Halo!

Warisan Jendral Gak Hui Chapter 07

Memuat...

Limbungan tubuh bocah itu begitu tinggi dan seolah-olah terbang, sedangkan kakek itu memiringkan tubuhnya dan mengangkat tangan kanan keatas kearah mata kaki Kiam Ciu. Ketika kepalan tinju kakek itu berbentur dengan mata kaki bocah cilik yang bandel dan terdengarlah sutra jeritan.

"Aduh !” seru jeritan tertahan meluncur dari mulut mungil Kiam Ciu. Dengan memutar tubuh untuk mempercepat terjunnya bocah itu telah berdiri diatas tanah kemudian jatuh dan menggelundung kesamping.

Kakek itu menjadi heran dan terperanjat dengan perbuatan Kiam Ciu itu.

Betul-betul dia tidak tahu dengan ilmu Trenggiling itu Kiam Ciu berusaha mengelabui mata lawan dan sebelum kakek itu menadi sadar apa yang sedang dilakukan lawan, tahu-tahu bocah itu teiah meloncat berdiri dengan cepat dan langsung menyerang selangkah kakek itu dengan tendangan punggung kaki kanan. "Bagus !” seru kakek itu untung dapat segera meloncat tinggi serta mengirimkan hantaman sisi tapak tangan kepunggung Kiam Ciu.

"Buk !” terdengar benda berat jatuh, bersamaan dengan kaki kakek itu telah memijak kemball diatas tanah berumput halus.

Ji Kiam Ciu adalah seorang anak pemberani dan keras lepala. Walaupun dia terjatuh, jatuhnya tidak begitu keras namun tidak urung matanya berkunangkunang dan sejenak kepalanya menjadi pening. Anak itu telah bertekad tidak mau mengakui kalah melawan kakek berjubah putih. Dia berusaha untuk berdiri.

Ketika dia telah berhasil berdiri kembali dan tanpa membetulkan pakaiannya yang awut-awutan dan kotor, karena didorong oleh amarah yang telah memuncak. Maka Ji Kiam Ciu telah memasang kuda-kuda. Bocah itu bermaksud menyerang lawannya dengan mempergunakan jurus Liong-honghun-hui atau Naga dan Cendrawasih terbang berpisah.

Terlihat kakinya telah menancap kokoh diatas tanah Dalam kuda-kuda sepasang kaki terpentang. Kemudian menekuk lutut dan meloncat kearah Pekhi-siu-si.

Bertepatan dengan loncatan itu tiba-tiba terdengar suara menegur dengan nada suara keras dan sangat berpengaruh terhadap bocah itu.

"Tahan ! Kiam Ciu ! Jangan kurang terhadap seorang Locianpwee !”

BEGITU berbareng pula munculnya seorang laki-laki bertubuh tegap dan berkumis tebal. Kiam Ciu begitu melihat kehadiran laki-laki itu segera menarik kembali serangannya yang telah disalurkannya sepertiga, namun tak urung dia terbanting. Pek-hi-siu-si waspada, dengan tangkas menyambar tubuh Kiam Ciu yang telah limbung dan terhantam oleh kekuatannya sendiri yang tadi telah dipersiapkan untuk menyerang kakek itu.

"Ha.. ha.. .ha.. . anak bagus” seru Pek-hi-siu-si dengan meletakkan kembali tubuh anak itu diatas tanah dan sekilas dipandanginya anak itu sambil tersenyum dan mata bersinar-sinar.

Sedangkan Kiam Ciu menunduk dengan wajah bersemu merah. Kemudian menghormat orang yang menegurnya yang tiada lain adalah ayahnya ialah Ji Han Su pemimpin ketiga Sin-ciu-sam-kiat ialah sitangan baja.

Ketika Ji Han Su berada didekat Pek-hi-siu-si segara membongkok memberi hormat. Yang juga disambut oleh kakek berjubah putih dan berjanggut panjang seraya tersenyum. "Tayhiap mohon dimaaf atas kelancangan bocah ini. Rupa-rupanya waktu berlalu sangat pesat sekali. Hingga tak terasa sepuluh tahun telah berlalu. Kedua bocah ini adalak Kiam Ciu dan yang perempuan ini adatah Tong Bwee kini mereka telah meningkat menjadi besar dan bertambah nakal, hingga dengan orang tua berani kurang ajar! sekali lagi aku Han Su mohon pada Tayhiap sudilah untuk memaafkan atas kekurang ajaran Kiam Ciu !” seru Han Su sambil menghormat. "Ha.. . .ha.. . .ha! Memang waktu berlalu sangat cepatnya dan ternyata orang she Ji masih tidak mengubah adatnya yang suka menghormat dan merendah hati.

Bertambah tua bertambah ganteng pula dan kini karena kumismu itu tampak lebih seram dan lebih jantan ha.. .ha.. .ha!” seru Pek-hi-siu-si.

"Ah Tayhiap berolok-olok!” seru Ji Han Su tampak menutup kumisnya.

"Janganlah kau berkata yang bukan-bukan, aku sengaja datang kemari untuk memenuhi janjiku.. bocah itu tidak bersalah, akulah yang bersa)ah karena aku telah menggodanya sehingga terjadi pertarungan yang hebat tadi. Haa.. haa.. ha”

seru Pek-hi-siu-si sambil memperhatikan Kiam Ciu. Kiam Ciu menundukkan kepala dan wajahnya bersemu merah karena merasa malu. Kakek itu melangkah menghampiri Kiam Ciu dan memegang bahu anak itu kemudian menepuknya.

Tampaklah Pek-hi-siu-si tersenyum pula dan matanya yang bening itu tampak bersinar bergairah. Sekilas Ji Han Su dapat menyaksikan keadaan itu.

Walaupun bagaimana dada si Tangan Baja bergetar juga.

"Tayhiap aku yang bodoh mohon maaf dan petunjuk !” serunya sambil menghormat. "Memang waktu sepuluh tahun telah berlalu sangat pesat, Namun aku telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri aku puas sekali bahwa hasil yang dicapainya oleh kedua bocah itu sangat bagus” seru kakek aneh berjubah putih Pek-hi-siu-si dan selanjutnya sambil tersenyum meneruskan kata-katanya, "aku mengucapkan selamat kepada kalian berdua suami isteri yang telah dikaruniai seorang anak yang jelita ini !".

Sehabis berkata begitu Pek-hi-siu-si memandang kearah Kiam Ciu dan tersenyum. Seolah-olah kakek itu telah melihat kembali gambaran sepuluh tahun yang lalu di dasar jurang Liong-houw-ya dimana pada masa itu seorang bayi mungil berumur sebulan telah menggelepar-gelepar menangis, sedang ayahnya telah binasa dengan sangat mengerikan.

Kini dihadapannya telah berdiri seorang bocah, calon pendekar yang luar biasa hebatnya, seorang bocah yang sangai berbakat dan budinya sangat menarik. Rupa-rupanya Pek Giok Bwee telah mendidik bocah itu dengan baik.

Lalu dengan tersenyum dan mengelus-elus jenggotnya yang putih dan panjang kakek itu berseru. "Memang tangan wanita lembut dan dingin makhluk yang halus dan penuh dengan curahan kasih sayang, Jika sepuluh tahun yang lalu aku tidak menemukan kalian, hemmm . . . aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat saat itu dan apa akan jadinya. Sekarang kenyataannya aku telah merasa puas dan bergembira sekali menyaksikan kehebatan bocah itu.. . “ seru Pek-hi-siu-si sambil melirik kearah Kiam Ciu dengan senyuman yang lucu lekali.

Tampaklah kedua bocah itu tertawa senang juga dan mereka memandang kearah kedua orang tua dan pamannya yang juga tersenyum-senyum gembira dalam pertemuan itu. Maka tahulah kedua bocah itu kini bahwa kakek itu adalah Pek-hi-siu-si yang selalu diceriterakan ayahnya maupun ibunya dan juga oleh pamannya. "Ayo kalian berdua menghaturkan hormat kepada Twa-supee (paman guru yang tertua) !” seru Ji Han Su memerintahkan kedua anaknya dengan suara penub kasih sayang dan memegang bahu kedua anaknya itu.

Kiam Ciu merasa heran menyaksikan ayahnya begiiu sangat megghormati kakek aneh itu. Maka kedua anak itupun tersipu sedangkan, Kiam Ciu yang lebih tua telah berlutut dihadapan Pek-hi-siu-si serta menjura.

"Aku Ji Kiam Ciu yang bodoh, memberikan hormat dihadapan Twa-supee.

Aku mohon diampuni karena telah berani kurang ajar", seru Kiam Ciu dengan suara penuh hormat kepada Pek-hi-siu-si.

Ji Tong Bwee juga berlutut disisi Kiam Ciu, tetapi gadis cilik ini tidak mengucapkan kata-kata sepatahpun.

"Baik-baik, kau baik sekali . . . Hemmmm . . bangkitlah!” seru Pek-hi-siu-si sambil mengusap kepala Kiam Ciu dan Tong Bwee bergantian. Dada kakek itu tergoncang juga menahan keharuan itu tetapi dia adalah tokoh sakti yang sudah mumpuni, maka dengan segera kakek itu dapat mengusir kegetiran dan keterharuan yang saling menggempur dadanya itu.

Walaupun kedua bocah itu telah mendengar perintah Pek-hi-siu-si yang terucapkan tegas dan datar itu, namun kedua bocah itu tidak berani bangkit berdiri dan beranjak dari tempat itu. Mereka tetap masih berlutut dihadapan Pek-hi-siu-si dan kepala mereka masih tertunduk.

Menyaksikan hal itu yang hadir ditempat itu tersenyum, mereka tersenyum dalam angan pikiran masing-masing.

"Sudahlah kalian sudah disuruh bangkit berdiri !” seru Ji Han Su.

Kedua bocah itu telah berdiri dan mereka diajak oleh Siauw Liang dan Pek Giok Bwee mendahului pulang, sedangkan Ji Han Su dan Pek-hi-siu-si masih bercakap-cakap di tepi telaga yang berhawa segar itu.

"Kau telah berhasil memelihara dan mendidik anak itu dengan baik sekali.

Aku merasa sangat puas sekali.. . uh.. . uh.. . .” belum lagi kata-kata kakek itu selesai terucapkan tiba-tiba terbatuk sambil mengerutkan keningnya.

Post a Comment