Pada hari kemarin, menjelang senja ia bertemu dengan serombongan perwira Kim-i-wi, yakni para perwira- perwira kerajaan yang berpakaian seragam indah karena baju mereka disulam benang emas. Yap Sian Houw melanjutkan perjalanannya tanpa mempedulikan mereka, akan tetapi tiba-tiba seorang dari para perwira itu telah mengenalnya dan berseru,
“Dia itu Yap Sian Houw, murid Ci Sian Siansu!” perwira-perwira yang berjumlah dua belas orang itu segera menahan kuda mereka dan menghadang perjalanan Yap Sian Houw. Pendekar itu terkejut sekali mendengar ucapan ini dan ketika ia memandang, ia mengenal bahwa perwira yang mengenalnya tadi adalah Thio Kim Cai, seorang murid dari Pek Bi Tojin. Thio Kim Cai ini pernah bertemu dengan dia ketika dulu terjadi pertempuran antara orang-orang Siauw-lim-pai dengan orang-orang dari Go-bi-pai dan dalam pertempuran itu, ia telah menendang roboh orang she Thio ini.
Melihat orang ini, tahulah Yap Sian Houw bahwa ia harus menghadapi mereka dengan pertempuran, maka ia lalu mencabut keluar senjatanya, sebuah pedang panjang.
“Hm, Thio Kim Cai! Ternyata kau telah menjadi anjing penjilat telapak kaki Kaisar asing!” ia memaki.
“Bangsat pemberontak Siauw-lim-si, tangkap dia! Bunuh!” teriak Thio Kim Cai dan semua perwira ketika mendengar bahwa orang inii adalah seorang murid Siauw-lim-si, segera mencabut senjata mereka dan melompat turun dari kuda terus menyerang dengan ganas. Kaisar memang menjanjikan hadiah besar bagi seorang yang dapat menangkap atau membunuh seorang tokoh Siauw-lim-si.
Di antara para perwira ini, yang terlihai kepandaiannya adalah seorang perwira bertubuh tinggi besar dan bermuka gagah yang bersenjata sebatang golok. Perwira ini benar-benar gagah perkasa dan ialah yang menjadi pemimpin pasukan ini. Ilmu goloknya amat cepat dan tenaganya besar.
Sebetulnya, kalau hanya menghadapi perwira ini tanpa keroyokan orang lain, belum tentu Yap Sian Houw akan kalah. Akan tetapi, karena semua perwira yang mengeroyoknya itu rata-rata memiliki kepandaian yang setingkat dengan kepandaian Thio Kim Cai murid Go-bi-pai itu, tentu saja ia menjadi terdesak hebat. Yap Sian Houw maklum bahwa tidak ada jalan baginya kecuali mengadu jiwa, maka ia lalu menjadi nekat dan oleh karena ini, gerakan pedangnya menjadi hebat dan ganas sekali. Tak lama kemudian, terdengar jerit-jerit kesakitan dan robohlah dua orang pengeroyok tersambar pedang Yap Sian Houw yang lihai.
Dengan mencampur adukkan permainan Lo-han-to (Ilmu Golok Pendekar Tua) dari Siauw-lim-si dan Tat Mo Kiam-hwat, ia mengamuk tanpa mempedulikan keselamatan tubuh sendiri sehingga para pengeroyoknya menjadi kecut juga melihat sepak terjang yang amat gagah ini. Kembali ujung pedangnya berhasil merobohkan tiga orang pengeroyoknya yang kurang gesit gerakannya. Setelah ia berhasil merobohkan lima orang pengeroyok, para perwira Kim-i-wi yang masih mengeroyoknya menjadi terkejut sekali. Mereka ini rata-rata berkepandaian silat tinggi dan nama mereka terkenal sebagai Cap-ji-enghiong (Selusin Pendekar) dari kota raja yang merupakan pasukan pilihan. Akan tetapi kini mengeroyok seorang saja, lima orang kawan mereka roboh!
Terutama sekali perwira tinggi besar yang memimpin pasukan itu. Sepasang alisnya sampai berdiri saking marah dan penasarannya. “Bangsat pemberontak!” serunya sambil memutar-mutar goloknya. “Kalau hari ini tak berhasil membunuhmu, jangan sebut aku Lee Song Kang si Golok Dewa lagi!” juga kawan-kawannya yang masih ada enam orang itu mengurung Yap Sian Houw lebih rapat lagi.
Yap Sian Houw mulai merasa lelah karena ia harus mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya ketika menjatuhkan lima orang lawan tadi. Kini musuh yang mengurungnya masih tujuh orang dan permainan senjata mereka kini semata-mata ditujukan untuk membunuhnya berbeda dengan tadi yang masih ingin memelihara nyawanya agar dapat ditangkap hidup-hidup, maka tentu saja ia merasa bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan roboh juga! Maka ia lalu mencari kesempatan, dan ketika ia melihat lubang, ia berseru keras dan menyerang sambil merangsek maju dan memutar-mutar pedangnya dengan hebatnya. Lawan-lawannya terpaksa melangkah mundur dan saat itu digunakan oleh Yap Sian Houw untuk melompat keluar dari kepungan dan dengan tangkasnya ia melompat ke atas punggung seekor kuda dari para musuhnya.
“Kejar!” Lee Song Kang berseru marah dan perwira inipun melompat ke atas kudanya dan mengejar, bersama beberapa orang kawannya. Akan tetapi kawan-kawannya tertinggal di belakang.
Yap Sian Houw hendak mempergunakan keadaan yang mulai menjadi gelap itu untuk menyelamatkan diri, akan tetapi tak tersangka-sangka, ia mendengar suara kaki kuda mengejarnya dan jarak mereka telah makin dekat. Ketika melihat bahwa pengejarnya hanya satu orang, Yap Sian Houw menahan kendali kudanya dan membalikkan kuda itu, menyerang kepada pengejarnya dengan pedang terangkat! Akan tetapi, tak pernah diduganya bahwa perwira yang mengejarnya itu akan berlaku curang. Ternyata bahwa perwira yang bukan lain adalah Lee Song Kang itu, telah mempersiapkan gendewa dan anak panahnya dan ketika melihat Yap Sian Houw membalikkan kuda dan hendak menyerangnya, maka ia lalu melepaskan lima batang anak panah sekaligus!
Yap Sian Houw merasa terkejut sekali dan segera memutar pedangnya, akan tetapi terlambat! Biarpun ia dapat menangkis empat batang anak panah, yang sebatang lagi masih menembus di antara sinar pedangnya dan menancap di dada kanannya! Memang hebat sekali ilmu memanah dari perwira she Lee itu.
Yap Sian Houw merasa betapa dadanya sakit sekali, maka sebelum lawannya dapat melepas anak panah lagi, ia terus menyerang dengan pedangnya di tangan kiri, karena tangan kanannya digunakan untuk menekan dadanya yang terasa linu dan sakit.
Lee Song Kang merasa kagum dan khawatir juga melihat kehebatan Harimau Tanduk Satu itu. Bagaimana mungkin seorang yang telah tertancap anak panah di dadanya, masih dapat melakukan serangan sehebat ini? Perwira she Lee ini cepat mempergunakan goloknya untuk menangkis, akan tetapi hampir saja goloknya terlepas dari pegangan karena serangan Yap Sian Houw ini dilakukan dengan tenaga sepenuhnya! Untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan susulan, Lee-ciangkun melompat turun dari kudanya dan menghilang di balik rumpun pohon.
Yap Sian Houw merasa tak kuat bertempur terus, maka ia lalu melarikan kudanya secepat mungkin. Sambil menahan rasa sakit ia mencabut keluar anak panah itu, akan tetapi ia berteriak keras dan terguling dari kuda karena merasa luar biasa sakit pada dadanya, ketika ia mencabut keluar anak panah itu, karena ujung anak panah patah dan tertinggal di dalam dadanya!
Menjelang pagi ia siuman dari pingsannya dan dengan girang ia mendapatkan kuda yang tadi dirampas dan ditungganginya malam tadi masih berada di situ. Maka ia lalu menguatkan tubuh dan mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk menunggangi kuda itu kembali dan melarikannya menuju ke Liong-cu-san. Biarpun ia merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit dan lemas sedangkan setengah tubuhnya sebelah kanan seakan-akan telah mati, ia masih dapat mempertahankan diri dan mencapai puncak Liong-cu-san di mana ia disambut oleh Siang Lan, Hwe Lan dan Sui Lan.
Demikianlah, dengan suara terputus-putus dan sukar sekali, Yap Sian Houw menceritakan pengalamannya. Begitu penuturannya habis, ia tak kuat lagi dan sambil berseru perlahan, ia jatuh pingsan lagi. Thian Hwa Nikouw berusaha menolongnya, akan tetapi pendekar itu, hanya dapat siuman satu kali lagi saja sambil mengeluarkan kata-kata pesan kepada ketiga orang muridnya. “Kalian harus mencari dan membunuh perwira she Lee yang lihai ilmu panahnya itu... dialah yang membunuh Nyo Hun Tiong dan aku...”
Maka meninggallah Yap Sian Houw, Harimau Tanduk Satu yang gagah perkasa itu, ditangisi dengan sedihnya oleh Siang Lan, Hwe Lan dan Sui Lan.
Hwe Lan berdiri sambil mengepal tinjunya dan berkata kepada gurunya, yaitu Toat-beng Sian-kouw, “Suthai, perkenankan teecu turun gunung dan mencari jahanam Lee Song Kang itu untuk membalas dendam ini!”
Sui Lan juga berdiri dan berkata, “Juga bangsat Thio Kim Cai harus dimusnahkan dari muka bumi!”
Hanya Siang Lan yang menundukkan muka dan tak berkata sesuatu, akan tetapi dari pandang matanya ternyata bahwa iapun merasa sakit hati sekali terhadap pembunuh-pembunuh Yap Sian Houw.
Toat-beng Sian-kouw tersenyum. “Hwe Lan dan Sui Lan, kalian berdua terlalu sembrono! Hanya mengandalkan keberanian dan kenekatan saja, orang takkan dapat mencapai maksud dan cita-cita, bahkan keberanian yang tak dikendalikan akan membawa kalian kepada kekalahan dan kekecewaan. Kalian melihat sendiri betapa gurumu Yap Sian Houw sendiri tidak kuat menghadapi mereka itu, apalagi kalian yang masih hijau ini! Kalian kira akan dapat mengalahkan jago-jago istana itu?”