Bukan main marahnya Cong Hwat mendengar makian ini. Belum pernah ada orang berani memakinya seperti itu, dan biasanya ia hanya mendengar sanjung dan pujian dari para rakyat jelata. Matanya yang sipit mengeluarkan cahaya berapi dan bibirnya yang tipis itu digigitnya dengan giginya yang jarang dan kuning. “Bangsat rendah! Orang macam kau ini tidak perlu membantu bekerja, patutnya dibikin mampus di sini agar bangkaimu dimakan oleh binatang buas !” Akan tetapi, seorang di antara anak buahnya yang berpikir bahwa kalau orang ini dibunuh, maka akan menakutkan hati penduduk kampung di situ, lalu berkata, “Terlalu enak baginya kalau mampus begitu saja, lebih baik ditangkap dan dikirim sekarang juga untuk memikul batu di tembok besar!”
Ucapan ini mengingatkan Cong Hwat dan ia lalu menubruk maju sambil mengayun kepalan tangannya yang besar dan kuat. Kwee Siong mencoba untuk menangkis dengan parangnya akan tetapi dengan gerakan tangan yang cepat sekali, Cong Hwat dapat memukul pergelangan tangan Kwee Siong sehingga parang yang dipegangnya itu terlepas. Sebuah sapuan dengan kaki membuat Kwee Siong terguling.
“Sui Giok ....... cepat kau larilah !” Kwee Siong masih sempat menengok kepada isterinya.
Bukan main gelisah, takut, dan sedihnya hati Sui Giok melihat keadaan suaminya, akan tetapi ketika ia hendak menubruk suaminya ia mendengar seruan ini dan teringatlah ia akan bahaya yang lebih hebat lagi mengancamnya. Kalau ia sampai jatuh ke tangan orang-orang ini, akan celakalah dia! Maka ia lalu lari ke dalam hutan.
“Kejar !” seru Cong Hwat lalu memimpin orang-orangnya mengejar Sui Giok. Adapun seorang serdadu lalu melepas ikat kepala Kwee Siong dan membelenggu kedua tangan orang muda itu erat-erat.
Perasaan takut yang hebat dapat mendatangkan hal yang aneh-aneh pada orang. Ada sebagian orang yang kalau merasa ketakutan lalu kedua kakinya terasa lumpuh dan tidak dapat lari sama sekali, akan tetapi ada pula sebagian yang di dalam ketakutan hebat kedua kakinya menjadi ringan dan dapat berlari cepat sekali seperti seorang jago lari.
Sui Giok tergolong pada orang-orang kedua ini. Di dalam ketakutan yang hebat, tiba-tiba ia menjadi gesit sekali dan kedua kakinya dapat berlari amat cepatnya. Ia tidak merasa sakit lagi ketika ia menyusup-nyusup ke dalam semak belukar, duri-duri diterjangnya sehingga pakaiannya robek-robek, kulitnya pecah-pecah mengeluarkan darah, telapak kakinya terluka dan berdarah pula karena sepatunya yang tipis telah rusak oleh batu-batu karang dan duri.
Dengan membuta ia lalu lari secepat mungkin memasuki hutan yang gelap dan yang tadinya selalu menimbulkan kengerian di dalam hatinya. Andaikata di depannya berdiri lima ekor harimau, agaknya Sui Giok akan menerjangnya pula tanpa takut sedikit jugapun.
Rasa takutnya terhadap para serdadu itu lebih hebat daripada segala rasa takut yang mungkin dapat dirasakannya. Ia membayangkan bahaya yang jauh lebih hebat apabila ia terjatuh ke dalam tangan para serdadu itu. Oleh karena pikiran inilah maka Sui Giok berlari makin cepat memasuki hutan yang gelap tanpa ragu-ragu sedikitpun.
Beberapa kali Sui Giok jatuh dan satu kali hampir saja tubuhnya terguling ke dalam jurang. Akan tetapi sambil menahan isak dan dengan napas terengah-engah, ia bangun lagi dan berlari terus, mata terbelalak, wajah pucat bagaikan seekor anak kelinci yang dikejar harimau.
Untung baginya bahwa tidak hanya dia yang jatuh bangun, akan tetapi para pengejarnyapun tidak dapat melalui jalan yang amat sukar itu dengan cepat. Hutan itu amat liar dan semak belukar yang diterjang oleh Sui Giok amat padat penuh duri-duri tajam sehingga biarpun Cong Hwat dan para anak buahnya adalah orang-orang yang memiliki kepandaian dan kekuatan, tetap saja tidak mudah bagi mereka untuk bergerak cepat.
Berbeda dengan Sui Giok yang nekat dan tidak merasakan tusukan duri, Cong Hwat dan kawan-kawannya tentu saja tidak mau menjadi kurban duri-duri yang tajam, dan sambil mengejar mereka menggunakan golok untuk membabat semak-semak berduri yang menghalangi pengejaran mereka.
“Kepung dia !” seru Cong Hwat penasaran setelah mereka mengejar sampai tiga li jauhnya belum juga dapat menangkap kurban mereka itu. “Kepung dari tiga jurusan!”
Mendengar perintah ini, anak buahnya lalu berpencar. Lima orang mengambil jalan dari kanan yang tidak begitu penuh semak belukar, sedangkan empat orang mengambil jalan dari kiri memanjat batu-batu karang yang tinggi.
Kini keadaan Sui Giok benar-benar terancam. Biarpun jalan yang ditempuhnya selalu melalui semak-semak berduri sehingga Cong Hwat yang mengejarnya tak dapat bergerak cepat, namun para pengejar dari kanan kiri yang mengambil jalan lain itu dapat mengejar dan mendahuluinya. Kini para pengejar dari kanan kiri itu mulai mencari jalan untuk memotong perjalanannya dan untuk mengurungnya.
Sui Giok sudah makin ketakutan saja dan menjadi bingung. Ia melihat di belakangnya perwira pendek gemuk itu masih mengejarnya dengan mukanya yang kemerah-merahan dihias oleh tahi-tahi lalat yang hitam dan besar, nampak mengerikan sekali. Di kanan kirinya, sebelah depan, para serdadu itu telah mulai mendekatinya. Di depannya nampak jurang yang amat dalam.
Ke mana ia dapat melarikan diri ? Hanya ada dua jalan agaknya untuk dapat melepaskan diri dari para pengejarnya, yakni terbang ke langit atau melemparkan diri ke dalam jurang itu. Dan oleh karena ia tidak mungkin dapat terbang ke atas maka agaknya jalan satu-satunya baginya adalah melemparkan diri ke dalam jurang itu.
Sui Giok berdiri di pinggir jurang dengan muka pucat. Air mata mengalir turun dari kedua matanya yang biasanya bening dan tajam bagaikan bintang pagi itu, membasahi kedua pipinya. Ia memandang ke bawah, ke dalam jurang yang agaknya tidak bertepi. Bibirnya berbisik perlahan,
“Suamiku ....... selamat tinggal biarlah aku yang mendahuluimu meninggalkan dunia
yang kotor ini ” Ia telah siap untuk mengayun kakinya, melompat ke dalam jurang.
Matanya dimeramkan.
Tiba-tiba ia tersentak kaget oleh bunyi pekik yang panjang dan mengerikan sekali. Pekik ini datangnya dari arah kiri. Dengan terkejut Sui Giok sadar dari pada keadaannya yang seperti dalam mimpi itu dan ia menengok ke kiri.
Alangkah ngeri dan terkejutnya ketika ia melihat empat orang serdadu yang menghampirinya dari kiri itu, ketika turun dari batu karang, mereka disergap oleh belasan ekor harimau besar. Harimau-harimau itu menggereng dengan suaranya yang menggetarkan seluruh hutan. Percuma saja empat orang serdadu itu melakukan perlawanan. Golok-golok mereka yang biasanya amat ganas dan telah mengalirkan banyak darah manusia lemah, kini tidak ada artinya sama sekali menghadapi belasan ekor harimau besar itu.
Agaknya kulit harimau-harimau itu sudah kebal dan amat kuatnya sehingga bacokan golok tidak melukai mereka, bahkan golok-golok itu terpental dari pegangan tangan para serdadu. Kemudian harimau-harimau itu menubruk dan rebahlah empat orang serdadu itu dengan tubuh koyak-koyak. Mereka tewas sambil mengeluarkan pekik yang dahsyat dan mengerikan.
Peluh memenuhi muka Sui Giok, bercampur dengan air matanya ketika ia berdiri terbelalak menyaksikan peristiwa yang hebat ini. Belum hilang kagetnya dan belum kembali ketenangannya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh pekik yang lebih mengerikan lagi dari arah kanannya.
Ketika ia cepat menengok, wajahnya yang sudah pucat itu kini memperlihatkan kengerian yang lebih hebat lagi sehingga Sui Giok seakan-akan telah menjadi mayat. Mulutnya agak terbuka, bibirnya menjadi kebiruan saking hebatnya debaran jantungnya menyaksikan pemandangan yang lebih mengerikan lagi.
Lima orang serdadu pengejarnya yang dengan girang sekali berlari-lari ke arahnya untuk berlomba menangkap dan memeluk perempuan elok itu, tanpa mereka menyangka sesuatu yang buruk. Mereka telah berlari cepat di atas lapangan rumput yang penuh dengan rumput hijau berwarna indah dan segar.
Akan tetapi apakah yang terjadi? Ketika mereka menginjak rumput-rumput itu, tiba-tiba kaki mereka terjeblos ke bawah dan ternyata bahwa rumput-rumput itu tumbuh di atas rawa yang berlumpur. Inilah semacam rawa maut yang suka menghisap binatang yang kurang hati-hati. Memang amat berbahaya rawa maut macam ini.
Dari luar nampaknya seperti pada rumput yang amat indah, akan tetapi tidak tahunya di bawah rumput itu bukanlah tanah keras, melainkan tanah bercampur air, merupakan lumpur lembut yang sekali menangkap kaki binatang atau makhluk hidup betapapun juga kuatnya, takkan dilepaskan lagi. Para serdadu itu meronta-ronta, akan tetapi makin kuat mereka bergerak mencoba melepaskan diri, makin kuat pula lumpur itu menyedot dan menarik mereka ke bawah.
Ketika lumpur itu sudah sampai di leher mereka, maka memekiklah mereka dengan pekik maut yang amat mengerikan. Tak lama kemudian, lenyaplah kepala mereka di bawah lumpur dan yang nampak hanyalah sepuluh lengan tangan dengan jari-jari tangan terbuka merupakan cakar setan yang perlahan-lahan akan tetapi tentu mulai amblas pula ke bawah.
Peristiwa ini terjadi amat cepatnya sehingga Cong Hwat yang berdiri memandang, tak dapat berbuat sesuatu, hanya berdiri bagaikan patung dengan muka berubah pucat sekali. Ia memandang ke kanan kiri dan melihat nasib anak buahnya yang tinggal sembilan orang itu, gentarlah hatinya.
“Hutan iblis !” bisiknya dan tanpa menoleh kepada Sui Giok lagi, komandan ini lalu
membalikkan tubuh dan lari lintang pukang bagaikan dikejar setan. Adapun Sui Giok yang terpaksa menjadi saksi dari pada segala kengerian ini, tak kuat menahan lagi lalu menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya. Kemudian ia menjadi limbung dan lemas dan tanpa dapat dicegah lagi tubuhnya terhuyung lalu terguling ke dalam jurang.
Oleh karena Sui Giok jatuh pingsan ketika terguling, maka ia tidak tahu bahwa pada saat itu, berkelebatlah bayangan orang yang bertubuh bongkok dan sebuah tangan yang kuat mencengkeram pundaknya, mencegahnya dari kebinasaan di dalam jurang. Kalau Sui Giok melihat orang yang menolongnya, mungkin ia akan menjerit dan roboh pingsan pula, karena sesungguhnya orang yang menolongnya ini tidak menyerupai orang lagi, lebih patut disebut seorang iblis yang amat jahat.
Sukar untuk mengatakan apakah orang ini wanita ataukah pria. Tubuhnya kurus kering dan bongkok, punggungnya seperti batang bambu yang patah. Kulitnya penuh keriput dan berwarna hitam, merupakan kulit tua pembungkus tulang. Jari-jari tangannya panjang-panjang dan kalau dilihat sepintas lalu, seperti jari-jari tangan kerangka saja, karena kulit yang tua dan tipis itu agaknya telah lengket dengan tulang-tulangnya.
Kedua kakinya telanjang dan kaki itupun panjang sekali dengan jari-jari terbuka bagaikan kaki seekor bebek. Lehernya panjang dan kecil, tertutup oleh rambutnya yang panjang awut- awutan, rambut yang sudah berwarna dua. Kepalanya kecil dan mukanya benar-benar menyeramkan sekali.