Karena hujan yang sangat lebat itu walaupun bagaimana Kiam Ciu butuh kehangatan dan berteduh. Maka dengan terlihatnya mulut gua itu dia sangat ingin secepat-cepatnya untuk mencapainya.
Dengan sebuah loncatan yang sangat indah pemuda berpakaian serba putih itu telah berdiri didepan pintu gua. Tetapi ketika kakinya baru saja menginjak tanah didepan pintu gua, tiba-tiba sebuah hembusan angin keras kearah dirinya.
Tahulah Klam Ciu bahwa angin yang menerpa itu adalah sangat berbahaya mengandung hawa panas, Maka dengan mendadak pula pemuda itu melejit diudara dan angin hembusan itu menghantam batu besar yang berada didepan pintu gua dan terdengarlah sebuah derakkan riuh sekali dan batu besar itu hancur. Kini tahulah Kiam Ciu bahwa angin yang menerpa keluar itu adalah sebuah tenaga pukulan jarak jauh yang sangat luar biasa..
"Luar biasa !” seru Kiam Ciu dalam hati. Pemuda itu telah menduga bahwa didalam gua telah ada seseorang, tetapi gegabah menyerang tanpa menegur terlebih dahulu. "Siapa diluar!” terdengar suara tajam mengguntur dari dalam, tetapi jelas terdengar bahwa suara itu keluar dengan sangat tertahan dan Kiam Ciu telah dapat menduga bahwa yang berada didalam gua itu adalah seorang sakti tua yang luar biasa. "Aku . . Tong Kiam Ciu. Aku datang akan berteduh dalam hutan lebat ini. Jika aku telah mengganggu Locianpwee maka aku minta maaf!” sahut Kiam Ciu dari luar dengan suara keras tetapi sopan.
Walaupun Kiam Ciu berlaku sangat merendah dan hormat tetapi ruparupanya orang yang berada didalam gua sama sekali tidak menggubris akan kata-kata pemuda itu. Maka sekali lagi Kiam Ciu berseru, "Locianpwee apakah aku diperbolehkan masuk?!”
"Anak muda yang diluar siapa namamu ?!” seru suara orang dari dalam gua itu sekali lagl, "Aku bernama Tong Kiam Ciu” jawab Kiam Ciu dari luar gua dengan suara keras dan sopan. "0hh.. . Kau Tong Kiam Ciu.. . kalau begitu kau boleh masuk!” seru suara itu sekali lagi. Mendengar jawaban itu Tong Kiam Ciu melangkah kedepan untuk memasuki pintu gua. Sekali lagi terasa datangnya angin pukulan yang berhawa panas dari arah dalam gua. Tetapi kali ini Kiam Ciu sudah mengelakan serangan itu seperti yang dilakukan diluar gua tadi. Keiika dirasakan angin pukulan itu telah dekat maka Kiam Ciu mengangkat kedua tangannya dengan tapak tangan kedepan sambil mengerahkan ilmu Bo-kit-sin-kong yang telah diyakini ajaran dari Pekhi-siu-si. ternyata ilmu yang telah diyakini itu dapat membuyarkan tenaga pukulan lawan. Kemudian Kiam Ciu melangkah lebih kedalam lagi.
Suasana didalam gua itu sangat sepi sekali samar-samar dia melihat bentuk tubuh seorang kakek berjenggot panjang dan rambut yang awut-awutan, sedang pakaiannya telah terkoyak-koyak dan tampak noda-noda darah.
Kakek itu tengah mengawasi Kiam Ciu dengan pandangan mata yang suram.
Sedang rambutnya yang awut-awutan bertebaran ke wajahnya tertiup angin keras dari luar. "Rupa-rupanya kakek ini dalam keadaan terluka dalam” pikir Kiam Ciu.
"Torg Kiam Ciu?! Kau yang bernama Tong Kiam Ciu? Terimalah ini hadiahku!”
seru kakek itu diakhiri dengan sebuah pukulan dahsyat kearah dada Tong Kiam Ciu. Tong Kiam Ciu hanya memiringkan tubuhnya sedikit tanpa membalas menyerang. Tetapi orang tua itu mengirimkan pukulan dengan kekuatan luar biasa, ketika pukulannya ternyata memukul tempat kosong hingga dia tidak dapat menguasai tubuhnya lagi. Kakek itu terhuyung kedepan dan jatuh tersungkur, dan pada saat itu juga dia memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Tetapi kakek itu lekas-lekas meloncat kembali berdiri memutar tubuh menghadap Kiam Ciu dan tertawa cekakakan.
"Hemmmm.. . mengapa tertawa? Apakah kakek ini telah tergoncang hebat otaknya hingga menjadi gila?” pikir Kiam Ciu dengan sangat heran memandang kearah kakek itu. "Bo-kit-sin-kong! Tidak salah lagi kau telah dapat menguasai Bo-kit-sin-kong dengan sempurna!” kakek itu berteriak-teriak seperti orang gila. Kemudian menatap Kiam Ciu dengan pandangan mata seksama. "Hey, Tong Kiam Ciu bagaimana kau dapat berada di pegunungan ini ?” sambung kakek itu dengan kerutkan keningnya. Segala gerak dan tingkah kakek itu sangat aneh, sehingga pemuda itu menjadi bingung dan tidak dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang tiba-tiba dan sangat ramah itu. Kemudian diamatinya orang tua yang berada dihadapanya itu. Tetapi ketika matanya menyaksikan sebilah pedang yang bergantung dipinggang kakek itu sebilah pedang kepala Naga berwarna kuning.
Diam-diam Kiam Ciu jadi terperanjat.
"Hey Tong Kiam Ciu! Apakah kau tahu aku ini sapa ?” seru kakek awut-awutan itu dengan lantang dan tiba-tiba pula.
"Apakah Locianpwee . . . bukan Hiong Hok Totiang ?” jawab Kiam Ciu dengan hormat dan ragu-ragu sambil mengawasi mata kakek itu.
"Ha ha-ha. dari mana kau tahu bahwa aku Hiong Hok Totiang ? Hemmm . . “
seru kakek itu dan tampak keningnya berkerut seolah-olah kakek itu sedang menahan perasaan sakit yang luar biasa.
"Dengan melihat pedang Oey-liong-kiam yang bergantung dipinggang Locianpwee, Locianpwee terimalah hormatku, sudilah Cianpwee memaafkan segala kekurang ajaranku tadi.. . . “ seru Tong Kiam Ciu sambil membungkuk memberi bormat Sesaat kemudian Tong Kiam Ciu telah berlutut dihadapan Hiong Hok Totiang dan menghormat. "Sudahlah berdirilah dan jangan terlalu banyak memakai peradatan begitu”
seru Hiong Hok Totiang sambil mengangkat bahu Kiam Ciu Sesaat lamanya suasana menjadi sepi lengang hanya napas kedua orang itu yang terdengar. Diluar gua masih hujan dengan lebatnya dan sesekali gebyaran sinar halilintar menerangi dalam gua.
"Sekarang dengarlah baik-baik pesanku ini Kiam Ciu! Sebenarnya aku harus menantikan kedatanganmu dipegurungan Bu-tong. Tetapi pada sekira setengah bulan yang lalu aku telah menerima sepucuk surat yang menyuruhku datang di pegunungan ini untuk menyerahkan pedang pusaka Oey-Liong-Kiam. Maka saat ini aku berada disini. Apakah kau telah pergi ke pegunungan Bu-tong untuk mencariku?” "Ya. Tetapi aku mendapat keterangan bahwa Locianpwee telah berangkat ke pegunungan T"ay-pie-san tiga hari yang lalu.. . . “
"Hemm.. . . aku sama sekali tidak menduga kalau akan masuk perangkap. Aku telah ditawan didalam gua ini dalam keadaan terluka dalam selama dua hari.. . “
kakek itu berhenti sebentar sambil meringis menahan rasa sakit kemudian meneruskan; "Pedang Oey-Liong-Kiam ini adalah pedang pusaka Jenderal Gak Hui, dikalangan Kang-ouw pedang itu termasuk pedang nomor satu di kolong langit ini. Kini aku serahkan pedang ini kepadamu atas pesan gurumu Pek-hisiu-si dan aku minta padamu agar kau dapat menggunakannya dengan baik pula dapat melindunginya. Nanti sekira lima belas hari lagi di puncak pegunungan Heng-san akan diadakan pertemuan para tokoh persilatan dalam pertemuan Bu-lim-tahwee diatas puncak Ciok yong-hong. Pesan gurumu bahwa dengan pedang pusaka ini kau diharapkan untuk mewakilinya. Baiklah kau harus menjunjung nama baik gurumu Pek-hi-siu-si yang telah menjagoi dunia persilatan selama tiga puluh tahun lebih itu", kakek itu dengan menahan rasa sakit yang amat sangat didadanya dan tampak meringis dan mengucurkan keringat dingin. Setelah menyaksikan pedang pusaka, kemudian kakek itu merogoh dari saku jubahnya sebuah benda mengkilat kuning selebar tiga jari tangan, diatas lebaran berwarna kuning itu tertera ukiran seorang tojin (pendeta) tua yang berjenggot panjang. Sambil menyerahkan benda mengkilat berwarna kuning itu Hiong Hok Totiang berkata: "Aku kini aku sudah tidak lama lagi akan binasa, luka-lukaku sangat hebat sekali didalam tubuh. Ohhh . . kuserahkan benda ini padamu Kiam Ciu, benda ini adalah suatu tanda pengenal dari partai persilatan Bu-tong. Bila kau menemui kesulitan dan menjumpai orang-orang dari partai persilatan Butong maka dengan memperhatikan tanda pengenal kuningan itu kau akan segera mendapat bantuan . . .". Setelah kakek itu menyelesaikan kata-kata dan menyerahkan dua benda itu kepada Kiam Ciu maka terhentilah sejenak dan hening. Tiba-tiba terdengar kakek itu terbatuk dan meringis menahan rasa sakit tetapi Hiong Hok Totiang memuntahkan darah bergumpal-gumpal dan tersungkur jatuh ditanah, kedua tangannya menahan rasa sakit dengan menekan dada. Kemudian terdengar pula jeritan panjang yang mengerikan kakek itu menggeliat, matanya terbelalak Hiong Hok Totiang binasa dalam keadaan yang sangat mengerikan.
Saat itu berbareng pula petir menyambar dengan suara dahsyat. Hujan belum lagi reda. Sinar kilatan petir itu sesaat menyinari wajah Kiam Ciu yang kelihatan tegang dan ngeri ketika menyaksikan mayat Hiong Hok Totiang dalam keadaan yang sangat mengerikan itu. Baru saat itu dia menyaksikan seseorang binasa dengan sangat mengerikan akibat siksaan. Sekali lagi kilatan petir itu menerangi dekat pintu gua dimana Kiam Ciu masih merenung dekat jenasah pemimpin partai persilatan Bu-tong.
Tetapi ketika dia menyadari bahwa masih banyak tugas yang harus diselesaikan, maka segeralah dia menggali lubang lahat didalam gua itu untuk merawat mayat Hiong Hok Totiang. Semuanya itu dikerjakan dengan sangat cepat dan mengerahkan tenaganya yang luar biasa. Maka tidaklah mengherankan kalau dalam waku tiada lama telah selesai menyempurnakan jenazah kakek itu dengan sangat sederhana, Setelah selesai memakamkan jenazah pemimpin Bu-tong tadi, maka pemuda itu memutar tubuh dan masih dengan kening berkerut dan tubuhnya lesu karena sesalan dan rasa duka atas kejadian yang mengerikan itu, Kiam Ciu meninggalkan gua itu. Tetapi langkahnya terhenti sejenak ketika dia menyadarinya bahwa dibawah sebatang povon yang tinggi dan rindang didepan mulut gua tampak berdiri lima orang Iaki-laki gagah berpakaian terbuat dari kulit singa. Orang-orang itu tampak mengawasinya, mereka tampak seram dan geram dengan sorot mata menyalanyala.
"Tentu mereka inilah yang telah menjebak dan menganiaya Hiong Hok Totiang . . “ pikir Tong Kiam Ciu sambii melirik kearah kelima orang itu.
Kemudian Tong Kiam Cu membentak kearah kelima orang itu dengan suara lantang dan tangan menuding kearah kelima orang dihadapannya.
"Hey kalian berlima harus bertanggung jawab atas kematian Hiong Hok Totiang! Kalian harus mengganti jiwa atas kematian Hiong Hok Totiang !” seru Tong Kiam Ciu dengan suara lantang dan gusar.
Mendengar jeritan Kiam Ciu yang lantang dan marah itu membuat suasana yang dingin karena hawa pegunungan dan hujan itu menjadi panas. Salah seorang dari kelima orang itu yang bertubuh besar pendek segera meloncat kedepan diantara kawan-kawannya sehingga kelihatan lebih nyata. Orang itu berseru dengan suara yang tinggi dan seperti suara wanita.