Namun dengan kepalan tinju yang luar biasa ia telah menghantam hancur batubatu yang menimbuninya dengan gigih dan batu-batu itu berhamburan.
Beberapa saat sebelumnya Hiong Hok Totiang atau ketua partai silat Bu-tong telah masuk kedalam jebakan itu dan menjadi korbannya. Tetapi berkat kehebatan ilmu tenaga dalamnya yang hebat, maka dia sempat bertahan. Hiong Hok Totiang yang dianggap telab binasa itu dibiarkan tertimbun hancur dalam lubang perangkap yang penuh batu itu, Namun Hiong Hok Totiang yang dianggap telah tewas itu.
dengan usahanya yang bersusah payah telah dapat merangkak keatas dari lubang jebakan, semuanya itu dilakukannya pada malam hari, ia bermaksud bersembunyi dalam gua sambil menantikan tenaga dalamnya pulih kembali serta luka-lukanya menjadi sembuh. Terapi luka-luka yang tengah di deritanya itu terlalu berat. Sehingga tubuh yang telah loyo dan tua itu serasa tiada tertahan lagi. Maka ketika dia telah bertemu dengan Kiam Ciu merasa sangat senang hatinya dan berarti satu tugasnya yang sangat diprihatintan itu dapat diselesaikannya.
Setelah kakek itu menyerahkan pedang pusaka Oey-Liong-Kiam kepada Tong Kiam Ciu maka kakek itu lalu tersungkur dan binasa.
Tidak percuma Tong Kiam Ciu mempelajari ilmu sikat dari keempat gurunya.
Dengari tekun pemuda itu telah mempelajari dan memahami ilmu-ilmu dari keempat gurunya dan tanpa rasa lelah. Terutama ilmu ginkang yang telah diturunkan oleh Pek Giok Bwee. Ilmu yang sangat luar biasa dan pada saat-saat seperti saat terjepit ini maka Kiam Ciu segera mengembangkan ilmu meringankan tubuh hingga dirinya tidak terseret masuk kedalam lubang jebakan itu dengan deras dan terbanting.
Ilmu meringankan tubuh yang dulu ditelaga Cui-ouw selalu dilatihnya bersama dengan Ji Tong Bwee ternyata kini sangat berguna dan dengan menghentakkan kaki kanan dengan jurus Pek-yan-ciong-thian atau asap putih membumbung kelangit sambil menghunus pedang Naga Kuning ditangan kanan Kiam Ciu langsung meloncat menyerang musuh.
Tiba-tiba suasana disekitar gua itu menjadi gelap gulita. Orang-orang yang memegang obor berhamburan lari sambil melemparkan obor mereka kedalam lubang perangkap. Tong Kiam Ciu tidak berani untuk meneruskan menyerang dan menghajar musuhnya itu sangat khawatir dengan kelicikan lawan. Dia sangat berhati-hati dan merasa seolah-olah dirinya masih dalam pengawasan dan pengintaian lawan. Karena Kiam Ciu tahu bahwa lawannya sangat licik kemungkinan masih dapat terjadi dan dia dapat mati konyol dan penasaran.
"Siauwhiap (pendekar muda) ! Kau walaupun masih muda usiamu, namun ternyata betul-betul sangat lihay, kau beruntung telah dapat terbebas dari bahaya maut! Tetapi.. “ seru sebuah suara yang sudah dikenal sejak didepan gua dipegunungan Tay Pie san dipropiosi Ouw pak dimana pemimpin partai persilatan Bu-tong terkubur.
"Tetapi apa!” seru Tong Kiam Ciu memotong kata-kata orang itu.
"Kita dari partai persilatan Kim-sai-pang (Singa kuning mas) tidak akan menyerangmu lagi!” jawab laki-laki itu dengan suara tegas.
"Hey pengecut biadab!” bentak Kiam Ciu dengan suar gusar. "Kalian telah banyak membinasakan orang-orang gagah dengan keji. Sekarang pergunakanlah kekejianmu itu terhadapku !” seru Tong Kiam Ciu dengan mendongak dan berseru kearah datangnya suara itu.
"Kita tidak akan menyerangmu lagi, karena partai kami mempunyai suatu peraturan. Jika kita gagal menjebak musuh kita dilarang untuk bertindak lebih lanjut ! Sekarang walaupun Siauwhiap minta kepada kami untuk diserang namun kami sungkan untuk bertindak !” sambung suara itu lagi dengan datar.
Kemudian terdengar suara raungan seperti raungan singa jantan, raungan itu bertambah jauh, semakin jauh dan sayup-sayup terdengar kemudian lenyap sama sekali. "Hemm” aku telah sampai di markas partai Kim-sai-pang” guman Kiam Ciu kemudian matanya menatap pedang Oey-Liong-Kiam, tampaklah kilatan kuning memijar, kemudian terdengar pedang itu disarungkan kembali.
Tong Kiam Ciu teringat kembali tugasnya di puncak Ciok yong-hong dipegunungan Heng-san untuk menghadiri pertemuan para pendekar Bu lim pada pertemuan Bulim-tahwee lima belas hari lagi. Maka segeralah dia meninggalkan tempat itu dan untuk sementara dia melupakan dulu persoalan dengan golongan Kim-sai-pang. Dengan menarik nafas panjang pemuda itu menyaksikan sekitar tempat dimana tadi dia terjebak. Semuanya gelap, tetapi dia telah mengingat-ingat tempat itu dengan jelas dalam benaknya. Untuk suatu ketika kelak dia akan kembali lagi, Pegunungan Heng-san terletak di tengah Propinsi Ouw lam. Pegunungan itu terdiri dari tujuh puluh lima banyaknya. Salah satu puncaknya yang sangat terkenal diantara puncak-puncak yang lain ialah puncak Ciok yong-hong sedangkan di kaki puncak Ciok yong-hong itu terdapat sebuah desa kecil bernama Pek mau. Pada waktu-waktu tertentu tempat itu banyak dikunjungi orang untuk bersembahyang, orang-orang itu berkunjung dan bersembahyang dipuncak Ciok yong-hong dan walaupun desa Pek-mau itu adalah desa yang kecil, namun ada dua bangunan penginapan untuk menampung para pengunjung itu. Saat-saat cepat berlalu, dengan tiada terasa telah dua minggu berlalu.
Kesibukan didesa Pek-mau sangat luar biasa. Telah berkumpul banyak sekali pendatang dari segala jurusan dan propinsi. Karena adalah orang-orang yang sangat tertarik dengan segala macam yang akan terjadi diatas puncak Ciok yong-hong. Karena sehari lagi di puncak Ciok yong-hong akan diadakan pertemuan para tokoh persilatan dari segala penjuru. Pertemuan jago-jago silat dari kalangan Kang-ouw itu akan diakhiri dengan pertandingan ilmu silat di arena Bu lim tahwee. Diantara orang-orang itu tampak pula Tong Kiam Ciu dengan mendengakkan wajahnya pemuda itu mencari penginapan. Maka segeralah pemuda itu menghampirinya dan langsung menemui seorang pengurus. Kudanya ditambatkan diiuar, "Saudara aku ingin bermalam disini apakah masih ada tempat satu kamar untukku?” seru Tong Kiam Ciu dengan penuh harapan. Karena dia khawatir juga kalau sampai kehabisan kamar melihat begitu banyaknya para pengunjung di desa Pek-mau itu, "Hemmmm . . . tuan, selama dua hari ini terlalu banyak tamu datang. Dua penginapan di desa ini telah penuh semua kamarnya dipesan oleh tamu-tamu.
Tetapi untuk Tuan kami dapat menyediakan sebuah kamar..” jawab pengurus penginapan itu dengan tersenyum ramah.
"Terimakasih. Tolong berilah makan kudaku itu. Aku akan memberi tambahan nanti” seru Tong Kiam Ciu sambil menuding kearah seekor kuda yang tertambat didepan, Karena dalam perjalanan tadi kuda yang dipergunakan Tong Kiam Ciu belum diberi makan. "Baik Tuan. Kami harap tuan tidak usah merasa khawatir, semuanya akan kami lakukan dengan baik dan memuaskan” seru pengurus penginapan seraya menghormat tamunya dan kemudian bertepuk tangan memanggil pelayan hotel untuk mengurus segala sesuatu keperluan Tong Kiam Ciu.
Ketika Tong Kiam Ciu memutar tubuh dan bergerak untuk masuk ke ruang tamu tampaklah beberapa orang telah mengangkat wajah dan ada pula yang berpaling memandang pemuda itu. Namun Kiam Ciu tetap bersikap tenang saja.
Sedangkan pedang pusaka Oey-Liong-Kiam digendongnya dipunggung dan tampak tersembul hulu naga kuning kelihatan dari bahu kanannya. Ruparupanya semua yang berada di tempat itu merasa heran menyaksikan pedang pusaka Oey-Liong-Kiam dibawa oleh seorang pemuda belia.
Namun pemuda itu terus saja mengikuti pelayan penginapan yang membawa dia ke kekamar yang telah disedhakab. Langkahnya tegap dan pasti, menggambarkan bahwa pe muda itu adalah seorang pemuJa yang telah terlatih untuk percaya kepada diri sendiri.
Sore harinya ketika Tong Kiam Ciu sedang makan sore seorang diri, tibatiba datang menghampiri ke tempat duduknya seorang pemuda yang lebih muda dari Kiam Ciu sekira pemuda itu berumur dua puluh tahun. Pemuda itu berwajah putih bersih, bertubuh kurus kering. Dengan hormat dan tersenyum.
"Aku bernama Li Hok Tian, orang-orang kalangan Kang ouw memanggilku dengan sebultan Siauw kut-liong (Naga Kurus). Apakah diperbolehkan aku untuk duduk bersama-sama dengan anda ?” seru pemuda kurus itu dengan suara mendatar, sopan dan hormat.
Sesaat Tong Kiam C.u menatap wajah pemuda kurus itu. kemudian tersenyum dan mempersilahkan pemuda itu untuk duduk semeja dengan Kiam Ciu. "Aku bernama Tong Kiam Ciu. baru saja terjun kedalam dunia Kang-ouw..”
jawab Kiam Ciu dengan hormat dan ramah.
"Kuharap saudara Tong tidak bergusar hati, karena aku akan mengajukan suatu pertanyaan. Dimanakah saudara Tong memperoleh pedang pusaka Oey liong-kiam itu ?” seru Siauw kut-liong dengan berterus terang.
"Saudara Li, bukankah kita baru saja ber kenalan ? kukira pertanyaanmu itu melewati batas kesopanin !” seru Kiam Ciu sambil menatap wajah pemuda dihadapannya. Kemudian Kiam Ciu acuh tak acuh dan menyuapkan hidangannya. "Saudara Tong, kukira apa yang kulakukan ini bukan suatu kelancangan.
Apakah kau sudah tak tahu aku ini siapa ?” seru pemuda kurus itu seraya menjulurkan kedua jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan kearah tangan Kiam Ciu yang sedang mengumpit makanannya. Pemuda itu mencoba tenaga dalam Kiam Ciu. Perbuatan kedua pemuda itu diperhatikan oleh para tamu. Terutama diperhatikan betul-betul dengan seksama oleh seorang pemuda yang berpakaian compang camping, rambutnya terurai dibiarkan menggerai dibahu bahkan sebagian menyibak ke wajahnya. Pemuda itu duduk di suaiu sudut menghadap kearah dimana Kiam Ciu duduk.
Sebetulnya Li Hok Tian atau Siauw kut-liong adalah murid kesayangan Hiong Hok Totiang. Li Hok Tian telah turun kedunia persilatan dan berkelana dikaiangan kangouw selama dua tabun. Partai persilatan Bu-tong sangat termashur dengan ilmu pedangnya, Semenjak berkelana dikalangan Kangouw Li Hok Tian hanya menemui dua orang pendekar yang kuat. Sedangkan musuhmusuh lainnya dia kalahkan dengan ilmu pedangnya Hui-liong-cit kiamsut atau jurus naga terbang sehingga dikalangan Kangouw dia mendapat gelar si Naga Kurus atau Siauw kut-liong.
Setelah merasakan tekanan sumpit Tong Kiam Ciu dia merasa terperanjat.
Karena dia belum peroab dipermainkan sedemikian rupa oleh siapapun. Maka dengan sangat gusar dan merasakan dia ingin segera melabrak Kiam Ciu.
pemuda yang baru saja dikenalnya itu. Tetapi sesaat kemudian ketika matanya melirik kearah hulu pedang yang bersembul dibahu Kiam Ciu pemuda kurus itu menjadi sangsi dan dia tersenyum.
"Pedang Oey-liong-kiam itu telah dititipkan oleh Pek-hi-siu-si kepada Hiong Hok Totiang pemimpin partai persilatan Bu-tong dan beliau adalah guruku.” seru Li Hok Tian dengan jelas dan tegas.