Mendapat teguran ini, kedua gadis cilik itu terpukul hatinya dan menundukkan kepala dengan sedih sehingga gurunya merasa kasihan juga dan melanjutkan kata-katanya, “Memang harus kukatakan bahwa sebenarnya dalam hal ilmu pedangn dan ilmu silat, belum tentu tingkatmu berada di bawah Yap Sian Houw. Akan tetapi, dalam hal pengalaman bertempur kalian masih kalah jauh sekali sehingga aku yakin bahwa kalau Yap Sian Houw tidak kuat menghadapi mereka, tak mungkin kalian akan dapat mengalahkan mereka itu! Lihatlah sikap Siang Lan, nah, kalian harus selalu menurut petunjuk dan pimpinannya. Anak-anak muda harus bersikap sabar, tenang, akan teatpi waspada, jangan menurutkan nafsu hati belaka. Sekarang ini belum waktunya bagi kalian bertiga untuk turun gunung. Banyak ilmu pukulan yang penting-penting belum kalian latih secara sempurna. Aku ingin melihat kalian berlatih dengan rajin selama sedikitnya dua tahun lagi, baru kalian boleh turun gunung. Sebelum itu, jangan harap kalian akan dapat turun dari sini!”
Ucapan Toat-beng Sian-kouw ini memang keras, sesuai dengan wataknya dan ia memang merasa khawatir kalau murid-muridnya yang masih muda ini dibiarkan turun gunung. Memang ia telah memberikan pelajaran ilmu silat-ilmu silat tinggi yang jarang sekali dilihat orang pada masa itu, akan tetapi karena murid-muridnya itu adalah gadis-gadis muda yang usianya baru lima belas, enam belas dan tujuh belas tahun dan belum mempunyai pengalaman sama sekali serta belum matang betul ilmu silatnya, maka amat berbahayalah kalau mereka dilepas turun gunung.
Jenazah Yap Sian Houw dimakamkan di puncak Liong-cu-san dengan upacara sederhana. Dan semenjak itu, mereka bertiga melatih diri dengan amat giatnya sehingga mereka mendapat kemajuan pesat. Juga Thian Hwa Nikouw telah memberikan seluruh kepandaiannya kepada mereka, terutama sekali penggunaan thi-lian-ci yang mereka pelajari secara sempurna dan kini mereka telah dapat menggunakan am-gi (senjata rahasia) itu secara baik sekali, tidak kalah oleh Thian Hwa Nikouw sendiri!
Dua tahun berlalu dengan amat cepatnya dan selama ini tiga dara muda di puncak Liong-cu-san itu melatih diri dengan amat tekun dan rajin sehingga puaslah hati Toat-beng Sian-kouw.
“Sekarang tingkat kepandaian kalian telah cukup dapat kupercaya bahwa takkan mudah kalian dikalahkan orang dalam kepandaian silat. Dengan dasar membela kebenaran, kurasa jarang ada orang yang akan dapat mengalahkan kalian dalam sebuah pertempuran, kecuali kalau kalian melakukan hal yang salah. Aku maklum bahwa di hati kalian yang masih muda ini terkandung dendam terhadap perwira she Lee itu dan juga perwira she Thio anak murid Go-bi-pai itu. Hal ini aku tidak mau ikut campur, oleh karena terus terang saja aku harus menyatakan bahwa permusuhan antara Siauw-lim-pai dengan Go-bi-pai dan Bu-tong-pai ini tidak menarik hatiku. Bagaimana aku bisa mencampuri urusan mereka yang sebenarnya masih saudara-saudara seperguruan itu? Ketua Siauw-lim-pai adalah suhengku sendiri, demikian juga ketua Bu-tong-pai dan Go-bi-pai masih saudara seperguruan sungguhpun ilmu silatku berasal dari lain guru. Akan tetapi, betapapun juga, melihat anak-anak murid Bu-tong dan Go-bi banyak yang merendahkan diri menjadi perwira-perwira kerajaan, dan melihat kegagahan anak murid Siauw-lim-pai yang bersikap sebagai ho-han (pahlawan sejati), di dalam hati aku lebih condong kepada Siauw-lim-pai. Sudah kukatakan tadi bahwa aku tidak suka mencampuri permusuhan antara saudara sendiri akan tetapi aku tidak melarang apabila kalian murid-muridku memusuhi orang-orang jahat, tak peduli mereka itu saudara atau bukan. Hanya satu pesanku, jangan kalian mengaku sebagai murid-muridku dan jangan menyeret aku yang sudah tua ini untuk menghadapi anak-anak murid suheng-suhengku sendiri. Kalau kalian bertempur dengan orang-orang Go-bi-pai atau Bu-tong-pai, maka kalian adalah anak-anak murid Siauw-lim, bukan murid Toat-beng Sian-kouw! Mengerti?”
“Baiklah, suthai. Teecu bertiga tentu akan memperhatikan dan memenuhi segala pesan suthai yang berbudi,” jawab Siang Lan mewakili kedua adiknya.
Masih banyak pesan dan wejangan Toat-beng Sian-kouw kepada tiga orang dara itu, juga Thian Hwa Nikouw memberi wejangan pula. Toat-beng Sian-kouw mengeluarkan tiga batang pedang yang diberikan kepada ketiga orang muridnya, seorang satu. Biarpun pedang itu bukan pedang pusaka, akan tetapi cukup baik dan tajam.
“Ingat murid-muridku,” katanya sebagai pesan terakhir, “pedang ini bukan dibuat untuk melukai dan membunuh orang yang tidak bersalah. Usahakanlah agar pedang ini menjadi pencegah kejahatan dan penegak keadilan, jangan sekali-kali sampai menjadi alat pembunuh orang!”
Juga Thian Hwa Nikouw memberi hadiah tiga kantong thi-lian-ci kepada tiga orang muridnya yang telah dianggap seperti anaknya sendiri itu. Semua pakaian dan uang tiga gadis itu yang selama ini disediakan oleh Yap Sian Houw yang mencinta mereka seperti anak sendiri, dibungkus menjadi tiga buntalan oleh Thian Hwa Nikouw.
Akhirnya, setelah berpelukan dengan Thian Hwa Nikouw dan memberi hormat sambil berlutut kepada Toat- beng Sian-kouw, ketiga dara itu berangkatlah turun gunung untuk melakukan tugas mereka sebagai pendekar wanita pembela kebenaran dan penegak keadilan.
Tiga dara yang turun dari puncak Liong-cu-san itu benar-benar merupakan tiga orang bidadari yang turun dari kahyangan. Demikian cantik, manis dan demikian gagah sikapnya. Mereka turun dari gunung sambil mengerahkan tenaga dan kepandaian mereka dalam ilmu lari cepat Jouw-sang-hui (Terbang di Atas Rumput) dan gerakan mereka demikian ringan sekali seakan-akan rumput yang mereka injak tidak bergoyang sedikitpun. Mereka berlari-lari sambil tertawa gembira, merasa seakan-akan menjadi burung yang terlepas di udara bebas, atau sebagai tiga ekor kupu-kupu cantik indah dan beterbangan mencari madu di antara bunga.
Sui Lan berjalan paling depat. Cantik jelita menarik hati, berusia tujuh belas tahun, bagaikan kuntum mawar hutan yang mulai mekar, harus semerbak dan sedap. Sui Lan benar-benar telah menjadi seorang gadis yang sifatnya “liar”, jenaka, gembira, dan sepasang matanya yang indah itu bergerak-gerak ke kanan ke kiri memandang dunia dengan penuh kegembiraan. Bibirnya yang berbentuk indah dan selalu berwarna merah segar itu selalu menyungging senyum simpul yang manis sekali. Sesuai dengan wataknya yang gembira, Sui Lan mengenakan pakaian dari sutera dengan dasar warna kuning dan berkembang-kembang merah dan pedang pemberian gurunya tergantung di pinggang kiri, kantung thi-lian-ci tergantung di pinggang kanan. Buntalan pakaiannya diikat di belakang punggungnya, dan buntalan ini berwarna biru. Rambutnya yang hitam dan halus itu dikuncir dua dan kuncirnya tergantung di atas pundaknya, ujungnya diikat dengan sutera biru pula. Melihat gadis ini, tak dapat tidak orang pasti akan merasa ikut gembira dan tertarik.
Hwe Lan berlari di belakang adiknya. Juga gadis yang berusia delapan belas tahun ini cantik dan menarik sungguhpun kecantikannya berbeda dengan Sui Lan. Bentuk tubuhnya dan raut mukanya memang banyak persamaannya dengan Sui Lan, akan tetapi sinar matanya dan tarikan mulutnya sungguh jauh berbeda. Mata Hwe Lan tidak liar seperti mata Sui Lan, akan tetapi memandang dengan mata tajam yang seakan-akan menusuk dan menembus dada orang yang dipandangnya sehingga sukar untuk menyembunyikan perasaan terhadap gadis ini. Alis matanya yang hitam tebal berbentuk golok kecil memanjang itu membuat wajahnya tampak gagah dan menimbulkan rasa hormat dan ngeri dalam hati orang lain. Yang paling jelas membayangkan kekerasan hatinya adalah mulutnya. Sungguhpun mulutnya dengan bibir yang seindah dan semerah bibir adiknya itu amat menarik hati, akan tetapi ditarik keras dan memperlihatkan kesungguhna dengan sunggingan senyum yang disebut senyum mengejek. Pakaian gadis ini juga indah berwarna biru, karena seperti juga dengan yang lain, Yap Sian Houw selalu memperhatikan kesukaan ketiga orang muridnya yang terkasih ini dan selalu membelikan pakaian baru apabila ia berkunjung. Seperti Sui Lan, gadis inipun menguncir rambutnya menjadi dua, akan tetapi, dua kuncir ini tidak bergantung dengan lucu di atas pundak seperti kuncir rambut Sui Lan, hanya diselipkan di dalam baju di bagian lehernya. Pedang dan kantung thi-lian- ci tergantung di pinggang sedangkan buntalannya juga digendong di atas punggung.