Halo!

Warisan Jendral Gak Hui Chapter 09

Memuat...

Sesaat Ji Kiam Ciu memandang kepada ayahnya, kemudian kepada ibunya dan kepada pamannya. Dengan pandangan mata yang sangat aneh, kemudian dengan suara bergetar bocah itu berseru dengan hormat. "Ayah, adik bilang aku bukan kakak kandungnya. Apakah betul ?".

Sesaat menjadi sepi, hanya terdengar nafas mereka yang berada diruangan tamu itu saja terdengar. Kemudian angin sejuk semilir menyelinap berhembus kedalam ruang tamu. Pek-hi-siu-si melirik kearah ketiga bersaudara Sin-ciusam-kiat. Mereka saling berpandangan dan tak menentu.

"Kiam Ciu.. . . sebetulnya pagi-pagi aku akan menceritakan hal itu padarnu.. .”

teiapi sebenarnya berat hatiku untuk menceritakan. Apa yang dikatakan adikmu adalah benar, kau memang bukan anak kandung kami. . . kau memang tidak dilahirkan oleh ibumu. Tetapi kau adalah anak angkat kami yang semenjak berumur sebulan telah kami ambil sebagai anak kandung kami sendiri... . . Kau sebenarnya bukanlah kelahiran dalam keluarga she Ji, tetapi kau adalah she.. . .”

seru Ji Han Su dengan suara tersekat dala.m tenggorokannya dan terputus sejenak. Ji Kiam Ciu tidak menunggu iebih lanjut kata-kata dari Ji Han Su. Hati pemuda itu merasa terguncang hebat dan sedih sekali. Dengan serta merta dia lari keluar tanpa memperhatikan kehadiran Pek-hi-siu-si ditempat itu. Kemudian setelah sampai diluar, segeralah dia lari terus meninggalkan halaman pondok itu masuk kedalam hutan yang telah menghijau.

Kiam Ciu lari dan berlari terus memasuki hutan yang masih lebat. Hingga dia tiada merasa telah seberapa jauh dia berlari meninggalkan pondok ayah angkatnya. Pokoknya dia tidak mau tahu dan ingin lari dari kenyataan. Hingga kini, akhirnya kaki kanan bocah itu tersandung akar pohon yang melintang ditanah dan pemuda kecil itu jatuh bergulung ditanah berumput tebal.

Dibiarkannya dirinya menggeletak ditanah dan sebagian tububnya tertimpa cahaya matahari yang telah menyengat sambil memejamkan matanya dia melepaskan lelah dan pikirannya menerawang memikirkan peristiwa yang baru saja berlalu. Hatinya tergoncang ketika mendengar bahwa ayah dan ibu yang selama ini dianggap orangtuanya itu ternyata bukan orang tua kandung.

Teringat pula kepada paman Siauw Liang yang telah banyak mengajarkan ilmu silat padanya dan akhirnya dia teringat kepada Ji Tong Bwee yang sangat dicintai itu , , , semuanya membuat jantungnya berdebar hebat dan pikirannya jadi sangat kacau. Tlba-tiba dalam keadaan itu, Kiam Ciu sangat terkejut karena seekor kelinci hitam telah menerjang kakinya. Meskipun terkejut, teiapi dia sempat menangkap tubuh kelinci itu dengan tangau kanannya. Saat itu dia menyaksikan bahwa kaki kiri belakang binatang itu tampak berdarah yang telah mengential. Ketika diamatinya ternyata tampak sebatang jarum masih menancap pada luka itu.

"Ohhh . . . kasihan , , , kelinci yang manis, tenanglah aku akan menolongmu mcncabut jarum keparat ini dari lukamu . , , “ seru Kiam Ciu dengan penuh kasih sayang. Hati bocah itu memang welas asih dan belum pernah dia membunuh binatang karena dia merasa kasihan kepada segala macam makhluk. Penuh rasa kasih dan mudah terharu.

Sesaat kemudian dirobeknya pinggir bajunya setelah jarum yarg menancap dikaki be!akang kelinci itu tercabut, lalu dibalutnya. Kelinci itupun dengan tenang tidak meronta dalam cekalan Kiam Ciu.

Yang sangat mengherankan ternyata ketika kelinci itu diletakkan ditanah, binatarg yang manis itu tidak mau lari. Malah tampak dari mulut binatang itu mengeluarkan sebuah benda merah. Benda itu ternyata sebuah buah yang berbau harum sekali. "Hey kelinci, apakah kau ingin memberikan buah ini padaku ?” seru Kiam Ciu sambil memungut buah berwarna merah itu dan menunjukkannya kepada binatang yang jinak dan lucu itu.

"Hemm apakah kau ingin aku makan buah ini.. ?” gumam bocah itu sambil mencium buah yang berwarna merah dan harum sekali baunya.

Keiika itu Kiam Ciu sangat berhasrat untuk mengulum buah merah ditangannya. K.etika hampir saja buah itu masuk ke mulutnya, terdengarlah sebuah bentakan yang sangat mengejutkan.

"Jaugan kau makan, tahanl” bentak suara lantang dan mengejutkan.

Sejenak kemudian tampaklah sebuah kelebatan melayang didepannya beberapa langkah. Ternyata orang itu adalah seorang kakek kira-kira berumur tujuh puluh tahun telah berdiri dengan tegap dihadapan Kiam Ciu. Wajah kakek itu berwarna kuning dan seram dan sepasang matanya bersinar abu-abu.

"Ayo berikan buah itu padaku ! Lekas.. . “ bentak seram laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya kearah Kiam Ciu. Kiam Ciu sangat terkejut dan merasa berdiri bulu kuduknya mendengarkan suara kakek yang keras besar dan melengking tinggi. Kiam Ciu hanya melolong saja menyaksikan gerak gerik kakek itu. Diamatinya dari kepala hingga kaki kakek itu. Tampak kakek itu bergerak maju dengan kakinya yang timpang, "Hay bocah bandel. apakah kau tidak mendengar permintaanku, atau memang kau tuli dan pegal? “ seru kakek itu dengan suara lebih seram sedangkan wajahnya memperlihatkan gambaran bahwa kakek itu sangat kejam.

Sorot mata yang abu-abu itu seolah-olah pusaran maut.

"Hayo berikan lekas buah merah ditanganmu itu, atau kubinasakan dirimu yang bandel?” bentak kakek itu dengan sejangkah maju lagi serta mengulurkan tangan kanan untuk meraih genggaman Kiam Ciu.

Menyaksikan sikap dan suara kakek yang seram itu, lama-lama Kiam Ciu merasa ngeri dan takut sekali. Namun demikian bocah iiu belum juga mau menyerahkan buah merah yang berbau harum itu kepada orang yang bertambah dekat di depannya itu. Tahu-tahu kakek seram itu telah meloncat dan menerkam dada Kiam Ciu dengan sekali loncatan. Diangkatnya tubuh bocah itu ditatapnya, dengan sorot tajam. Namun Kiam Ciu masih tidak perduli dan buah merah itu tetap digenggaranya erat-erat.

Ketika itu Kiam Ciu telah meronta, tahu-tahu tubuhnya telah merosot jatuh ketanah. Entah dibantingkan, atau karena gerakan bocah itu. Ketika kakek seram itu menyadari bahwa bocah itu mempunyai keistimewaan gerakkan maka sekali lagi diterkamnya. Namun dengan sigap pula Kiam Ciu meloncat dengan jurus Pek Ciok tiauw ki atau Burung gereja terbang diudara yang telah dapat diyakini dengan baik dari Pek Giok Bwee. Namun ternyata gerakan tangan menyambar orang tua itu begitu cepat dan luar biasa hingga terpaksa terjambret juga ujung baju bocah itu dan robek.

Menyaksikan gerakan hebat dan dahsyat itu maka Kiam Ciu teringat kembali atas cerita-cerita ibunya Pek Giok Bwee. Ji Han Su maupun pamannya Siauw Liang, orang yang mempunyai gerak dan kepandaian itu ialah berjuluk Kun-si Mo-kun atau si Iblis jahat yang mengacau dunia.

Pada dua tahun terakhir ini, Kiam Ciu telah sering mendapat ceritera tentang Kun-si Mo-kun ini yang telah banyak merajalela dan berbuat keji dan terkutuk di kalangan Kang-ouw selama berpuluh-puluh tahun lamanya.

Tiba-tiba pada sekira empat puluh tahun yang silam orang berhati keji dan ganas itu telah menghilang dari kalangan Kang-ouw. Lenyapnya Kun-si Mo-kun dari kalangan Kang-ouw itu membuat keadaan menjadi tenang, tetapi bersamaan dengan itu pula dikalangan Bu-lim telah kehilangan seorang tokoh silat yang perkasa dan ilmunya sangat sempurna tetapi berjiwa arif dan bikjaksana. Lenyaplah kedua tokoh itu bagaikan ditelan bumi dan tiada seorangpun tahu kemana mereka pergi.

Kiam Ciu telah diberi gambaran jelas tentang ciri-ciri Kun-si Mo-kun, iblis berwajah seram dengan sepasang mata berwarna abu-abu dan kakinya panjang sebelah sehingga kalau berjalan agak pincang. Padahal tanda-tanda itu persis seperti yang dimiliki oleh orang yang berada dihadapannya.

"Hey bocah ! Apakah betul-betul kau tidak mau menyerahkan buah itu!”

bentak Kun-si Mo-kun dengan wajah lebih bengis kelihatannya, Kiam Ciu tidak menyahut, hanya dengan sebuah loncatan yang lincah bocah itu melarikan diri. Sedangkan buah berwarna merah yang berbau harum itu masih dalam genggamannya.

Diperlakukan seperti itu, Kun-si Mo kun menjadi sangat gusar. Sambil menggertak giginya kakek berwajah kuning dan seram itu memutar tubuh dan jubahnya yang kuning berkelebat melambai kemudian tampaklah kakek itu dengan cepat telah melesat mengejar Kiam Ciu.

Sampai beberapa saat Kiam Ciu dapat mengandalkan ginkangnya dan mengembangkan ilmu lari cepat masuk kehutan lebih dalam lagi. Berbelok-belok diantara pohon-pohon besar dan semak belukar yang rimbun. Begiiu pula Kunsi Mo-kun berusaha untuk mengejarnya.

Karena perasaan jengkel dan gusar yang tiada tertaban lagi, Kun-si Mo-kun menggembor nyaring berbareng dengan sebuah loncatan dan bocah itu teiah diterkamnya. Kiam Clu terbanting ketanah dan tidak berkutik lagi! "Aku akan serahkan buah merah yang kau minta ini !” seru Kiam Ciu sambil meronta akan melepaskan diri, "tetapi kau jangan menggangguku lagi!”

"Haaa.. Haaaa.. .haaah.. kau telah berlaku cerdik anak bandel!” seru Kun-si Mokun dengan suara cekakakan dan menyeramkan.

Sambil melepaskan cengkeraman punggung Kiam Ciu dan bocah itu dibanting ditanah kemudian Kun-si Mo-kun dengan sangat cepat menyambar buah merah yang telah diperlihatkan oleh Kiam Ciu tadi, dengan cepat pula buah itu lalu dikulumnya dalam mulut.

"Ha ha ha hahhh” kakek seram itu tertawa setelah mcnelan buah merah, kau telah memberikan buah merah padaku, tetapi kau harus mati juga ditanganku.

Meskipun dengan menyerahkan buah merah itu kau telah menolong jiwaku.. . !”

seru iblis itu dengan suaranya yang kasar.

Post a Comment