Halo!

Tiga Dara Pendekar Siauw-lim Chapter 13

Memuat...

“Aku tidak sombong, benar-benar aku berani menghadapi orang-orang semacam dia, biar ada lima sekalipun!”

“Adik Sui Lan, kau membohong! Kepandaian orang tadi belum tentu di bawah tingkat kepandaianmu!” kata Hwe Lan sambil memandang tajam.

Sui Lan lalu mengangkat dada dan bertolak pinggang dengan gagah sekali. “Kalian tidak percaya? Boleh, boleh lekar sekarang juga kalian datangkan lima orang seperti dia! Aku Yap Sui Lan takkan mundur selangkahpun!”

Tentu saja kedua encinya tidak mungkin mendatangkan lima orang seperti pemuda itu tadi, maka tahulah kedua encinya mengapa ia berani menyombong macam itu.

“Ah, lagakmu! Kalau orangnya tidak ada, tentu saja mudah menantang. Jangan-jangan kalau orangnya datang, kau akan bersembunyi di belakang punggung Hwe Lan!” kata Siang Lan sambil melerok dan ketiga dara itu tertawa-tawa gembira. Memang Siang Lan dan adik-adiknya yang tidak mengetahui she (nama keturunan) sendiri itu, lalu menggunakan she dari Yap Sian Houw sebagai penghormatan dan pernyataan bakti dan kasih sayang terhadap orang tua yang berbudi itu.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan tak lama kemudian mereka bertemu dengan dusun pertama di kaki bukit Liong-cu-san. Meerka berhenti untuk membeli makanan dan bahkan membeli roti kering untuk bekal jalan. Orang-orang di dalam dusun itu memandang dengan kagum kepada tiga orang dara yang selain cantik jelita, juga bersikap gagah dan gembira. Belum pernah dusun mereka didatangi tiga orang dara seperti ini.

Kemudian Siang Lan mengajak kedua adiknya untuk melanjutkan perjalanan dengan cepat. Menurut pesan Yap Sian Houw dulu, apabila sudah tiba waktunya mereka turun gunung, mereka diharuskan menengok makam seorang pendekar bernama Nyo Hun Tiong yang oleh Yap Sian Houw disebut sebagai penolong nyawa mereka bertiga. Tiga orang dara ini sama sekali tidak ingat kepada orang yang bernama Nyo Hun Tiong, juga tidak ingat betapa dulu mereka hampir saja dibunuh orang she Nyo itu. Hal ini yang mengetahui hanya Nyo Hun Tiong sendiri, karena tiga orang anak yang hendak dibunuhnya itu tidak ingat lagi akan hal ini.

Dan oleh karena tempat pertama yang dituju, yakni makam Nyo Hun Tiong ini, masih jauh sekali, maka Siang Lan mengajak adik-adiknya untuk melakukan perjalanan dengan cepat.

Setelah melakukan perjalanan dengan cepat beberapa hari lamanya, sampailah Siang Lan dan adik-adiknya di hutan pohon siong dan liu di mana menurut penuturan Yap Sian Houw terdapat makam Nyo Hun Tiong.

“Makamnya berada di sebuah hutan siong dan liu, di kaki bukit yang bentuknya seperti harimau tidur, di kaki sebelah barat. Di dalam hutan itulah jenazahnya dikubur dan aku memberi tanda sebuah pohon pek di atas makamnya. Kalau kalian bisa sampai di tempat itu, tentu akan kalian lihat bahwa batang pohon pek itu terdapat ukiran pedangku, menuliskan nama Nyo Hun Tiong.” Demikian pesan mendiang Yap Sian Houw dulu.

Ketika ketiga orang gadis itu tiba di luar hutan, hari telah menjadi senja dan udara tertiup awan hitam sehingga menjadi gelap. Mereka agak ragu-ragu memasuki hutan yang gelap itu, karena bagaimana bisa mencari sebatang pohon pek yang ada ukiran tulisannya di dalam hutan yang penuh pohon itu?

Pada saat mereka masih ragu, tiba-tiba mereka mendengar suara kaki kuda menderap keluar dari hutan itu. Siang Lan cepat mengajak adiknya bersembunyi di balik batang pohon dan mengintai karena mereka menyangka ada perampok dalam hutan ini.

Dua orang penunggang kuda keluar dari hutan dan ternyata mereka ini berpakaian sebagai perwira-perwira Kaisar dengan baju yang bersulam benang emas. Siang Lan dan adik-adiknya pernah mendengar penuturan Yap Sian Houw dan diberi gambaran yang jelas tentang keadaan kota raja berikut pakaian-pakaian yang dipakai oleh barisan Kim-i-wi, maka melihat dua orang penunggang kuda itu, maklumlah mereka bahwa kedua orang ini adalah anggota Kim-i-wi. “Kita harus melaporkan ini kepada Thio-ciangkun!” seorang di antara mereka berkata ketika kuda mereka lewat di dekat gadis-gadis itu bersembunyi.

“Tentu!” jawab orang kedua. “Menemukan pemberontak Nyo Hun Tiong hidup atau mati, bukanlah jasa yang kecil! Kita tentu akan mendapat hadiah.”

Setelah dua orang penunggang kuda itu pergi jauh, Siang Lan berkata kepada adik-adiknya, “Kebetulan sekali, perwira tadi agaknya baru saja menemukan kuburan Nyo-enghiong (Pendekar she Nyo). Biarlah kita bermalam di luar hutan dan besok kita mencari kuburan itu, sekalian melihat apa yang akan dilakukan oleh perwira Kim-i- wi itu.”

“Mengapa tidak kita gempur saja dua orang tikus Kaisar tadi, enci Lan?” kata Hwe Lan dengan muka mendendam dan benci kepada semua perwira Kaisar yang dianggap telah merusak kehidupan mereka, telah membunuh orang-orang yang mereka cintai dan pendekar-pendekar yang telah membela rakyat.

“Mengapa kita bunuh mereka? Kau harus sabar dan ingatlah pesan suthai sebelum kita tutun gunung, Hwe Lan. Kita boleh turun tangan apabila membuktikan kejahatan mereka. Kalau tidak terjadi sesuatu perbuatan jahat, tak selayaknya kita memukul orang, itu namanya sewenang-wenang dan mengandalkan kepandaian untuk menghina orang lain.”

“Akan tetapi mereka itu anggota Kim-i-wi yang jahat, enci Lan!” Sui Lan membela Hwe Lan.

Siang Lan tersenyum. “Belum tentu semua perwira itu jahat, pasti ada kecualinya. Siapa tahu kalau kedua orang tadi justru perwira-perwira berhati mulia? Kalau belum ada bukti kejahatan seseorang, kita tak boleh menyebutnya jahat. Memang, pasukan Kim-i-wi terkenal jahat dan kejam, akan tetapi harus diingat bahwa mereka ini sebagian besar hanya menjalankan perintah belaka.”

Kedua adiknya tak berani membantah dan di dalam hati mereka dapat membenarkan pandangan encinya yang luas ini akan tetapi betapapun juga, Hwe Lan merasa kurang puas. Menurutkan hatinya, ingin ia membasmi semua perwira yang dijumpainya!

Malam hari itu, tiga dara pendekar ini bermalam di luar hutan, di bawah sebatang pohon besar. Mereka membuat api unggun dan bergantian berjaga, karena di tempat terbuka itu mereka harus berlaku hati-hati. Baiknya tak terjadi sesuatu dan pada keesokan harinya, pagi-pagi setelah udara menjadi terang, mereka memasuki hutan itu dan mulai mencari kuburan Nyo Hun Tiong, pendekar Siauw-lim-pai yang menolong mereka.

Tidak sukar bagi mereka untuk mencari pohon pek yang telah menjadi besar itu, karena di tempat ini jarang terdapat pohon pek. Setelah mendapat pohon pek yang dicari-cari, mereka berdiri di depan gundukan tanah yang penuh rumpur dan membaca tulisan yang diukit dengan pedang oleh Yap Sian Houw di batang pohon itu. Tulisan ini berbunyi, “MAKAM NYO HUN TIONG, PATRIOT SEJATI”.

Biarpun tidak ingat lagi bagaimana wajah Nyo Hun Tiong dan bagaimana pendekar itu menolongmereka, akan tetapi setelah berdiri di depan makam itu, Siang Lan, Hwe Lan dan Sui Lan merasa terharu. Inilah pendekar gagah perkasa yang menurut penuturan Yap Sian Houw, telah mengorbankan nyawa karena menolong mereka bertiga, melepaskan mereka dari ancaman perwira-perwira jahat dan kejam yang dipimpin oleh perwira Lee Song Kang! Dan penolong mereka tewas di tangan Lee Song Kang, demikian pula guru mereka Yap Sian Houw tewas oleh anak panah perwira she Lee itu! Pikiran ini membuat rasa sakit hati mereka semakin berkobar dan Hwe Lan lalu menjatuhkan diri berlutut di depan makam itu sambil berkata,

“Nyo-inkong (Tuan Penolong Nyo), teecu bersumpah untuk membawa kepala bangsat she Lee itu ke depan makammu!”

Pada saat itu, terdengarlah derap banyak kaki kuda yang mendatangi tempat itu.

“Mari kita sembunyi!” kata Siang Lan. “Mereka itu mungkin perwira-perwira Kim-i-wi yang hendak memeriksa makam ini.” Setelah mereka melompat dan bersembunyi di dalam gerombolan pohon, benar saja muncul delapan ekor kuda yang ditunggangi oleh perwira Kim-i-wi yang bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah. Yang berada di depan dan paling indah pakaiannya adalah seorang bertubuh tinggi kurus berusia empat puluh tahun lebih. Muka orang ini hitam seperti pantat periuk dan matanya sipit sekali hingga nampaknya seperti dipejamkan. Di pinggangnya tergantung sebatang golok bergagang emas. Perwira ini bukan lain adalah Thio Kim Cai yang berjuluk Kim-to (Golok Emas), seorang murid yang tangguh dari Pek Bi Tojin Ketua Go-bi-pai!

Kemarin siang, dua orang si-wi, yakni anak buahnya, melaporkan bahwa mereka telah melihat makam pemberontak Nyo Hun Tiong di dalam hutan ini, maka ia segera membawa tujuh orang anak buahnya untuk memeriksa kebenaran laporan itu. Nama Nyo Hun Tiong ini kebanyakan bagi perwira amat terkenal, bukan karena pimpinan pemberontak ini amat lihai, akan tetapi ada hubungannya dengan Lee-ciangkun, seorang perwira yang menjadi bu-su di kota raja. Telah lama sekali bu-su itu mencari-cari Nyo Hun Tiong, bahkan menjanjikan hadiah yang amat besar, yakni sepuluh ribu tail perak bagi mereka yang dapat menangkap orang she Nyo itu. Tak seorangpun tahu, kecuali kawan-kawan terdekat dan di antaranya Thio Kim Cai ini, apa alasannya maka perwira she Lee itu demikian beraninya memberi hadiah bagi penangkap Nyo Hun Tiong, hanya kawan-kawan terdekatnya yang tahu bahwa Nyo Hun Tiong telah menculik tiga anak perempuan dari perwira besar itu.

Tentu saja Thio Kim Cai merasa girang sekali ketika menerima laporan tentang diketemukannya kuburan Nyo Hun Tiong, biarpun kegirangan itu dibarengi dengan kekecewaan mendengar bahwa pemberontak itu telah mati. Ia memang pernah mendengar dari Lee-busu, yakni Lee Song Kang yang berpangkat bu-su itu, bahwa Nyo Hun Tiong telah terkena anak panahnya, akan tetapi pemberontak itu masih dapat melarikan diri sambil membawa ketiga orang anaknya.

Setelah tiba di depan makam Nyo Hun Tiong, Thio Kim Cai turun dari kudanya, diturut pula anak buahnya yang berjumlah tujuh orang itu. Thio Kim Cai mendekati pohon pek dan membaca tulisan yang dilakukan dengan ukiran pedang itu.

Post a Comment