Yang paling belakan adalah Siang Lan. Orang yang melihat Siang Lan berdiri di dekat Hwe Lan, akan merasa heran dan bingung, karena memang sukarlah membedakan dua orang gadis yang serupa ini. Tubuh sebentuk, muka serupa, kulit sama. Pendeknya, persamaan dua gadis ini adalah persamaan dua orang kembar. Padahal mereka bukanlah saudara kembar. Bahkan alis yang hitam dan berbentuk indah membayangkan kegagahan itupun sama pula. Kalau saja Siang Lan memakai pakaian yang sama dan mengatur rambutnya sama pula dengan Hwe Lan, orang akan benar-benar menjadi bingung dan tak dapat membedakan mana kakak mana adik. Akan tetapi Siang Lan mengenakan pakaian warna kuning, sedangkan rambutnya tidak dikuncir dan digantungkan ke bawah, melainkan disanggul ke atas dengan indahnya. Sebagai tusuk kondenya, ia menggunakan hiasasn dari perak yang berbentuk bunga teratai putih. Sungguhpun besar sekali persamaan muka dan bentuk badannya dengan Hwe Lan, akan tetapi kalau benar-benar diperhatikan, terdapat perbedaan yang amat besar, yakni dalam sinar matanya dan tarikan bibirnya. Memang mata itu sama bening, sama indah, akan tetapi sinar mata Siang Lan penuh kehalusan, membayangkan kelembutan hati, dan keluhuran budi. Bibirnya yang sama indahnya dengan bibir Hwe Lan dan Sui Lan itu, dihiasi senyum yang sabar dan tenang. Sifat-sifat yang sabar dan tenang dari gadis yang berusia sembilan belas tahun ini bukan hanya pembawaannya, akan tetapi juga karena terdorong oleh rasa tanggung jawabnya terhadap kedua adiknya, dan ia menganggap diri sendiri sebagai pengganti ayah ibu untuk kedua adiknya ini!
Demikianlah perbedaan tiga dara ini. Kalau diumpamakan bunga, maka Sui Lan adalah bunga mawar hutan yang liar dan bergerak-gerak tertiup angin menimbulkan kegembiraan. Hwe Lan lebih patut diumpamakan bunga seruni yang cantik dan seakan-akan penuh mengandung rahasia. Adapun Siang Lan boleh diumpamakan sebatang pek-lian (teratai putih) yang halus dan bergerak-gerak tenang di atas air.
Sui Lan yang berwatak gembira itu bersama kedua orang encinya berlari turun dari gunung dengan senang. Kicau burung di pohon-pohon, tiupan angin membuat rumput dan daun-daun bergerak menari-nari, cahaya matahari pagi yang cerah dan hangat, semua ini mendatangkan kegembiraan yang luar biasa dan ketiga gadis remaja ini merasa berbahagia sekali.
Menurut petunjuk dari Toat-beng Sian-kouw, mereka harus turun gunung dari sebelah barat, lalu menuju ke selatan sampai ke propinsi Syen-si, terus ke propinsi Hu-pei, lalu membelok ke utara memasuki propinsi Ho- nan, propinsi San-tung, dan baru menuju ke utara, ke kota raja untuk mencari musuh-musuh mereka.
Semua pesan guru mereka ini mereka taati dan Toat-beng Sian-kouw sengaja menyuruh ketiga orang muridnya menjelajah lima propinsi dengan maksud tertentu. Pendeta wanita ini maklum bahwa sungguhpun ilmu kepandaian murid-muridnya ini telah mencapai tingkat tinggi, namun mereka ini sama sekali belum mempunyai pengalaman bertempur, oleh karena itu, amat berbahayalah apabila mereka itu langsung menuju ke kota raja untuk berhadapan dengan pasukan-pasukan istana yang amat tangguh. Di kota raja banyak sekali orang-orang berilmu tinggi, sehingga untuk menghadapi mereka ini, ketiga orang muridnya harus ada persiapan terlebih dahulu. Ia sengaja menyuruh murid-muridnya mengambil jalan yang memakan waktu sedikitnya seratus hari untuk memasuki kota raja. Waktu ini rasanya cukup untuk menguji dan mematangkan ketiga orang murid-muridnya, oleh karena ia maklum bahwa perjalanan murid-muridnya itu tentu akan menemui banyak sekali rintangan orang-orang jahat sehingga mereka akan mendapat kesempatan melatih diri dalam pertempuran-pertempuran melawan para penjahat itu.
Sui Lan yang sebelum turun gunung itu telah diberi tahu oleh Siang Lan ke mana harus mengambil jalan, mendahului kedua encinya dan berlari dengan gembira. Tiba-tiba ia mendengar kaki kuda yang berderap menggema di kaki gunung. Suara ini menambah kegembiraannya, karena suara “keteprak, keteprak!” bunyi kaki kuda ini memang mendatangkan kegembiraan di pagi hari yang sunyi iyu, kerena semenjak turun gunung itu, ia belum pernah bertemu dengan orang lain. Ia mempercepat larinya, mengejar suara kaki kuda itu. Pada sangkaannya, tentu penunggang kuda itu seorang kakek dusun, maka ia ingin menyusul hanya untuk mengucapkan selamat pagi dan mengajaknya bercakap-cakap sebentar.
Akan tetapi setelah ia membelok di sebuah tikungan dan penunggang kuda itu kelihatan, ia tercengang. Penunggang kuda itu bukan seorang kakek dusun yang tua, akan tetapi seorang pemuda yang gagah sekali. Mukanya putih bersih dan tampan, topinya yang biru itu dironce benang kuning emas yang bergantungan ke bawah. Pakaiannya putih bersih dengan ikat pinggang warna biru pula, sama dengan warna topinya. Kudanya berbulu putih pula dengan belang-belang hitam. Kuda ini tinggi besar dan potongan tubuhnya kuat serta bagus, tanda bahwa kuda itu adalah kuda yang mahal dan baik.
Akan tetapi, sikap pemuda yang gagah dan gagang pedangnya yang nampak tersembul dari balik punggungnya, tanda bahwa pemuda itu seorang ahli silat, tidak membikin Sui Lan mundur teratur. Bahkan ia lalu menahan senyum gelinya ketika melihat betapa pemuda itu menjalankan kudanya perlahan-lahan, menikmati keindahan pagi hari di hutan itu. Tubuh pemuda itu duduk dengan lurus dan tegak, bergoyang- goyang menurutkan gerak punggung kuda.
Sui Lan melihat banyak buah ang-cho busuk di atas tanah, buah-buah yang telah terlalu matang dan tidak dipetik orang sehingga jatuh sendiri, maka ia lalu mendapat pikiran untuk menggoda pemuda itu yang duduk enak-enakan di atas kudanya. Ia menahan ketawanya karena dapat membayangkan betapa kuda itu akan terkejut dan berjingkrak-jingkrak, mungkin akan mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi sehingga pemuda yang aksi itu akan terbanting jatuh!
Akan tetapi ia menjadi kecele, karena seperti yang tidak disengaja, tubuh kuda itu tiba-tiba bergerak ke kiri sehingga sambitannya mengenai tempat kosong!
Sui Lan memandang dengan melongo. Mungkinkah di dunia ini ada seekor kuda yang begitu lihai, yang dapat mengerakkan pantatnya untuk mengelak dari sebuah sambitan? Ia menjadi penasaran sekali dan kembali tangannya bergerak menyambit ke arah tubuh belakang kuda itu. Dan kini terjadi hal yang membuatnya heran sekali, akan tetapi dibarengi rasa terkejut dan kagum. Tanpa menengok, pemuda itu seakan-akan tanpa disengaja menggerakkan cambuk kudanya di tangan kanan itu ke belakang dan buah ang-cho busuk yang menyambar pantat kuda itu terpukul jatuh!
Akan tetapi Sui Lan benar-benar bandel dan nakal. Dua kali kegagalan gangguannya itu tidak membuatnya menjadi kapok, bahkan ia kini mengambil dua butir buah busuk itu melangkah maju sehingga jaraknya dari penunggang kuda itu tinggal beberapa tombak lagi. Kini ia menggerakkan tangannya dengan cepat dan meluncurlah dengan cepat, sebutir ke arah kuda, yang sebutir lagi meluncur ke arah pinggang pemuda itu!
Kali ini Sui Lan menggerakkan tenaganya, tetapi biarpun cepatnya ke arah sasaran, pemuda itu benar-benar lihai dengan cambuknya, ia dapat menangkis buah yang menyambar ke arah pinggangnya itu, tanpa memandang ke belakang, akan tetapi tak disangkanya, buah kedua yang disambitkan ke arah kuda itu tepat mengenai sasaran. Kuda itu meringkik keras karena kesakitan dan terkejut, dan benar saja seperti dugaan Sui Lan, kuda itu lalu mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi sambil meringkik-ringkik.
Akan tetapi, berlawanan dengan dugaan Sui Lan, pemuda itu sama sekali tidak terguling jatuh, bahkan dengan seruan keras tubuh pemuda itu mencelat ke atas dan melayang ke arah Sui Lan dengan kedua tangan terpentang bagaikan seekor burung garuda menyambar kelinci!
Ketika mereka berdua telah berada dekat dan saling pandang, keduanya terheran-heran dan pemuda itu karena tak dapat menahan gerakannya, terpaksa melanjutkan serangannya dari udara dengan mencengkeram leher gadis itu! Pemuda ini terheran-heran karena tidak pernah menyangka sama sekali bahwa pengganggunya adalah seorang dara yang demikian cantiknya. Sedangkan Sui Lan selain tercengang menyaksikan gerakan Naga Sakti Balikkan Tubuh yang amat indah itu, juga merasa heran melihat pemuda itu betul-betul tampan dan menarik! Ia cepat meloncat ke samping untuk menghindari diri dari serangan pemuda itu dan tiba-tiba dalam pikirannya yang penuh kenakalan, Sui Lan lalu ingin sekali menguji kepandaian pemuda itu!
“Eh, bocah!” katanya sambil tersenyum menggoda. “Kudamu yang mencak-mencak kenapa kau marah-marah kepadaku?”
Biarpun pemuda itu tadi merasa tercengang dan akgum melihat dara yang jelita ini, akan tetapi ia menjadi marah juga digoda seperti itu. Sudah jelas gadis ini yang menyambit kudanya, akan tetapi sekarang masih berani menggoda dengan kata-kata yang memerahkan telinga.
“Setan perempuan yang jahat!” ia memaki. “Apa kau kira aku takut padamu?” “Takut atau tidak itu bukan urusanku, akan tetapi sudah nyata kau tidak becus naik kuda, hanya aksinya saja yang hebat!” kata pula Sui Lan menggoda.
“Anak kecil kurang ajar, kau harus dihajar!” seru pemuda itu. Sebetulnya ia merasa segan dan malu-malu untuk berurusan dengan seorang dara cantil seperti itu, akan tetapi karena ia merasa marah digoda sedemikian rupa, ia lalu sengaja menyebut Sui Lan “anak kecil”.
“Kakek tua bangka, cobalah kau maju kalau berani!” Sui Lan balas menantang dan merasa mendongkol disebut anak kecil, maka ia sengaja menyebut kakek tua bangka kepada pemuda yang usianya paling banyak lebih tua satu atau dua tahun dari dia sendiri itu!
“Anak kecil banyak tingkah!” pemuda itu tidak mau kalah memaki dan segera maju menyerang. Akan tetapi, oleh karena ia mengira bahwa Sui Lan hanyalah seorang gadis yang memiliki ilmu silat rendah saja, ia hanya bermaksud untuk mendorong atau menamparnya sebagai pembalasan kekurang ajarannya tadi. Serangannya yang pertama adalah gerak tipu yang ringan saja, yakni gerakan Harimau Lapar Menubruk Kambing. Akan tetapi, kepalan tangan yang seharusnya memukul dada, ia robah menjadi serangan dengan jari tangan terbuka yang ditujukan ke arah pundak Sui Lan dengan maksud mencengkeram pundak atau mendorong.
Biarpun tadi melihat gerakan melompat yang indah dari pemuda itu ketika turun dari kuda, akan tetapi setelah kini melihat cara pemuda ini menyerangnya dengan gerakan Go-houw-pok-yang (Harimau Lapar Tubruk Kambing) itu, tak terasa lagi ia tersenyum menyindir dan menduga bahwa pemuda ini hanya memiliki ilmu silat pasaran belaka! Maka dengan enaknya ia mengelak ke samping dan tiba-tiba berseru keras,
“Tua bangka! Rasakan tendangan cucumu!” kaki kirinya lalu bergerak cepat menendang ke arah pantat pemuda itu dari samping kiri! Gerakan ini bukan main cepatnya sehingga pemuda itu merasa terkejut sekali karena untuk menangkis atau mengelak sudah tidak ada waktu lagi. Tak pernah disangka bahwa gadis kecil yang hanya memiliki “ilmu silat rendah” ini ternyata dapat bergerak begitu cepat dan aneh. Terpaksa lalu ia mengerahkan lwee-kangnya ke arah bagian tubuh yang menerima tendangan.
“Buk!” kaki Sui Lan dengan tepat mengenai bagian tubuh belakang pemuda itu dan kali ini dara itulah yang terkejut bukan main. Tubuh bagian belakang yang banyak dagingnya itu seharusnya empuk dan ia hanya mengerahkan sedikit tenaga untuk membuat pemuda itu terpental saja tanpa melukainya, tidak tahunya, ketika kakinya mengenai tubuh lawannya, bagian tubuh yang tertendang itu terasa keras bagaikan batu karang sehingga kakinya yang menendang terpental kembali!