Halo!

Warisan Jendral Gak Hui Chapter 16

Memuat...

"Sepuluh tahun yang lalu aku tidak berhasil merebut pedang pusaka Oeyliong-kiam yang tersohor merupakan pedang nomor satu dikolong langit. Jika kali ini aku juga tidak berbasil merebutnya, maka runtuhlah namaku sebagai pemimpin pariai Siauw-lim dan aku tidak akan punya muka untuk mengampuni saudara-saudara seperguruan dan murid-muridku” gumam taysu seorang diri.

"Hemmm.. tidak salah dugaanku. Ternyata betul-betul orang itu adalah pemimpin partau persilatan Siauw-Lim. Tetapi mengapa dia mengeluh sedemikian rupa, apakah kepandaiannya sekarang dirasakannya telah menurun?” pikir Tong Kiam Ciu sambil mengelus-elus pedangnya yang masih terpampang dipunggung, Terapi tiba-tiba kudanya meringkik keras dan mengejutkan Tong Kiam Ciu sendiri.

Mendengar ringkikan kuda itu Eng Ciok Taysu menegur.

Tetapi kakek itu tidak menghadap kearah Tong Kiam Ciu. Pemimpin Siauwlim itu menghadap kearah yang berlainan.

Berbareng dengan berhentinya suara teguran taysu itu terdengarlah suara tertawa terbahak-bahak. Kemudian muncullah seorang laki-laki berumur setengah abad. Laki-laki itu mengenakan jubah berwarna kuning. berwajah muram dan matanya sipit, bermulat lebar dan hidungnya seperti bawang merah.

Tahu-tahu laki-laki setengah abad umurnya itu telah berada didepan Eng Ciok Taysu. "Hey.. kepala gundul !” bentak orrang itu, kau berlagak betul, baru saja kau tiba di tempat ini tahu-tahu kau telah memamerkan kepandaianmu! Kau seolaholah mearasa yakin bahha kau akan memperoleh pedang pusaka Oey-liongkiam. Kau sudah begitu tua. mengapa begitu bodoh ingin juga turut memperebutkan pedang pusaka itu? ! Kalau begitu tujuanmu taysu. bukankah kedatanganmu ke puncak Ciok yong-hong dalam pertemuan Bu lim Tahwee berarti mengantarkan nyawa?” seru orang yang baru datang dan berhidung seperti bawang merah itu kemudian diselingi dengan senyuman lebar.

Kemudian terdengarlah orang itu tertawa terbahak-bahak yang bersifat sangat menyakitkan hati Eng Ciok Taysu. Orang yang berhidung bagaikan bawang merah itu tiada lain adalah Kiat Koan yang angkuh, dia adalah pemimpin partai persilatan Kong-tong.

"Hemmm.. . jika aku tidak akan mampu untuk merebut pedang itu, apakah kau kira bahwa kau akan mampu untuk merebutnya?”

"Betul, aku pasti dapat merebut pedang itu!” seru Kiat Koan dengan nada penuh kecongkakan . "Meskipun kau adalah seorahg tokoh persilatan yang penuh dengan perbuatan-perbuatan kotor dimasa lampau tetapi jika ternyata kau dapat merebut pedang itu maka aku bersumpah akan menjura tiga kali dihadapanmu!”

seru Eng Ciok Taysu dengan suara sinis.

"Hey kepala gundul, aku tiada gunanya berdebat denganmu! Karena ternyata kau memang pandai berbicara. Aku telah datang ke puncak Ciok yong-hong untuk mengambil bagian dalam penemuan Bu lim-tahwee. Satu-satunya orang yang paling kusegani adalah Pek-hi-siu-si. Tetapi aku tahu bahwa delapan tahun yang lalu kakek itu telah mendapat luka dalam yang sangat hebat. dan dia telah menyerahkan pedang Oey-liong-kiam kepada Hiong Hok Totiang dengan demikian dia telah mengundurkan diri. Selama beberapa tahun ini aku telah giat melatih dan memperdalam ilmu Bu sa ciang (tinju sapu jagad) maka kini aku merasa yakin dapat merobohkan para pendekar termasuk kau sendiri!” seru Kiat Koan dengan suara sombong dan senyumannya yang lebar memuakkan.

"Aiii.. Congkak benar si hidung bawang ini” pikir Tong Kiam Ciu "dia membual seenaknya saja, apakah dia menyangka bahwa dirinya yang paling jago di kolong langit ini ?!”

Pada saat itu tampaklah suatu perubahan pada diri sipendeta, sama sekali dia tidak dapat meneriakan kata-kata sombong dan sangat merendah orang lain itu. Maka sangat gusarlah hati Eng Ciok Taysu.

"Hayo iblis hidung bawang ! Sebetulnya siapa yang pandai bicara ? Aku atau kau !” seru Eng Ciok Taysu dengan gusar.

"Hah ? Tidak perlu kita terlalu banyak bicara. Jika kau masih meragukan ilmu Bu sa ciang kau dapat mencobanya !” seru Kiat Koan dengan nada suara menantarg dan gusar. Saat itu bulan masih memancarkan sinarnya yang terang dengan beriburibu bintang berhamburan di langit.

Ketika mendengar kata-kata yang pedas dan bersifat menantang itu tersinggunglah kesabaran Eng Ciok Taysu. Maka kakek gundul itu segera memperbaiki kuda-kudanya sambil melangkah satu tindak. Dengan sorot mata menyala Eng Ciok Taysu memandang sihidung bawang. Rupa-rupanya pertarungan hebat diantara kedua orang itu tidak dapat dihindari lagi.

Dalam detik yang panas dan menegangkan itu, tiba-tiba tampak dua buah bayangan tetah melayang dibarengi dengan seribitan angin sejuk. Bayangan itu telah datang dengan tiba-tiba dan tampak dua orang yang telah berdiri diantara kedua orang yang akan mengadakan pertandingan mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang dengan saling bersikeras.

Bayangan yang satu adalah seorang laki-laki tua berpakaian seperti seorang pelajar, rambut dan jenggotnya telah putih, dipunggungnya terpampang sebilah pedang. Kakek itu yang terkenal dengan gelar Tie kiam suseng (si mahasiswa berpedang baja) pemimpin partai persilatan Tie kiam bun yang bernama Pek Giok Tong. Sedangkan bayangan yang satunya lagi adalah seorang rahib wanita yang berwajah kejam dan bersenjata tongkat. Dikalangan persilatan dia dikenai sebagai Siok-soat Shin-si.

Eng Ciok Taysu maupun Liat Kiat Koan merasa sangat terperanjat ketika menyaksikan kedatangan kedua orang tokoh itu.

Dengan pandangan mata penuh keheranan Kiat Koan memperhatikan kedatangan kedua orang itu dan berpikir, "Aneh, kakek dan nenek itu belum pernah datang ke puncak Ciok yong-hong untuk turut serta menghadiri pertemuan Bulim Tahwee. Tetapi sekarang.. . . “

Tie kiam su-seng tidak memperhatikan sama sekali keadaan pemimpin partai Kong-tong yang congkak itu. Ia hanya tersenyum dan mengangkat kedua tangannya menghaturkan hormat kepada Eng Ciok Taysu seraya berkata: "Eng Ciok Taysu. kita sudah lama tidak saling berjumpa. apakah Taysu baikbaik saja ? Taysu tidak perlu bertengkar dengan sihidung bawang itu. Jika betulbetul memang dia adalah seorang jago, maka dia dapat membuktikan kehebatan itu di puncak Ciok-yong hong nanti. Saat ini aku mempunyai suatu perkara yang akan dirundingkan dengan Taysu, maka sebaiknya kita cepat-cepat meninggalkan tempat ini sekarang !” seru kakek Pek Giok Tong.

Eng Ciok Taysu membalas hormat orang itu kemudian mengangkat wajahnya dan berseru dengan suara ramah dan sopan.

"Sama sekali aku tidak menduga akan pertemuan ini. Aku tak pernah memimpikan akan bertemu dengan saudara Pek dan Siok-soat Shin-ni ditempat ini. Saat ini kurasa sudah pada waktunya kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Ayolah kita lekas meninggalkan tempat ini “

Kemudian tanpa menghiraukan lagi kepada Liat Kiat Koan, mereka bertiga segera berlalu dari tempat itu.

Diperlakukan seperti itu Liat Kiat Koan merasa gusar dan sangat mendongkol sekali. Tetapi si Hidung Bawang itu masih sempat mendengar ketiga orang itu menyebut- Ang-tok-ouw atau telaga Ang-tok dan kota Pek-seng.

"Kota Pek-seng. Apakah kitab ilmu silat Pek-seng betul-betul berada dikota Pek-seng ?” pikir Liat Kiat Koan sambil berjalan dengan menundukkan kepala menuju kepuncak Ciok yong-hong.

***** Pegunungan Heng san dengan puncaknya yang bernama Ciok yong-hong.

Ciok yong-hong adalah sebuah dataran tinggi seluas sekira seratus depa persegi ditumbuhi oleh rumput yang hijau dan tebal. Terdapat jurang yang sangat curam. Tiga sisi jurang itu terdapat hutan pohon beringin yang sangat rindang.

Memang tempat yang sangat mengagumkan dan tidak banyak terdapat di tempat lainnya. Puncak Ciok yong-hong mempunyai keistimewaan tersendiri. Dibawah sinar bulan purnama yang terang benderang itu tampaklah bayangan orang-orang yang mengupengi lapangan rumput hijau. Mereka terdiri dari tokoh-tokoh persilatan segala aliran. Baik aliran tua maupun muda yang telah menjagoi dunia persilatan puluhan tahun sampai para pendekar yang belum berpengalaman lama di dunia Bu-lim. Tetapi mereka telah bertemu dalam pertemuan Bu-lim-tahwee di puncak Ciok yong-hong dengan penuh hikmad.

Mereka itu adalah orang-oramg dari dunia Kang-ouw yang datang karena pertemuan itu untuk turut serta dalam perebutan pedang pusaka Oey-liongkiam. Meskipun sebagian besar adalah tokoh-tokoh tua dan berpengalaman namun ada juga yang datang ke tempat itu hanya untuk mencari pengalaman dan pengetahuan mereka saja. Mengingat bahwa mereka untuk memperebutkan pedang pusaka Oey-liong-kiam harus berhadapan dengan tokoh-tokoh sakti dan berkepandaian tinggi. Adapun bagi mereka yang pernah datang untuk yang kesekian kalinya dalam pertemuan Bu-lim tahwee kali ini banyak dikunjungi dengan luar biasa sekali.

Tetapi mereka belum menyaksikan kehadiran Pek-hi-siu-si yang telah keluar sebagai pemerang pada pertemuan yang lalu Pek-hi-siu-si yang berhasil memboyong pedang pusaka Naga kuning itu dari puncak Ciok yong-hong. Saat itu mereka juga belum melihat Eng Ciok Taysu, Hiong Hok Totiang dan pendekarpendekar lainnya yang mempunyai ilmu hampir setarap dengan Pek-hi-siu-si.

Sebelum fajar menyingsing Liat Kiat Koan telah datang dan menghormat kepada para hadirin yang berjubal di tempat itu. Pemimpin partai persilatan Kong-tong itu menghormat dengan sikapnya yang angkuh sekali dan tampak menjengkelkan. "Bukankah si gundul kakek dan nenek tadi telah mendahului menuju kepuncak ini. Tetapi kemana perginya mereka itu ? Apakah mereka menuju ke Ang-tok-ouw ?” pikir Liat Kiat Koan sambil matanya memandang ke mana-mana mencari-cari ketiga orang itu.

Post a Comment