Halo!

Wanita Iblis Pencabut Nyawa Chapter 08

Memuat...

“Itulah dia, anak perempuan yang cantik itu!” kata petani tadi sambil menuding ke arah Ling Ling.

Semua orang memandang dengan mata tidak percaya dan ayah anak perempuan yang masih bergandengan dengan Ling Ling itu segera melangkah maju dan berkata kepada anaknya,

“A-cui, kau kesinilah !”

Anak perempuan itu memandang kepada Ling Ling dn berkata, “Dia adalah ayahku, enci Ling Ling.”

Sementara itu Ling Ling sudah timbul lagi amarahnya melihat orang-orang itu memandangnya dengan muka aneh. Ia merasa sebal sekali, maka ia menjawab kasar, “Jangan pergi kepadanya!”

Mendengar suara Ling Ling yang nyaring, makin takutlah orang-orang itu, terutama sekali ayah A-cui, ia segera menjatuhkan diri berlutut dan dari jauh ia memberi hormat kepada Ling Ling sambil berkata, “Harap jangan mengganggu anakku, biarlah aku akan bersembahyang tiap malam untuk menghormatimu!”

Ling Ling tentu saja tidak mengerti apakah arti kata-kata ini, maka ia hanya memandang dengan masih marah. Sementara itu, ketika A-cui melihat kemarahan Ling Ling dan melihat pandang matanya yang memancarkan cahaya berapi-api, ia mulai menjadi takut dan berkata, “Enci Ling Ling, aku mau pergi kepada ayahku!” Dan larilah A-cui kepada ayahnya.

Ling Ling mengulurkan tangan hendak menangkap A-cui, akan tetapi orang-orang lelaki yang berdiri kurang lebih lima tombak darinya, ketika melihat ia mengulurkan tangan seakan-akan hendak menangkap A-cui, segera menyerbu dengan senjata tajam di tangan.

Menurut kehendak hatinya yang marah, Ling Ling hendak melawan orang-orang ini, akan tetapi ia pernah mendengar pesanan ibunya bahwa ia dilarang berkelahi dengan orang-orang dusun, dan pernah pula mendengar neneknya berkata bahwa orang-orang dusun adalah orang- orang bodoh. Sebutan mereka yang dianggap iblis wanita oleh orang-orang kampung itu bukanlah penghinaan, melainkan sebutan yang timbul dari kepercayaan bodoh dan tahyul.

Sungguhpun Ling Ling tak dapat mengerti jelas keterangan neneknya ini, namun melihat orang-orang kampung itu, dan melihat A-cui, Ling Ling merasa kasihan juga. Maka dengan hati mendongkol, kecewa, dan marah yang ditahan-tahan, ia lalu menggerakkan tubuhnya dan sekali ia melompat tubuhnya telah berkelebat jauh dan sebentar saja lenyap di antara pohon- pohon.

Melihat gerakan ini, percayalah kini semua orang dusun itu dan terdengar seruan-seruan, “Toat-beng Mo-li ” Beberapa orang di antara mereka bahkan sudah menjatuhkan diri

berlutut dengan mulut berkemak-kemik membaca doa.

Semenjak saat itu, semua penduduk Tai-kun-an percaya bahwa Toat-beng Mo-li adalah iblis wanita yang amat sakti dan pandai pian-hoa, sebentar menjadi iblis yang buruk rupa dan tua sekali sebentar berobah menjadi seorang wanita yang cantik jelita seperti bidadari, kadang- kadang menjelma menjadi seorang anak perempuan yang manis dan mungil.

Akan tetapi ketika mendengar penuturan A-cui, mereka berpendapat bahwa “iblis wanita” itu bukanlah iblis yang jahat dan agaknya tidak mau mengganggu orang, kecuali orang yang jahat. Sepanjang pengetahuan mereka, yang pernah diganggu adalah Tan-wangwe dan

tukang-tukang pukulnya dan semua orang sudah tahu akan kejahatan dan kekejaman hartawan ini beserta kaki tangannya.

Orang kedua yang mengalami hajaran adalah anak laki-laki yang telah mengganggu A-cui. Maka, kini nama Toat-beng Mo-li atau Cialing Mo-li dipergunakan oleh mereka untuk menakut-nakuti orang yang hendak berbuat jahat. Berkat ketahyulan inilah maka orang-orang yang berwatak jahat di dusun itu menjadi ketakutan dan mereka jarang berani melakukan kejahatan lagi.

Sementara itu, Ling Ling kembali ketempat tinggal orang tuanya di dalam hutan sambil cemberut dan mendongkol sekali. Ketika ibunya melihatnya, ia ditegurnya,

“Ling Ling, kau datang dari manakah dan mengapa kau nampak marah?”

Ditanya demikian, Ling Ling lalu menangis dan menjatuhkan diri di atas pangkuan ibunya. Sui Giok terkejut sekali dan dengan penuh kasih sayang ia mengelus-elus rambut Ling Ling. Terlihat olehnya betapa rambut anaknya yang bagus itu terurai tanpa ikatan pita merah seperti biasa.

“Eh, kenapa kau menangis dan ke mana pula perginya pita rambutmu?”

Ling Ling lalu menceritakan pengalamannya yang didengar oleh ibunya dengan kening berkerut dan beberapa kali terdengar ia menarik napas panjang.

“Itulah sebabnya maka aku selalu melarang kau pergi ke dusun Tai-kun-an, anakku. Penduduk di situ menganggap kita sebagai iblis wanita, akan tetapi hal ini tidak perlu diributkan. Mereka adalah orang-orang bodoh yang patut dikasihani. Mereka sebetulnya tidaklah jahat.”

“Ibu, aku sudah bosan tinggal di dalam hutan yang sunyi sepi ini. Mengapa ibu tidak pindah saja ke tempat ramai di mana aku bisa bermain-main dengan anak-anak lain?”

Sui Giok mencium pipi anaknya. “Belum waktunya, Ling Ling. Kau belajarlah dengan rajin dan apabila kepandaianmu sudah cukup, tentu aku takkan selamanya menahanmu di sini, bahkan kalau kau sudah cukup pandai, kita akan bersama keluar dari sini, pergi kekota-kota besar dan kau akan gembira dan senang. Tunggulah sampai kau dewasa dan pandai, nanti kita akan pergi mencari ayahmu.”

Mendengar disebutnya ayah, Ling Ling lalu bangkit dan duduk di depan ibunya. Ia menyusut air matanya dan dengan sepasang matanya yang bening itu dipandangnya muka ibunya.

“Ibu, dimanakah adanya ayah sekarang? Mengapa ia meninggalkan kita?” Ia teringat akan ayah dari A-cui yang demikian menyinta anaknya. Sui Giok menghela napas. Memang ia belum menceritakan riwayatnya kepada Ling Ling, hanya memberitahukan tiap kali anaknya menanyakan ayahnya, bahwa ayahnya itu sedang pergi jauh dan bahwa kelak mereka akan menyusulnya.

“Ling Ling sudah berkali-kali kukatakan bahwa kalau kau sudah pandai dan sudah dewasa, tentu akan kuceritakan semua hal itu. Sekarang belum waktunya, nak, kau berjanjilah kepada ibumu untuk belajar ilmu kepandaian dengan tekun. Kau harus lebih memperdalam ilmu membaca agar kau dapat membaca kitab Kim-gan-liong-kiam-coan-si dan melatih ilmu pelajaran yang terdapat di dalam kitab itu.”

Ling Ling adalah seorang anak yang berhati keras dan berotak cerdik, akan tetapi terhadap ibunya ia amat penurut dan berbakti, maka mendengar ucapan ini, ia sudah merasa puas dan tidak mau mendesak lagi. Semenjak saat itu, ia belajar makin giat dan tekun dan mulailah ia mempelajari kitab ilmu pedang itu bersama-sama ibunya.

Seperti pernah dituturkan di bagian depan, Ling Ling mempunyai bakat yang luar biasa sekali dalam hal ilmu silat. Kitab Kim-gan-liong-kiam-coan-si yang sukar sekali dipelajari oleh ibunya itu, setelah Ling Ling pandai membaca atas ajaran ibunya, maka anak ini dapat menangkap inti sari ilmu pedang ini dan dapat mempelajari dan memainkannya jauh lebih cepat dan mudah daripada ibunya.

Pedang Tan-wngwe yang dulu dirampas oleh ibunya itu dipergunakan untuk berlatih ilmu pedang Kim-gan-liong-kiam-sut. Bukan main girangnya hati Sui Giok dan Bu Lam Nio. Ilmu pedang itu dapat dimainkan oleh Ling Ling sedemikian hebatnya sehingga ketika Sui Giok dan Bu Lam Nio mencoba untuk mengeroyok gadis itu, kedua orang tua ini tidak dapat bertahan lebih dari lima puluh jurus.

Kitab Kim-gan-liong-kiam-coan-si selain memuat pelajaran ilmu pedang, juga di bagian terakhir dimuat pula pelajaran yang disebut “mempersatukan pedang dengan diri”, yakni bagian pelajaran yang paling sukar dan sulit. Pelajaran ini berdasarkan latihan lweekang yang amat tinggi dan disertai latihan siulan (samadhi) dan latihan napas.

Apabila tenaga lweekang yang khusus telah dimiliki oleh orang yang belajar dari kitab ini, maka barulah ia akan dapat memperoleh ilmu mempersatukan pedang dengan dirinya.

Dengan ilmu ini, maka pedang yang dipegang di tangannya dan dimainkannya, baginya seakan-akan bukan merupakan pedang lagi, melainkan merupakan sebagian dari tubuhnya, merupakan anggauta tubuh seperti tangan atau kaki.

Dengan penyaluran tenaga lweekang sampai ke ujung pedang, maka gerakan pedang lebih hebat dan tepat, serta tiap serangan atau tangkisan pedang mengandung tenaga lweekang sepenuhnya seakan-akan bukan pedang, melainkan lengan tangan yang menyerang atau menangkis.

Sui Giok sendiri sudah bertahun-tahun mencoba untuk memahami bagian terakhir ini, namun tetap saja ia tidak berhasil. Hal ini tidak mengherankan oleh karena untuk dapat memiliki bagian terakhir ini, tidak saja dibutuhkan bakat yang luar biasa, namun juga dibutuhkan otak yang cerdas, pikiran yang tenang, dan ketekunan yang luar biasa. Bagi Sui Giok, semua syarat ini ada walaupun tidak berapa kuat, akan tetapi tentang ketekunan dan ketenangan, bagaimana ia bisa tenang kalau hatinya selalu risau dan amat rindu kepada suaminya? Ia tidak tahu bagaimana nasib suaminya, dan sebagai seorang isteri muda yang baru setahun lebih menikah dan berkumpul dengan suaminya, tentu saja ia merasa amat rindu.

Kegelisahannya memuncak apabila ia teringat akan nasib suaminya yang tercinta itu. Inilah yang menjadi penghalang besar baginya untuk dapat mencapai kemajuan ilmu pedang seperti yang telah dicapai oleh Ling Ling.

Selama sembilan tahun, tiada hentinya Ling Ling belajar. Ibunya sendiri kadang-kadang sampai berkhawatir melihat betapa gadis itu kadang-kadang berlatih ilmu pedang sampai sehari penuh, melakuan siulan sampai semalam penuh belum juga “sadar” kembali dan lain- lain kegiatan yang benar-benar mengagumkan.sekali.

Post a Comment