"Ohhh.. saudara Li adalah murid Hiong Hok Totiang ?. Adapun tentang pedang ini sebetulnya aku ingin ceriterakan kepada warga mandala partai Bu-tong, sewaktu-waktu bila aku mengunjungi markas partai Bu-tong. Sama sekali tidak diduga bahwa hari ini aku dapat berjumpa dengan saudara Li disini. Marilah persoalan ini kita bicarakan dengan tenang!” seru Kiam Ciu dengan suara penuh keramahan dan berhati-hati.
Sementara itu terliha.lah perubahan wajah Li Hok Tian, kelihatanlah pemuda kurus itu agak tenang sedikit.
"Pedang pusaka ini aku terima dari tangan guru saudara Li hanya sayang sekali Hong Hok Totiang telah wafat, dan sebelum menutup mata beliau telah..”
seru Kiam Ciu menjelaskan terputus.
"Hah? Guruku telah binasa, apatah kau yang telah membunuh ?” desak Li Hok Tian dengan suara gusar sekail.
Stelah berkata demikian Li Hok Tian meloncat berdiri dan langsung mengirimkan serangan dengan dua jari tangan kanan menuju kearah kedua mata Kiam Ciu. Tetapi Kiam Ciu memiringVan tubuhnya seraya membentak lantang. "Saudara Li ! Tunggu dulu, sabar ! Kau jangan keliru, jangan salah paham dan salah terka ! Gurumu telah dianiaya oleh orang-orang dari partai Kim-sai-pang.
Sebelum gurumu wafat, beliau telah memberikan pening kuningan ini kepadaku!”
Kiam Ciu merogoh sakunya dan mengubah mencari benda sebesar tiga jari tangan berwarna kuning. Sebuah benda pengenal dari partai Bu-tong. Seketika itu wajahnya pias dan berkeringat karena benda itu telah lenyap dari sakunya. "Ohh.. mungkin pening kuningan itu jatuh ketika aku dikepung oleh partai Kim-sai-pang?” pikir Kiam Ciu dengan diam-diam dan masih mencari pening itu dalam sakunya.
"Kau dapat menipu terhadap orang lain. tetapi terhadapku kau jangan harap dan sekali sekali jangan mencoba menipuku. Kau harus membayar dengan nyawa untuk menebus kematian suhuku.!” gemboran itu diakhiri dengan sebuah loncatan seraya mengirimkan tendagan ke arah Kiam Ciu.
Mendapat serangan yang datangnya dengan tiba-tiba itu, Kiam Ciu tampak agak gugup. Tetapi segera telah berubah berdirinya dengan menarik lalu geserkan kaki kanan hingga semuanya sangat berubah.
"Tahan dulu !” bentak Kiam Ciu menbentangkan kedua tangannya didepan.
Tetapi Li Hok Tian telah melompat dari tampak sangat gusar sekali sehingga kursi dan meja bergelimpangan dilantai, "Saudara Li tahan dulu ! kau harus bertindak dengan kepala dingin, atau kau akan menyesal dikemudian hari !” seru Kiam Ciu.
Siauw Kut Liong terus menyerang tanpa dapat menahan gejolak hatinya yang dirangsang oleh amarah yang meluap. Sedangkan Tong Kiam Ciu telah menyadari bahwa si Naga Kurus itu hanya salah paham, maka Kiam Ciu tidak mau membalas menyerangnya. Hanya dengan gesit Kiam Ciu mengelakkan tiap serangan yang datang. Kemudian untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak diinginkan maka pemuda itu lalu dengan gesit lelah meloncat melalui jendela keluar dari ruang dalam hotel itu, loncatan dengan menggunakan ilmu Hu-liong-jauw-jit atau Naga terbang melalui matahari.
Tetapi Li Hok Tian tak kalah gesitnya. Dengan Sekali loncatan pula telah menyambar lengan kanan Kiam Ciu dan mengirimkan sebuah gablokan kearah punggung Kiam Ciu. Secepat kilat pula Kiam Ciu telah memutar tubuh dan berhasil membuyarkan serangan Li Hok Tian dan menyambar baju si Naga Kurus sambil membentak lantang. "Saudara Li ! Kau janganlah salah paham jika aku nanti dapat menemukan logam pengenal itu maka aku dapat membuktikan bahwa aku tidak berdusta.
Kuharap kelak kau tidak mengejar-ngejar aku lagi.. !” Setelah berseru demikian Kam Ciu telah melepaskan cengkeramannya dan lari kearah kuda putihnya. Saat itu banyak orang yang telah menyaksikan serangan-serangan yang diiancarkan oleh Li Hok Tian dapat dihindari oleh Kiam Ciu. Walaupun Kiam Ciu telah bertindak dengan bijaksana tidak membuat malu lawannya. Namun karena terlalu banyak orang yang menyaksikan itu hingga Li Hok Tian menjadi sangat malu dan bertambah gusar, maka tetap mengejarnya dan membentak kearah Kiam Ciu. "Tahan ! Terima seranganku !” seru Li Hok Tian sambil menggerakkan tangan kanan dan terdengarlah desingan-desingan.
Bersamaan dengan meluncurnya bentakkan itu, Li Hok Tian telah melemparkan senjata rahasia yang berupa cincin besi sejumlah enam buah telah meluncur mengarah ketubuh Kiam Ciu. Sedangkan pemuda itu sedang memegang pelana kudanya. Tong Kiam Ciu telah mendengarkan datang nya serangan keenam cincin besi yang berdesing kearah enam tempat kelemahan Kiam Ciu. Tetapi pemuda itu sengaja tidak akan menghindari datagnya serangan rahasia itu. Kiam Ciu sengaja memang akao memamerkan kepada Li Hok Tian kehebatan ilmu Bu teksin-kang. Maka dengan mengembangkan ilmu andalannya itu yang dirangkapi dengan tenaga dalam dan terdengarlah suara "Duk ! berturut-tueut enam kali.
Ternyata sangat luar biasa keenam cincin besi itu mental balik kearah majikannya. Menyaksikan kilatan keenam senjita rahasia cincin besi yang balik menyerang dirinya, maka Li Hok Tian menjadi sangat terperanjat. Maka dengan sigap pemuda itu melocnat kesamping dan melindungi ketiga jalan darah yang pokok untuk menghindari serangan senjata rahasianya sendiri yang dipukul balik dengan kehebatan Bu tek sin-kang oleh Kiam Ciu. Para penonton hampir serentak berseru kagum. Begitu pula LI Hok Tian merasa kagum juga akan kehebatan Kiam Ciu. Karena baru kali ini pemuda yang bergelar si Naga Kurus atau Siauw kut liong serangan senjata rahasianya gagai bahkan dapat dipukul balik oleh pihak lawan. Karena sangat tergesa-gesa itu si Naga Kurus atau Siauw Kut Liong hingga terhuyung hampir jatuh bahkan seperti orang yang tengah mabuk arak. Pada saat itulah Kiam Ciu menghentakkan kakinya dan melompat kepunggung kuda putihnya, dengan sekali gerak kuda itu telah meloncat bagaikan terbang meninggalkan rumah penginapan.
Diantara orang-orang yang hadlir ditempat itu terdengar ada yang nyeletuk memuji dengan nada suara penuh kekaguman.
"Ohh . . Hui-hong-bu-liu (Angin topan menghembus pohon Liu) suatu jurus yang sangat hebat!” Memang apa yang dilakukan oleh Tong Kiam Ciu adalah Jurus Hui-hong-buliu yang telah dilancarkan oleh Kiam Ciu. Ilmu yang telah diwarisinya dari Siauw Liang. Tetapi yang sangat mengherankan justru yang berseru kagum itu adalah seorang pemuda yang berpakaian compang-camping dan berambut awutawutan terurai bahkan sebagian rambutnya ada beberapa lembar menyibak kedepan. Sehingga kelihatan terkadang pemuda itu menyibakkan rambutnya kebelakang. Tong Kiam Ciu terus membedalkan kudanya. Dari desa Pek-mau terus menerobos masuk kedalam hutan lebat dikaki pegunungan Heng san. Saat itu bulan purnama yang bundar dan terang bersih sedang berkembang menyinari mayapada. Tanpa penghalang mendung segumpalpun.
Kuda putih yang gagah dan Kiam Ciu dengan tenang telah duduk diatas punggung kuda itu. Dipandangnya puncak Ciok yong-hong dengan tarikkan nafas panjang dan terasalah kesegaran hawa sejuk pegunungan malam itu. Sesekali terasa angin semilir menyentuh kulit halus pemuda itu.
Tong Kiam Ciu menarik tali kekang kudanya, pendengarannya yang telah terlatih menangkap suatu suara yang aneh didalam hutan. Maka dengan sangat berhati-hati diperhatikannya sekitar tempat itu dengan teliti. Dengan cepat dia mengalihkan pandangannya kearah suatu tempat lebih kurang seratus depa dari tempatnya mengintai. Apa yang dilihatnya menarik perhatian pemuda itu.
Tampak seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dengan berjambang bauk tetapi kepalanya botak, laki-laki botak itu tampak seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat. Tampak sebilah pedang terpancang dipunggung laki-laki itu. Tetapi tiba-tiba orang itu mencabut pedangnya dan berseru lantang dan "Crak !” terdengar suara bacokkan tahu-tahu pohon kecil didepan laki-laki itu telah roboh dan putus. Kemudian dengan gerak memutar dan cepat laksana kilat pedangnya telah meluncur di udara, kearah sebatang pohon yang terletak sekira sepuluh depa jauhnya.
Sungguh sangat mengagumkan bahwa pedang itu bagaikan dikendalikan oleh suatu kekuatan gaib telah memutari pohon besar itu dan meluncur balik kearah laki-laki yang melemparkannya. Permainan pedang itu adalah ilmu Huiki la-ki.
"Wah, beul-betul suatu ilmu pedang yang baik dan sangat mengagumkan.
Sungguh hebat kepandaian orang itu, kalau tidak salah orang itu adalah Eng Ciok Taysu pemimpin partai persilatan Siauw-lim dipropinsi Hokkian. Aku sering mendapat ceritera dari Twa-supee, dengan kepandaiannya itu dia dapat memenggal kepala lawan dari jarak jauh” demikian pikir Tong Kiam Ciu dengan diam-diam dalam persembunyiannya.
Kemudian tampak laki-laki yang berpakaian pendeta itu dalam keadaan siaga seperti tadi. Kelebatan senjatanya dibarengi dengau robohnya sebatang pohon besar disamping laki-laki gundul itu. Kemudian meloncat kesamping dan beberapa kali membacokan pedangnya pada sebatang pohon itu dapat roboh.
"Hemmm.. . setelah beberapa kali baru pohon ini roboh. Sungguh aku telah tua. Ternyata Eng Ciok sekarang sudah bukan Eng Ciok puluhan tahun yang lalu.
Kini untuk merobohkan sebatang pohon yang tidak berapa besar saja memerlukan terlalu banyak, tenaga.. “ gumam pendeta gundul itu dengan suara yang ditujukan kepada dirinya sendiri.
Sesaat kemudian dia mendogak ke langit dan menyaksikan bulan purnama yang bersinar terang dengan bintang-bintang bertaburan diangkasa tanpa diganggu oleh mega dan mendung.