Pemimpin yang bertugas menyebar agama Pek-sim-kauw di kota Kong-goan ada lima orang banyaknya, semua pendeta-pendeta tingkat dua, dibantu oleh banyak pendeta-pendeta tingkat tiga yang datang berangsur-angsur dari pusat. Setelah lima orang pemimpin ini mendengar cerita Pek Kin Cu, mereka merasa marah sekali.
“Memang siluman itu harus dibasmi,” kata Pek Sui Cu yang tertua dan yang menjadi kepala cabang di Kong-goan. “Ji-sute, Sam-sute dan Si-sute (adik kedua, ketiga, dan keempat) harap suka membereskan soal ini. Menurut pendapatku, iblis yang mengalahkan Pek Kin Cu bukanlah iblis tulen, melainkan seorang yang jahat atau seorang yang tidak waras otaknya, yang telah lama menyembunyikan diri di dalam hutan. Oleh karena itu, oleh karena dia tidak membunuh Pek Kin Cu kalau dapat tangkaplah saja dia, jangan dibunuh.”
“Akan tetapi, twa-suheng (kakak terbesar), iblis itu telah membunuh seorang penduduk dusun Tai-kun-an yang bernama Tan-wangwe dan beberapa orang penjaganya. Ia berbahaya sekali dan kalau tidak dibunuh, akan mendatangkan banyak malapetaka pada rakyat kampung di sekitar hutan itu.”
“Jangan, jangan sembarangan membunuh orang. Kalian berempat masa tidak mampu menangkapnya dan membawanya ke sini? Kalau memang kalian tidak dapat menangkap, barulah kalian boleh turun tangan,” berkata Pek Sui Cu.
Demikianlah, sambil membawa senjata masing-masing, empat orang pendeta Pek-sim-kauw itu lalu berangkat dengan cepat memasuki hutan di sebelah utara dusun Tai-kun-an itu.
Kepandaian tiga orang pendeta tingkat dua ini tentu saja lebih tinggi dari pada kepandaian Pek Kin Cu, karena mereka ini pernah mendapat latihan langsung dari Liang Gi Cinjin.
Berbeda dengan pendeta-pendeta tingkat tiga seperti Pek Kin Cu yang hanya mendapat latihan dari pendeta tingkat satu dan dua. Baru melihat cara mereka berlari saja, jelas sudah bahwa kepandaian ginkang dari Pek Kin Cu kalah jauh, akan tetapi oleh karena dia yang menjadi penunjuk jalan, maka ketiga orang suhengnya itu sengaja memperlambat larinya agar mereka dapat maju berbareng.
Pada saat itu, Liem Sui Giok bersama puterinya Ling Ling, sedang bercakap-cakap di dalam gua tempat tinggal mereka. Bu Lam Nio tidak kelihatan di situ oleh karena seperti biasa, nyonya tua itu telah sibuk dengan pekerjaan sehari-hari, mencuci pakaian, memasak nasi dan lain-lain.
Sungguh amat mengharukan betapa nenek tua ini amat bersetia kepada Sui Giok dan Ling Ling. Dan biarpun Sui Giok sudah berkali-kali melarangnya melakukan semua pekerjaan itu, namun tetap saja ia berkeras, karena ia masih selalu menganggap diri sendiri sebagai seorang pelayan.
“Aku tidak akan merasa senang apabila aku tidak bekerja sebagai pelayan,” bantah nenek itu, “dengan pekerjaan-pekerjaan ini, aku dapat mengenang masa lalu yang penuh keindahan.”
Pada hari itu, Sui Giok sedang menghadapi Ling Ling yang semenjak beberapa hari ini selalu rewel dan mendesaknya untuk memberi ijin. Gadis ini ingin sekali keluar dari hutan itu dan pergi ke dunia ramai.
“Ibu,” katanya setelah mendesak berkali-kali, “semenjak dahulu, aku sudah merasa amat bosan tinggal di dalam hutan yang sunyi ini, jauh dari kawan-kawan, jauh dari manusia lainnya. Dulu ibu menyatakan bahwa kalau aku sudah dewasa dan sudah memiliki kepandaian, ibu akan memperkenankan aku keluar dari hutan ini. Nah, bukankah sekarang aku sudah dewasa dan tentang kepandaian apakah ibu masih menganggap kurang ?”
Dengan air mata berlinang, Sui Giok memeluk anaknya.
“Ling Ling, tidak ada keinginan yang lebih besar di dalam hati ibumu selain melihat kau hidup seperti gadis-gadis lain di dunia ramai. Akan tetapi, aku tidak tega dan selalu akan merasa gelisah kalau kau merantau seorang diri, anakku. Bagaimana kalau kau sampai mendapat bencana di jalan? Dunia ini penuh dengan orang-orang jahat, Ling Ling.”
“Ibu, mengapa susah-susah? kalau ibu tidak tega, marilah kita pergi berdua. Dengan kepandaian kita, apakah yang kita takutkan? Ibu, aku ingin sekali mencari ayah. Menurut penuturan ibu, ayah dahulu dibawah oleh para serdadu untuk bekerja paksa, mengapa kita tidak menyusul dan mencarinya? Alangkah akan bahagianya kalau kita dapat bertemu dengan ayah!”
Makin deras air mata mengalir dari mata Sui Giok mendengar disebutnya suaminya ini. Kemudian ia menggeleng kepala dan berkata perlahan,
“Ling Ling, hal ini tidak mungkin. Kalau kita pergi berdua, bagaimana dengan nenekmu? Dia adalah penolong ibumu, tanpa adanya nenek Lam, ibumu pasti sudah tewas dan kau takkan ada di muka bumi ini. Bagaimana aku bisa tinggalkan dia seorang diri di tempat ini?”
Belum sempat Ling Ling menjawab, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh bunyi pekik yang amat nyaring, seperti pekik seekor binatang buas yang dilukai.
“Nenenk Lam !!” Ling Ling berseru keras dan wajahnya tegang. “Dia marah sekali!”
Akan tetapi Sui Giok sudah melompat berdiri dan menarik tangannya. “Hayo cepat, nenekmu berada dalam bahaya!” Keduanya lalu melompat dan berlari cepat sekali ke arah datangnya suara itu.
Ternyata bahwa Bu Lam Nio telah bertemu di dalam hutan dengan empat orang pendeta Pek- sim-kauw itu. Melihat pendeta-pendeta itu, Bu Lam Nio mengenal Pek Kin Cu yang kemaren telah dirobohkan, maka meluaplah amarahnya. “Pendeta-pendeta busuk, kalian sudah bosan hidup !” teriaknya dan langsung ia menyerang mereka dengan sebatang ranting pohon.
“Siluman jahat! Kau benar-benar ganas dan harus dibasmi!” teriak Pek Kin Cu sambil memutar pedangnya. Juga tiga orang pendeta tingkat dua dari Pek-sim-kauw lalu mencabut pedang dan mengeroyok. Akan tetapi kebencian Bu Lam Nio telah ditumpahkan kepada Pek Kin Cu membuat nenek ini menyerang dengan hebat sekali kepada pendeta ini. Desakkannya bukan main dahsyatnya dan ia melakukan serangan bertubi-tubi dengan ilmu pedang Kim-gan-liong-kiam-sut yang baru sedikit dipelajarinya.
Namun ini sudah cukup. Biarpun Pek Kin cu berusaha menangkis dan ketiga orang suhengnya menyerang hebat untuk menolongnya, tetap saja ujung ranting di tangan Bu lam Nio dengan tepat telah menusuk jalan darah pada lehernya.
Pek Kin Cu terhuyung dan roboh tanpa dapat mengeluarkan suara lagi karena jalan darah pada lehernya telah pecah, membuat ia tak dapat bersuara dan tak dapat bernapas lagi. Ia tewas pada saat itu juga. Demikianlah kehebatan ilmu pedang Kim-gan-liong-kiam-sut.
Bukan main terkejut dan marahnya tiga orang pendeta Pek-sim-kauw tingkat dua itu. “Iblis wanita, kau benar-benar ganas dan kejam!” teriak mereka dan bergulung-gulunglah
sinar pedang ketiga pedang ketiga pendeta ini ketika mereka mengeroyok dengan serangan- serangan maut kepada Bu Lam Nio. Bu Lam Nio sudah amat tua dan matanya sudah agak lamur, biarpun ilmu silatnya sudah mencapai tingkat yang mengherankan, akan tetapi menghadapi tiga orang lawan yang amat tangguh ini, ia menjadi sibuk juga. Dari tangkisan pedang mereka, ia maklum bahwa ketiga orang lawan ini bukanlah lawan yang empuk seperti Pek Kin Cu, dan jangankan dikeroyok tiga, baru menghadapi seorang di antara mereka saja, agaknya ia takkan mudah merobohkannya.
Ilmu pedang Pek-sim-kiam-hoat yang dimainkan oleh tiga orang pendeta ini memang lihai. Kepandaian mereka sudah mencapai tujuh puluh bagian sehingga ketika pedang mereka berkelebat, terdengarlah bunyi mengaung seperti ribuan lebah pulang ke sarang.
Sebentar saja Bu Lam Nio terkurung rapat oleh sinar pedang mereka dan tidak mempunyai jalan keluar lagi. Akan tetapi, Bu Lam Nio tidak menjadi gentar bahkan lalu memutar rantingnya makin cepat sambil melakukan serangan balasan membabi buta.
Ranting kecil di tangan nenek ini jangan dipandang ringan oleh karena biarpun hanya kecil dan terbuat daripada kayu kering saja, namun bahayanya tidak kalah oleh sebatang pedang atau tongkat baja. Ujung ranting ini menyambar-nyambar dan mengancam setiap jalan darah lawan dan sekali saja ujungnya dapat menotok jalan darah, pasti lawannya akan terjungkal.
Akan tetapi yang dihadapinya sekarang adalah murid-murid Liang Gi Cinjin sendiri, maka setelah melawan mati-matian sampai tiga puluh jurus, dengan gerakan berbareng pendeta- pendeta itu menyerang dari tiga jurusan. Bu Lam Nio masih mencoba untuk menangkis dan mengandalkan ginkangnya mengelak namun sebatang pedang yang menyerangnya dari kiri dengan tepat telah menusuk lambungnya.
Nenek ini mengerahkan lweekangnya untuk menahan dan memperkeras lambungnya, namun tenaga lweekang penusuknya juga kuat sekali sehingga tanpa dapat dicegah lagi, pedang itu telah menancap pada lambungnya sampai setengahnya lebih.
Bu Lam Nio mengeluarkan pekik dahsyat dan mengerikan sekali. Pekik yang bukan seperti pekik manusia ini dikeluarkan karena marah dan sakit. Dan pekik inilah yang terdengar oleh Sui Giok dan Ling Ling. Dengan tenaga yang luar biasa sekali, biarpun ia telah terluka parah, Bu Lam Nio masih dapat menubruk maju dan kalau saja pendeta yang menusuknya tadi tidak cepat-cepat menarik kembali pedangnya dan melompat, pasti ia akan kena ditangkap dan kalau terjadi demikian, jangan harap ia akan dapat hidup lagi. Ketika tubrukannya luput, Bu Lam Nio terjerumus ke depan dan terguling, menggeletak di dalam genangan darahnya sendiri.
Pada saat itu, datanglah Sui Giok dan Ling Ling.
“Nenek ... !!” Ling Ling menjerit ngeri melihat keadaan neneknya ini dan tanpa banyak cakap ia lalu mencabut pedangnya, yakni pedang yang dulu dirampas oleh Sui Giok dari tangan
Tan-wangwe, lalu ia menyerbu kepada tiga pendeta Pek-sim-kauw itu.
Bukan main hebatnya serangan ini. Pedang ditangannya itu nampak bagaikan halilintar menyambar-nyambar dan sukar diduga bagian mana yang hendak diserang. Ketiga orang pendeta itu tadinya berdiri tercengang ketika melihat datangnya dua orang wanita yang cantik-cantik.
Tak mungkin mereka ini siluman, pikir mereka mulailah mereka merasa gelisah dan menyesal telah membunuh Bu Lam Nio. Kini melihat datangnya serangan gadis muda yang cantik sekali ini, kegelisahan mereka berubah menjadi kekagetan yang besar.