan marah terus saja menyerang kepala Ong Sing dengan nekad.
Pada saat itu Giok Cu sudah tak dapat menahan marahnya lagi, apa pula ketika dilihatnya Ong Sin adalah seorang muda yang kurus dan pucat sedangkan adiknya paling baru berusia sepuluh atau sebelas tahun. Timbul wataknya hendak menolong yang tertindas. Sekali ayun tubuh ia telah berada di atas panggung dan sambil berseru keras, pegang lengan Ong Sin dan terus dibawa loncat ke bawah. Di situ ia lepaskan pemuda itu dan tanpa berkata apa-apa, tubuhnya melesat ke atas panggung lagi menghadapi si tinggi besar.
“Orang liar dari manakah kau maka datang-datang hendak menghina orang? Kau kira hanya kau seorang yang gagah dan berani? Giok Cu menegur penasaran dan memandang dengan mata bersinar.
Si tinggi besar balas memandang dengan heran, tapi ia tidak berani pandang rendah karena barusan ia telah lihat kegesitan dan tenaga Giok Cu. Ia duga bahwa gadis itu tentu seorang ahli silat, maka ia hendak menanyakan namanya dan nama partainya untuk menggertak:
“Aku murid Kwie-san-pay dan punya urusan pribadi dengan si sombong Ong Sin. Kau siapa berani ikut campur urusan anak murid Kwie-san-pay?” Mendengar nama Kwie-san-pay disebut-sebut para penonton menjadi gelisah karena mereka sudah kenal akan kelihaian dan keganasan golongan ini. Tapi Giok Cu menjadi makin marah mendengar nama ini disebut-sebut.
“Pantas, pantas! Guru-gurunya siluman, anak muridnya tentu setan pejajaran!” perduli kau dari Kwie-san- pay atau dari mana saja, di depan nonamu kau tidak boleh berlaku sesukamu menghina orang mengandalkan kepandaian sendiri. Pergi kau dari sini sebelum mati konyol di tangan Pek I Lihiap!” Kembali terdengar suara-suara sambutan dari penonton karena di antara mereka banyak yang telah mendengar nama pendekar wanita itu.
Juga si tinggi besar agaknya terkejut, tapi ia tetapkan hatinya karena paman gurunya di bawah panggung. “Bagus, mari kau coba anak Kwie-san-pay!” Si tinggi besar lalu cabut golok yang terselip di punggungnya. Giok Cu dengan tangan kiri lolos sabuk suteranya yang berwarna kuning. Dengan gerak-gerakkan tangan sabuknya melingkar-lingkar dan menyambar bagaikan seekor ular yang indah gerak geriknya. Murid Kwie- san-pay itu putar golok menyerbu, tapi serangannya dapat dikelit dengan mudah oleh Giok Cu yang balas menyerang dengan sabuknya. Karena marah, nona itu hendak memberi hajaran dulu sebelum menjatuhkan lawannya. Maka berkali-kali ujung sabuknya merupakan cambuk yang berbunyi nyaring mencambuki tubuh di leher, dada, pinggang dan punggung hingga pakaian si tinggi besar menjadi robek di sana sini dan kulitnya pecah-pecah mengalir darah! Penonton bersorak girang dan puas melihat orang kasar itu dihajar habis-habisan oleh Pek I Lihiap! Setelah merasa cukup, Giok Cu gerakkan sabuknya membelit golok lawan dan sekali sendal saja golok itu terlepas dari pegangan lawan dan melayang ke arahnya. Dengan tenang ia gunakan tangan kanan menangkap golok hingga senjata itu pindah tangan! Sebelum lawannya hilang keheranannya, ia gerakkan kaki menendang hingga tubuh tinggi besar itu terlempar ke bawah panggung.
Kemenangan ini disambut dengan tepik serak riuh, tapi pada saat itu dari bawah panggung keluar seorang tosu yang bertubuh tinggi kurus dan berwajah pucat. Ia bukan lain ialah Hoan Tian-cu, tokoh di rumah Giok Cu! Diam-diam Giok Cu terkejut melihat munculnya tosu ini karena ia pernah menyaksikan ilmu kepandaian pendeta itu dan merasa bahwa kepandaian sendiri masih belum cukup untuk melawannya. Hoan Tian-cu tersenyum mengejek dan memandang kepada Giok Cu.
“Bagus, bagus! Tidak tahunya Pek I Lihiap yang terkenal gagah itu tak lain adalah kau. Bukankah kau anak perempuan dari Ong Kang Ek? Bagaimana ayahmu?”
Biarpun sedang marah Giok Cu merasa sedih juga ditanya tentang ayahnya, tapi ia menjawab dingin: “Ayah telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.
Hoan Tin-cu menghela napas. “Sayang....sayang....kemudian ia seperti teringat akan sesuatu. “O ya, hmmm...mana mana suamimu?”
Tak senang Giok Cu mendengar ini. “Apa maksudmu totiang?”
Hoan Tin-cu memperlihatkan lagi senyumnya yang tidak manis. “Bukankah dulu diadakan sayembara pilih mantu dan yang berhasil adalah Souw Thian In murid Gak Bong Tosu mana dia? Apa dia juga turut datang? Telah lama aku menantinya! Kalau dia datang, suruhlah dia saja keluar!”
“Totiang, jangan kau menghina orang! Siapa yang menjadi isteri orang? Pendeknya jangan kau banyak cakap, apa maksudmu naik ke sini? Apakah kau hendak membeli anak murid partaymu yang kurang ajar tadi?” Karena marahnya Giok Cu tak kenal arti takut dan menantang tosu tadi!
Mula-mula Hoan Tin-cu terheran mendengar pengakuan itu, kemudian ia tertawa. “Ah, galak benar kau dan pemberani pula. Kau kira akan dapat melawanku? Nah, untuk percobaan, kau terimalah pukulan ini!” Hoan Tin-cu tanpa gerakkan kedua kakinya lalu pukulkan tangan kanannya ke depan. Walaupun jarak antara dia dan Giok Cu ada kira-kira setembok, namun angin pukulannya mengancam hebat ke arah gadis itu! Pada saat itu dari bawah panggung berkelebat bayangan biru dan seorang pemuda baju biru berseru: “Hoan Tin- cu totiang! Tidak malukah menghina orang perempuan? Kau tadi mencari aku, inilah aku sudah datang!”
Secepat kilat, pemuda itu gunakan lengan tangannya menolak pukulan Hoan Tin-cu. Walaupun tangannya tidak bentrok dengan tangan pemuda itu, namun angin pukulannya telah berhasil membentur dan mengembalikan pukulan tosu tadi itu!
Ketika Giok Cu menengok, hampir saja ia berteriak girang, yang datang di atas panggung bukan lain ialah Souw Thian In!
“Engko Thian In!” tak terasa bibirnya memanggil nama itu, tapi yang keluar dari mulutnya hanya bisikan perlahan. Thian In menengok dan memandangnya dengan tersenyum simpul! “Nona, tak kusangka kita akan bertemu di tempat ini.” Kemudian pemuda itu kembali menghadapi Hoan Tin-cu dan berkata:
“Nah, totiang. Kita sudah berhadapan, silahkan kalau kau hendak memberi pengajaran kepadaku!”
Hoan Tin-Cu orangnya memang cerdik dan licin. Dari tangkisan tadi ia tahu bahwa dalam beberapa bulan ini rupanya anak-muda itupun melatih dan ilmu kepandaiannya bertambah. Kalau sampai dikalahkan lagi di panggung ini dengan ditonton oleh semua penduduk kota itu, maka tidak saja namanya akan merosot, tapi nama baik partainya juga akan runtuh dan ia tentu akan mendapat teguran suhengnya. Maka sambil paksakan diri berlaku sabar dan tersenyum ia berkata:
“Anak muda, kau benar-benar pegang janji. Tapi kita janji akan bertemu pada permulaan musim Chun, bukan? Nah, datanglah ke sana setengah bulan lagi, tentu pinto akan menyambutnya dengan baik-baik!”
“Haruskah aku datang seorang diri?” tanya Thian In.
“Kau takut? Boleh bawa kawan kalau takut!” menyindir Hoan Thian Cu hingga Thian In menjadi gemas sekali.
“Akupun ada janji dengan suhengmu Gan Tin-cu! Kami akan datang bersama!” Giok Cu mendahului. Baik Hoan Tin-cu maupun Thian In heran mendengar ini, tapi pendeta itu lalu tertawa.
“Baik-baik, nah, sampai berjumpa pula setengah bulan yang akan datang di Kwie-san!” Kemudian ia loncat turun dan pergi.
“Engko Thian In, kau ”
“Nona Ong...” Mereka tak dapat berkata-kata, hanya saling pandang dengan terharu di atas panggung. Pada saat mereka mau turun, tiba-tiba tampak serombongan orang yang berpakaian sebagai hamba negeri mencegah. Yang mengepalai rombongan itu adalah seorang setengah tua yang berkata sambil menjura kepada Giok Cu: “Maaf, lie-enghiong, kami persilahkan kau ikut dengan kami ke kantor tihu.”
“Eh, eh, apakah kehendak kalian? Apakah kalian hendak menangkap aku? Apa salahku?”
“Hal itu kami tak dapat menerangkan karena hanya menjalankan tugas. Kami hanya diperintah dan inilah surat perintah itu. Anggota-anggota polisi yang lain berdiri dengan angker dan gagah, sikap mereka menunjukkan bahwa mereka berdisiplin.
Giok Cu memandang surat perintah itu sejenak dan ia mendapat kenyataan bahwa benar-benar tihu di situ memerintahkan supaya ia dipanggil menghadap ke kantor. Ia heran dan memandang kepada Thian In.
“Lebih baik kau ikut saja, biarlah akupun pergi dan jika perlu kudapat menjadi saksi, yakni kalau hal ini ada hubungannya dengan pertempuran tadi,” kata pemuda itu.
Mereka berdua lalu dibawa ke kantor tihu. Tihu di kota itu adalah seorang tua yang kelihatan jujur dan peramah. Setelah mempersilahkan Giok Cu dan Thian In duduk, tihu itu perintahkan semua anak buahnya keluar dari kantor karena ia hendak bicara empat mata dengan tamunya.
Lihiap aku telah mendengar tentang pertempuran di panggung antara kau dan anak murid Kwi-san-pay. Biarpun aku sendiri merasa senang mendengar bahwa lihiap telah memberi pengajaran kepadanya, namun demi keselamatan dan keamanan kota ini, terpaksa aku panggil lihiap datang ke sini. Karena ketahuilah lihiap, bahwa Kiew-san-pay telah terkenal sebagai cabang persilatan yang sangat berpengaruh dan disegani. Kalau para ketuanya mendengar tentang terjadinya seorang anak murid mereka dipukul orang di kota ini tan pa ada tindakan dari kami, pasti mereka merasa penasaran dan datang mengganggu kami. Hal inilah yang kami mohon lihiap pertimbangkan.
Mendengar hal ini ketahuilah Giok Cu akan duduknya persoalan dan ia merasa kasihan melihat tihu yang tua itu. Tak disangkanya golongan Kwie-san-pay sampai demikian berpengaruh.
“Tak perlu kiranya tay jin berkhawatir tentanghal ini karena mereka telah kenal dan tahu siapakah yang menghajar murid mereka. Ketahuilah, tayjin, aku adalah Pek I Lihiap dan yang telah mereka anggap sebagai musuh. Dan saudara ini adalah...seorang sahabat yang kebetulan juga mereka anggap sebagai musuh pula. Maka tayjin tak perlu takut-takut dan jika mereka betul-betul berani ganggu tayjin, katakan saja bahwa kami berdua telah ditahan dan minggat dari tahanan. Katakan saja bahwa tayjin tidak berdaya menangkap kami. Mereka tentu percaya.”
Thian In menyambung kata-kata Giok Cu. “Tayjin tak perlu takut. Aku berani pastikan bahwa golongan Kwie-san-pay pasti tidak berani datang mengganggu.”
“Namun, atas permohonan yang sangat dari tihu itu yang benar-benar takut kepada kwie-san-pay, terpaksa Giok Cu dan Thian In menurut ketika mereka diminta pergi malam nanti saja dan setengah hari itu mereka diminta masuk dalam kamar tahanan di penjara!
Giok Cu tadinya menolak keras bahkan hendak marah, tapi ia disabarkan oleh Thian In yang berkata:
Ong Siocia, bukankah hal itu baik sekali? Kita sudah lama tak berjumpa dan banyak hal-hal yang hendak kita bicarakan. Maka marilah kita penuhi permintaan tayjin ini, pertama untuk menolongnya, kedua kita dapat beristirahat sambil mengobrol.
Mereka berdua berhadapan di atas bangku penjara dan Giok Cu memandang wajah pemuda itu dengan perasaan tak karuan.
“Nona Ong tak kusang kita akan berjumpa di sini...pemuda itu tundukkan wajahnya yang tampan ketika pandangan mata gadis itu menatapnya dengan selidik.