Maka sudah waktunya kau untuk memulai dengan pengabdianmu.. . . “ demikian Pek-hi-siu-si berhenti lagi dan ditatapnya wajah pemuda itu dengan helaan napas dalam. Kiam Ciu merasa terperanjat dengan kata-kata itu, kemudian menunduk kembali seolah-olah melihat ke ujung kaki kakek yang duduk dihadapannya seraya menghormat. "Aku akan segera melaksanakan perintah. sekarangpun aku telah bersedia jika itu kehendak Twa-supee” seru Kiam Ciu dengan penuh hormat dan halus.
"Kiam Ciu, kurasa kinilah saatnya kau untuk mengetahui suatu rahasia yang selama ini kami simpan. Rahasia tentang musuh besarmu, juga musuh besar keluargamu.. !” seru Pek-hi-siu-si. "musuh besarmu itu tiada tentu tempat tinggalnya dan mempunyai watak yang sangat ganas.. Terus terang aku sendiri belum pernah melihat mukanya, hanya mendengar nama gelarnya dan sepak terjangnya serta kehebatan ilmunya dikalangan Kang-ouw. Maka kau harus mencarinya sendiri. Carilah orang yang bergelar Ciam Gwat!” seru Pek-hi-siu-si seolah-olah telah menjadi lega dadanya telah mengeluarkan segala apa yang selama ini disimpannya dalam dada.
Kiam Ciu mendengarkan penuiuran gurunya itu dengan penuh perhatian.
Bergolaklah harinya penuh kegusaran dan seolah-olah pemuda itu ingin dengan cepat meloncat untuk mencari musuh besarnya yang telah membinasakan seluruh keluarganya itu. "Baik aku telah pahan semuanya Twa-supee” sahut Kiam Ciu.
"Tunggu! Masih ada lagi pesanku . . . “ seru Pek-hi-siu-si ketika menyaksikan pemuda itu tampak tidak sabar lagi, "Pergilah kau terlebih dahulu untuk mencari pemimpin golongan persilatan Bu-tong dan temui Hiong Hok Totiang. Ketika aku mengundurkan diri dari kalangan Kang-ouw aku telah menitipkan pedang pusakaku kepadanya, Oey-Liong-Kiam (pedang pusaka naga kuning). Aku juga berpesan kepadanya bahwa sembilan tahun kemudian pedang putaka itu akan kuwariskan kepada seorang pemuda yang bernama Tong Kiam Ciu, dan pedang itu akan diambilnya. Muridku Kiam Ciu, tiga bulan lagi para pemimpin partai persilatan dan para pendekar kenamaan akan bertemu dalam Bu lim-tahwee di puncak Ciok yong-hong diatas pegunungan Heng-san yang hanya diselenggarakan tiap sepuluh warsa sekali. Dengan . . . dengan.. . membekal Oeyliong-kiam kau dapat mewakili aku dalam pertemuan itu” kakek itu sekali lagi terhenti karena gangguan batuknya.
Kemudian Pek-hi-siu-si mengambil sebuah bungkusan yang terletak diatas meja seraya melanjutkan kata-katanya ; "Didalam bungkusan ini terdapat sebuah kitab catalan kelahiranmu yang telah kusimpan selama enam belas tahun lamanya. Disamping kitab catatan itu terdapat juga sebuah kotak hitam yang berisi dua belas buah golok Liu-gian-to hadiah dari pamanmu Siauw Liang. Juga perak sebanyak seratus tahil untuk ongkos selama kau dalam perjalanan , , , “
seru Pek-hi-siu-si sampai disitu terhenti dan terbatuk lagi.
Tong Kiam Ciu menundukkan kepala dengan terharu atas segala kebaikan itu, Dia sebenarnya tidak tega untuk meninggalkan Pek-hi-siu-si yang kelihatan payah itu. walaupun kakek itu telah berusaba sedapat mungkin untuk menyembunyikan penderitaan karena luka dalam. Pula pemuia itu sangat berat untuk meninggalkan orangtua angkatnya, paman Siauw Liang dan adik angkat yang sangat dicintainya Tong Bwee.
Bergemuruhlah dalam dada pemuda itu, berbagai-bagai perasaan bersambung menjadi satu menghantam indranya menggempur jiwanya.
Berperanglah jiwanya antara kewajiban sebagai seorang jantan dan satria sejati, Tiba-tiba dalam kegemuruhan kegoncangan jiwanya itu terdengar suara Pek-hisiu-si menegurnya.
"Kiam Ciu,” tegur Pek-hi-siu-si datar, "dikalangan rimba persilatan nanti kau akan mengalami banyak kejadian. Itu lebih baik bagimu untuk menambah pengalaman dan menghayati hidup dan mendarmakan kepandaianmu untuk sesama umat. Kau harus bersikap sabar dan berhati-hati, kenalilah dirimu sendiri.. .". Nah kini saatnya kau harus berangkat !” sampai disitu Pek-hi-siu-si berhenti dan memejamkan matanya menaban air mata keharuan yang tiada terbendung lagi. Dalam keadaan itu Siauw Liang telah menghampiri Kiam Ciu dan memegang bahu pemuda itu seraya berkata: "Kiam Ciu semenjak kau masih bayi aku sering menggendongmu kau tahu bukan bahwa aku tidak pandai berkata panjang lebar.
Aku hanya dapat berdoa semogg kau dapat berhasil dalam segala usahamu . . . . . “
Dengan air nata berlinang Tong Kiam Ciu berlutut dihadapan Pek-hi-siu-si, kemudian menghampiri Ji Han Su dan Pek Giok Bwee berlutut seraya berkata: "Ayah, Ibu, aku telah melelahkanmu mengasuhku selama sembilan belas tahun lamanya. Sekarang aku akan segera meninggalkan kalian orang budiman . . . Aku mohon diri". demikian kata-kata iiu tidak dapat keluar dengan lancar seolah-olah tersekat didalam kerongkongannya.
"Kiam Ciu , , “ kata Pek Giok Bwee. "Aku berharap semoga kau berbesar hati dan menghalaukan kesedihan karena perpisahan ini. Orang hidup tidak selamanya harus berkumpul, ada waktunya kita harus bepisah. Lagi pula se!ain kau harus menunaikan tugas baktimu, kau harus banyak mencari pengalaman dikalangan Kang-ouw.” sampai disitu Pek Giok Bwee menasehati Kiam Ciu dan menghiburnya agar pemuda itu menghilangkan perasaan hatinya yang sedih karena akan berpisah. WaJaupun sebenarnya Pek Giok Bwee sendiri merasakan betapa beratnya untuk berpisah dengan pemuda itu. Karena telah sembilan belas tahun dia mendidik dan mengasuh pemuda itu dengan penuh kasih sayang sebagai anaknya sendiri.
"Kiam Ciu.. kau dapat segera berangkat !” seru Ji Han Su. “ Semakin lama kau berdiam diri, bertambah sedih hati ibumu nanti. Setelah kelak kau berhasil menunaikan tugasmu aku yakin kita masih banyak waktu untuk berkumpul kembali. Hanya pesanku, pesanku anakku.. . kau baik-baiklah menjaga dirimu!”
Setelah Ji Han Su diam, maka tempat itu jadi hening. Hanya terdengar angin mendesau bertiup menghembus tirai ruang tamu. Saat itu juga Tong Kiam Ciu telah bangkit perlahan-lahan. Kemudian memutar tubuh dan meninggalkan rumah itu tanpa menoleh lagi.
Makia lama dia melangkah maka tidak lama telah sampai dihutan bambu dan cepat-cepat ia menuju ketepian telaga Cui-ouw. Kiam Ciu berdiri dibawah pohon Liu. Matanya nanar memandang keatas air telaga yang bening, Melihat kembang-kembang teratai yang daunnya menghijau pemuda itu mengenangkan masa lampau meengenangkan masa kanak-kanak dimana dia sering bermainmain di telaga dengan Tong Bwee. Masa kanak-kanak yang sangat menyenangkan dan sangat berkesan didalam hatinya.
Lama juga pemuda itu melamun dan mengenangkan masa lampau, tetapi lamunannya itu menjadi buyar ketika dirasanya ada seseorang yang mendekati.
Disamping itu hidungnya telah mencium bau harum yang tiada terlupakan bau harum itu. Karena tiada lain adalah keharuman rambut Ji Tong Bwee.
Dengan tiba-tiba pula Kiam Ciu memutar tubuh dan berseru : "Moy!” Hanya sampai disitu kemudian tiada sepatah katapun yang terucapkan. Hanya pandangan mata mereka saling bertemu dan senyuman manis gadis itu yang menyentuh kedalam lubuk hati Kiam Ciu.
Sembilan tahun yang lalu Kiam Ciu mencintai Tong Bwee sebagai adiknya.
Tetapi kemudian setelah mengetahui bahwa gadis itu bukan adik kandungnya maka rasa cinta kasih itu telah berubah sangat berlainan.
Ji Tong Bwee melangkah lebih dekat dan tersenyum manja yang sangat menyejukkan hati Kiam Ciu. Sesaat pemuda itu menarik napas panjang. Ketika langkah kaki gadis itu bertambah dekat maka terlihatlah dengan nyata bahwa gadis itu dikedua belah matanya yang bulat berkaca-kaca membendung luapan tangis. "Moy . . . aku belum berpamitan padamu tadi, karena terasa berat harus kuucapkan kata-kata perpisahan itu padamu” seru Kiam Ciu dengan senyuman dibuat-buat, hatinya berat mengatakan kata-kata itu seolah-olah pemuda itu akan meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Ji Tong Bwee melepaskan sebentuk cicin dari jari manisnya, sebentuk cincin berwarna merah deiima. Kemudian gadis itu memegang tangan kanan Kiam Ciu untuk memasukkan cincin itu ke jari kelingkingnya dan dibiarkan air matanya membasahi pipi yang putih kemerah-merahan.
"Koko . . . aku tidak mempunyai kenangan yang lain kecuali cincin yang tiada berharga itu. Namun aku berharap semoga koko suka memakainya terus hingga perjumpaan kita kelak.. . .” seru Tong Bwee dengan rasa penuh keharuan harus berpisah. "Bwee Moy.. . . cincin ini bukannya barang yang tiada berharga, tetapi cincin ini kau berikan dengan penuh kasih sayangmu padaku. Maka percayalah bahwa aku akan menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku” sambung Kiam Ciu dengan memandangi cincin manikam merah itu dengan bergantian memandang kearah orang yang memberikannya.
"Koko . . berangkatlah dengan hati yang tenang dan jagalah diri Koko baikbaik !” sambung gadis itu lagi dan membiarkan butiran-butiran air matanya itu membasahi pipinya. Digenggamnya tangan gadis itn dengan sangat erat seolah-olah tidak akan dilepaskan lagi. Diusapnya air mata yang membasahi pipi gadis itu dengan perasaan sayang. Kemudian Kiam Ciu memutar tubuh dan meninggalkan tempat pertemuan mereka ditepi telaga Cui-ouw dengan cepat.
Dalam sekejap saja Kiam Ciu telah berjalan jauh dan Tong Bwee ditinggalkannya seorang diri ditepi telaga dan memandanginya hingga bayangan Kiam Ciu lenyap dibalik bayangan pepohonan didalam hutan.
Ji Tong Bwee menghela nafas panjang dan mengusap air matanya. Dengan langkah lesu ditinggalkannya tepian telaga itu dengan hati penuh kenangan ke masa-masa lalu. Sedangkan Tong Kiam Ciu terus menempuh hutan menuju kemarkas partai persilatan Bu-tong. Untuk menunaikan perintah gurunya menemui ketua partai Bu-tong ialah Hiong Hok Totiang dan untuk minta titipan Twa-supeenya berupa sebuah pedang pusaka yang bernama Naga Kuning, Oeyliong-kiam.
Tiada terasa Kiam Ciu telah sampai disebuah hutan di pegunungan Tay-piesan yang terletak dipropinsi Ouw pak. Hutannya yang lebat dengan perengpereng jurang yang curam dan batu-batu gunung yang besar. Tiba-tiba terdengar suara petir menyambar dengan kilatan api yang mengerikan. Dengan suara desau angin kencang, tiba-tiba telah turun hujan lebat sekali.
Tong Kiam Ciu yang mengenakan jubah putih telah mengembangkan ilmu meringankan tubuh dan lari menyusup hutan. Hujan terus bertambah hebat seolah-olah air dicurahkan dari langit disertai badai dan halilintar seolah-olah dunia akan kiamat Suasana yang sangat mengerikan beberapa pohon telah tumbang dan dahan-dahan besar tertimpa sambaran petir patah dan salah saiu hampir saja menjatuhi Kiam Ciu tetapi untung pemuda berpakaian serba putih yang telah basah kuyup itu dengan tangkas dapat meloncat menghindar meninggalkan bekas terlalu dalam. Kiam Ciu turun mengembangkan ilmu Ginkangnya untuk menuju kearah sebuah gua.