Tangan-tangan panjang dari barisan pengumpul tenaga rakyat ini menjangkau sampai jauh sekali. Bagaikan tangan-tangan dari binatang cumi-cumi, mereka ini merembes sampai di daerah-daerah yang jauh dari kota raja. Lembah sungai Cialing tidak terlewat pula. Pada suatu hari serombongan serdadu dari barisan pengumpul tenaga rakyat ini tiba di dusun Tai-kun-an. Mereka ini terdiri dari empat puluh orang serdadu, dikepalai oleh seorang komandan bernama Cong Hwat yang bertubuh gemuk, pendek, berkepala bundar dengan muka penuh tahi lalat.
Cong Hwat ini bertenaga kuat dan memiliki ilmu silat yang cukup menakutkan orang, bersenjata sebatang golok yang besar, berat dan tajam. Tugas mereka adalah mengumpulkan tenaga-tenaga rakyat yang harus dikirimkan ke kota Kong-goan di sebelah selatan Tai-kun-an, di mana terdapat markas besar barisan pengumpul tenaga rakyat ini.
Seperti biasa, begitu barisan kecil ini memasuki dusun Tai-kun-an, maka dusun yang tadinya makmur penuh dengan tawa dan senyum para pekerja, berobahlah menjadi neraka penuh dengan tangis dan keluh kesah. Terdengar elahan napas dan keluh kesah orang-orang lelaki, diselingi jerit pekik mengerikan karena ketakutan dari wanita-wanita yang terganggu oleh serdadu-serdadu iblis ini.
Dan kembali empat puluh orang serdadu itu dibawah pimpinan Cong Hwat yang terkenal amat rakus akan wanita-wanita cantik, berpesta pora di dusun itu. Sebentar saja, di dalam waktu tiga hari, mereka telah dapat mengumpulkan seratus lima puluh orang laki-laki tua muda, mengantongi banyak sekali emas dan perak yang tak terhitung banyaknya, dan telah mengganggu entah berapa banyak wanita.
Hanya wanita-wanita yang kebetulan menjadi puteri atau isteri hartawan yang mempunyai banyak uang sogok sajalah yang selamat tidak terganggu. Seperti biasa pula, akibat dari keganasan ini disusul dengan mengambangnya mayat wanita-wanita yang membunuh diri karena diganggu oleh orang-orang biadab itu, menggantungnya mayat orang-orang lelaki yang putus asa dan lain-lain pemandangan yang mengerikan pula.
Di dalam dusun Tai-kun-an itu hidup sepasang suami isteri she Kwee yang merupakan pendatang baru. Kwee Siong, suami yang masih muda itu, beserta isterinya datang dari selatan dn baru beberapa bulan tiba di dusun itu untuk mencoba peruntungan mereka. Kwee siong orangnya tampan dan halus dan di dusun itu ia membuka sebuah rumah sekolah, di mana ia mengajar anak-anak dusun itu membaca dan menulis dengan menerima sedikit uang sokongan.
Isterinya bernama Liem Sui Giok, cantik sekali dan pandai pula membuat sulaman-sulaman yang indah. Isteri yang baru mengandung tiga bulan ini membantu suaminya dengan membuat barang-barang sulaman untuk dijual di dusun itu.
Ketika barisan pengumpul tenaga rakyat tiba di dusun itu, Kwee Siong yang sudah mendengar tentang keganasan dan kejahatan mereka, segera mengajak isterinya untuk mengungsi ke dalam hutan di sebelah utara dusun itu. Akan tetapi, karena hutan itupun amat liarnya dan kedua suami isteri itu adalah orang-orang lemah, mereka tidak berani terlalu dalam dan hanya masuk sejauh satu li saja.
Mereka telah merasa aman karena tidak terlihat dari luar hutan dan Kwee Siong lalu membuat sebuah gubuk dari bambu, dibantu oleh isterinya. Akan tetapi, jangan orang mengira bahwa kalau saja ia tidak berbuat jahat, ia akan terhindar daripada malapetaka dunia dan tidak ada orang yang membencinya. Kalau ia berpikir demikian, maka orang ini berpandangan keliru dan ia belum mengenal betul kepalsuan manusia, makhluk yang katanya sepandai-pandai dan semulia-mulianya makhluk di permukaan bumi ini. Demikian pun halnya dengan Kwee Siong dan isterinya.
Ketika baru-baru mereka tiba di dusun Tai-kun-an, seorang hartawan muda she Tan yang terkenal sebagai seorang mata keranjang dan gila wanita, telah melihat kecantikan Liem Sui Giok yang jauh berbeda dengan kecantikan wanita-wanita dusun itu. Liem Sui Giok adalah seorang wanita yang halus budi pekertinya, sopan santun, pandai membawa diri, terpelajar dan memang cantik jelita berkulit halus putih seperti susu dan berambut hitam lemas, dengan sepasang mata yang tajam menggunting kalbu setiap laki-laki.
Seperti biasa seorang hartawan yang tak tahu diri dan yang menganggap uang sebagai kekuasaan yang tiada taranya, Tan-wangwe (hartawan Tan) ini mencoba untuk membujuk nyonya Kwee dengan cara yang amat tak tahu malu. Seorang wanita tua yang menjadi kaki tangannya mendatangi nyonya muda yang elok itu, dengan mulut manis membujuk-bujuknya agar supaya suka melayani Tan-wangwe di waktu suaminya sedang mengajar di sekolah.
Akan tetapi, tentu saja Sui Giok menjadi marah sekali dan mengusirnya, bahkan ketika suaminya datang, ia lalu menceritakan hal ini agar suaminya suka berhati-hati terhadap seorang buaya darat she Tan di dusun itu.
Demikanlah, Tan-wangwe yang tidak kesampaian maksudnya ini, menaruh dendam kepada suami isteri itu. Ketika rombongan pengumpul tenaga rakyat datang, dengan mudah Tan- wangwe dapat menggunakan uangnya untuk menyogok para petugas itu sehingga ia terhindar daripada bahaya terbawa sebagai pekerja paksa.
Bahkan, dalam usahanya untuk “mencari muka” dan menjilat pantat, ia mendekati Cong Hwat komandan barisan itu dan memberikan seorang di antara selirnya yang tercantik sebagai “Hadiah”. Tentu saja Cong Hwat merasa girang sekali dan hubungan mereka menjadi erat.
Tan-wangwe mendengar tentang larinya Kwee Siong bersama isterinya ke dalam hutan. Maka ia segera mendapatkan Cong Hwat dan berkata,
“Cong-ciangkun,” ia selalu menyebut orang she Cong itu dengan sebutan ciangkun (perwira) untuk membuat komandan itu menjadi senang, “aku tahu akan sepasang suami isteri yang bersembunyi. Akan kuberitahukan tempat persembunyiannya itu kepadamu. Suaminya masih muda dan kuat bahkan pandai menulis sehingga patut sekali membantu perjuangan. Akan tetapi “ Sampai disini, Tan-wangwe tersenyum-senyum penuh arti.
Muka Cong Hwat yang bulat seperti bal karet itu tersenyum dan matanya yang sipit mengecil hingga hanya merupakan dua garis kecil karena mata itu tidak berbulu mata sama sekali.
“Akan tetapi apa, saudara Tan ?” tanyanya.
“Isterinya sudah lama aku merindukannya, kalau ciangkun berhasil mendapatkan mereka,
suaminya untuk ciangkun bawa dan isterinya harap ditinggalkan padaku.”
“Ha, ha, ha! Bagaimana kalau ia terlalu cantik sehingga hatiku tidak rela meninggalkannya kepadamu?” Tan-wangwe tersenyum sambil menggeleng kepala. “Tidak ada artinya bagimu, ciangkun. Isterinya itu memang cantik, kalau tidak masa aku orang she Tan sampai tertarik ? Akan tetapi ia berada dalam keadaan mengandung. Bagiku, aku dapat menanti sampai ia melahirkan dan sementara itu, akan kurawat dia baik-baik. Akan tetapi bagimu yang banyak melakukan perjalanan, bukankah hal itu akan membuat kau repot saja ?”
Pemimpin serdadu-serdadu itu mengangguk-angguk. “Baik, baik, mendapatkan suaminya pun sudah cukup baik, berarti penambahan tenaga untuk pembangunan negara!” Kata-katanya ini cocok sekali dengan ucapan kaisar yang menjadi semacam firman.
Demikianlah, setelah mendapat petunjuk dari Tan-wangwe, Cong Hwat lalu membawa lima belas orang anak buahnya memasuki hutan itu. Alangkah girangnya ketika di dalam hutan itu baru saja ia masuk belum jauh, ia telah melihat belasan orang kampung yang bersembunyi di situ.
Ada delapan orang laki-laki dan empat orang wanita muda yang berwajah lumayan. Serta merta orang-orang itu ditangkap, terdengar yang laki-laki mengeluh dan yang perempuan menjerit-jerit ketika mereka diseret keluar dari tempat persembunyian mereka. Setelah para tawanan ini dibawa pergi, Cong Hwat membawa sepuluh orang serdadu memasuki hutan itu.
Pada saat itu, Liem Sui Giok sedang memasak sayur dan Kwee Siong sedang mencoba membuat sebuah bangku kayu dengan sebatang parang. Ketika keduanya melihat seorang komandan membawa sepuluh orang serdadu yang berwajah galak, mereka menjadi kaget sekali seolah-olah semangat mereka telah meninggalkan tubuh.
“Ha, ha, ha!” Cong Hwat tertawa mengejek sambil memandang ke arah Sui Giok yang dalam pandangannya nampak cantik luar biasa. “Kalian mencoba menyembunyikan diri, ya ? Kalian ini benar-benar orang rendah yang tidak mengenal artinya cinta tanah air dan negara. Negara sedang membutuhkan bantuan rakyat, akan tetapi kau tidak membantu bahkan menyembunyikan diri. Hayo ikut kami keluar dari sini !”
Sambil berkata demikian, Cong Hwat dengan senyum menyeringai menghampiri Sui Giok dan mengulur tangannya menjamah ke arah dada nyonya muda itu dengan tingkah laku tengik sekali.
“Hm, kau cantik sekali, sayang perutmu besar!”
Sui Giok terkejut, marah, dan malu sekali. Ia cepat melangkah mundur, menghindarkan diri dari sentuhan tangan yang keji itu. Akan tetapi, dengan menggerakkan tangannya, mudah saja Cong Hwat menangkap lengan tangan nyonya muda itu. “Hm, kau mau lari dari aku? Tidak mudah, manis!”
“Lepaskan isteriku, kau bedebah!” Kwee Siong yang marah sekali melompat maju dengan parang diangkat tinggi-tinggi. “Kau seorang pemimpin barisan mengapa bertingkag seperti seorang bajingan rendah?”