Sungai Yang-ce yang amat terkenal sebagai sungai terbesar dan terpanjang sesudah Huang-ho di Tiongkok, mendapat tambahan air dari banyak anak sungai yang cukup besar. Di antara anak sungai yang mengalir masuk ke induk sungai Yang-ce ini, yang terbanyak terdapat di propinsi Secuan selatan, di sebelah barat kota Cungking.
Memang tak terhitung banyaknya anak-anak sungai yang mengalir masuk dan membonceng aliran sungai Yang-ce untuk bergerak maju ke tujuan terakhir yakni laut luas di sebelah timur daratan Tiongkok. Akan tetapi yang penting untuk disebutkan di sini hanyalah yang besar- besar saja, seperti Bu Kiang, Beng Kiang dan Cialing.
Sungai Cialing inilah yang paling menarik, dan sebelum memasuki sungai induk Yang-ce, sungai inipun telah menerima aliran sungai-sungai kecil lain. Sumber dari sungai Cialing ini datang dari Beng-san. Amat indah tamasya alam di sepanjang lembah sungai Cialing, sungai yang mengalir berlenggak-lenggok laksana ular melalui gunung-gunung ini. Sungai Cialing banyak melalui hutan-hutan dan gunung-gunung yang masih liar, tempat-tempat yang masih bersih daripada sentuhan kaki manusia yang kotor.
Lembah sungai Cialing diperbatasan propinsi Secuan dan Shensi amat subur tanahnya, maka tidak mengherankan apabila di sekitar lembah itu banyak terdapat desa-desa yang padat oleh penduduk yang hidup bertani. Banyak pula yang mengandalkan makan sehari-hari dengan pekerjaan nelayan, karena memang sudah terkenal bahwa sungai Cialing mengandung banyak sekali ikan yang besar-besar dan enak dimakan.
Dusun Tai-kun-an terpencil dan berada di ujung utara dari dusun-dusun lain, akan tetapi dusun ini terkenal paling ramai dan tanahnya paling subur. Banyak sekali orang-orang dari dusun-dusun lain di sebelah selatan datang berdagang di dusun ini. Hanya di sebelah selatan Tai-kun-an saja terdapat dusun-dusun lain. Oleh karena di bagian utara, tidak terdapat tempat tinggal manusia lain.
Bagian utara dusun itu penuh dengan hutan-hutan belukar yang amat liar dan penuh binatang jahat. Orang-orang dusun yang mempunyai keperluan di hutan itu, mencari kayu bakar atau buah-buahan, ataupun memburu binatang, hanya berani masuk sejauh satu dua li di dalam hutan itu. Inipun kalau mereka berkawan, karena seorang diri saja memasuki hutan itu, biarpun hanya satu li jauhnya, merupakan bahaya besar dan perbuatan yang amat bodoh.
Pada masa itu, yang menjadi kaisar di Tiongkok adalah kaisar Yang Te, putera dari mendiang kaisar Bun Te. Kaisar Yang Te terkenal sebagai seorang kaisar lalim yang amat kejam, akan tetapi yang pandai menyembunyikan kejahatan wataknya itu dibalik kata-kata halus, puji sanjung kepada para pembesar kaki tangannya, dan biarpun kaisar Yang Te telah melakukan perbuatan-perbuatan yang amat mencekik rakyat jelata, namun ia didipuji-puji sebagai seorang kaisar yang cerdik pandai.
Hanya “orang dalam” saja yang mengetahui betapa kaisar Yang Te adalah seorang yang selalu dimabok kesenangan, pelesir dengan wanita cantik, dan yang tidak segan-segan untuk melakukan perbuatan terkutuk demi untuk mencapai kepuasan hawa nafsunya. Sekali saja matanya yang berminyak itu melirik wajah seorang wanita cantik yang mendebarkan jantungnya yang penuh nafsu berahi, maka tidak peduli wanita itu puteri seorang bangsawan, ataupun isteri seorang pejabat tinggi, sepuluh bagian (seratus persen) wanita itu pada keesokan harinya pasti telah berada di dalam haremnya (tempat ia mengumpulkan wanita- wanita).
Kasihanlah wanita-wanita itu, baik ia masih gadis maupun sudah bersuami bahkan telah menjadi ibu, karena sekali ia telah masuk ke dalam kamar yang indah sekali itu, jangan harap ia akan dapat keluar lagi sebelum sang kaisar merasa bosan mempermainkannya. Kalau sang kaisar sudah bosan, ia boleh pergi, persetan, dan yang lebih hebat lagi, ia akan dioperkan kepada para perajurit pengawal pribadi kaisar sebagai hadiah, seakan-akan seorang tuan melemparkan tulang-tulang yang sudah digerogoti habis daging-dagingnya kepada anjing- anjing penjaga rumah dan hartanya.
Akan tetapi, lebih kasihan lagi adalah orang-orang tua, suami dan anak-anak yang ditinggalkan oleh wanita-wanita itu. Mereka hanya dapat menangis, itupun tidak berani keras- keras, menyesali nasib sendiri karena secara kebetulan orang-orang yang mereka cintai itu telah menjadi pilihan “Putera Tuhan”.
Memang, Yang Te ataupun kaisar-kaisar yang sebelum dia menjadi dipertuan, dianggap sebagai manusia penjelmaan dewata agung yang menjadi pilihan Tuhan sendiri. Oleh karena itu, benar atau salah, seorang putera Tuhan tak boleh dipersalahkan. Seolah-olah bahwa tindakan kaisar Yang Te telah mendapat “persetujuan sepenuhnya” daripada Thian yang Maha Kuasa.
Tidak akan ada habisnya apabila sepak terjang daripada kaisar lalim ini dituturkan.Pendeknya, kaisar ini adalah seorang yang mata keranjang, tukang pelesir, pandai bicara untuk menutupi kejahatannya, dan tidak ragu-ragu untuk melakukan penindasan kepada rakyat jelata demi memuaskan nafsu hatinya. Di sini perlu diceritakan usaha-usahanya yang mencekik leher rakyat, akan tetapi yang karena pandainya membuat namanya menjadi terkenal sebagai seorang kaisar yang agung dan cakap.
Ia memerintahkan pembangunan kota Lok Yang, mendatangkan pekerja-pekerja paksa yang ratusan ribu banyaknya. Orang-orang yang bernasib malang ini diambil dengan paksa oleh para serdadu-serdadunya, dan dipaksa bekerja sampai mati.
Setiap hari, nampak kereta-kereta yang penuh dengan mayat-mayat para pekerja itu didorong pergi oleh serdadu-serdadu di atas jalan-jalan raya di sekitar Lok Yang. Juga kaisar Yang Te memerintahkan untuk menggali dan memperdalam saluran air besar bahkan menyambungnya sampai beratus li panjangnya. Untuk pekerjaan ini, menurut catatan ahli sejarah, lebih dari dua juta orang rakyat dikerahkan dan entah berapa puluh ribu orang yang mati dalam melakukan tugas ini.
Juga jutaan manusia dipekerjakan seperti kerbau, bahkan lebih hebat dari pada kerbau, untuk memperbaiki Tembok Besar. Kalau orang mempergunakan kerbau untuk bekerja, sedikitnya orang itu masih ingat untuk memberi rumput kepada binatang ini.
Akan tetapi kaisar Yang Te memaksa orang-orang yang jutaan banyaknya itu untuk bekerja tanpa mau mengeluarkan uang atau ransom untuk memberi makan mereka. Satu-satunya hiburan bagi para pekerja adalah kata-kata muluk yang diumumkan oleh Kaisar Yang Te, bahkan semua pekerjaan itu tidaklah sia-sia, bahwa tenaga rakyat itu dipekerjakan untuk maksud mulia, untuk pembangunan, untuk pertahanan Negara, dan lain-lain bujukan halus lagi.
Dikatakan dalam maklumat kaisar, bahwa para pekerja yang ikut menyumbangkan tenaganya itu, dianggap sebagai patriot yang berjasa dan kelak apabila telah meninggal dunia, tentu akan terbuka pintu sorga untuknya.
Selain pekerjaan-pekerjaan yang hebat ini, juga kaisar Yang Te paling doyan perang, atau lebih tegas lagi, paling suka menyerang negara-negara tetangga. Ketika kaisar ini menyerang Korea, ia telah memaksa pula kepada rakyat jelata untuk membantu, membangun ribuan kapal, mengangkut perlengkapan dan lain-lain sehingga tidak terhitunglah jumlahnya rakyat yang mati karena pekerjaan yang maha berat ini.
Untuk semua pekerjaan in, makin lama karena banyaknya rakyat yang tewas, maka kekurangan tenagalah balatentara kaisar yang mau tahu enaknya saja itu. Pekerjaan-pekerjaan berat harus dilakukan oleh rakyat, dan semboyan para serdadu ini ialah bahwa mereka ini berjuang untuk rakyat, maka sudah sepatutnyalah kalau rakyat membantu mereka melaksanakan pekerjaan-pekerjaan “kasar” itu.
Akan tetapi, apakah bukti kebecusan serdadu-serdadu yang sudah ketularan mulut manis dari kaisar Yang Te ini? Telah berkali-kali Korea diserang, namun selalu balatentara Kaisar dipukul mundur.
Karena makin lama makin banyak dibutuhkan pekerja-pekerja paksa, maka dibentuklah barisan-barisan “pengumpul tenaga rakyat” yang mempunyai cabang dimana-mana. Tentu saja yang mengerjakan pengumpulan ini adalah serdadu-serdadu kaisar.
Dan di dalam pekerjaan ini, kembali para serdadu itu mendapat kesempatan yang amat baik untuk memuaskan nafsu jahat ataupun mengisi penuh kantong sendiri. Mudah saja akal mereka. Melihat perempuan cantik dan hati tertarik ? Ah, mudah saja.
Kalau perempuan itu masih gadis, ayahnya lalu didatangi dan ditakut-takuti untuk ditarik sebagai pekerja paksa, dan tentu saja kalau si ayah mau menyerahkan anak gadisnya, ayah ini akan bebas.
Bagaimana kalau wanita itu sudah bersuami? Ah, masih ada jalan. Suaminyalah yang diancam akan ditarik, dan bukan hal yang tidak mungkin apabila si isteri ini rela berkurban asalkan suaminya jangan dibawa. Suami dibawa berarti perpisahan selama hidup. Bagaimana si suami?
Ingin mengisi kantong sepadat-padatnya? Lebih mudah lagi. Datangi saja hartawan-hartawan dan dengan ancaman “kerja paksa”, hartawan-hartawan akan mengurangi simpanan emas dan peraknya untuk dipergunakan sebagai uang sogok. Siapa yang celaka ?
Rakyat jelatalah. Terutama mereka yang tidak punya apa-apa kecuali sepasang lengan dan sepasang kaki yang kuat, karena bagaikan kerbau-kerbau hutan mereka ini akan ditangkap, diikat hidungnya dan diseret ke tempat “pembangunan besar” Tangis dan keluh kesah rakyat membubung tinggi dan nama para dewata disebut-sebut, akan tetapi agaknya para dewata sudah pula terkena pengaruh kaisar itu, karena buktinya mereka diam saja tidak menaruh hati kasihan kepada manusia-manusia sial itu.
Dan kalau orang dapat menengok kepada kamar-kamar indah dari istana kaisar. Dia akan melihat betapa kaisar Yang Te, biang keladi dan sebab semua kesengsaraan itu, tengah hidup mewah dan bersenang-senang, dikelilingi oleh sekian puluh puteri-puteri cantik jelita yang menjadi penghibur-penghiburnya.
Suara musik tiada hentinya dibunyikan oleh jari-jari tangan yang lentik dan meruncing halus, nyanyian-nyanyian merdu keluar dari mulut yang munggil dan harum, cumbu rayu keluar dari bibir-bibir yang manis menggiurkan, dan belaian-belaian mesra akan terasa membuat kaisar itu merem-melek bagaikan seekor babi tidur kekenyangan.