Halo!

Warisan Jendral Gak Hui Chapter 06

Memuat...

"Kira-kira begitulah.. “ seru adiknya. "aih.. . ternyata ibu lebih cinta padaku, lebih sayang buktinya cincin ini diberikan padaku.. “

"Tidak.. tidak! Ibu menyayangi kita berdua sama besarnya. Kasih ibu kepada kita tidak berbeda-beda, buktinya kita berdua diajarksn ilmu yang sama dan sangat baik.. “ seru kakaknya dengan tegas dan memandang wajah adiknya dengan sinar mata penuh sayang seorang kakak.

Sedang kedua bocah itu asyik berbicara dan berdebat. Tiba-tiba dikejutkan dengan suara ranting kering terpijak. Kemudian d.susul dengan suara tawa yang mengejutkan. Ketika kedua bocab itu berdiri dan berhimpitan tampaklah disamping mereka itu seorang kakek yang berwajah arif dan tenang. Kakek itu berdiri tegap sambll mengelus-elus jenggotnya yang putih dan panjang melambai-lambai ditiup angin musim panas.

"Ha.. ha.. ha.. bocab, bocah yang baik dan pandai. Kalian rupanya kakak beradik yang lucu mengapakah kalian bertengkar ? Hemm.. siapakah namamu anak-anak yang manis.. .?” seru kakek berjubah putih dan berjanggut panjang putih melambai-lambai. "Aku Ji Tong Bwee dan ini kakaku bcrnama Ji Kiam Ciu..!” seru bocah jelita itu dengan berani dan tdak merasa sungkan-sungkan lagi. Bocah itu berhenti sejenak karena ketika dia memperhatikan wajah kakek itu tampak memperhatikan mereka berdua dengan sangat teliti dan mengherankan sekali.

Tetapi ketika diperhatikan bahwa kakek itu tampak kembali tersenyum maka Ji Tong Bwee melanjutkan kata-katanya, "Aku belum pernah mengenal dan melihat kakek. mengapakah kakek menanyakan nama kami?” setelah terhenti kata-kata Ji Tong Bwee maka dengan mendadak kakaknya menarik tangan gadis itu dan akan diajaknya berlalu. Tetapi tangan kakek berjubah putih itu mencegahnya.

"Kakek, kita dapat segera berlalu dari tempat ini jika kita mau” seru Ji Kiam Ciu sambil melototkan matanya, tetapi yang menarik hati mengapa kakek mencegah kami ?!” "Aku hanya ingin mengetahui sebetulnya kalian berdua ini anak siapa? Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengganggu kalian berdua” sahut kakek itu dengan suara ramah dan tenang suaranya.

Tiba-tiba Ji Kiam Ciu telah meloncat tinggi sekali. Bocah laki-laki itu bermaksud melarikan diri dan meloncati melalui atas kepala kakek itu. Namun kakek itu dengan cepat sekali telah menggerakkan tangannya tahu-tahu Ji Kiam Ciu telah berada dalam dekapannya. Bocah itu meronta dan kedua kakinya menendang-nendang. Kakek berjubah putih hanya tertawa-tawa sambil memondong Ji Kiam Ciu yang meronta terus menerus dengan gerakan luar biasa. Diam-diam bocah itu merasa cemas dan heran. Ternyata kakek tua itu mempunyai gerakan luar biasa yang tidak terlihat oleh mata Ji Kiam Ciu. Hanya tahu-tahu dia telah berada didalam dekapan kakek itu padahal menurut pendapatnya bahwa didunia ini orang yang telah dia kenal sangat lihay hanyalah ibu dan pamannya yang telah mampu mengalahkan ilmu bocah itu. Tetapi kenyataannya kini dia harus berhadapan dengan kakek yang tampaknya sangat lemah itu ternyata mempunyai gerakan yang sangat cepat luar biasa.

Ji Kiam Ciu merasa kurang senang diperlakukan seperti itu dan dihalanghalangi maksudnya oleh sikakek berjubah putih itu. Maka dengan berani bocah itu membentak. "Jika kakek masih juga mencegah diriku maka aku terpaksa harus bertindak kurang ajar kepada kakek . .!” seru Ji Kiam Ciu dengan meronta dan kakek itu melepaskan pelukannya, hingga bocah laki-laki yang berani tetapi sopan itu terlempar beberapa tombak dan dapat berdiri dengan sangat lunak diatas rerumputan yang halus. Kakek berjubah putih yang kini sedang berhadapan dengan Ji Kiam Ciu dan Ji Tong Bwee dengan tenang dan tersenyum memandang kedua bocah itu.

Sambil mengelus-elus janggutnya yang panjang dan putih itu selalu matanya yang bersinar tenteram itu mengamati segala gerak-gerik Ji Kiam Ciu.

"Bocah manja, mengapa kau ingin memukulku?!” seru kakek itu dengan senyum yang mempesona. "Apakah kau tahu aku ini siapa dan apakah ilmu silatmu sudah sedemikian lihaynya sehingga kau ingin mengukur kehebatan Ilmu silatku? Tetapi baiklah, majulah dan aku ingin mengukur sampai seberapa hebatnya ilmu pukulanmu.. .!” seru kakek berjenggot panjang itu sambil membongkok-bongkokkan tububnya dan kedua tangannya terbentang dengan jari-jemari terbentang pula.

Ji Kiam Ciu walaupun masih bocah berumur sepuluh tahun, namun dia adalah seorang bocah yang berani dan berjiwa satria. Mendengar tantangan itu sebagai seorang satria pantang mundur, Maka dengan meloncat kedepan tahutahu bocah itu teJah berdiri dihadapan si kakek berjanggut putih.

Ji Kiam Ciu telah siap siaga dengan kuda-kuda miring dan sepasang lututnya melengkung tapi kuat melekat diatas tanah telaga. Kedua tangannya mengepal tinju disisi tubuh dengan sikap siaga.

Ketlka diamatinya bahwa kakek berjenggot panjang itu dalam keadaan lengah maka sekali mengembor bocah itu telah meloncat mengirimkan tendangan dan pukulan beruntun silih berganti. Gerakan bocah itu sangat lincah dan bagaikan tupai berloncatan sangat indah sekali.

Diam-diam kakek itu merasa kagu.m juga menyaksikan gerak indah dan hawa pukulan luar biasa. Namun demikian kakek itupun dengan sangat tenang ternyata dapat luput dari segala serangan Ji Kiam Ciu. Hanya angin pukulan yang lemah dapat terasa menyerempet lengan dan wajahnya.

Ji Kiam Ciu merasa gusar juga karena beberapa jurus telah berlalu, tiada sebuah pukulanpun yang berhasll mengenai lawannya. Maka kini bocah itu mengikatkan ilmu pukulannya dengan meloncat mundur dua langkab kemudian menyilangkan kedua lengannya di dada. Ketika dia menarik kaki kanan digeser kebelakang seJangkah segeralah menggembor lantang dan meloncat dengan jurus Cui-siong-lok-hua menumbuk dada kakek berjanggut panjang dan putih didepannya. Jurus Cui-siong-lok-hua atau angin tofan meniup bunga itu sesungguhnya sebuah ilmu yang luar biasa hebatrya. Ilmu andalan Siauw Liang, pukulan itu kalau sudah diyakini benar mempunyai kehebatan yang luar biasa. Apalagi tubuh manusia sedangkan gunung saja dapat bancur lebur kalau terkena pukulan itu. Baru seorang bocah yang masih kecil tenaganya itu saja telah terasa perih serempetan angin pukulannya ke pipi kakek yang usilan itu. Namun kakek itu bukannya terkejut mendapat kenyataan itu, malah dia tersenyum dan memuji.

"Bagus! BigusT' seru kakek itu seraya memutar tububnya menghadap kearah Ji Kiam Ciu yang baru saja menginjak tanah dari loncatannya.

Ji Kiam Ciu begitu menginjak tanah segera memutar tubuh dan langsung menyerang kakek itu dengan kaki dan tangannya. Kemudian meloncat mundur menggeserkan kaki kanan dan sekali lagi mengirimkan pukulan dengan jurus Cui-siong-lok-hua kearah ulu hati kakek itu. Pukulan yang memerlukan tenaga hebat itu menarik tubuh bocah itu kedepan dan tahu-tahu tengkuknya terkena pukulan telapak tangan lawan.

Ketika dia dapat menguasai diri kembali, kakek. itu telah lenyap dari hadapannya. Segeralah Ji Kiam Ciu memutar tubuh dan ketika dia melihat kelebatan tubuh kakek iiu segeralah dia menggembor. Maka bersamaan dengan suara gemboran melengking itu tampaklah Ji Kiam Ciu meloncat. Tanpa raguragu dia mengirimkan dua pukulan sekaligus dalam jurus Liong-hong-hun-hui atau Naga dan Cenderawasih terbang berpisah.

Jurus Liong-hong-hun-hui atau Naga dan Cendrawaaih terbang berpisah adalah sebuah jurus pukulan dua tinju berbareng untuk memukul dua lawan sekaligus. Serangan dengan jurus itu dilancarkan oleh Ji Kiam Ciu dengan hebat dan gencar sekali. Ternyata bocah itu hampir sempurna melatih ilmu pukulan yang luar biasa itu. Namun kakek berjanggot panjang dan putih itu memang bukan lawan Ji Kiam Ciu. Sekali pukulan yang bertenaga hebat itu telah telah mendekati ulu hati dia sempat memiringkan tubuh dan ketika itu pula kakek aneh merasa kaget ternyata lambungnya hampir saja terkeca pukulan berikutnya.

"Luar biasal” seru kakek berjanggut putih itu sambil meloncat menghindari pukulan kembar yang luar biasa. Berkibarlah ujung baju jubah kakek berjanggut panjang dan putih itu. Ketika dia berhasil menghindari serangan beruntun kepalan tinju berputar bocah itu maka sempat pula orang tua itu memperhatikan kesungguhan Ji Kiam Ciu, si kakek itu mengelus janggutnya dan tersenyum. Justeru pandangan mata dan senyuman kakek itu yarg membuat hati Ji Kiam Ciu menjadi bertambah penasaran. Dengan loncatan pendek dan bersiaga serta melintangkan kedua lengannya didada. Kiam Ciu menghadang didepan lawannya. Dengan sinar mata mengkilat tajam diawasinya gerak-gerik aneh lawannya yang sudah tua. Tampak dimata Kiam Ciu bahwa kakek. itu sama sekali tidak mempunyai keistimewaan, namun pada saat-saat dia mengirimkan serangan baik tendangan maupun pukulan selalu dapat dihindari dengan cepat dan tidak terduga.

Keiika diketahuinya ada lubang kelengahan lawannya. maka segeralah bocah iiu meloncat. Loncatan itu ringan sekali dengan mengerahkan tumit kaki kanan kedepan mengarah tenggorokan lawan. Ji Kiam Ciu mengirimkan tendangan dan pukulan dengan jurus Liong-hong-hun-hui dengan lebih hebat dan cepat. "Bet-bet wut wut” terdengar suara pukulan bocah iiu menubruk sebuah benda dan angin pukulan mcndesak kearah kakek berjanggut. Tetapi Kiam Ciu menjadi sangat terperanjat. Karena kenyataannya pukulan tangannya serasa memukul benda berisi pasir. Sangat berat dan dengan tidak terduga pukulan berikutnya ternyata menyambar tempat kosong.

Kiam Ciu terhuyung karena tekanan tenaganya sendiri, hampir saja pemuda cilik itu jatuh. Namun dengan sebuah putaran tubuh yang sangat indah Kiam Ciu berhasil mengimbangi dan mengurangi tenaga dorong tububnya. Ketika dia berhadapan dengan kakek itu kembali, maka tidak menunggu lawannya siap siaga lebib lanjut. Menurut pendapat bocah cerdik itu, lebih baik dia mendahului menyerang sebelum lawan dalam keadaan siap siaga. Maka kini dia menggembor nyaring dan meloncat.

Post a Comment