Halo!

Warisan Jendral Gak Hui Chapter 08

Memuat...

"Twako.. . kita jarang bertemu, tetapi kini aku mengharapkan sudilah tetap tinggal bersama kami. Sehingga kami dapat rmemelihara kesehatanmu karena setelah kudengar Twako tadi terbatuk-batuk itu yakin bahwa twako menderita luka dalam yang mengendap” seru Ji Han Su dengan sangat berhati-hati penuh harapan. Saat itu Pek-hi-siu-si mmandaag Ji Han Su sambii tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya. "Penglihatanmu memang tajam sekali dan kau menduga dengan tepat. Aku memang menderita luka dalam, mujur sekali bahwa aku telah menguasai ilmu Bo-kit-sin-kong sehingga dapat kuatasi pergolakan didalam tubuhku karena pukulan tenaga dalam yang saling membentur. Jika engkau hanya mengandalkan obat-obatan saja mungkin aku telah binasa karena luka dalam ini! Aku masih bersyukur dengan demikian masih dapat menepati janjiku untuk datang ketempat ini.. .!” seru Pek-hi-siu-si dengan suara mendatar dan bibirnya tetap tersenyum, tiada terlupalan pula mengelus-elus janggutya yang panjang itu. "Apakah luka dalam tubuh twako itu sudah sembuh seluruhnya?” seru Ji Han Su sambil mengajak kakek itu untuk berjalan menuju kepondoknya seraya berpaling kepada kakek yang berjalan perlahan-lahan.

"Sibetulnya luka ini hebat sekali” sahut Pek-hi-siu-si sambil berjalan dan tangan kanannya memegang dada sesaat, "Tetapi janganlah kau beritahukan hal ini kepada istrimu ataupun Siauw Liong! Aku tidak mau mereka berdua menjadi gelisah, aku sudah tua.. . . Tetapi aku yakin bahwa aku tidak mudah lekas-lekas mati.. . .” sambung kakek aneh itu selanjutnya dan sesaat kemudian kakek aneh itu memandang keatas telaga yang indah dengan berkilau-kilauan pantulan sinar matahari diatas air telaga.

Seielah kedua orang itu melewati hutan pohon bambu, mereka tiba di sebuah lembah membentang. Pemandangan disekitar lembah itu sangat indah sekali, terdengar burung-burung beraneka macam tengah berkicau. Didepan mereka tampak sebuah bangunan rumah yang besar. Rumah kayu itu tampak sangat megah dan pengkuh sekali.

Pek Giok Bwee, Siauw Liong dan kedua bocah yang telah mendahului mereka tadi kini telah berdiri didepan pintu Seolah-olah mereka sedang menunggununggu kedatangan tamunya ini. Dengan wajah berseri-seri mereka menyambut kedatangan mereka itu. "Selamat datang dipondok kami twako” seru Pek Giok Bwee dengan hormat dan terlihat pula sederetan giginya yang putih kecil-kecil bagaikan mutiara dan sejuk dipandang mata. Pek-hi-siu-si tersenyum, sekilas matanya menyapu pandang kearah kedua bocah yaag terseyum pula. Bahagialah kakek itu bertemu dengan keluarga bahagia itu. Selama hidupnya hingga menjadi kakek-kakek baru kali itulah merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

"Hemmmm . . terimakasih . . terimakasih. . . . “ seru Pek-hi-siu-si sambil manggut-manggut dan menghentikan langkahnya didepan pintu.

"Mari Twako !” seru Ji Han Su sammbil memberikan isyarat kepada kakek itu dengan tangan kanan untuk memberikan jalan masuk kedalam pondok besar kebanggaan keluarga Sin-ciu-sam-kiat.

Bangunan rumah itu dilihat dari luar memang tidak begitu menarik.

Tampiknya hanya mengutamakan kekuatan saja. tetapi setelah orang masuk kedalamnya, barulah tahu babwa dalam rumah itu diatur sangat rapi dan semarak sekali. Ternyata Pek Giok Bwee kecuali seorang wanita pendekar tetapi juga pandai membina dan memajang rumahnya sedemikian rupa. Hingga siapapun betah tetap tinggal didalam rumah itu.

Setelah Pek-hi-siu-si berada didalam ruang tamu sedangkan mereka semua telah mengambil tempat duduk masing-masing. Kakek itu memandang kedua bocah itu sambil tersenyum puas dan berkata kepada Pek Giok Bwee.

"Apakah kau mengetahui.. . kedua anak itu tadi sedang bermaln-main apa.. . ?”

seru kakek itu dengan senyum lebar.

"Blasanya mereka bermain kejar-kejaran diatas daun Teratal” jawab Pek Giok Bwee dengan senyum yang manis sekali.

"Semula mereka bermain-main kejar-kejaran di atas daun teratai diatas telaga kemudian mereka bertengkar . . ha ha hah.. “ seru Pek-hi-siu-si dengan tertawa dan mengelus-elus janggutnya yang putih Mendengar kata-kata kakek itu Ji Tong Bwee terperanjat, wajahnya bersemu merah sampai ke telinga, kemudian menyahut dan mengadu kepada ibunya sambil cemberut. "Ibu, Twa-supee jail sekali. Kita hanya bertengkar tetapi tidak sampai berkelahi . .” seru gadis cilik yang manis dan ayu itu sambiI cemberut kearah Pek-hi-siu-si dan mengerling kearah Kiam Ciu.

Ji Kiam Ciu hanya menundukkan kepala memandang ke lantai dan mempermainkan kakinya, sikap bocah itu membuat semua yang berada di tempat itu jadi tertawa gembira.

"Twa-supee hanya menggoda kalian.. .” seru Pek Giok Bwee sambil mengusap rambut Tong Bwee, nah . . . sekarang kalian berdua boleh bermain-main lagi diluar dan awas.. . .! jangan kalian bertengkar!” seru Pek Giok Bwee sambil menudingkan telunjuknya seolah-olah mengancam kedua bocah yang lucu-lucu itu sambil tersenyum. Semua yang hadir dalam ruang tamu itu tersenyum pula. Tetapi kedua bocah itu tertunduk malu. Mereka berdua sebenarnya lebih senang meniggalkan ruang tanu dan menjauhkan diri dari orang-orang tua dan lebih-lebih Twa-supeenya yang selalu menggodanya itu.

"Koko.. . . kemana kita akan bermain-main?” tanya Ji Tong Bwee setelah sampai diluar dan berdiri dibawah pohon yang rindang dihalaman rumah.

Dengan pernyataan itu, Ji Kiam Ciu hanya berpaling mrmndang adiknya dan tersenyum. Tetapi tidak memberikan jawaban. Ketika itu dengan tiba-tiba Ji Kiam Ciu telah meloncat dan lari meninggalkan adiknya seorang diri. Walaupun adiknya menjerit memanggil-manggil namun Kiam Ciu terus lari dengan kencangnya hingga adiknya menjadi kecewa dan sangat gusar sekali hatinya.

"Hemmmmmn, koko sangat berlagak. Baiklah ! jika demikian akupun tidak sudi menyusulnya.. .” gumam Ji Tong Bwee dengan cemberut dan tidak mau lagi melihat kearah mana Ji Kiam Ciu tadi berlalu.

Sesaat kemudian Ji Tong Bwee memutar tubuh dan bergerak menuju kerumah dan memutuskan untuk tidak akan mengikuti kakaknya yang angkuh itu menurut perasaan gadis cilik yang perasa itu. Tetapi ketika sampai dekat jendela ruang tamu, tiba-tiba telinganya mendengar sesuaiu pembicaraan yang sangat mengejutkan dan gadis cilik itu jadi sangat tertarik untuk menguping pembicaraan didalam. "Sebenarnya mereka berdua merupakan satu pasangan yang tepat sekali.. “

Tong Bwee dapat menduga bahwa kata-kata itu terucapkan oleb Pek-hi-siu-si.

Hati gadis itu bergetar, walaupun dia masih sangat bocah tetapi kecerdasan otaknya dan perasaannya yang menyebabkan bocah itu tahu maksud kata-kata Pek-hi-siu-si tadi. Memang sering sekali bocah cilik yang jelita itu merasakan bahwa kakaknya sangat sayang pada dirinya. Hanya sayang itu memang kadang-kadang disertai dengan sikap yang sangat ganjil. Sedangkan dia sendiri juga merasa sangat senang dengan sikap yang sangat ganjil itu.

Ucapan Pek-hi-siu-si yang dapat didengarnya itu menimbulkan hasratnya unuk mendengarkan lebih lanjut. Maka gadis cilik itu membatalkan niatnya untuk masuk kedalam rumah. Saat itu dia dengan berjingkat dan berusaha untuk berhat-hati dan jangan sampai terdengar oleh orang-orang yang berada didalam. Ji Tong Bwee menyelinap kebawah jendela dan menguping percakapan Pek-hi-siu-si yang berada di ruang tamu dengan tanpa curiga apa-apa.

"Bagus . . bagus sekali, kalian tclah berhasil memelihara bocah itu dengan sempurna. juga kalian telah merahasiakan asal-usul bocah itu hingga sekarang.. .”

terdengar tegas suara Pek-hi-siu-si.

Ji Tong Bwee berdegup jantungnya mendengar kata-kata itu. Berdebar hebat mendengar kata-kata Pek-hi-siu-si yang lembut dan bcrdesah dari dalam ruang tamu. Dia lebih mendekat lagi dibawah jendela untuk mendengarkan lebih jelas.

"Apa yang kalian lakukan itu adalah baik sekali. Tetapi kita tidak akan mungkin menyembunyikan rahasia itu terus menerus. Pada suatu hari kita harus memberitahukan juga . .” sambung kakek itu dengan suara yang bercampur dengan desahan perasaan tertahan.

Mendengar kata-kata kakek itu, hati Ji Tong Bwee jadi sangat gelisah dan jantungya berdegup sangat kencang.

"Dia bukan saudara kandungku ?” pikir Ji Tong Bwee dengan perasaan tegang dan dengan berhati-hati sekali dia meninggalkan tempat itu menuju kejalan dimana tadi Kiam Ciu berlari-lari meninggalkan dirinya.

Saat Tong Bwee berlari-lari mencari kakaknya itu, bocah cerdik dan penberani Kiam Ciu tengah duduk diatas sebuah batu dibawah sebatang pohon yang rindang di tepi telaga. Bocah itu mencoret-coretkan ujung ranting kering diatas tanah basah, coret-coret iiu membentuk gambar seekor naga. Saat itu Ji Kiam Ciu merasa menyesal akan perbuataanya yang baru saja. Perbuatan yaog mungkin menimbulkan rasa jengkel kepada adiknya, karena dia dengan serta merta telah meninggalkan adiknya berlari dan berlari kencang sekali. Dia merasa heran mengapa dia dapat berlaku masa bodoh kepada adiknya.

Dalam keadaan Ji Kiam Ciu sedang melamn dan berangan-angan itu, telinganya telah mendengarkan derap langkah orang yaag bertambah dekat.

Langkah kaki itu disertai seribitan angin dan perasaan bocah itu yang telah terlatih ditempat tenang dan sepi sangat pekat sekali.

Maka tahulah Ji Kiam Ciu bahwa dirinya telah dihampiri seseorang. Maka dengan cepat dia telah berpaling dan ketika itu Tong Bwee telah berada disisinya samtll tersenyum memandang kearah Ji Kiam Ciu.

"Koko . . “ seru gadis cilik yang manis senyumannya itu kepada Ji Kiam Ciu, “

aku telah mendengar suatu rahasia besar.. . ?”

Saat itu Ji Kiam Ciu pura-pura tidak mendengar dan masih menggores-gores tanah dengan ranting kering. Perbuatan itu memang yang selalu diperbuat oleh Ji Kiaci Ciu untuk mcnggoda adiknya. Tiap saat memang mereka selalu bertengkar, kemudian tertawa bersama dan bertengkar.

"Koko , , , kau sebenarnya bukan saudara kandungku , , !” seru gaJis cilik itu dengan suara lantang dan nafas terengah menaban gejolak hati.

Ketika Ji Kiam Ciu mendengar kata-kata itu, barulah dia menjadi sangat terperanjat, Maka terlonjaklah pemuda itu, dia meloncat berdiri menghampiri Tong Bwee sambil memegang kedua bahu gadis cilik itu dan mata Ji Kiam Ciu mendelik, menggoyang-goyangkan bahu adiknya.

"Tong Bwee.. . . apa katamu ?” seru Ji Kiam Ciu dengan mata melotot, Tetapi gadis ilu tidak berani menentang mata kakaknya. Maka dengan wajah tertunduk gadis cilik itu menjawab. "Aku bukan adik kandungmu, kau tidak dilahirkan oleh ibuku.. .”

Ji Kiam Ciu mendengar kata-kata itu jadi terperanjat dan gugup sekali.

Digoncangkannya bahu Tong Bwee dan dipandanginya g.adis cilik itu dengan penuh keheranan. "Katakanlah adikku, katakanlah apa yang kau katakan tadi?” seru Ji Kiam Ciu dengan apa yang baru saja didengarnya tadi.

"Kau bukan saudara kandungku!” seru Ji Tong Bwee mengulaogi kata-katanya sekali lagi. tetapi kali ini dia berani menatap wajah dan sorot mata Ji Kiam Ciu.

"baru saja aku mendengar Twa-supee bercakap-cakap dengan ayah di ruang tamu". Ketika mendapat penjelasan itu. sesaat kemudian keadaan menjidi sepi dan hanya terdengar desahan napas kedua bocah itu. Ji Kiam Ciu melepasksn bahu adiknya dan memutar tubuh meninggaJkan tempat itu.

Dengan tidak mempedulikan Ji Tong Bwee yang melongo ditepi telaga dan ditinggalkan lari dengan kencang sekali menuju kepondo. Bocah itu dengan sangat tergesa-gesa telah menerobos masuk kedalam pondok dan langsung menuju ke ruang tamu. Hal itu membuat orang-orang yang berada didalam ruang itu jadi terperanjat.

"Kiam Ciu, mengapa kau . . . ?” tanya Ji Han Su dengan sangat heran melibat tingkah laku Ji Kiam Ciu yang sangat mengejutkan.

Post a Comment