Halo!

Warisan Jendral Gak Hui Chapter 13

Memuat...

"Apa katamu anak muda ? Kami harus membayar dengan nyawa ? Seenaknya saja kau bersuara dihadapan kami, batok kepalamu yang akan kami copoti !” bentak orang itu dengan suara melengking seperti suara wanita.

"Ayoh kita pergi !” serunya kspada keempat kawan-kawannya.

Tetapi sebelum orang-orang itu pergi meninggalkan dengan segeralah Kiam Ciu berseru pula lebih lantang dan tandas membentak keras.

"Tunggu.. .!” bentak Kiam Ciu dengan keras dan berwibawa, "Akulah yang mewakili Hiong Hok Totiang untuk membuat perhitungan dengan kalian !”

"Kau pernah apa dengan si keparat Totiang itu ?” seru sipendek gemuk yang rupa-rupanya adalah pemimpin diantara keempat orang-orang yang berpakaian kulit singa itu. "Peduli apa dengan kalian, hubunganku dengan Hiong Hok Totiang adalah urusanku . . . !” seru Kiam Ciu dengan suara gusar, tetapi diam-diam pemuda itu telah siap siaga. Sesaat Kiam Ciu memperhatikan gerak-gerik kelima orang yang berada didepannya itu. Mereka tampak sangat mencurigakan sekali. Dengan berloncatan mereka membentuk sebuah gerakan dan tahu-tahu mereka telah berdiri sederet dihadapan Kiam Ciu. Ketika keadaan mereka telah siap sama sekali, maka mereka dengan berbareng telah meloncat menyerang Kiam Ciu. Serangan dengan serentak dengan loncatan dan serangan tangan berbareng keempat orang-orang berpakaian kulit singa itu kearah dada dan bagian-bagian kelemahan Kiam Ciu.

Sedangkan Tong Kiam Ciu yang telah siaga secara diam-diam tadi kini telah mempersiapkan sebuah hantaman kedua tinjunya untuk menggempur hardik serangan lawan. Maka kedua tinju Kiam Ciu berbareng dengan datangnya serangan itu memukul kedepan.

Angin pukulan yang hebat telah mendampar dan menghalaukan serangan pihak lawan dengan hebat sekali. Angin pukulan Kiam Ciu yang dilambari tenaga dalam luar biasa itu sangat hebat pengaruhnya terhadap kelima orang lawan yang kelihatan seram dan tegas itu.

"Kepandaian yang dahsyat sekali !” seru laki-laki bertubuh pendek gendut itu dengan loncatan surut kebelakang tanpa sadar. "Ternyata kau dapat menahan serangan kami tanpa kamu menderita luka dalam! Kitapun akan menyudahi urusan ini jika kau sudi pula menyerahkan pedang pusaka Oey-Liong-Kiam kepada kami.. .!” pemimpin orang-orang itu dengan nada membujuk dan mengulurkan tangan kanan kedepan seraya mesem.

Tong Kiam Ciu merasa yakin bahwa dia dapat menundukkan lawannya dalam beberapa jurus saja. Maka dia sangat berani untuk menantang dan mendamprat kelima orang berbaju kulit singa itu.

"Menyerahkan pedang ini ? Hmmm . . kau seenaknya saja berbicara. Dengan dalih apakah kau menghendaki penyerahan senjata pusaka ini?” seru Kiam Ciu dengan kerutkan kening dan merasa gusar. "Pedang Oey-Liong-Kiam ini adalah pedang warisan dari guruku, maka aku lebih berhak untuk menguasai benda ini..!” sesaat Kiam Ciu terhenti karena menyaksikan gerak mencurigakan dari kelima orang lawannya itu.

"Lagi pula kalau aku tidak sudi menyerahkan pedang ini kalian akan berbuat apa terhadap diriku ?” seru Kiam Ciu dengan suara dampratan keras.

"Anak muda! Kau kira bahwa kau akan dapat lolos dari perangkap kami ?”

seru laki-laki pendek bertubuh gendut itu dengan mata mengkilat dan tidak luput mengawasi terus pedang Oey-Liong-Kiam yang bergantung dipinggang Kiam Ciu. Pedang berhulu kepala naga berwarna kuning.

"Kalian sudah berlima, masih juga akan menggunakan perangkap untuk menangkap diriku seorang ?” seru Kiam Ciu dengan mata melotot dan mulut dibulatkan kearah kelima orang berbaju kulit singa itu.

Tetapi kelima orang itu kini tidak menanggapi kata-kata Kiam Ciu, seo!aholah kata-kata itu tidak didengarnya. Kelima orang itu dengan tenang telah memutar tubuh dan dengan tenangnya meninggalkan tempat itu.

Kini Kiam Ciu menjadi sangat heran dan tidak tahu maksud orang-orang yang berada didepannya itu. Sama sekali dia tidak memahami segala macam sifat kelima orang yang dianggap aneh itu oleh Tong Kiam Ciu.

Sebenarnya Kiam Ciu akan meloncat menerjang kelima orang itu dengan tendangan dan pukulannya. Bahkan dia betul-betul ingin lekas-lekas membinasakan kelima orang itu. Karena dia yakin benar bahwa Hiong Hok Totiang telah dibinasakan oleh kelima orang berbaju kulit singa itu, Namun dengan tiba-tiba dia teringat pesan gurunya Pek-hi-siu-si yang memesankan dengan sangat ditandaskan.

"Hmmm.. . kalau begitu aku harus sangat berhati-hati menghadapi lima orang ini, aku harus sabar dan teliti untuk mengusut kelima orang ini sebelum bertindak lebih lanjut.. . “ pikir Tong Kiam Ciu dengan menahan hasratnya untuk menerkam dan membinasakan kelima laki-laki itu.

Kelima orang itu meninggalkan depan gua dimana Hiong Hok Totiang terkubur dan Kiam Ciu berdiri melompong dan membisu dengan menahan gejolak amukan amarahnya. Kelima orang itu berjalan sangat cepat, kemudian memasuki semak belukar. Ketika langkah itu berjarak lima puluh depa maka muncullah dua orang yang berpakaian sama pula dengan kulit singa dan menjura kepada kelima orang itu. Kemudian setelah kelima orang itu berlalu segeralah mereka berdua meloncat kembali masuk ke dalam gerumbulan.

KIAM CIU mengikuti jejak kelima orang iiu. Disamping dia memang berhasrat untuk menuntut balas atas kematian Hiong Hok Totiang juga dia ingin mendapatkan sesuatu pengalaman yang luar biasa dalam persilatan. Rahasia berbagai peristiwa kehidupan manusia.

Tetapi segala gerak-gerik orang berpakaian kulit singa yang dipandang sangat aneh itu, terus diintai dan diikuti oleh Kiam Ciu. Sampai akhirnya kelima orang itu mendaki pegunungan dan ketika sampai disebuah gua empat orang telah langsung memasuki gua dengan meninggalkan seorang diluar gua. Orang yang ditinggalkan itu kemudian melihat kebelakang, setelah itu melompat masuk kedalam gua juga. Tong Kiam Ciu merasa bingung juga menyaksikan keadaan itu. Dengan tindakan berhati-hati dan mata mengawasi waspada kedalam gua itu dia berpikir, "Jika aku turut memasuki gua ini. kemungkinan besar aku tidak akan dapat keluar lagi dengan selamat. Lebih baik aku menunggu saja diiuar!”

demikian pikir Tong Kiam Ciu sambil meraba-raba dinding depan mukut gua dan matanya mengamati sekeliling gua itu.

"Hay.. hi.. hi. hi.. Apakah kau tidak rasa heran kalau sebentar lagi nyawamu akan segera kami renggut ?!” suara itu keluar dari dalam gua yang semakin lama semakin jauh. Suara itu berpantulan bergema membentur dinding gua tetapi alunan suara itu bertambah jauh.

Setelah suara gema itu lenyap sama sekali, maka kini keadaan menjadi sangat hening dari menyakitkan telinga. Kemudian terdengar titikan air dari dinding atap gua jatuh dltampungan air yang melahangi batu. Suara air itu sangat menusuk-nusuk hati terdengarnya dan dirasakannya.

Tong Kiam Ciu masih tetap berdiri didepan pintu gua. Suasana menjadi sangat sepi dan gelap, hujan gerimis masib rintik-rintik dan sesekali terlihat bunga api menerangi bumi dan gelap kembali. Lebih gelap rasanya daripada sebelum silau karena kilatan halilintar itu.

Tetapi dengian sangat mengejutkan telah terjadi. Berhamburanlah sinar obor berjatuhan dari langit menghujani Kiam Ciu yang ma sih berhenti. Hujan obor itu sesaat menjadi reda dan tahu-tahu telah berdiri orang-orang berpakaian kulit singa dengan memegarg obor ditangan kanan. Mereka berjumlah dua ratus orang banyaknya. Sangat terperanjatlah Tong Kiam Ciu menyaksikan semuanya itu. Tetapi dia tidak bersuara hanya meningkatkan kewaspadaannya atas segala kemungkinan yang mungkin terjadi.

Orang-orang itu telah berdiri dihadapan dan disekitar Kiam Ciu dengan sikap mengancam, dengan memperhatikan gerak-gerik mereka itu tahulah Kiam Ciu bahwa orang-orang itu sudah tidak sabar lagi untuk menerima tanda penyerangan terhadap Tong Kiam Cui yang telah terjebak keatas puncak pegunungan. Salah seorang diantata kedua ratus orang itu adalah seorang yang bertubuh gendut dan pendek, Orang yang tadi telah berhadapan dengan Kiam Ciu didepan gua dimana kakek Hiong Hok Totiang terkubur. Dia adalah pemimpin gerombolan orang-orang yang mengepung Kiam Ciu saat itu.

"Hey anak muda ! Apakah sekarang kau bersedia menyerahkan pedang pusaka Oey-Long-Kiam ? Kau memang lihay.. tetapi kau akan tewas juga akhirnya jika berani melawan kita.. pertimbarakanlah masak-masak hal itu dan lekas !” seru laki-laki pendek gendut itu berseru lantang. Sinar matanya mengkilat seperti kilatan api obor ditangan anak buahnya.

"Aku belum pernah kenal dengan kalian sebelum ini, juga aku tidak akan semudah seperti sangkamu untuk dengan begitu saja menyerahkan pedang pusaka ini kepada siapapun. Hanya dengan melangkahi mayatku baru kalian dapat merebut pedang ini ! Atas dasar melindungi pedang pusaka guruku inilah aku tidak dapat sungkan-sungkan lagi untuk menghadapi kalian ?” seru Kiam Ciu sambil menyilangkan kedua lengannya didada untuk menghadapi segala kemungkinan yang datang dengan tiba-tiba.

"Jadi kau betkeras kepala ?” seru laki-laki gendut pendek itu dengan membentak dan mata melotot mengeluarkan bunga api. "Kau akan menyesal kelak !” seru pemimpin itu sekali lagi dengan mengangkat tangan memberikan isyarat kepada orang-orang yang berdiri dibelakang Kiam Ciu untuk menyerang berbareng. Tong Kiam Ciu tahu babwa orang-orang yang ber diri dibelakangnya telah mendapat aba-aba untuk meyerang. Maka dengan cepat Kiam Ciu memutar tubuh dan surut selangkah untuk memasang kuda-kuda menghadapi serangan hebat serentak dari lawannya.

Saat itu seolah-olah jantung Kiam Ciu terbang, karena sebelumnya dirasakannya Kiam Ciu menginjak sesuatu yang lunak kemudian seperti terhisap Kiam Ciu terdorong kebelakang dan terperosok kedalam sebuah lubang sumur yang dalam. Ternyata musuhnya telah memasang perangkap dengan membuat lubanglubang sumur yang ditutupinya dengan tanah dan rumput. Setiap lawan yang masuk dalam jebakan itu akan ditimpuki dengan batu-batu keras dan besar serta ditimbuninya hingga binasa.

Tong Kiam Ciu meronta dan berusaha malawan timpukan batu-batu berhamburan dan hampir membentur kepala Kiam Ciu.

Post a Comment