Halo!

Warisan Jendral Gak Hui Chapter 10

Memuat...

Kiam Ciu terperanjat mendengar kata-kata itu, namun dia adalah seorang bocah yang berani dan cerdik, walaupun digertak akan dibunuh tetapi dengan sikap tenang dan berkacak pinggarg didepan Kun-si Mo-kun dia berseru lantang pula, "Mengapa kau masih ingin membunuhku ?!” seru Kiam Ciu dengan sikap tabah berani. "Karena.. . seumur hidupku aku tidak menerima budi orang lain!” sahut Kunsi Mo-kun dengan tenang tetapi kejam.

"Hemmmm . . . “ gumam Kiam Ciu dengan mata tetap memandang wajah kuning dan seram itu tanpa takut sedikitpun.

"Aku telah terluka dalam yang sangat hebat dan hanya dengan buah merah tadi luka itu dapat sembuh. Walaupun kau telah menolong jiwaku dengan memberikan buah merah tadi, tetapi aku tidak sudi menerima budimu. Maka kau harus mati ditanganku. Untuk budimu itu aku akan membunuhmu dengan cara kematian yang cepat!” seru iblis ganas dan keji itu dengan suara lantang dan seram kedengarannya. Ji Kiam Ciu pernah mendengar ceritera tentang kekejaman Kun-si Mo-kun selama menjagoi dunia persilatan. Walaupun bulu kuduknya merasa bergidik, namun bocah ini tidaklah memperlihatkan rasa takutnya didepan orang! Bahkan tampaklah wajah bocah itu bersirat merah dan mengepalkan tinju! Sesungguhnya dia sangat gusar mendengar penuturan orang yang tidak mengenal budi itu! "Aku paling benci melihat orang yang keji dan jahat semacam kau ini !” seru Kiam Ciu dengan nada suara sengit sekali, "jangan kau kira bahwa kau dapat membunuhku dengan mudah!”

Diam-diam Kun-si Mo-kun mengagumi juga keberanian bocah itu. Namun iblis itu dasar seorang yang berhati kejam dan keji tidak menggubris segala seruan bocah cilik itu. "Haaa haaahhh . . . Mungkin kau belum tahu aku ini siapa, sehingga kau beranl menantang aku sedemikian kasarnya!” seru Kun-si Mo-kun dengan suara bernada marah menganggap ringan bocah dihadapannya.

"Aku tahu kau ini siapa! Kau adalah Kun-si Mo-kun yang terkenal kejam dan keji dikalangan Kang-ouw. Tetapi meskipun demikian aku tetap tidak gentar akan ancamanmu!” seru Kiam Ciu dalam keadaan siap siaga menghadapi segaia kemungkinan yang akan dilakukan oleh Kun-si Mo-kun.

Mendengar dan menyaksikan sikap bocah berani dan cerdik itu. Kun-si Mokun menyengir. Kemudian tertawa gelak-gelak dan berseru lantang, "Kalau kau telah tahu bahwa aku ini jahat dan terkutuk yang kau benci, mengapa kau telah memberikan buah merah itu?” seru Kun-si Mo-kun dengan tertawa-tawa. "Karena.. . . . Karena aku tidak begitu yakin bahwa kau adalah orang yang begitu kejam” jawab Kiam Ciu sambil menundukan kepala, "aku mengira bahwa cerita itu cerita tentang kejahatanmu hanyalah dilebih-lebihkan orang.. . “ Kiam Ciu menatap wajah kakek seram itu dengan mata penuh selidik.

Anehnya orang yang terkenal kejam dan keji itu kedengaran menarik nafas panjang, seakan-akan ada sesuatu yang dipendam dalam hatinya.

"Hemmm.. . aku tidak menyangka bahwa di kolong langit ini masih ada orang yang menganggap diriku ini tidak jahat . .” gumam Kun-si Mo-kun dengan suara keluar dari hidungnya. Kemudian wajah kakek itu telah berubah dan memandang wajah Kiam Ciu dengan sorot mata aneh pula, sorot mata yang lain dari saat-saat pertama dia bertemu tadi, "Hey bocah baik, siapakah namamu ?” seru kakek itu kedengaran ramah.

"Namaku Ji . . ohh . . Tong Kiam Ciu , . . “ sahut sibocah sambil menundukkan muka. Walaupun kini kelihatannya Kiam Ciu sangat lemah, namun bocah itu telah siaga juga, untuk menghadapi segala kemungkinan.

"Tong Kiam Ciu ? Nama yang bagus ! Nama yang bagus.. . !” kata Kun-si Mokun sambil melangkah maju selangkah dan kepalanya manggut-manggut "aku akan ingat-ingat namamu dan kemudian hari kita pasti bertemu lagi !”

Dengan berakhirnya kata-kata itu Kun-si Mo-kun telah melangkah lagi. Tong Kiam Ciu telah siaga sambil meloncat kesamping dan tangannya telah mengepal disamping tubuhnya. Namun kakek itu terus saja berjalan tanpa menoleh lagi dan meninggalkan Kiam Ciu seorang diri.

Tong Kiam Ciu termangu dengan rasa heran, karena kakek itu ternyata tidak berbuat apa-apa dan meninggalkan dirinya begitu saja.

"Aneh.. . . sesuggguhnya dia tidak sekejam sangkaan orang” pikir Kiam Ciu sambil membetulkan pakaiannya dan menepiskan dari kekotoran.

Beberapa saat kemudian ketika Kiam Ciu berada ditempat itu seorang dtri dan masih membersihkan dari daun-daun dan tanah yang melekat dipakaiannya. Terasalah hembusan angin dari arah belakang.

"Hemm.. . . kau telah nyaris dari tangan keji Kun-si Mo-kun meskipun kau telah kehilangan biji merah yang sebenarnya sangat berguna dan sukar dicari, tetapi kau telah menolong jiwamu sendiri . . “ terdengar tiba-tiba sebuah suara dari arah belakang punggung bocah itu, Dengan sangat terkejut bocah itu memutar tubuh dan alangkah kagetnya ketika diketahui yang berada di tempat itu tidak lain adalah Pek-hi-siu-si yang tekah berdiri dengan tersenyum dan penuh rasa kasih sayang. Sambil tersenyum mengelus janggutnya yang panjang berurai.

"Twa-supee.. . . !” seru Kiam Ciu sambil menghormat.

Pek-hi-siu-si melangkah maju mendekati Kiam Ciu yang masih membongkok hormat, kemudian dielusnya kepala bocah itu dengan rasa haru.

"Kiam Ciu kau harus lekas-lekas pulang, Meskipun ibu dan ayahmu yang sekarang itu adalah orangtua angkatmu. namun ternyata mereka memandangmu sebagai anaknya sendiri. Mereka sangat menyayangimu dengan setulus hati. Maka sekarang pulanglah. Kelak aku akan menceritakan padamu tentang riwayat hidupmu.” sejenak Pek-hi-siu-si berhenti dengan tarikan nafas panjang. "Kau harus banyak belajar ilmu, karena banyak tugas yang harus kau lakukan. Pula kau jangan mengecewakan harapan orangtuamu dan juga orang-orang yang menyayangimu. Kau mempunyai musuh besar yang harus kau binasakan kelak kalau waktunya telah tiba.. . . .”

Kemudian Kiam Ciu telah membenamkan wajahnya ke dada kakek itu, namun tiada isak an tangis yang terdengar. Kiam Ciu telah menahan semua perasaannya dengan ketabahan hati. Pek-hi-siu-si merangkul bocah itu dan mengajaknya untuk pulang kepondok. Dalam pada itu tampaklah Pek-hi-siu-si tertawa-tawa sambil menunjuk ke suatu tempat. Kedua orang itu berjalan menuju kepondok dimana ketiga Sin-ciu-sam-kiat menantikan dengan perasaan cemas! Begitu pula gadis cilik yang manis Ji Tong Bwee tampak sangat gelisah dan akan keluar saja untuk mencari Kiam Ciu! Mulai saat-saat berikutnya dan pada hari-hari berikutnya Pek-hi-siu-si telah mengambil alih dari tangan ketiga bersaudara Sin-ciu-sam-kiat untuk menurunkan ilmu pedang yang tiada tandingan dikalangan Kang-ouw! Pada suatu pagi ketika itu seperti biasanya Kiam Ciu akan berangkat berlatih silat dan menemui gurunya. Tiba-tiba terdengar sebuah teguran pada dirinya.

Teguran yang sangat halus dan sangat dikenalnya. "Koko Twa-supee memerintahkan kau untuk menemuinya dirumah besar pagi ini!”

seru suara merdu yang segera dapat dikenal oleh Kiam Ciu adalah suara Tong Bwee adik angkatnya yang sudah menjadi seorang gadis remaja puteri, gadis remaja yang cantik jeliia.

Kiam Ciu tersenyum manis dan memandang tegas kepada Tong Bwee seraya bersera "Terima kasih adik manis, aku akan segera kesana!”

Mereka berdua dengan sangat tergesa-gesa berjalan bersama menuju ke bangunan rumah besar. Dimana sat itu diruangan tamu telah duduk Pek-hi-siusi dan ketiga Sin-ciu-sam-kiat yang tampak tersenyum ketika menyaksikan Kiam Ciu dan Tong Bwee memasuki ruangan.

"Kiam Ciu . . apakah kau mengetahui mengapa aku memanggilmu ?” seru Pek-hi-siu-si sambil tersenyum dan masih duduk sambil mengelus janggutnya yang putih dan panjang. "Kiam Ciu bersedia menerima segala perintah suhu.. . .” jawab Kiam Ciu sambil membongkok memberi hormat.

Pek-hi-siu-si tersenyum bangga dengan matanya yang tiada mau lepas dari mengamati pemuda dihadapannya itu. Rupa-rupanya Kiam Ciu benar-benar telah memikat hati Pek-hi-siu-si. Seorang murid yang sangat disayanginya disamping memang pemuda itu mempunyai latar belakang yang menyedihkan dimasa lalunya. Maka sudah selayaknya kalau kakek itu menyayanginya dengan ketulusan hati. Bukan saja Pek-hi-siu-si yang sangat sayang kepada Kiam Ciu tetapi juga ketiga Sin-ciu-sam-kiat sangat bersyukur dapat turut memelihara dan mendidiknya. "Kiam Ciu.. . . . . selama sembilan tahun teakhir ini kami berempat telah menurunkan ilmu silat padamu. Segala ilmu yang kami punyai telah kami ajarkan semuanya kepadamu, Ternyata kau sangat pandai dan cerdik sehingga semua ilmu itu telah kau kuasai semua. Bahkan kami sendiri telah jauh ketinggalan dengan ilmu yang kau miliki sekarang” Pek-hi-siu-si berseru dan sejenak terhenti karena gangguan batuk-batuknya.

Batuk-batuk yang menyerang Pek-hi-siu-si itu adalah akibat luka dalam yang masih mengendap dalam tubuhnya. Luka dalam itu telah diderita oleh Pek-hisiu-si selama lebih dari delapan tahun. Berkat ilmu Bo-kit-sin-kong maka dia masih dapat bertahan. Tetapi dalam keadaan itu entah tinggal berapa lama lagi kakek itu dapat bertahan, karena ternyata luka dalam yang dideritanya itu sangat luar biasa. Menyaksikan hal itu Tong Kiam Ciu sangat terkejut. Karena selama dia dibawah asuhan Pek-hi-siu-si dalam segala ilmu khususnya ilmu pedang dan melatih Sin-kang bahkan memperdalam Siu-lan. Namun sama sekali kakek itu tiada menyinggung sama sekali tentang luka dalam itu.

"Twa-supee . . apakah . . ?” seru Kiam Ciu dengan kerutkan kening.

"Sekarang . . . . !” Pek-hi-siu-si sambil mengangkat tangan kanan kearah Kim Ciu, demi kepentinganmu dan juga untuk aku. Kau telah cukup membekal ilmu.

Post a Comment