Tetapi sesaat kemudian kakek Eng Ciok Taysu telah datang karena itu dengan langkah tenang dan pasti mendekati orang-orang lan yang bergerumbel menantikan pertandingan segera dimulai.
"Tidak diduga bahwa ternyata kau sangat terlambat !” seru Kiat Koan, katakata itu dilontarkan dengan nada mengejek, "kemana kawan-kawanmu tadi, apakah mereka merasa gentar ? Juga kenapa pula Pek-hi-siu-si, mengapa belum kelihatan berada di tempat ini ? Jika Pek-hi-siu-si merasa gentar dan takut datang disini tetapi Hiong Hok Totiang yang telah me nyimpan titipan pedang itu harus pula sudah berada ditempat ini” seru Kiat Koan dengan nada suara seenaknya sendiri, congkak dan mencibir.
"Siapa bilang tidak berani datang!” bentak Kiam Ciu dengan gusar.
Suara bentakan yang keras dan berani itu ternyata mengejutkan semua yang haditr dipuncak Ciok-yong-hong. Semuanya memandang kearah Kiam Ciu.
Mereka merasa heran dengan tertampaknya seorang pemuda tampan dan masih sangat muda dengan pakaian serba putih perak sedang berdiri dengan tenang dan bersidakep di bawah pohon beringin yang rindang, sedang di punggungnya terpampang menyembul sebilah pedang pusaka. Pedang yang selalu dijadikan perebutan dikalangan Kang-ouw, Pedang Oey-Liong-Kiam.
Kedatangan Tong Kiam Ciu membuat segenap orang yang menaruh simpati kepada pemuda itu merasa sayang dan merasa sangat heran. Heran karena dengan cara bagaimana pemuda itu dapat tiba ditempat pertemuan Bu lim tahwee. Sayang dan cemas bahwa usia pemuda tampan itu masih sangat muda dan belum berpengalaman. Jika dia harus bertarung dengan jago-jago dari golongan tua yang lihay dan ulung seperti Eng Ciok Taysu, Pek Giok Tong atau si mahasiswa berpedang baja, juga masih banyak lagi tokoh-tokoh tua lainnya, Bukankah kedatangannya di tempat itu hanya untuk mengantarkan nyawa belaka. Ketika menyaksikan munculnya seorang pemuda tampan berpakaian serba putih bagaikan perak itu, Liat Kiat Koan tertawa tergelak-gelak.
"Haaaa-haaaa.. kukira jago silai yang macam apa. Tidak tahunya hanyalah seorang pemuda yang masih ingusan. Sudahlah kau akhiri sampai disini ketololanmu, kau berlututlah di hadapanku dan serahkanlah pedang pusaka Oeyliong-kiam kepadaku. Aku akan mengampuni nyawamu tanpa mengucurkan setetes darahpun dari tubuhmu!” seru Liat Kiat Koan sambil menyeringai kearah Tong Kiam Ciu. Pemuda itu tampak tenang-tenang saja, lalu sambil menatap kearah wajah Liar Kiat Koan dia berseru.
"Eng Ciok Taysu pernah mengatakan bahwa kau terlalu banyak berbuat kekejian yang terkutuk!. Jika kau menhendaki pedang pusaka Oey-liong-kiam maka kupersilahkan kau untuk mengambilnya sendiri!” seru Kiam Ciu dengan suara halus mendatar tetapi cukup tajam.
Mendapat tantangan yang demikian rupa dari seorang pemuda yang pantas menjadi anaknya itu, Liat Kiat Koan adalah seorang pemimpin partai persilatan yang cukup besar, tak dapat lagi menahan kegusaran. Denjan tiba-tiba hawa kemarahan telah berkobar-kobar membakar kesabaran dan kebijaksanaannya.
"Hay anak muda! Terimalah serangan awas” bentak Liat Kiat Koan sambil mengirimkan serangan tinjunya kearah dada Kiam Ciu dengan jurus pukulan Hong-ki-in-yong atau Angin bergerak mega melayang.
Tetapi Kiam Ciu tidak berusaha untuk menghindari serangan pukuan tinju itu. Malah tampaklah pemuda itu melangkah maju seolah-olah memapaki serangan lawannya dan membiarkan pukulan itu menumbuk dadanya. Kiam Ciu mengan kat kedua tinu untuk balas menyerang.
Benturan adu tenaga dalam itu mengakibatkan suara ledakan dan tampaklah hal yang luar biasa. Liat Kiat Koan terpental sampai beberapa langkah kebelakang dengan tindakan berat.
Semua yang hadir di tempat itu merasa kagum dan bergumam memuji kehebatan Kiam Ciu. Ternyata hanya dalam permainan satu jurus saja, pemimpin partai persilatan Kong-tong telah dapat dirubuhkan oleh seorang pemuda yang tampaknya masih sangat muda dan belum berpengalaman. Padahal Liat Kiat Koan seorang tokoh luar-biasa dan kejam, ternyata dapat dipermainkan oleh seorang pemuda yang belum berpengalaman.
"Hay Liat Kiat Koan kau telah turut serta dalam pertemuan Bu lim-tahwee ini, apakah kau tidak mengetahui peraturan Bu-lim?” tegur Eng Ciok Taysu dengan suara lantang dan tegas.
Liat Kiat Koan merasa sangat malu dan gusar sekali karena telah dipermainkan oleh Kiam Ciu dan hingga terhuyung hampir kehilangan keseimbangannya. Ketika mendengar teguran dari Eng Ciok Taysu, maka dia menjadi sangat marah sekali dat sambil menghunus pedang dia membentak: "Hay gundul! Peraturan apa yang harus aku ketahui ?” bentak Kiat Koan dengan congkak, "Dalam dunia Kang-ouw siapa yang tangguh maka dialah yang selalu betul. Maka hari ini bukanlah siapa yang betul dalam hal ini”
"Aku tidak merasa gembira untuk bertarung denganmu !” sahut Eng Ciok Taysu, "aku hanya merasa kecewa terhadap partai Kong-tong yang tidak mengenal petaiuran Bu lim dan aku lebih kecewa lagi justru ketololan itu telah sengaja dipamerkah dihadapan orang gagah dalam pertempuran ini oleh pemimpin partai itu sendiri !” seru Eng Ciok Taysu dengan nada tajam dan menghina. Setelah kakek itu mengakhiri kata-katanya, Kiat Koan sudah hendak menyerangnya, tetapi tiba-tiba Tong Kiam Ciu telah meloncat kedepan dan menghormat kepada Eng Ciok Taysu seraya berseru dengan sopan.
"Taysu . . sebenarnya Liat Kiat Koan ingin menghajarku. Biarlah persoalan dengan orang ini aku yang menghadapinya!” setelah selesai dengan kata-kata itu sekali lagi pemuda itu membongkok dan memutar tubuh berpaling kepada Liat Kiat Koan. "Jika kau memang tidak mengindahkan peraturan. ayolah serang aku !” seru Tong Kiam Ciu dengan suara lantang menantang.
"Haa..ha.hahh ternyata kau sudah bosan hidup dan menginginkan tusukan pedang !” seru Liat Kiat Koan dengan suara congkak.
"Aku tidak takabur, tetapi untuk melayani orang semacam dirimu ini. kurasa dengan kedua belah tangan kosong ini saja sudah cukup.” kata Tong Kiam Ciu sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
Apa yang diucapkan oleh Tong Kiam Ciu itu sangat sederhana dan biasa.
Tetapi Liat Kiat Koan merasa sangat gusar hingga tubuhnya menjadi gemetar karena menahan gejolak kemarahannya itu, karena dia menganggap bahwa Kiam Ciu sangat menghina dirinya. Maka dengan luapan gejolak kemarahan yang tak terbendung lagi, Liat Kiat Koan telah meloncat menyerang dada Kiam Ciu dengan jeritan kemarahan.
Tetapi Tong Kiam Ciu dengan tenang hanya mengegoskan tubuhnya kesamping sedikit. Karena gerakan tiba-tiba Kiam Ciu itu sehingga lawannya terhuyung membacok tempat kosong. Dalam keadaan itu maka dengan sigap pula tangan kanan Kiam Ciu menghantam bahu kanan Kiat Koan, sehingga lakilaki kasar dan sombong itu terpaksa harus menggelundung kesamping menghindari serargan Kiam Ciu yang berbahaya itu.
"Bagus !” seru Liat Kiat Koan dengan tidak sengaja memuji Kiam Ciu.
Sesaat kemudian dengan pura-pura terhuyung Liat Kiat Koan membalas mengirimkan pukulan tinju tangan kiri kearah Kiam Ciu dengan mempergunakan jurus Hui-Ing-pok-ciu atau Burung elang menerkam anak ayam. Tampaklah kelebatan tangan kiri yang menyerang Kiam Ciu jari jemarinya mengembang untuk mencengkeram tenggorokkan lawan.
Dengan bersikap tenang dan waspada Kiam Ciu memiringkan tubuh dan meloncat kebelakang dua langkah sambil melindungi dadanya dengan lengan menyilang. Kiam Ciu menyadari bahwa lawannya adalah seorang yang berilmu luar biasa dan disamping kehebatan ilmunya Liat Kiat Koan ini mempunyai watak yang sangat licik sekail Maka loncatan Kiam Ciu kebelakang itu dibarengi dengan sebuah tangkisan.
Ternyata serangan tangan kiri Liat Kiat Koan itu hanyalah suatu siasat pancingan belaka. Dengan kecepatan luar biasa laki-laki itu telah meloncat keatas dengan maksud melampaui kepala Kiam Ciu dan mengarah hulu pedang Oey-liong-kiam yang terpapang dipunggung Kiam Ciu.
Tetapi betapa kagetnya Kiat Koan ketika menerima kenyataan yang sangat luar biasa dan cepat sekali. Kiam Ciu dengan gerakkan yang sangat luar biasa telah mengangkat kedua tapak tangannya menghadap kelangit. Berbareng dengan itu kedua tapak tangan telah melekat ke tapak kaki Kiat Koan hingga tidak sempat untuk berbuat apa-apa. Yang dirasakannya dirinya telah melambung karena lontaran keras. Hingga Kiat Koan terbanting ditanah.
"Wuutt !” terdengar sebuah sambaran lengan baju pemuda itu kearah wajah Kiat Koan, tamparan lengan baju yang sangat hebat dan bertenaga luar biasa hingga laki-laki itu terjengkang.
"Aduhhh !” teriak Kiat Kan sambil meloncat kebelakang membuang diri beberapa langkah dan tangan kirinya memegang pipi yang terasa panas.
Tenaga dalam sakti yang memang betul-betul luar biasa yang telah dikuasai oleh Tong Kiam Ciu yang ternyata sangat berguna. Kiam Ciu telah menghajar Kiat Koan dengan hebat, tetapi Kiat Koan tidak mengucurkan darah diri lukanya.