Halo!

Tiga Dara Pendekar Siauw-lim Chapter 08

Memuat...

“It-kak-houw,” kata to-kouw itu kepada Yap Sian Houw, “kebetulan sekali kau datang. Tiga orang anak perempuan ini selain menerima pelajaran dari Thian Hwa Nikouw, juga menerima pelajaran silat dari kau, bukan?”

Yap Sian Houw mengangguk. “Benar, sukouw, memang mereka murid-murid teecu yang bodoh.”

“Bukan mereka yang bodoh akan tetapi kau yang tidak memiliki bakat mengajar. Kalau mereka ini murid- muridmu harap kau mengalah dan memberikan padaku untuk dilatih. Bakat mereka baik sekali.”

Bukan main girang hati Yap Sian Houw mendengar ini, karena memang inilah yang menjadi cita-citanya. Ia mengharapkan munculnya seorang pandai dan sekarang ia bertemu to-kouw ini! Ah, dasar nasib ketiga anak ini baik, pikirnya. Ia lalu menceritakan kepada to-kouw tentang riwayat Siang Lan dan kedua adiknya itu bahwa memang telah menjadi keinginannya mencarikan guru yang pandai untuk mereka. Kepada Thian Hwa Nikouw, Yap Sian Houw memperkenalkan to-kouw itu dan Thian Hwa Nikouw segera memberi hormat ketika ia mendengar siapa adanya to-kouw itu yang ternyata adalah seorang tokoh besar di dunia kang-ouw yang telah lama mengundurkan diri. To-kouw ini diberi julukan Toat-beng Sian-kouw (Pendeta Wanita Pencabut Nyawa) dan namanya telah menggetarkan seluruh daerah pedalaman oleh karena setiap orang jahat yang bertemu dengan to-kouw ini, jangan harap mendapatkan ampun lagi. Oleh karena itu, semua tokoh jahat di dunia hek-to (dunia penjahat) lalu menyebutnya Pendeta Wanita Pencabut Nyawa. Memang Toat-beng Sian-kouw ini tidak menjadi adik seperguruan langsung dari Ci Sian Siansu, dan ia hanya menerima pelajaran satu macam pukulan saja dari Seng Liong Tianglo, yakni guru Ci Sian Siansu. Hal ini merupakan sebuah cerita tersendiri yang amat menarik. Dan baiklah kita ikuti dengan secara singkat. Ketika Toat-beng Sian-kouw ini masih muda dan darahnya masih panas sehingga dia tak pernah memberi ampun kepada setiap orang jahat, iapun suka sekali mengajak pibu (adu kepandaian) kepada semua orang gagah yang ia dengar namanya. Jarang sekali ia dikalahkan dalam sebuah pibu dan akhirnya ia mendengar pula nama Seng Liong Tianglo yang dianggap sebagai orang yang berilmu tinggi di jaman itu. Ia tidak gentar mendengar nama Seng Liong Tianglo dan pergi mencari orang tua itu untuk diajak pibu pula. Akan tetapi kali ini ia terbentur karang. Dalam sepuluh jurus saja, ia dikalahkan oleh Seng Liong Tianglo sehingga ia merasa takluk dan bahkan mengangkat Seng Liong Tianglo sebagai suhunya! Karena inilah, setelah ia menerima satu macam ilmu silat dari orang tua itu, ia dianggap sebagai murid Seng Liong Tianglo dan ini pula yang membuat ia dianggap sebagai bibi guru oleh Yap Sian Houw.

Sebetulnya, Toat-beng Sian-kouw ini adalah murid tunggal dari seorang pertapa sakti yang bernama Im Yang Cinjin, yang bertapa di puncak bukit Go-bi-san sebelah barat (bukan termasuk Go-bi-pai yang dipimpin oleh Pek Bi Tojin!). Ketika Toat-beng Sian-kouw bertemu dengan suhunya itu dan menceritakan pengalamannya ketika ia bertemu dengan Seng Liong Tianglo dan dikalahkan, suhunya tertawa dan berkata,

“Dasar kau yang kurang teliti! Tahukah kau siapa Seng Liong itu? Dia itu adalah supekmu (uwa gurumu) sendiri! Mana kau bisa menangkan dia? Ha-ha-ha dan kau sudah diberi ilmu pukulan darinya? Bagus, bagus!”

Demikianlah, maka betapapun juga, memang masih ada juga hubungan perguruan antara semua cabang persilatan itu. Oleh karena pada hakekatnya, semua cabang persilatan itu berasal satu. Ketika Thian Hwa Nikouw mendengar ini, ia lalu minta maaf bahwa ia telah berlaku lancang, dan iapun dengan tulus ikhlas menyetujui apabila tiga orang anak itu mendapat didikan ilmu silat dari Toat-beng Sian-kouw. Karena tempat tingganya sendiri jauh dari tempat itu, yakni untuk bertahun-tahun Toat-beng Sian-kouw bertapa di sebuah bukit yang terletak di tapal batas utara, maka Toat-beng Sian-kouw lalu mencari tempat di puncak bukit Liong- cu-san dan mendirikan pondok sederhana. Ia melatih tiga anak perempuan itu di puncak gunung ini sehingga dengan demikian, Siang Lan dan adik-adiknya dapat dengan mudah mengunjungi kuil tempat tinggal Thian Hwa Nikouw bilamana saja ia kehendaki.

Di bawah asuhan Toat-beng Sian-kouw, ketiga anak perempuan ini mendapat gemblengan hebat. Tidak saja mereka mendapat pelajaran pokok dari dasar ilmu silat Siauw-lim-pai, akan tetapi juga menerima pelajaran ilmu silat tinggi yang pada jaman itu jarang dimiliki oleh ahli silat lain. Toat-beng Sian-kouw yang telah mempelajari banyak ilmu pedang itu, memberi pelajaran ilmu pedang yang menjadi dasar dari semua ilmu pedang yang paling lihai untuk diajarkan.

Dengan amat rajin dan tak pernah ditunda-tunda, Toat-beng Sian-kouw setiap hari menggembleng ketiga orang muridnya itu sehingga tiga tahun kemudian kepandaian tiga anak perempuan itu telah menjadi demikian maju dan hebat sehingga Thian Hwa Nikouw sendiri merasa kewalahan apabila bertanding ilmu pedang dengan ketiga bekas muridnya itu.

Pada suatu hari, ketika tiga orang remaja tengah berlatih silat, Toat-beng Sian-kouw dan Thian Hwa Nikouw sedang bercakap-cakap karena Thian Hwa Nikouw datang mengunjungi mereka di puncak Liong-cu-san, tiba- tiba Hwe Lan berhenti bermain pedang dan berseru,

“Ada orang datang!”

Siang Lan dan Sui Lan juga menunda latihan mereka, dan mereka mendengar pula suara kaki kuda yang datang ke arah mereka. Pendengaran mereka sudah menjadi sedemikian tajam sehingga mereka dapat mendengar suar kuda yang masih jauh itu. Hal ini saja sudah menunjukkan bahwa berkata gemblengan dari Dewi Pencabut Nyawa, tingkat kepandaian tiga remaja itu sudah meningkat secara luar biasa sekali dalam waktu tiga tahun itu. Ketika penunggang kuda telah kelihatan, bukan main heran dan kagetnya hati ketiga dara muda itu karena yang menunggang kuda itu bukan lain ialah Yap Sian Houw! Tentu saja mereka heran karena bekas guru mereka ini tak pernah naik kuda, dan mereka kaget melihat betapa wajah orang tua itu demikian lemah! Mereka segera lari menyambut dan ketika melihat orang tua itu demikian lemah sehingga untuk turun dari kuda saja agaknya sukar sekali, Siang Lan segera bertanya,

“Suhu, mengapa kau?” ia maju memegang tangan suhunya untuk dibawa turun dari kuda. Akan tetapi ia terkejut sekali karena tangan kanan suhunya itu terasa panas sekali dan ketika ia memandang, ternyata tangan kanan itu tergantung lumpuh.

Hwe Lan dan Sui Lan juga terkejut dan mereka segera membantu orang tua itu yang setengah dipondong oleh mereka, diturunkan dari atas kuda. Dengan langkah terhuyung-huyung dan wajah yang menyedihkan sungguhpun Yap Sian Houw berusaha untuk tersenyum, ia berjalan menuju ke pondok Toat-beng Sian-kouw dibantu oleh tiga dara itu.

Toat-beng Sian-kouw dan Thian Hwa Nikouw menyambut kedatangan Yap Sian Houw, dan kedua nenek pendeta itu keluar dari pintu.

“Ah, Yap-enghiong, kau terluka berat!” seru Thian Hwa Nikouw dengan kaget sekali. Sebagai seorang ahli pengobatan ia sekali lihat saja tahu bahwa sahabatnya ini menderita luka berat.

Yap Sian Houw menggigit bibir menahan rasa sakit lalu menarik napas dalam dan berjalan terhuyung-huyung ke depan.

“Aku bertemu dengan pasukan Kim-i-wi... mereka tahu, aku seorang murid Siauw-lim-pai... aku dikeroyok... berhasil melarikan diri, akan tetapi... ah...” dan Yap Sian Houw lalu roboh pingsan di dalam pelukan tiga orang muridnya!

Yap Sian Houw lalu diangkat ke dalam pondok itu dan setelah Thian Hwa Nikouw memeriksa dan membuka bajunya, ternyata di dada sebelah kanan pendekar itu terdapat luka yang mengerikan, dan mudah diduga bahwa luka ini ditimbulkan oleh sebatang anak panah, karena kecil dan amat dalam! Ketika Thian Hwa Nikouw memeriksa luka itu, ia menjadi terkejut sekali karena mendapat kenyataan bahwa kepala anak panah yang terbuat dari baja tertinggal dalam dada. Agaknya ketika Yap Sian Houw mencabut anak panah itu, anak panah yang ujungnya memakai kaitan itu patah dan tertinggal di dalam. Ia maklum bahwa nyawa sahabat baiknya itu tak dapat tertolong lagi, maka ia tidak berani melakukan pembedahan untuk mengeluarkan anak panah yang terpendam di dekat paru-paru. Ia hanya memberi obat bubuk yang ditempelkan pada luka itu dan memberi minuman dua putir yo-wan (pel) merah untuk menghilangkan atau mengurangi rasa sakit yang diderita oleh Yap Sian Houw.

Dengan tenang, setelah melakukan semua ini, Thian Hwa Nikouw berkata kepada Toat-beng Sian-kouw dan ketiga orang muridnya,

“Luka Yap-enghiong amat arah dan tidak dapat ditolong lagi. Pinni hanya dapat memberi obat untuk mengurangi rasa sakit.”

Bagi Toat-beng Sian-kouw dan Thian Hwa Nikouw, keadaan Yap Sian Houw ini tidak menimbulkan tekanan batin, karena kematian seseorang bagi kedua nenek yang telah banyak mengalami penderitaan hidup ini, bukanlah merupakan hal yang aneh atau mengagetkan. Akan tetapi, berita ini diterima oleh Siang Lan dan kedua adiknya dengan muka pucat. Mereka saling pandang, perasaan sedih dan haru memenuhi dada tiga dara remaja ini. Siang Lan hanya memandang kepada wajah Yap Sian Houw dengan muka pucat dan mata sayu. Sedangkah Hwe Lan dan Sui Lan segera menangis terisak-isak. Mereka bertiga telah menganggap Yap Sian Houw seperti ayah mereka sendiri, karena orang pertama yang berlaku baik terhadap mereka adalah Yap Sian Houw ini sehingga terhadap pendekar tua ini mereka mempunyai perasaan cinta kasih seperti terhadap seorang ayah sendiri.

Tak lama kemudian, Yap Sian Houw membuka kedua matanya, yang pertama dipandangnya adalah ketiga orang anak perempuan itu. Mulutnya tersenyum girang ketika ia melihat mereka memandangnya dengan mata basah oleh air mata. Kakek yang selama hidupnya dalam keadaan sunyi tak berkeluarga ini, merasa bahagia yang amat besar menyelubungi hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa keadaannya ada yang menyedih! Akan tetapi, ia lalu berkata dengan suara menghibur,

“Siang Lan..., Hwe Lan, dan Sui Lan... anak-anakkua yang baik... jangan kalian berduka! Aku... aku tidak apa- apa...!” ia mencoba untuk tertawa. “Ha-ha! Mereka anjing-anjing Kaisar Boan itu, sekarang tahu bahwa tidak mudah merobohkan It-kak-houw! Tdak mudah membasmi orang-orang Siauw-lim-pai yang gagah berani...!”

“It-kak-houw, bagaimanakah terjadinya sehingga kau sampai mendapat luka ini?” tanya Toat-beng Sian-kouw. Yap Sian Houw memandang kepada Dewi Pencabut Nyawa itu, lalu berkata perlahan,

“Sukouw, mereka itu benar-benar terlalu berat bagiku, terlalu banyak yang mengeroyokku... dan terutama... perwira bangsat she Lee itu...” dengan suara terputus-putus dan lemah, Yap Sian Houw lalu menceritakan pengalamannya.

Post a Comment