Muka itu hampir tidak menyerupai muka lagi karena penuh dengan keriput yang menghilangkan garis-garis muka seorang manusia. Mulutnya yang kecil itu hampir tertutup oleh keriput-keriput yang dalam sehingga sukar membedakan mana mulut mana keriput.
Hidungnya pesek dan hampir tidak kelihatan, tersembunyi di antara tulang pipinya yang menonjol saking kurusnya. Matanya juga kecil seperti mata monyet, akan tetapi dari dalam pelupuk mata ini seakan-akan ada dua sinar kilat bercahaya, menyambar keluar bagaikan mata harimau di dalam gelap.
Untuk sesaat, manusia yang seperti siluman ini memandangi muka Sui Giok, kemudian tanpa mengeluarkan sedikitpun suara, ia lalu memondong tubuh nyonya muda itu dibawa lari secepat terbang menuju ke pinggir sungai Cialing. Di bagian lembah sungai yang penuh batu karang dan penuh dengan gua-gua besar kecil, terdapatlah sebuah gua besar sekali dan inilah agaknya yang menjadi tempat tinggal siluman ini, karena ia memasuki gua ini membawa tubuh, Sui Giok yang masih pingsan.
Ketika Sui Giok siuman dari pingsannya dan membuka matanya, ia memandang ke sekelilingnya dengan batu panjang yang berbentuk pembaringan, dan batu ini ditutup dengan rumput-rumput kering yang tebal sehingga empuk dan enak ditiduri. Dinding di sekelilingnya ternyata adalah batu-batu karang yang berwarna putih bersih dan di sana sini terdapat batu- batu halus yang cukup besar untuk diduduki orang.
Ruang kamar di mana ia berada itu cukup lebar, kurang lebih tiga atau empat tombak, berbentuk bulat. Ketika kedua matanya sudah biasa dengan keadaan yang remang-remang itu karena yang menyinari dan menerangi tempat itu hanyalah cahaya matahari yang masuk dari luar, ia melihat sesuatu yang bergerak-gerak di ujung ruangan itu. Tadinya ia tidak melihatnya karena bayangan yang bergerak-gerak itu mengenakan pakaian yang hitam sama sekali. Akan tetapi kini ia melihat dengan nyata bahwa bayangan itu adalah seorang tua sekali yang duduk di atas batu dan sedang memandangnya.
Ketika ia telah melihat jelas, Sui Giok tidak ragu-ragu lagi bahwa ia tentu telah mati dan bayangan itu tentulah sebangsa malaikat penghukum yang dahsyat seperti yang pernah didengar dan dilihat gambarnya ketika ia masih kecil. Penunggu-penunggu neraka dan penyiksa-penyiksa jiwa berdosa nampaknya memang mengerikan.
Oleh karena mengira bahwa ia telah mati, Sui Giok tidak merasa takut lagi dan ia lalu bangkit dan duduk di atas batu itu. Ia merasa betapa seluruh tubuhnya sakit-sakit dan perih, juga kedua kakinya. Heranlah ia mengapa ia masih dapat merasa sakit, bukankah orang yang sudah mati terhindar dari pada rasa sakit?
Ia masih teringat betapa ia dikejar-kejar oleh para serdadu dan berlari menyusup semak- semak berduri, betapa tubuhnya berdarah, dan luka-luka, akan tetapi setelah ia mati, masihkah ia merasa semua itu? Ia memandang ke arah tubuhnya dan melihat sehelai selimut kuning menutupi tubuhnya, ia lalu membuka selimut itu.
Alangkah kagetnya ketika ia melihat bahwa tubuhnya sama sekali tidak mengenakan sepotongpun pakaian. Ia memandang lebih teliti dan mendapat kenyataan bahwa tentu kulit- kulit tubuhnya yang tadinya terluka telah dibersihkan dan dicuci orang karena kulitnya sampai ke kaki-kakinya bersih sekali.
Nampak olehnya betapa kulit tubuhnya yang putih kuning dan halus itu, kini banyak terdapat tanda-tanda merah, luka-luka kecil bekas tusukan duri. Cepat-cepat Sui Giok menutupkan selimut tadi pada tubuhnya karena ia teringat akan bayangan “malaikat” tadi. Heran sekali, pikirnya, kalau aku sudah mati, mengapa aku masih merasa malu karena berhadapan dengan seorang malaikat dalam keadaan telanjang? Bukankah orang mati itu memang kembali telanjang seperti ketika dilahirkan?
Tiba-tiba bayangan “malaikat” itu bangkit berdiri dan ketika melihat tubuhnya yang bongkok, agak ngerilah hati Sui Giok. Belum pernah ia mendengar seorang malaikat yang bertubuh seperti itu. Orang atau malaikat itu datang menghampirinya dan terdengarlah ia berkata dengan suara yang tinggi kecil.
“Anak baik, kau tidur dan mengasolah. Hatimu telah menderita banyak ketegangan dan pikiranmu tergoncang. Juga tubuhmu banyak menderita kelelahan di samping luka-luka tusukan duri pada kulitmu. Kau harus beristirahat agar kandunganmu tidak terpengaruh oleh semua penderitaan itu.”
Tersentak bangunlah Sui Giok mendengar ucapan ini. Kalau saja orang ini tidak mengeluarkan ucapan sesuatu, tentu ia akan merasa ngeri dan takut sekali karena kini ia dapat melihat wajahnya dengan nyata. Akan tetapi ucapan orang itu meyakinkannya bahwa ia berhadapan dengan seorang manusia, bahwa ia sebenarnya belum mati!
Perasaan wanitanya membisikkan pemberitahuan bahwa orang yang seperti siluman ini tentulah seorang wanita, baik didengar dari suaranya maupun dari gerak-geriknya. Maka legalah hatinya, karena kalau yang menelanjanginya, yang mengobati seluruh luka-lukanya itu, adalah seorang laki-laki, alangkah malu dan hebatnya penghinaan itu.
“Pehbo (uwa), di manakah aku? Dan siapakah kau ini? Bagaimana aku bisa berada di tempat ini?” tanya Sui Giok sambil merebahkan tubuhnya kembali.
Wnita tua itu menghampirinya, menutupkan selimut itu baik-baik dengan gerakan yang amat mesra dan penuh kasih sayang, kemudian ia berkata,
Jangan sebut aku pehbo, aku seorang pelayan dan cukup kau sebut namaku saja, Bu Lam Nio. Semenjak kecil aku dipanggil orang Lam Nio, maka kau pun harus menyebutku demikian, nyonya.” Setelah berkata demikian, nenek tua ini tertawa girang sekali dan dari sepasang matanya yang kecil itu mengalir air mata.
Sui Giok menjadi terharu sekali, dan ia menduga bahwa wanita tua ini tentu mempunyai riwayat yang amat menyedihkan. Maka dia mengulurkan tangannya, memegang lengan tangan nenek itu dan berkata menghibur,
“Lam Nio, jangan kau terlalu berduka, mungkin kesedihanku jauh lebih besar dari pada kedukaanmu ?”
Mendengar hiburan ini, nenek itu lalu menjatuhkan diri berlutut di dekat pembaringan batu itu dan menangis tersedu-sedu sambil memegangi lengan tangan Sui Giok. Nyonya muda ini mendengar tangis yang demikian mengharukan. Teringat akan keadaannya sendiri, maka iapun lalu menangis terisak-isak.
Aneh sekali, ketika mendengar tangis Sui Giok, tiba-tiba nenek itu berhenti menangis, lalu berkata, “Ah, toanio, maafkanlah Lam Nio yang menimbulkan kesedihan dihatimu.
Maafkanlah daku ”
Sui Giok makin terheran-heran melihat dan mendengar ucapan nenek yang amat sopan santun ini, jauh sekali bedanya dengan keadaan wajah dan tubuhnya yang demikian mengerikan.
Setalah tangisnya mereda, nenek itu lalu berkata, “Toanio, kau berbaringlah yang enak dan dengarlah ceritaku ini.” Maka dengan singkat berceritalah nenek itu, menceritakan riwayatnya yang amat menyedihkan hati.
******
Kurang lebih enam puluh tahun yang lalu, pemberontak Ke Yung memimpin kurang lebih sejuta orang yang terdiri dari petani-petani dan rakyat kecil, melakukan pemberontakan untuk menggulingkan kedudukan raja yang lalim dan tidak adil. Dengan cepat barisan pemberontak ini telah menguasai sebagian besar dari Propinsi Hopak dan Honan, dan kemudian menuju Lok-yang untuk menghancurkan pembesar-pembesar yang lalim.
Akan tetapi, ia telah didahului oleh lain pemberontakan yang dipimpin oleh seorang yang bernama Ercu Yang yang datang dari barat dan Lokyang terjatuh dalam tangan pemberontak ini. Ercu yang membasmi banyak sekali pembesar-pembesar dan kekuasaannya besar sekali. Kemudian, melihat datangnya balatentara pemberontak yang dipimpin oleh Ke Yung, Ercu Yang lalu menyerang barisan ini dan berhasil mengalahkan Ke Yung. Ercu Yang dapat berhasil usahanya karena bantuan banyak orang gagah bangsa Han sendiri, di antaranya seorang jenderal yang bernama Kao Hoan. Setelah Ercu Yang meninggal dunia, jenderal Kao Hoan mengangkat seorang keturunan kaisar lama menjadi kaisar.
Hal ini menimbulkan banyak pertentangan, dan di antara penentangnya yang terbesar adalah seorang panglima besar yang sudah amat berjasa dalam pemberontakan itu, yakni panglima Kam Kok Han yang gagah perkasa. Menurut Kam Kok Han, tidak selayaknya mengangkat seorang keturunan kaisar lama menjadi menjadi pemimpin baru, dan lebih baik mengangkat seorang yang dipilih oleh rakyat jelata.
Pertentangan ini menghebat, akan tetapi akhirnya Kam Kok Han terpaksa mengakui kelebihan pengaruh jenderal Kao Hoan sehingga ia kemudian melarikan diri bersama keluarganya, dikejar-kejar oleh barisan atas perintah jenderal Kao Hoan, Kao Hoan maklum bahwa Kam Kok Han yang menaruh dendam ini akan merupakan bahaya di kemudian hari, maka pengejaran dilakukan terus.
Akan tetapi, Kam Kok Han bukanlah merupakan orang buruan yang lunak dan mudah dikalahkan. Keluarga Kam itu terdiri dari orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi, oleh karena keluarga ini mempunyai semacam kepandaian ilmu silat keturunan keluarga Kam. Seluruh keluarga, baik laki-laki maupun wanita, bahkan kanak-kanaknya telah berlatih ilmu silat ini semenjak kecil.
Bahkan panglima yang gagah perkasa ini telah melatih dan memilih pelayan-pelayannya, baik laki-laki maupun wanita, di antara orang-orang yang ada bakat dan melatih mereka ilmu silat pula. Tidak mengherankan apabila barisan yang mengejar mereka itu mendapat perlawanan yang gigih dan banyak sekali anggauta pasukan yang tewas di bawah amukan keluarga Kam ini.
Betapun juga, kekuatan barisan jenderal Kao Hoan jauh lebih besar dari pada kekuatan keluarga Kam yang tidak seberapa banyak jumlahnya itu. Bahkan akhirnya jenderal Kao Hoan maju sendiri sambil mengerahkan para perwira-perwiranya yang pilihan untuk menggempur keluarga Kam yang sudah di cap sebagai pemberontak-pemberontak ini.