Halo!

Wanita Iblis Pencabut Nyawa Chapter 05

Memuat...

Kam Kok Han memimpin orang-orangnya untuk melakukan perlawanan mati-matian, akan tetapi oleh karena mereka harus melakukan perjalanan sehingga keadaan mereka lelah, lapar, dan juga serangan datang terus menerus. Akhirnya seorang demi seorang anggauta keluarga Kam itu dapat dibinasakan.

Sekeluarga Kam habis musnah, hanya tinggal seorang pelayan wanita, yakni Bu Lam Nio, pelayan yang amat disayang oleh keluarga itu oleh karena semenjak kecil telah menjadi pelayan mereka. Juga Bu Lam Nio ini amat berbakat sehingga ilmu silatnya paling tinggi di antara para semua pelayan.

Panglima Kam Kok Han sendiri amat suka kepada pelayan yang berbakat, cantik, dan pandai ini sehingga dengan persetujuan isteri-isterinya, pelayan ini diangkat menjadi bini mudanya. Tentu saja makin tinggilah ilmu silat Bu lam Nio, karena kini Kam Kok Han tidak ragu-ragu untuk menurunkan ilmu silatnya kepada bini muda yang tercinta ini.

Namun nasib Lam Nio memang buruk, karena belum juga sebulan ia menjadi “nyonya muda”, datanglah malapetaka itu sehingga kini ia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk membantu keluarga Kam. Di dalam pertempuran yang amat dahsyat, tubuh Lam Nio telah penuh dengan luka. Beberapa bacokan senjata musuh telah membuat mukanya tidak keruan dan sekali pukulan ruyung telah mematahkan tulang belakangnya.

Akan tetapi, ia masih sanggup mendekati Kam Kok Han yang sudah bergelimpang di dalam genangan darahnya sendiri, sedangkan semua keluarga masih bertahan mati-matian. Kam Kok Han membuka matanya dan dapat memberi pesan terakhir kepada Lam Nio untuk menyimpan sebuah kitab yang amat tua.

Setelah itu meninggallah panglima yang gagah berani ini. Lam Nio mengambil kitab itu dari saku baju Kam Kok Han, memasukkan kitab itu ke dalam kutangnya dan iapun roboh pingsan dalam keadaan mandi darah.

Habislah semua orang dalam keluarga Kam berikut pelayan-pelayannya. Mayat mereka ditinggalkan begitu saja oleh jenderal Kao Hoan, ia hanya memesan kepada para penduduk tempat itu untuk mengubur dan mengurus mayat-mayat itu.

Pada waktu itu, rakyat amat tertindas dan rata-rata mereka itu merasa benci kepada orang- orang berpangkat. Dalam keadaan perut lapar, mana mereka mau melakukan pekerjaan mengubur mayat-mayat ini dengan hati rela? Mereka membuat lobang yang dangkal saja, menyeret semua mayat itu dan memasukkan mayat-mayat itu di dalam lobang lalu menutupi dengan tanah. Sesudah itu, mereka lalu pergi.

Pada malam harinya, serombongan anjing kelaparan datang di tempat penguburan mayat itu dan mulailah mereka menggunakan kaki depan untuk membongkar tumpukan tanah itu.

Alangkah mengerikan keadaan diwaktu itu. Anjing-anjing itu mulai makan daging mayat- mayat itu. Dan di dalam keadaan yang mengerikan inilah Bu Lam Nio siuman dari pingsannya.

Ia tadi dikira telah mati pula maka ikut dikubur hidup-hidup. Untung baginya bahwa tanah itu hanya ditutupkan begitu saja sehingga ia tidak mati terkubur dan ketika anjing-anjing itu menggerumuti mayat-mayat dan menjilat-jilat darah yang masih basah, Lam Nio lalu merangkak pergi dari situ.

Hanya kemauannya yang amat keras dan luar biasa saja yang mendorongnya dan memberinya kekuatan untuk menyingkir dari tempat itu dengan hati hancur lebur. Ia melihat betapa mayat orang-orang yang dicintainya dimakan anjing, tanpa dapat mencegah sama sekali. Tubuhnya lemas, punggungnya sakit sekali, tenaganya habis. Untuk menyeret tubuh sendiri saja sudah setengah mati, apalagi untuk mengusir anjing-anjing yang kelaparan itu.

“Demikianlah, toanio,” Bu Lam Nio melanjutkan ceritanya dengan suara sedih, “aku terus melarikan diri, hidup dengan sengsara dan terlunta-lunta. Hanya kehendak Thian saja yang membuat aku masih dapat hidup terus sampai hari ini. Di mana saja aku tiba, orang-orang menjauhkan diri, menganggap aku gila, merasa jijik dan ngeri melihat keadaan wajah dan tubuhku.

Sampai enam puluh tahun aku masih dikurniai umur panjang sampai sekarang. Telah puluhan tahun aku tinggal di tempat ini, jauh dari manusia, jauh dari dunia ramai. Kau dapat membayangkan sendiri betapa sengsara penderitaanku. Sui Giok mendengar cerita ini dan tak dapat menahan mengalir air matanya karena terharu dan kasihan.

“Ah, Lam Nio, maafkan aku. Setelah mendengar riwayatmu, maka malapetaka yang menimpa pada diriku ternyata tidak berarti apa-apa. Aku hanya dipisahkan dari suamiku saja, dan masih besar harapan suamiku akan tertolong nyawanya. Akan tetapi kau !”

Kemudian Sui Giok lalu menceritakan pengalamannya dan mendengar ini, Bu lam Nio mengepal tangannya dan mukanya menjadi beringas menakutkan.

“Keparat! Setelah berpuluh-puluh tahun, ternyata yang menjadi kaisar masih saja orang-orang lalim dan jahat. Kalau kaisarnya lalim, pembesar-pembesar dan serdadu-serdadunya tentu juga penjahat-penjahat keji. Toanio aku telah menanti sampai enam puluh tahun lamanya, untuk memenuhi pesanan panglima Kam Kok Han. Dia meninggalkan kitab itu kepadaku bukan dengan percuma saja. Maksudnya tentu agar supaya aku memilih seorang murid untuk mempelajari isi kitab itu. Aku sendiri buta huruf dan tak dapat membaca isi kitab itu, toanio. Maka kaulah agaknya orang yang akan mewarisi kepandaian dari Kam Kok Han junjungan dan juga suamiku. Kitab itu adalah kitab yang bernama Kim-gan-liong-kiam-cian-si, yakni kitab pelajaran ilmu pedang Kim-gan-liong kiam-sut.”

“Akan tetapi, aku adalah seorang wanita yang lemah, bagaimana aku dapat mempelajari ilmu silat dan mainkan pedang ?”

“Toanio, apakah kau tidak ingin memiliki kepandaian untuk membasmi orang-orang jahat itu, untuk menolong suamimu?” tanya Bu Lam Nio.

Berserilah wajah Sui Giok yang cantik. “Betul katamu, Lam Nio! Baiklah, aku akan mempelajari ilmu silat darimu. Aku mau menerima warisan panglima besar Kam Kok Han!”

“Nah, kalau begitu, kau bersumpahlah pada kitab ini. Kau bukan menjadi muridku, aku tetap pelayan, bahkan sekarang aku menjadi pelayanmu oleh karena itu kuanggap sebagai ahli waris keluarga Kam. Kau adalah murid mendiang Kam Kok Han!” Bu Lam Nio lalu mengeluarkan sebuah kitab yang sudah kuning dan lapuk.

Dengan semangat bernyala dan hati sungguh-sungguh, Sui Giok lalu menutupi tubuhnya dengan selimut itu, bangun duduk di atas pembaringan dalam keadaan berlutut, memegang kitab itu di atas kepalanya lalu mengucapkan sumpahnya,

“Guru besar Kam Kok Han, teecu Liem Sui Giok, dengan disaksikan oleh Bu Lam Nio dan kitab peninggalan sucouw (guru besar) ini, teecu bersumpah bahwa teecu akan mempelajari isi kitab ini ” ia berhenti sebentar karena teringat bahwa belum tentu ia akan dapat

mempelajarinya dengan baik, maka segera disambungnya, “dan akan memberi pelajaran pula kepada keturunan teecu, dan teecu bersama anak teecu akan mempergunakan isi kitab ini untuk membasmi kejahatan dan menolong mereka yang tertindas seperti keadaan keluarga sucouw dan keadaan teecu sendiri.

“Bagus!” kata Bu Lam Nio sambil mengambil kembali kitab itu. “Sekarang kau harus beristirahat dan memulihkan tenagamu kembali. Tentu saja sebelum kau melahirkan, kau tidak boleh berlatih silat dan sementara itu, aku hanya akan memberi petunjuk tentang teorinya dan dasar-dasarnya saja agar kelak kau dapat berlatih lebih cepat dan lancar.” Demikianlah, dengan amat teliti dan penuh kasih sayang, Bu Lam Nio merawat Sui Giok, memberi petunjuk-petunjuk dan pelajaran teori ilmu silat dari permulaan, menerangkan cara- cara bersamadhi mengumpulkan tenaga dalam dan berlatih pernapasan untuk memperkuat lweekang. Latihan ini dapat dimulai oleh Sui Giok, sungguhpun hanya kadang-kadang saja karena ia tidak boleh memaksa diri dalam keadaan mengandung itu.

Enam bulan kemudian, di tempat yang sunyi dan terasing itu, di lembah sungai Cialing yang deras airnya, terlahirlah seorang bayi perempuan. Hanya Bu Lam Nio seorang yang menolong Sui Giok melahirkan, akan tetapi oleh karena Bu Lam Nio dahulu semenjak kecil bekerja sebagai pelayan, maka ia amat cekatan dan pengertiannya amat luas.

Oleh Sui Giok dan dengan persetujuan Bu Lam Nio, anak perempuan itu diberi nama Kwee Li Ling dan disebut Ling Ling. Nama ini untuk mengingatkan anak itu bahwa ia terlahir di lembah sungai Cialing.

Setelah melahirkan dan kesehatannya pulih kembali, mulailah Sui Giok berlatih ilmu silat. Mula-mula ia berlatih ilmu silat keluarga Kam, berlatih dari permulaan dan karena sebelumnya ia telah mempelajari teorinya, maka ia dapat menguasai ilmu ilmu silat itu dengan amat lancar.

Bu Lam Nio merasa gembira oleh karena melihat bahwa biarpun Sui Giok tidak berbakat amat baik, namun untuk menguasai ilmu silat keluarga Kam ia masih dapat.

Akan tetapi, ketika Bu Lam Nio memberikan buku pelajaran ilmu pedang yang bernama Kim- gan-liong–kiam-coan-si dan Sui Giok membukanya. Nyonya muda ini merasa terkejut sekali oleh karena kitab ini bukanlah pelajaran yang amat mudah.

Gerakan-gerakan pedang yang diajarkan di situ amatlah sukarnya dan oleh karena memang ia tidak memiliki bakat amat baik, maka sukarlah baginya untuk mempelajarinya dengan sempurna. Bu Lam Nio yang hanya mendengar dia membaca saja, telah dapat mengambil sedikit inti sari kitab itu dan tidak kalah oleh Sui Giok sendiri yang dapat membaca.

Adapun Ling Ling, mulai kecil sudah digembleng oleh Bu Lam Nio dan Sui Giok dan alangkah girang hati mereka bahwa gadis cilik ini ternyata memiliki bakat yang luar biasa sekali. Agaknya semenjak kecil, Ling Ling sudah amat suka bermain silat.

Di dalam kehidupan barunya, Sui Giok tak pernah melupakan suaminya yang entah bagaimana nasibnya itu, juga ia sama sekali tak pernah melupakan bayangan Cong Hwat, perwira yang gemuk itu. Ia tidak pula melupakan Tan-wangwe dan selalu menanti kesempatan baik untuk memberi hajaran kepada orang-orang ini.

******

Semenjak mendengar berita tentang tewasnya sembilan orang serdadu secara mengerikan sekali di dalam hutan itu, para penduduk di sepanjang lembah sungai Cialing, terutama sekali penduduk dusun Tai-kun-an yang terdekat dengan hutan itu, makin merasa takut dan seram. Tak seorangpun berani mendekati hutan itu, dan kalau dulu masih ada orang yang berani masuk sampai satu atau dua li, sekarang mendekati hutan itupun tidak seorangpun berani. Orang-orang menganggap hutan itu sebagai tempat berhantu atau yang ditempati oleh siluman-siluman ganas.

Post a Comment