Hatinya sangat terharu, sedangkan ketiga bersaudara Sin-ciu-sam-kiat tidak berani mengucapkan sepatah katapun.
"Hemmm.. . musuh besar bayi itu mempunyai ilmu silat yang luar biasa hebatnya. Jika kita berempat mendidik bocah itu dengan tekun dan bersungguhsungguh serta penuh kasih sayang, aku yakin bahwa kelak bocah itu akan menjadi seorang pemuda yang luar biasa. Aku telah minta kepada kalian untuk merawat bayi itu, karena aku yang sudah tua usia ini tidak dapat merawat bayi yang baru berusia sebulan itu. Aku belum mengundurkan diri dari dunia persilatan karena masih banyak tugas-tugasku yang harus kuselesaikan Oleh karena itu.. .” seru Pek-hi-siu-si dengan lancar, tetapi sebelum kata-kata itu selesai terucapkan telah disambut oleh Siauw Liang.
"Sudahlah!” seru Siauw Liang dengan suara mendongkol. "jika rencanamu memang tegitu, mengapa tidak sedari tadi kau katakan ?!”
"Hemmm.. .” hanya itu sambung Pek-hi-siu-si sambil tersenyum.
"Aku sudah terlanjur turun tangan dan mengadu kekuatan dan kekerasan tulang kekebalan kulit. Baiklah kelak aku masih akan mengadakan perhitungan denganmu?” seru Siauw Liang. Walaupun suaranya kasar dan kedengarannya seperti marah, namun ternyata kata-kata itu diucapkan dengan selingan senyuman yang bertambah melebar, kemudian terdengar tawa laki-laki berangasan itu. Menyaksikan hal itu Pek-hi-siu-si turut pula tertawa dan dengan suara tawa itulah berarti dia telah mengikat hubungan lebih erat dengan ketiga Sin-ciusam-kiat, "Maaf jika kita bertindak agak Iancang, kami Shin-chiu-sa-kiat menyatakan hormat setinggi-tingginya kepadamu dan dengan jalan ini aku berjanji akan memelihara dan merawat bocah ini dengan baik.” seru Ji Han Su dengan membongkok memberi hormat serta dengan suara penuh hati-hati.
"Akupun berjanji akan mewariskan ilmu silatku padanya” seru kakek berjubah putih dengan tersenyum tetapi nada suaranya bersungguh-sungguh dan didengarkan oleh ketiga Sin-ciu-sam-kiat dengan penuh perhatian. Mereka menunduk dan memperhatikan kata-kata yang terulangkan oleh Pek-hi-siu-si sebagai seorarg sakti dari golongan tua.
"Aku telah mengetahui bahwa kalian tinggal di suatu tempat di lembah telaga Cui-ouw. Sekarang aku masih mempunyai banyak urusan dan tak dapat menyertai kalian bertiga, Tetapi setelah lewat sepuluh tahun aku berjanji akan menemui kalian di lembah telaga Cui-ouw. Aku mengharapkan semoga kalian dapat memelihara bayi itu dengan baik” sambung Pek-hi-siu-si. Kemudian kakek itu menunjuk kearah mayat Tong Kim Seng yang masih menggeletak diatas tanah berbatu di dasar jurang Liong-houw-ya.
"Dia telah terluka parah dalam tubuhnya, telah disadarinya bahwa dirinya akan binasa. Hanya sayangnya dia harus meninggalkan dunia yang penuh lelakon ini dengan meninggalkan seorang bayi yang masih amat kecil dan baru berumur satu bulan.. . sungguh suatu kejadian yang sangat memilukan hati.. .
Hemmm. Marilah kalian bantu dulu untuk mengubur jenazah Tong Kim Seng dengan seksama” seru kakek berjubah putih dengan kerutkan kening dan meloncat turun dari atas batu besar menghampiri tubuh Tong Kim Seng yang telah lama menggeletak didasar jurang itu.
Setelah mengadakan upacara sembahyang secukupnya didepan kuburan Tong Kim Seng, maka Pek-hi-siu-si mengawasi keatas dan tampaklah langit sudah mulai terang menjelang fajar. Kakek itu mengangkat kedua tangannya dan mengembangkan jari jemari kedua belah tangan serta memberi hormat kepada ketiga Sin-ciu-sam-kiat.
"Nah, aku harus pergi sekarang! Selamat tinggal dan sampai kita bertemu kembali kelak.. .” seru Pek-hi-siu-si. Bersamaan dengan berakhirnya kata-kata itu dia telah berkelebat bagaikan terbang dan menghilang kebalik gunung.
Ketiga bersaudara Sin-ciu-sam-kiat memandang kearah menghilangnya kakek Pek-hi-siu-si. Mereka merasa kagum atas kehebatan kakek itu. Tanpa sengaja mereka serentak berseru memuji.
"Tidak mengherankan kalau dia disegani di rimba persilatan sebagai tokoh tua yang maha sakti. Dengan menyaksikan gerakannya itu saja kita telah dapat mengukur betapa tingginya ilmu meringankan tubuh Pek-hi-siu-si. Marilah kita pun harus cepat-cepat berlalu dari sini !” seru Siauw Liang sambil memutar tubuh kearah Ji Han Su. Ji Hau Su menganggukan kepala dan menghampiri Pek Giok Bwee yang masih menggendong bocah malang Tong Kiam Cu yang telah tertidur pulas.
Dengan langkah pasti mereka meninggalkan dasar jurang Liong-houw-ya. Paling belakang mengiringkan kedua suami isteri itu adalah Siauw Liang, sedangkan Pek Giok Bwee tampak berbabagia dan senang sekali mendapat seorang bayi yang bagus dan montok itu. Ditengah jalan berkali-kali wanita cantik itu menciumi pipi bayi dalam gendongannya itu. Namun bayi itu dengan tenang dan pulasnya tetap memejamkan mata dan tersenyum-senyum bibirnya yang tipis merah dan mungil itu.
Ketika itu didasar jurang Liong-houw-ya menjadi sepi. Hanya desir air gemericik dan desau angin yang meniup daun-daun cemara mengiris suasana sepi saat itu. Disana sini masih tampak darah membeku, ialah darah Tong Kim Seng yang telah binasa dan membisu di dasar jurang Liong-houw-ya.
Perubahan alam begitu tertentu dan tepat pada saatnya. Maka perlahanlahan tetapi pasti bulan sabit telah pudar dan tenggelam di cakrawala Barat.
Kemudian menyusul sinar merah jambu di ufuk Timur. Mentari pagi telah muncul menggantikan suasaaa malam yang gelap.
Demikianpun kehidupan manusia dari kegelapan berganti keterangan. Dari sedih berganti gembira, Silih berganti dan tidaklah layak berputus asa pada saatsaat menghadapi suatu perkara dan kesedihan.
***** Tahun-tahun lelah berlalu dengan cepatnya. Semenjak pertemuan ketiga saudara Sin-ciu-sam-kiat dengan Pek-hi-siu-si di Jurang Liong-houw-ya kini telah berlalu dengan cepatnya. Tahu-tahu telah mencapai sepuluh kali akhir musim semi. Sinar matahari menyinari bumi dengan sinarnya yang hangat. Burungburung berkicauan diatas pepohonan yang tumbuh disekitar telaga. Diatas air lelaga yang bening itu tampak bunga-bunga teratai yang beraneka warna.
Sedangkan sinar matahari yang menimpa air telaga dipantulkan kemilau dan memantulkan warna-warna sangat indah.
Demikianlah pemandaagan di telaga Cui-ouw pada akhir musim semi dan permulaan musim panas. Pemandangan yang sangat indah itu dapat mengenaskan rasa hanyut menerawang ke alam kenangan yang sukar dilukiskan. Suasana yang indah dan syahdu itu dengan tiba-tiba dipecahkan oleh sesuatu keributan. Terdengarlah bentakan-bentakan dan tawa dari atas air telaga, ternyata diatas bunga-bunga teratai diatas air telaga itu telah menjadi suatu yang luar biasa. "Hayo larilah, kau akan lari kemana sekarang ?” seru seorang bocah membentak sambil meloncat dari daun teratai yang satu keatas teratal yang lain diatas air telaga bening itu. Tetapi seorang gadis cilik yang cantik telah meloncat sangat indahnya dan mendarat dengan sangat lunak ditepi telaga.
Mereka tertawa sangat gcmbira. Ternyata kedua bocah itu sedang bersendau gurau dan melatih ilmu merirgankan tubuh atau Ging-kang. Dengan sangat gembira mereka berdua telah mengisi kesunyian disekitar telaga Cuiouw. Seperti juga burung-burung yang berloncatan diatas dahan-dahan pohon Liu disekitar telaga itu. Bocah laki-laki yang berusia sekira sepuluh tahun, wajahnya cerah dan matanya bersinar luar biasa. Dengan wajah putih bersih dan alis membentuk golok lebar. Sedangkan bocah perempuan yang meloncat ke darat itu adalah bocah yang sangat jelita dan halus kulitnya, pipinya montok dengan rambut hitam kelam dan panjang. Sepasang bibirnya tipis dan merah jambu selalu basah. Matanyapun berkilauan bagaikan kilatan golok jatuh tertimpa sinar surya. Bocah jelita itu berumur tujuh tahun.
Mereka berdua asyik berlatih dan bercanda. Berloncatan dan lari mengitari telaga Cui-ouw. Bahkan kadang-kadang mereka berloncatan diatas daun teratai diatas telaga. Gerakan-gerakan yang mereka lakukan sangat indah dan mempesonakan. Kalau dibandingkan dengan umur mereka yang masih sangat muda itu, sungguh sangat luar biasa.
Kedua bocah itu adalah kakak beradik, walaupun mereka bergembira bukan semata-mata hanya bersenang-senang bermain-main di hari cerah. Namun mereka sebenarnya sedang berlatih ilmu meringankan tubuh. Sikakak yang lebih tua tiga tahun itu telah menyaksikan adiknya meloncat kedararan. Maka dengan sekali genjot dibarengi sebuah pekikan melengking tahu-tahu bocah laki-laki itu telah melayang dengan jurus Cian-li-piauw-biauw atau melayang diangkasa sepanjang seribu lie, dia mengejar dan berhasil menangkap adiknya itu.
"Kau telah menangkap diriku, itu tidak mengherankan dan tidak luar biasa”
seru bocah jelita itu sambil memberengut dan mengibaskan lengan kiri yang digenggam oleh bocah laki-laki itu. "karena . . karena koko telah banyak belajar terlebih dahulu kepada ibu. Lagipula kalau aku dapat melepaskan diri tentu kau menjadi gusar.. .” sambung gadis cilik dan jelita itu seraya cemberut.
Kakaknya tertawa dan terlihatlah dengan jelas-jelas sederetan gigi-giginya yang putih dan teratur bagaikan mutiara berderet diantara sepasang bibirnya yang tipis. "Aku tak akan menjadi bergusar hati terhadap gadis cilik yang manis seperti kau.. “ seru kakaknya seraya melepaskan genggaman lengan adiknya dan tersenyum. "Cihhhh.. . “ sahut gadis cilik yang ayu itu sambil cemberut dan memalingkan wajahnya ke arah telaga, "sudah pintar kau sekarang!”
Setelah mereka bertengkar dan berolok-olok itu akhirnya mereka berdua istirahat diatas sebuah batu dan rerumputan yang hijau dibawah batang pohon liu. Bocah laki-laki itu menggigit-gigit batang rumput dan dipermainkan dimulutnya seraya matanya memandang jauh ke tengah-tengah telaga. Sedang gadis cilik yang jelita itu memegang jari manisnya yang tampak dilingkari sebentuk cincin bersinar merah. Sesaat gadis itu memandang cincin yang melingkar dijari manisnya dengan senyuman yang manis sekali. Kemudian tampaklah sepasang bibir gadis cilik itu bergerak.
"Cincin ini adalah pemberian ibu” seru gadis itu ketika diliriknya bocah lakilaki itu tampak memperhatikan cincin yang bersinar merah melingkar dijari manis adiknya. "Ibu menceritakan padaku babwa cincin ini adalah peninggalan nenek dan selain diwariskan kepada anak perempuan, kecuali.. .” belum selesai kata-kata itu dipotong oleh kakaknya.
"Kecuali apa!” seru kakaknya.
"Kecuali bila tidak mempunyai anak perempuan” sambung adiknya menjelaskan. "Oh.. jadi kalau ibu tidak melahirkan kau maka cincin itu diberikan kepadaku bukan?” kata kakaknya sambil tersenyum.