Halo!

Tiga Dara Pendekar Siauw-lim Chapter 12

Memuat...

“Aya...!” serunya sambil melompat mundur dengan terheran-heran. Tak disangka sama sekali bahwa pemuda yang hanya memiliki “ilmu silat pasaran” ini ternyata memiliki lwee-kang yang demikiat hebat! Juga pemuda itu melihat betapa kaki gadis itu tidak apa-apa ketika terbentur oleh tubuhnya yang mengandung tenaga kuat. Demikianlah, dua orang muda-mudi yang tadinya saling memandang rendah itu, kini sebaliknya mengagumi lawan masing-masing dan berlaku hati-hati.

“Tendanganmu seperti tahu!” pemuda itu menyindir sambil tersenyum, membuat Sui Lan merasa gemas sekali.

“Begitu? Nah, rasakanlah tahu ini!” dan kini Sui Lan mengirim tendanga lagi yang jauh bedanya dengan tendangan tadi, karena kini ia mengeluarkan tendangan berantai yang disebut Kim-kong-twi. Tendangan ini dilakukan dengan kedua kaki secara bertubi-tubi dan susul menyusul, dilakukan cepat sekali dan sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk melakukan serangan balasan. Yang hebat adalah bahwa setiap tendangan kaki ini diisi dengan lwee-kang yang tinggi sehingga jangankan kulit dan daging bahkan batu karang yang keras akan menjadi hancur terkena tendangan ini!

Bukan main terkejutnya pemuda itu. Tidak saja tendangan ini dilakukan dengan sempurna sekali, akan tetapi sebelum tendangan datang dekat, angin tendangan itu telah terasa olehnya! Ia memandang dengan mata terbelalak hampir tak percaya bahwa gadis semuda ini telah memiliki ilmu kepandaian yang begini lihai!

“Kim-kong-twi yang hebat!” serunya sambil mempertahankan diri dengan gerakan Tiu-po-lian-hoan (Tindakan Mundur Berantai) secara cepat dan tepat sekali sehingga tendangan Sui Lan selalu mengenai tempat kosong. Dara ini merasa kagum dan heran, karena pemuda itu ternyata baru segebrakan saja telah mengenal ilmu tendangnya, bahkan mempergunakan gerakan Tiu-po-lian-hoan untuk menghadap Kim-kong-twi, yakni gerakan mundur sambil mengelak, gerakan yang memang paling tepat untuk menghindarkan diri dari serangan Kim-kong-twi ini. Akan tetapi, ia tidak begitu gemas lagi, karena sebagai pengganti sindiran bahwa tendangannya adalah tendangan “tahu”, kini pemuda itu memujinya dan menyebut tendangannya “hebat”! Nah, tahu rasa kau sekarang, pikirnya. Ia lalu merubah serangannya dan kini ia mulai menyerang dengan pukulan paling lihai. Pertama-tama ia menyerang dengan gerak tipu Pek-wan-hian-ko (Lutung Putih Persembahkan Buah) dengan tangan kanan menyambar ke arah lawan dan tangan kiri menyusul menotok jalan darah di bagian pundak kiri, yakni jalan darah Kin-ceng-hiat!

Pemuda itu maklum akan kehebatan serangan ini maka ia cepat menyelematkan kepalanya dengan mengelak dalam gerakan Hong-hong-tiam-thouw (Burung Hong Menganggukkan Kepala), dan untuk totokan dara itu ke arah pundaknya, ia menangkis dengan gerakan tangan kanan. Tangkisannya bukanlah tangkisan biasa, karena ia melakukan itu sambil membuka tangannya untuk mempergunakan gerakan Eng-jiauw-kang (Pukulan Kuku Garuda) untuk mencengkeram atau menangkap pergelangan tangan yang menotok itu.

Sui Lan tentu saja tidak membiarkan tangannya terpegang, maka ia lalu menarik kembali tangan kirinya dan tangan kanannya kembali menyerang dan dipukulkan ke arah pemuda itu. Melihat perubahan yang cepat dan tak terduga dalam ilmu silat gadis itu, pemuda ini makin kagum saja dan menduga-duga siapakah gerangan gadis muda yang demikian lihai itu! Ketika ia melihat pukulan ke arah dadanya demikian cepat dan kuat, ia lalu mengulur tangan yang dibuka telapaknya dan dengan berani ia lalu mengerima pukulan itu dengan telapak tangannya. Maksudnya untuk mencoba tenaga gadis itu.

Sui Lan merasa gemas dan ingin memberi “rasa” kepada lawannya, maka ia tidak menarik kembali tangannya, bahkan lalu mengerahkan tenaga Thai-lek Gin-kong-cu, yakni tenaga lwee-kang yang dikerahkan dalam perut sehingga kekuatan pukulannya menjadi berlipat kali lebih hebat. Tenaga ini mempunyai daya dorong yang sanggup mendorong batu yang ribuan kati beratnya! Ia tidak tahu bahwa diam-diam pemuda itu mengerahkan tenaga Ban-kin-lat (Tenaga Selaksa Hati).

“Bluk!!” telapak tangan mereka bertemu, membawa dua tenaga raksasa yang hebat sekali. Keduanya merasa betapa tangannya bergetar, akan tetapi oleh karena bhe-si (kuda-kuda) kedua orang ini kuat dan teguh sekali, maka benturan tenaga itu hanya membuat mereka terhuyung-huyung ke belakang sampai empat lima langkah. Hal ini tak pernah diduga oleh kedua pihak sehingga mereka saling pandang dengan penuh kekaguman dan keheranan.

Pada saat itu, terdengar bentakan nyaring dari jauh, “Bangsat hina-dina! Jangan kau berani mengganggu adikku!” berbareng dengan suara ini, muncullah dua dara jelita dengan gerakan luar biasa cepatnya. Pemuda itu melihat dengan kagum dan heran karena dua orang dara itu wajahnya demikian sama seperti kembar. Yang membentak tadi adalah Hwe Lan, akan tetapi sebelum ia bergerak, ia telah didahului encinya. Siang Lan merasa khawatir kalau Hwe Lan akan berlaku sembrono, maka ia mendahului melompat ke tempat pertempuran itu dan menyangka bahwa Sui Lan telah dikalahkan oleh pemuda itu.

Melihat lompatan yang hebat ini, yang dilakukan dengan gerakan burung walet menembus awan, pemuda itu kembali terkejut. Akan tetapi ketika ia tadi mendengar bentakan yang menyatakan bahwa yang datang ini enci dari gadis yang tadi bertempur dengan dia, maka ia menyangka bahwa Siang Lan hendak menyerangnya. Oleh karena itu, ia mendahului dengan sebuah tamparan untuk menggagalkan serangan gadis itu. Siang Lan merasa penasaran melihat betapa orang ini datang-datang menyerangnya, maka iapun menangkis dengan tangannya yang digerakkan dengan tenaga sepenuhnya. Ketika dua tangan itu beradu, pemuda itu menahan seruannya dan ia terhuyung-huyung mundur, sedangkan Siang Lan hanya melangkah setindak saja ke belakang. Ternyata tenaga lwee-kang dari gadis ini bahkan lebih hebat dari Sui Lan, dan lebih kuat dari pemuda itu.

Celaka, demikian pemuda itu berpikir. Yang seorang ini bahkan lebih lihai lagi daripada yang nakal tadi! Ia baru saja sebulan lebih turun gunung dari pegunungan Kun-lun-san dan kini sedang menuju pulang, tak disangkanya dia di jalan bertemu dengan gadis yang luar biasa lihainya ini! Maka pemuda itu lalu mengambil keputusan untuk “cao” (melarikan diri) saja yang dianggapnya lebih aman dan selamat daripada menghadapi bidadari berbahaya ini! Ia lalu berseru, “Maafkan siauw-te yang lancang!” dan tubuhnya lalu melompat ke belakang dengan cepatnya, berpoksai (membuat salto) beberapa kali lalu turun setelah berada di atas kudanya. Tentu saja ketiga dara muda itu memandang dengan kagum, akan tetapi Hwe Lan yang mengira bahwa adiknya diganggu pemuda itu, masih merasa penasaran melihat pemuda itu hendak melarikan kudanya.

“Tinggalkan dulu daun telingamu!” teriak Hwe Lan yang segera mengerahkan kedua tangannya. “Ser! Ser!” dua buah thi-lian-ci dengan cepatnya menyambar ke kanan kiri kepala pemuda itu, mengarah daun telinga dengan jitu dan cepat sekali.

Pemuda itu terkejut bukan main dan segera menundukkan kepalanya. Dua butir thi-lian-ci itu lewat di dekat telinganya dan angin sambarannya terasa pada daun telinga. Akan tetapi, kembali telah menyusul dua butir thi- lian-ci yang baru lagi dan menyambar kedua daun telinganya, terpaksa pemuda itu membuang diri ke kiri sambil melarikan kudanya dan berhasil mengelak. Namun, dua butir lagi telah menyambar dan mengejar telinganya. Ia cepat membuang diri ke kanan dan mendengar suara thi-lian-ci yang berturut-turut menyambar tiada hentinya itu, ia menjadi ngeri sekali. sambil berseru keras ia mencambuk kudanya yang lari makin cepat dan ketika dari belakang ia mendengar beberapa butir thi-lian-ci menyambar lagi, ia melompat ke atas dan melayang ke depan sehingga enam butir thi-lian-ci yang kini terbang menyambar, lewat di bawah kakinya. Pemuda itu lalu melayang ke bawah dan tepat pula duduk di atas kudanya yang masih berlari. Benar-benar gerakan yang bukan main indahnya sehingga Hwe Lan menjadi bengong karena kagumnya dan lupa untuk mempergunakan thi-lian-ci lagi.

Pemuda itu mengeluarkan keringat dingin dari punggungnya, hebat, pikirnya. Gadis ketiga ini lebih berbahaya lagi! Ah, untung dia bisa cepat melarikan diri, karena kalau ia harus bertanding melawan tiga orang dara manis itu, tentu ia akan dapat celaka! Baru kali ini semenjak turun gunung ia bertemu dengan gadis-gadis secantik dan semuda mereka, juga yang memiliki kepandaian selihai itu! Pernah ia bertemu dengan perampok sampai tiga kali, akan tetapi dengan mudahnya ia menggempur dan mengobrak-abrik perampok itu, bahkan telah berhasil merampas seekor kuda yang baik dari kepala rampok yang sekarang menjadi kuda tunggangannya. Akan tetapi gadis-gadis tadi...! Ia bergidik kalau memikirkannya. Gadis pertama yang cantik seperti bidadari dan jenaka nakal itu mempunyai kepandaian silat yang belum tentu berada di bawah tingkatnya, kemudian gadis yang memiliki tenaga lwee-kang luar biasa itu, dan akhirnya gadis yang dapat menyambit sedemikian mengerikan dengan menggunakan thi-lian-ci! Sungguh-sungguh merupakan lawan yang bukan main tangguhnya.

Betapapun juga, bayangan Sui Lan tak pernah lenyap dari depan matanya. Senyum yang manis itu, sinar mata yang demikian bening, jenaka dan pandangannya yang kocak. Ah, ia maklum bahwa dunia ini tak mungkin ia akan dapat menjumpai seorang gadis sehebat itu.

Sementara itu, Siang Lan dan adik-adiknya setelah melihat pemuda itu melarikan diri cepat, lalu berkumpul di bawah pohon dan beristirahat.

“Sui-moi, siapakah orang tadi dan mengapa kau bertempur dengan dia?” tanya Siang Lan kepada adiknya.

Sui Lan tertawa geli dan dengan tingkah lucu ia menceritakan sebab-sebab perkelahiannya. Tentu saja ia tidak mengaku salah dan menyatakan bahwa ia mengganggu pemuda itu oleh akrena melihat pemuda itu duduk dengan pasang aksi, “Aku menjadi gemas dan mendongkol melihatnya!” katanya kemudian membela diri ketika encinya memandang penuh teguran. “Ia duduk di atas kudanya yang berjalan lenggak-lenggok dan ketika ia lewat di dekatku, sama sekali tidak melihat seakan-akan seorang raja muda melihat seekor cacing! Aku benci manusia sombong, maka aku lalau menyambit pantat kudanya dengan buah busuk!”

Kedua encinya tertawa melihat kenakalan adiknya yang terkasih itu.

“Sui-moi, lain kali janganlah kau mencari perkara seperti itu. Kalau pemuda itu seorang biasa sih tidak akan menjadikan sesuatu yang berbahaya, akan tetapi kalau bertemu dengan seorang seperti dia tadi...! Ah, dia benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Entah anak dan murid siapakah dia?” kata Siang Lan.

“Baru saja turun gunung bertemu dengan seorang lawan yang demikian tangguhnya. Apakah di dunia kang- ouw masih banyak orang-orang pandai seperti itu?” berkata Hwe Lan yang diam-diam juga memuji ketika menyaksikan betapa pemuda itu dapat menghindarkan diri dari sambitan thi-lian-ci yang dilepaskannya tadi.

“Ah, menghadapi orang macam itu saja aku tidak takut!” kata Sui Lan sambil tertawa menyombong. “Jangankan satu semacam dia, biar ditambah lima lagi aku tidak gentar!” “Sombong!” seru Siang Lan.

Post a Comment