Halo!

Tiga Dara Pendekar Siauw-lim Chapter 07

Memuat...

Melihat betapa to-kouw itu tidak mengelak sama sekali, Siang Lan menjadi girang dan menyangka bahwa pukulannya pasti akan mengenai sasaran. Akan tetapi, ia merasa heran sekali ketika merasa betapa setelah kepalannya dekat dengan pinggang orang tua itu, tiba-tiba ia merasa ada tenaga besar yang menolak kepalannya sehingga pukulan itu menyimpang dan tidak mengenai sasaran. Ia menjadi penasaran sekali dan menyerang lebih hebat lagi. Siang Lan paling tekun belajar dan pukulannya yang disertai tenaga lwee-kang bukan tak berbahaya dan biarpun ia baru berusia empat belas tahun, akan tetapi laki-laki dewasa biasa saja jangan harap akan dapat menang melawannya. Akan tetapi, ia kecele menghadapi to-kouw yang luar biasa ini karena benar saja, dia dan kedua adiknya sama sekali tidak dapat mendekati to-kouw itu sungguhpun to-kouw itu semenjak tadi tidak pernah memindahkan kedua kakinya.

“Hm, kalian berbakat baik dan sekaligus mendapat didikan Siauw-lim-pai dan Thai-san-pai! Sayang sekali cara mengajarnya kurang benar! Kedua gurumu disesalkan telah menyia-nyiakan bakat sebaik ini!” seru to-kouw itu. “Lebih baik kalian ikut pinni saja, mempelajari ilmu silat yang tinggi!”

Pada saat itu, terdengar bentakan nyaring, “To-kouw siluman jangan kau ganggu anak-anakku!” dan muncullah Thian Hwa Nikouw dengan pedang di tangan.

Melihat kedatangan Thian Hwa Nikouw, Siang Lan dan kedua adiknya lalu melompat mundur, sedangkan to- kouw itu segera tersenyum mengejek.

“Aneh sekali, di dunia ini memang banyak terjadi hal-hal aneh! Seorang nikouw gundul seperti kau bagaimana bisa mempunyai tiga orang anak semungil ini? Sungguh mengherankan!”

Merahlah muka Thian Hwa Nikouw mendengar ini, akan tetapi karena ia adalah seorang beribadat, ia dapat menahan marahnya dan segera memberi hormat dengan mengangkat kedua tangannya ke dada dengan jari diluruskan seperti orang menyembah.

“Mereka itu bukanlah anak-anak sendiri, akan tetapi pinni boleh menganggap mereka sebagai anak angkat atau murid. Apakah mereka itu berlaku kurang ajar kepada suthai maka kau hendak mengganggu mereka?”

“Aku memang hendak membawa mereka, karena anak-anak dengan bakat sebaik ini akan sia-sia saja apabila tidak diberi pimpinan seorang ahli. Dan dalam ilmu silat, melihat gerakan mereka tadi, biarpun kau memiliki dasar-dasar Thai-san-pai cukup baik, akan tetapi kepandaiannya masih terlampau rendah untuk mendidik bakat-bakat yang baik ini.

Melihat ucapan dan lagak yang sombong itu, marah juga hati Thian Hwa Nikouw. Ia dapat menduga bahwa to- kouw ini tentu memiliki kepandaian yang tinggi, akan tetapi tidak seharusnya seorang yang berkepandaian tinggi begitu memandang rendah kepada orang lain. Oleh karena ini, ia ingin sekali mencoba sampai di mana kelihaian to-kouw itu.

“Agaknya suthai memiliki kepandaian yang tinggi, maka dapat mengeluarkan ucapan seperti itu.”

To-kouw itu tertawa. “Tidak tinggi, tidak tinggi! Siapakah di dunia ini yang betul-betul tinggi kepandaiannya? Akan tetapi, tidak serendah kepandaianmu!”

Thian Hwa Nikouw merasa panas hatinya mendengar ucapan to-kouw itu.

“Hm, kalau begitu sahabat, berilah sedikit pelajaran kepada Thian Hwa Nikouw!”

Mendengar nama ini to-kouw itu kembali tersenyum. “Eh, jadi kau murid Pek Kong Hosiang dari Thai-san-pai? Bagus! Hal ini sudah kuduga dan marilahkau maju! Sudah lama aku tidak melihat berkelebatnya pedang dalam ilmu pedang Thai-san-pai!”

Thian Hwa Nikouw makin kuat dugaannya bahwa to-kouw ini tentulah seorang tokoh persilatan tingkat tinggi karena telah mengenal suhunya, maka ia tidak berani berlaku sembarangan. “Keluarkanlah senjatamu dan mari kita main-main sebentar!” katanya akan tetapi to-kouw itu menjawab.

“Jangan khawatir, gerakkanlah pedangmu!”

Thian Hwa Nikouw merasa betapa to-kouw ini benar-benar terlalu dan mempunyai watak yang tinggi, maka tanpa ragu-ragu lagi karena sudah beberapa kali mengalah, ia lalu mulai menggerakkan pedangnya menyerang dengan hebat. Nikouw ini adalah murid tersayang dari Pek Kong Hosiang, tokoh Thai-san-pai yang amat terkenal, maka tentu saja ilmu pedangnya lihai seklai. Juga ia adalah ahli lwee-keh yang memiliki lwee- kang dan gin-kang yang tinggi tingkatnya, maka serangan yang ia lakukan berbahaya. Pedangnya berkelebat bagaikan burung garuda menyambar-nyambar dan tubuh Thian Hwa Nikouw tak kelihatan lagi oleh mata Siang Lan dan kedua adiknya! Bukan main kagumnya ketiga orang anak perempuan itu karena biarpun mereka pernah menerima latihan ilmu silat dan ilmu pedang dari Thian Hwa Nikouw, akan tetapi mereka hanya menerima latihan dasarnya saja dan belum sampai ke tingkat sedemikian tingginya.

Akan tetapi, yang paling merasa terkejut, dan heran adalah Thian Hwa Nikouw sendiri oleh karena dia yang telah memiliki gin-kang yang tinggi itu kini sama sekali tidak berdaya menghadapi to-kouw ini! Ke mana saja pedangnya berkelebat, selalu to-kouw itu dapat mengelak dan menangkis, mempergunakan ujung lengan bajunya yang kalau membentur pedangnya membuat tangannya seakan-akan menjadi lumpuh.

Setelah menyerang puluhan jurus lamanya, maklumlah Thian Hwa Nikouw bahwa lawannya ini jauh lebih tinggi tingkat kepandaiannya dari kepandaiannya sendiri, bahkan mungkin lebih tinggi dari kepandaian suhunya. Yang mengherankan ialah mengapa to-kouw itu seakan-akan mengetahui semua perubahan gerakan ilmu pedangnya dan selalu dapat menempatkan diri sedemikian baiknya sebelum pedangnya melanjutkan gerakan serangannya! Maka ia lalu hendak mencobanya dan tiba-tiba ia berseru keras dan tubuhnya melompat ke belakang membuat pok-sai (salto) tiga kali di udara.

“Bagus, itulah Liu-seng-koan-goat (Bintang Mengejar Bulan) yang bagus sekali!” to-kouw itu berseru.

Mendengar seruan ini, Thian Hwa Nikouw tidak ragu-ragu lagi untuk menlanjutkan serangannya yang paling berbahaya, yakni gerakan menyambit dengan pedangnya. Gerakan ini disebut Liu-seng-koan-goat dan menjadi gerakan yang paling berbahaya dari Thai-san Kiam-hwat. Ketika tubuhnya telah berjungkir balik sampai tiga kali tiba-tiba ia berseru keras dan pedang di tangannya itu meluncur cepat sekali ke arah tenggorokan to-kouw itu! Saking keras dan cepatnya luncuran pedang itu, sampai terdengar suara angin melengking.

Siang Lan pernah mempelajari sambitan Liu-seng-koan-goat ini, dan sungguhpun ia tidak dan belum dapat melakukan gerakan ini secara sempurna, akan tetapi ia cukup maklum sampai di mana lihai dan bahayanya sambitan ini. Kini melihat gurunya melakukan serangan sehebat itu, diam-diam ia terkejut dan merasa khawatir sekali kalau to-kouw itu akan celaka! Juga Hwe Lan dan Sui Lan merasa ngeri melihat pedang itu mengeluarkan cahaya berkilauan menyambar ke arah leher to-kouw itu. Tidak demikian dengan Thian Hwa Nikouw, karena pendeta ini mengerti bahwa to-kouw itu tentu takkan celaka. Tadipun ia tak berani melanjutkan serangannya apabila ia tidak yakin akan kelihaian to-kouw itu, dan sambutannya ini hanyalah sekedar ujian belaka dan sama sekali bukan dilakukan dengan maksud jahat atau hendak membunuh.

Menurut pelajaran ilmu silat Thai-san-pai, untuk menghindarkan diri dari sambitan pedang ini, terdapat semacam gerakan khusus, yang disebut Kwan Im Siu-hwa (Dewi Kwan Im Memetik Bunga). Ia mengharapkan untuk melihat to-kouw itu mempergunakan gerakan ini karena dari gerakan Kwan-im Siu-hwa, ia akan dapat menilai kepandaian to-kouw itu dalam hal ilmu silat dari Thai-san-pai. Akan tetapi ia benar-benar menjadi tertegun ketika menyaksikan to-kouw itu dengan amat tenang mengulur tangannya, bukan untuk melakukan gerakan Kwan-im Siu-hwa dan menerima gagang pedang itu dengna jalan menyambar dari pinggir, akan tetapi to-kouw itu mempergunakan jari tangannya menjepit pedang itu bagaikan orang menjepit sumpit saja. Setelah melakukan tangkapan yang aneh dan lihai ini, to-kouw itu berseru.

“Awas, lakukan gerakan Kwan-im Siu-hwa baik-baik!” dan sekali ia mneggerakkan tangannya, pedang yang tadinya dijepit dengan jari itu meluncur cepat menuju ke arah leher Thian Hwa Nikouw! Pendeta wanita gundul itu terkejut sekali dan ia melakukan gerakan Kwan-im Siu-hwa untuk menerima pedangnya sendiri itu, dan biarpun ia berhasil menangkap gagang pedang, ia merasa betapa telapak tangannya bergetar!

Thian Hwa Nikouw cepat menyimpan pedangnya dan menjura dengan hormat sekali sambil berkata,

“Terima kasih banyak atas petunjuk suthai yang murah hati, teecu (murid) Thian Hwa Nikouw benar-benar merasa takluk.”

To-kouw itu tersenyum, akan tetapi ia tiba-tiba mengerutkan jidatnya dan berkata, “Ah, agaknya Si Harimau Tanduk Satu itu yang datang!”

Semua orang menengok dan benar saja, beberapa saat kemudian, datang Yap Siang Houw berlari-lari dan ketika melihat to-kouw itu, ia merasa tercengang sekali. sebelum Thian Hwa Nikouw dan tiga orang muridnya itu menegur, Yap Sian Houw segera maju ke depan to-kouw itu dan menjatuhkan diri berlutut di depannya.

“Sukouw (Bibi Guru), teecu Yap Sian Houw menghaturkan hormat.”

To-kouw itu tersenyum dan Thian Hwa Nikouw merasa terkejut sekali. bagaimana Yap Sian Houw bisa menyebut bibi guru kepada seorang to-kouw? Ia tahu betul bahwa Yap Sian Houw adalah murid dari Ci Sian Siansu ketua Siauw-lim-pai, dan ia pernah mendengar pula bahwa Ci Sian Siansu ini mempunyai banyak saudara seperguruan yang menjadi murid dari Seng Liong Tianglo, misalnya Peng To Tek, ketua Bu-tong-san, Pek Bi Tojin, ketua Go-bi-san, Ngo Bwe Nikouw, Lie Pa San, Biauw Hian, Sian Ceng, dan lain-lain tokoh persilatan tinggi yang kebanyakan telah meninggal dunia. Akan tetapi, belum pernah ia mendengar bahwa Ci Sian Siansu mempunyai seorang sumoi (adik perempuan seperguruan) yang menjadi to-kouw!

Post a Comment