Mereka cepat menangkis dan terdengar bunyi nyaring sekali. Dua orang pendeta masih dapat menahan, akan tetapi orang ketiga tak dapat menahan getaran tangannya sehingga pedangnya yang dipakai menangkis telah terpental jauh.
Sui Giok melompat maju dan menerima pedang pendeta yang melayang ini, kemudian tanpa banyak cakap lagi iapun menyerbu dengan hati marah sekali. Pendeta yang pedangnya kena dipentalkan oleh Ling Ling tadi memiliki hati yang penakut dan pengecut. Melihat betapa pedangnya dengan mudah terampas dan kini berada di tangan wanita cantik itu ia tidak mempunyai nafsu untuk melawan lagi.
Apalagi ketika dilihatnya betapa dua orang kawannya dalam segebrakan saja terkurung dan terdesak hebat. Tanpa banyak pikir lagi, ia lalu membalikkan tubuhnya dan berlari sifat kuping (cepat sekali).
Memang, kedua orang pendeta Pek-sim-kauw tingkat dua ini sama sekali bukan lawan Ling Ling, karena begitu bergerak, Ling Ling sudah dapat mendesaknya sehingga lawan ini sama sekali tak berdaya membalas, hanya menangkis dan mengelak saja.
Gerakan Ling Ling terlampau gesit dan sukar diduga, sedangkan ilmu pedangnyapun amat luar biasa. Kalau yang menghadapi Ling Ling bukan pendeta Pek-sim-kauw yang sudah mewarisi tujuh puluh bagian dari Pek-sim-kiam-hoat, jangan harap ia akan dapat melayani Ling Ling lebih dari sepuluh jurus. Kini biarpun pendeta itu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, namun dalam jurus keempat belas, pedang Ling Ling dengan cepat sekali menyambar lehernya.
Ketika pendeta itu menangkis, secepat kilat pedang Ling Ling dirobah gerakkannya dan kini bukan merupakan sabetan lagi, melainkan ditusukkan ke arah dada pendeta itu. Hal ini sama sekali tak pernah disangka oleh tosu dari Pek-sim-kauw ini. Ia berusaha mengelak sudah tidak keburu, untuk menangkis apalagi, maka terpaksa ia lalu mengumpulkan hawa di dadanya, untuk mencoba menahan tusukan ini.
Ilmu lweekang dari tosu-tosu Pek-sim-kauw memang tinggi dan Liang Gi Cinjin sendiri terkenal seorang ahli lweekeh yang jarang tandingannya. Pendeta yang menghadapi Ling Ling ini sudah melatih Pi-ki-hu-hiat (Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah) dan sudah melatih ilmu kebal yang disebut Thiat-po-san (Baju Mustika Besi).
Akan tetapi kini dia bukan menghadapi lawan sembarangan. Mungkin juga kalau yang menusuk dadanya itu seorang yang ilmu silatnya masih rendah, kulit dadanya akan berhasil menahan dan tidak terluka.
Akan tetapi, Ling Ling selalu menggerakkan pedangnya menurut petunjuk dari kitab Kim- gan-liong-kiam-coan-si dan selalu disertai getaran-getaran yang disalurkan oleh tenaga lweekangnya. Pedang itu kini sudah merupakan sebagian daripada tangannya dan seakan-akan ujung pedang itu dapat “memilih” jalan masuk ke dalam rongga dada.
“Cepp !” Tosu itu berseru keras, memukulkan tangan kiri ke depan dengan tenaga terakhir
untuk membalas lawannya. Akan tetapi, Ling Ling tidak saja dapat menahan angin pukulan ini, bahkan menambah dengan sebuah tendangan ke arah perut lawannya yang segera terpental tubuhnya sampai dua tombak lebih dalam keadaan mati.
Ketika Ling Ling menengok keadaan ibunya, ternyata Sui Giok juga sedang mendesak hebat pendeta lawannya, ilmu kepandaian Sui Giok tidak sehebat Ling Ling, karena memang puterinya ini jauh lebih berbakat dan berlatih silat semenjak kecil. Bagi Sui Giok yang berlatih silat setelah ia mempunyai anak, tentu saja gerakannya tidak selemas Ling Ling walaupun kecerdikan dan ketekunannya membuat Sui Giok kini memiliki kepandaian yang jarang dimiliki oleh ahli silat lain.
Dalam hal tenaga dan kegesitan, keadaan Sui Giok boleh dibilang berimbang dengan lawannya, akan tetapi ilmu pedang Kim-gan-liong-kiam-sut memperlihatkan keunggulannya. Dengan ilmu pedang ini, Sui Giok berhasil mendesak lawannya yang kini makin menjadi gelisah itu. Ling Ling tidak mau membantu ibunya karena maklum bahwa tak lama lagi ibunya akan berhasil merobohkan lawannya.
Benar saja, setelah bertempur tiga puluh lima jurus, akhirnya dengan gerak tipu Kim-gan- liong-sin-yau (Naga Mata Emas Mengulur Pinggang), Sui Giok berhasil menipu dan memancing lawannya. Tubuhnya membelakangi lawannya dengan gerakan yang lemas dan indah dan melihat kesempatan serta lowongan ini, pendeta itu segera menusuk dari belakang.
Ini hanya pancingan belaka untuk dapat mematahkan kekuatan pertahanan tosu itu. Bagi setiap ahli ilmu silat tentu maklum bahwa serangan dan pertahanan adalah dua gerakan yang berlawanan. Apabila orang menyerang maka berarti bahwa pertahanannya tentu berkurang satu bagian kekuatannya, sebaliknya di waktu bertahan, juga daya serangnya berkurang.
Ketika tosu itu menusukkan pedangnya ke arah dada kiri Sui Giok, tiba-tiba nyonya ini berseru keras, membalikkan tubuh, membuka lengan kiri sehingga pedang lawan meluncur di bawah pangkal lengan kirinya, kemudian pedang di tangan kanannya tak dapat dicegah lagi telah memasuki dada lawannya. Pendeta Pek-sim-kauw ini menjerit dan ketika Sui Giok mencabut pedangnya sambil melompat kebelakang, tubuh pendeta itu terguling roboh tak bernyawa lagi.
Kedua anak dan ibu ini segera menghampiri Bu Lam Nio yang masih rebah mandi darah. Ketika Sui Giok merobohkan pendeta lawannya, Ling Ling sudah berlutut dan memangku kepala neneknya maka kini keduanya hanya menangis sedih.
Keadaan Bu Lam Nio sudah jelas, tak dapat diobati lagi. Kulit lambungnya telah terbuka dan isi perutnya bahkan ada yang menonjol keluar. Darah membasahi rumput dan pakaiannya.
Wajahnya pucat dan makin mengerikan, akan tetapi Ling Ling dan ibunya tiada hentinya menciumi muka nenek itu sambil memanggil-manggil namanya.
Bagaikan dipanggil kembali nyawa nenek itu oleh tangisan Ling Ling dan Sui Giok, tiba-tiba mata yang telah tertutup rapat itu terbuka kembali dan melihat Ling Ling memangkunya, Bu Lam Nio tersenyum. Bibirnya berbisik-bisik akan tetapi suara yang keluar sukar sekali ditangkap oleh telinga karena amat perlahan. Ling Ling dan Sui Giok lalu mendekatkan telinga mereka untuk mendengar pesan terakhir itu.
“Oei-hong-kiam (Pedang Tawon Kuning) dari suamiku telah dirampas oleh pembunuhnya
...... carilah pemegang Oei-hong-kiam dan ... bunuh dia untuk membalas sakit hati Kam- ciangkun (Panglima Kam) ” Setelah berkata demikian, leher Bu Lam Nio menjadi lemas
dan melayanglah nyawa nenek yang malang hidupnya ini meninggalkan raganya yang sudah rusak.
Dengan hati sedih, Sui Giok dan Ling Ling mengubur jenazah Bu Lam Nio, juga ketiga jenazah pendeta-pendeta Pek-sim-kauw itu mereka kubur baik-baik. Hal ini menandakan bahwa budi pekerti Sui Giok memang halus dan baik. Nyonya ini bersama anaknya masih merasa heran mengapa pendeta-pendeta yang jubahnya memakai gambar hati putih ini memusuhi Bu Lam Nio.
“Mereka ini tentulah pendeta-pendeta yang jahat, sebagaimana seringkali ibu menceritakan kepadaku!” kata Ling Ling. “Maka kelak kalau kita bertemu dengan pendeta berpakaian seperti ini, kita harus membasmi mereka!” Memang pada waktu itu kedudukan para tosu dan hwesio dirusak dan dicemarkan oleh orang-orang jahat yang sengaja menjadi “orang suci” untuk menutupi perbuatan mereka yang jahat.
Dengan jubah pendeta, mereka ini lebih leluasa membodohi rakyat dan melakukan hal-hal yang amat mengecewakan. Hal ini diketahui oleh Sui Giok maka seringkali ia memberi nasehat kepada anaknya agar berhati-hati menghadapi orang-orang yang berjubah pendeta, karena kalau mereka itu berhati jahat, sukarlah bagi kita untuk menyangkanya.
“Ibu, setelah kini nenek tidak ada, tentu ibu tidak berkeberatan untuk mengawani aku keluar dari tempat ini. Marilah kita pindah ke tempat ramai, ibu, dan hidup seperti orang-orang biasa. Ling Ling membujuk dua hari kemudian setelah peristiwa itu terjadi.
“Baiklah, Ling Ling. Akan tetapi aku masih merasa tidak tega meninggalkan makam nenekmu. Biarlah kita tinggal lagi di sini sampai sembilan hari, baru kita tinggalkan tempat ini.” Akan tetapi tujuh hari kemudian, terjadilah peristiwa hebat yang memaksa ibu dan anak itu pergi dari situ sebelum waktu yang mereka tetapkan. Pada hari itu, pagi-pagi sekali, serombongan pendeta mendarat di hutan itu.
Mereka ini datang dengan perahu dan ternyata bahwa mereka adalah pendeta-pendeta Pek- sim-kauw sebanyak tiga belas orang. Melihat tusuk konde mereka, ternyata bahwa mereka ini adalah pendeta-pendeta Pek-sim-kauw yang berkepandaian tinggi. Sepuluh orang bertingkat dua dan yang tiga orang adalah pendeta-pendeta Pek-sim-kauw tingkat satu.
Bagaimanakah begitu banyak pendeta Pek-sim-kauw dapat menyerbu ke sini? Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, seorang pendeta dapat melarikan diri dari hutan itu dan langsung berlari ke kota Kong-goan.
Kebetulan sekali pada waktu itu, Pek Sui Cu, pendeta dari cabang Pek-sim-kauw di Kong- goan, didatangi oleh beberapa orang pendeta tingkat dua lain yang sengaja datang hendak merundingkan tentang keadaan perkumpulan mereka, ketika mereka ini mendengar tentang tewasnya Pek Kin Cu dan tangguhnya siluman-siluman di dalam hutan itu, bukan main marah dan terkejut mereka,
“Celaka, twa-suheng,” kata pendeta itu dengan muka pucat, “Ji-suheng dan sam-suheng entah bagaimana nasibnya. Siluman-siluman wanita itu bukan main tangguh dan gagahnya.” Ia lalu menceritakan betapa dengan sekali tangkis saja “siluman wanita” yang paling muda telah berhasil membuat pedangnya terampas.
Pek Sui Cu dan kawan-kawannya lalu merundingkan hal ini,
“Terang bahwa mereka itu tentulah wanita-wanita jahat yang menyembunyikan diri dan berkepandaian tinggi. Kita harus minta bantuan dari pusat, dan sebaiknya kita berlaku hati- hati. Sedapat mungkin kita harus minta bantuan dari suheng-suheng kita yang bertingkat satu. Jangan sampai kita menyerbu dan gagal lagi.”