Halo!

Tiga Dara Pendekar Siauw-lim Chapter 06

Memuat...

“Hwe-moi, lepaskan ekornya!” seru Siang Lan karena keadaan adiknya itu memang berbahaya sekali. Akan tetapi Hwe Lan yang tabah itu tidak mau mekepaskannya, bahkan meniru gerakan encinya dan mengirmm tendangan dari belakang. Ia memegang ekornya dengna erat dan menendang keras, maka harimau itu menggereng kesakitan dan makin keras usahanya untuk melepaskan ekornya. Akan tetapi, Sui Lan yang merasa gembira melihat betapa harimau itu terganggu hebat oleh Hwe Lan, lalu melompat dari belakang dan membantu Hwe Lan memegangi ekor itu sambil menendang.

Harimau itu mengerahkan tenaganya melompat ke depan sekuat tenaga dan kedua anak yang memegang ekor itu berteriak kaget dan ternyata ekor itu terlepas dari tangan mereka. Mereka hanya menggenggam segenggam bulu ekor saja. Saking kerasnya gerakan harimau itu, kedua anak ini sampai jatuh telungkup ketika pegangan mereka terlepas.

“Celaka!” Siang Lan berseru kaget melihat hal ini, akan tetapi sebelum harimau itu membalikkan tubuh untuk menyerang kedua anak yang jatuh telungkup itu, gadis yang berhati tenang ini telah menghujani dengan serangan thi-lian-ci ke arah mukanya. Harimau iru mengaum-aum dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan marah, dan kesempatan ini dipergunakan oleh Hwe Lan dan Sui Lan untuk melompat bangun. Tiba- tiba Siang Lan teringat akan kepandaian Hwe Lan mempergunakan thi-lian-ci, maka ia berkata, “Hwe-moi, bidik ke arah kedua matanya!”

Hwe Lan mengerti maksud encinya, maka ia segera mengeluarkan dua butir thi-lian-ci dan setelah memandang tajam, tiba-tiba tangannya bergerak dan dua butir thi-lian-ci menyambar bagaikan anak panah cepatnya ke arah kedua mata harimau itu. Sungguh mengagumkan kepandaian Hwe Lan, karena sambitannya ini tepat sekali. Biarpun kulit harimau itu tebal dan dapat menahan sambitan mereka, akan tetapi matanya tidaklah sekebal itu dan ketika dua butir thi-lian-ci yang disambitkan oleh Hwe Lan tepat memasuki matanya, harimau itu mengeluarkan pekik kesakitan yang mengerikan dan bergema sampai jauh di dalam hutan itu, lalu ia menggulingkan tubuhnya ke atas tanah mempergunakan kedua kaki depan untuk menggaruk-garuk muka sendiri. Kemudian harimau itu bangun berdiri dan berlari menubruk sana menabrak sini.

Melihat keadaan harimau itu, Sui Lan tertawa girang dan lenyaplah ketegangan dan ketakutan yang tadi menggangu hatinya. Ia bertepuk tangan dan bersorak.

“Nah, rasakanlah hadiah dari enci Hwe! Lihat, lihat, dia lari ke sana ke mari seperti gila. “Hai, kucing besar! Kau sedang mencari tikus? Nah, ini, tikusnya berada di sini!”

Sungguh kebetulan, harimau yang sedang bingung dan kesakitan itu, kini berlari ke arah Sui Lan, seakan-akan ia mendengar suara panggilan gadis itu.

“Sui-moi, awas!” teriak Siang Lan yang cepat melompat dan menarik tangan adiknya itu ke kiri. Harimau itu terus berlari ke depan, menabrak-nabrak, jatuh bangun dan terus berlari ke dalam hutan. “Ayo kita kejar dia!” seru Hwe Lan.

“Eh, untuk apa, Hwe-moi? Jangan ganggu dia lagi, biarkan saja, karena biarpun telah buta kedua matanya, harimau itu masih berbahaya sekali!”

“Aku hendak bunuh dia, cici. Kasihan sekali keadaannya lebih baik dibunuh sekalian!” jawab Hwe Lan yang terus berlari.

“Adik Hwe Lan, janga mencari penyakit! Hutan ini berbahaya, lebih baik kita pulang.”

“Kita bunuh dulu harimau itu, baru pulang,” kata Hwe Lan dengan bandel dan berlari terus, sehingga terpaksa Siang Lan dan Sui Lan menyusulnya, mengejar harimau yang telah buta itu. Memang demikianlah Hwe Lan. Ia adil dan berbudi, tidak tega melihat penderitaan harimau itu dan dianggapnya lebih baik binatang itu mati daripada tersiksa seperti itu, dan sekali ia telah mengambil keputusan, sukar sekali untuk mencegahnya. Hatinya keras dan keberaniannya luar biasa.

Tidak sukar bagi Siang Lan dan adiknya untuk mengejar harimau itu, karena binatang yang telah buta itu larinya tidak karuan, menabrak sana sini sambil mengerang-gerang kesakitan. Setelah dapat menyusul, mereka lalu menyerang harimau itu dengan thi-lian-ci dari segala penjuru dan karena kali ini mereka dapat menyambit dari jarak dekat, dan harimau itu sedang kebingungan tak dapat mengerahkan tenaga, maka sebentar saja ia telah menderita, banyak sekali luka-luka berdarah karena sambitan thi-lian-ci.

Tiba-tiba Sui Lan berseru, “Enci... ada harimau lain!” gadis cilik ini berseru sambil menunjuk ke depan. Kedua encinya terkejut bukan main karena mengira bahwa tentu ada binatang buas lain yang datang hendak menyerang mereka. Maka tanpa banyak pikir lagi, ketika melihat gerombolan pohon bergoyang-goyang, mereka lalu menyambit dengan thi-lian-ci untuk mendahului binatang itu dan mengusirnya. Belasan thi-lian-ci yang dilempat oleh ketiga gadis cilik itu melayang dan menyambar ke arah daun yang bergerak itu dan alangkah kaget mereka ketika melihat tiba-tiba seorang to-kouw (pendeta wanita pemeluk agama To) keluar dari semak-semak itu.

Melihat belasan thi-lian-ci yang menyambar ke arahnya, to-kouw itu tersenyum dan dengan perlahan menggerakkan ujung lengan bajunya yang panjang. Biji teratai besi itu, ketika terkena angin sambaran ujung lengan baju itu, terpental ke kanan ke kiri seakan-akaan tertangkis sebuah perisai yang amat kuat! Tentu saja Siang Lan dan adik-adiknya merasa heran dan juga kagum.

To-kouw itu lalu melihat harimau yang masih kebingungan dan menabrak ke sana ke mari, dengan cepat tubuhnya bergerak. Tahu-tahu ia telah melompat sedemikian ringannya bagaikan sedang melayang saja dan tiba di depan harimau itu. Sekali ia ulurkan jari tangannya dan menotok ke leher harimau itu, binatang yang ganas itu menjadi lumpuh dan mendekam tak dapat bergerak lagi. To-kouw itu menyebut “Siancai... siancai...” lalu memeriksa harimau itu. Ia mengangguk-angguk lega dan mengeluarkan sebungkus obat bubuk dari saku jubanya. Setelah menaruh sedikit obat itu pada kedua mata harimau yang terluka tadi, ia lalu menepuk pundak harimau itu yang segera berdiri dan lari cepat.

“Kejar dia!” teriak Hwe Lan.

“Jangan ganggu dia!” to-kouw itu mencegah sambil menghadang di jalan dan mementangkan kedua lengannya.

“Suthai, bukan kami yang menggangunya, bahkan harimau itu yang mengganggu kami, kalau kami kurang hati-hati, tentu dia telah makan habis kami bertiga!” Siang Lan berkata,

“Hiii, alangkah tidak enaknya berada di dalam perut harimau itu!” kata Sui Lan sambil menggerak-gerakkan pundaknya. “Apalagi bertiga, tentu akan berdesak-desakan dan panas sekali!”

To-kouw yang tadinya memandang kepada Siang Lan dengan senyum lembut kini senyumnya melebar dan matanya berseri ketika melihat Sui Lan dan mendengar kelakar itu.

“Anak-anak yang baik, kalau dia mengganggu kalian, rasanya sudah cukup kalian membalasnya. Kalian sudah melukainya, apakah kalian masih saja hendak menyiksanya? Ah, masa kalian sekeji itu?”

Kini Hwe Lan melangkah maju, sepasang matanya menatap tajam dan ia marah sekali. “Orang tua! Jangan kau lancang menyebut kami kejam! Kaulah yang sebenarnya amat kejam. Untuk membela diri, terpaksa harimau itu kami jadikan buta dan melihat keadaannya, kami tidak tega dan merasa lebih baik dia dibunuh saja daripada menderita semacam itu. Akan tetapi, sekarang kau datang melepaskannya, membiarkan ia menderita siksaan. Ia telah buta, bagaimana ia dapat hidup lebih lama lagi?”

To-kouw itu memandang kepada Hwe Lan dan ia benar-benar merasa kagum. Tak pernah disangkanya akan bertemu dengan tiga orang anak perempuan yang mengagumkan di tempat yang sesunyi itu!

“Anak-anak yang baik, kalian cukup gagah berani, akan tetapi kurang cerdik atau barang kali mendapat pelajaran ilmu silat kurang baik. Kalau kepandaianmu lebih baik, tentu dengan mudah harimau itu kau bunuh, tak usah disiksa dulu. Ketahuilah bahwa mata harimau itu tidak rusak sama sekali dan akan sembuh kembali. Oleh karena itu pinni lepaskan!”

Ketiga orang anak itu melengak dan terheran.

To-kouw itu tersenyum dan berkata lagi. “Melihat gerakan kalian tadi, agaknya kalian mendapat didikan yang benar, akan tetapi aneh sekali mengapa belum mampu merobohkan seekor harimau saja.”

“Orang tua, kau sombong sekali!” seru Hwe Lan dengan berani.

“Agaknya harimau itu adalah kucing peliharaannya, maka ia sekarang hendak menghina kita!” kata Sui Lan sambil memicingkan mata.

“Pinni tidak menghina, juga tidak sombong. Kalian mau bukti, anak-anak. Nah, cobalah kalian serang pinni agar pinni dapat melihat sampai di mana kepandaian kalian.”

Hwe Lan memandang enci dan adiknya. “Mari kita serang dia, aku ingin tahu juga sampai di mana kepandaian orang tua ini!” “Sst, jangan berlaku kurang ajar, Hwe Lan!” Siang Lan menegur dan memandang marah sehingga Hwe Lan dan Sui Lan tidak berani maju. Kalau Siang Lan sudah memandang marah seperti itu, biasanya dua orang anak ini tak berani membantah. “Tidak baik berlaku kurang ajar kepada seorang tua seperti suthai ini!”

To-kouw itu tersenyum kepada Siang Lan dan berkata, “Tidak apa-apa, nak, aku suka kepada kalian. Marilah, kalian maju, pinni tidak akan marah. Kita boleh main-main sebentar, hendak pinni lihat bakat kalian sampai di mana!”

Karena desakan ini, Siang Lan tak dapat melarang kedua adiknya lagi dan kedua adiknya lalu maju menyerang to-kouw itu dengan pukulan mereka!

“Kaupun majulah! Pinni takkan menangkis dan hanya mengelak. Kalau kalian dapat menangkap ujung jubah pinni, celaanku tadi akan kutarik kembali.”

Siang Lan memandang dan merasa heran mengapa kedua adiknya dapat dielakkan sedemikian mudahnya oleh to-kouw itu. Wanita tua itu agaknya tidak menggerakkan kedua kakinya, hanya tubuhnya saja miring ke kanan ke kiri, akan tetapi pukulan atau tangkapan tangan Sui Lan dan Hwe Lan selalu mengenai angin. Ia merasa penasaran dan segera maju dengan gerakan pukulan To-tui-kim-ciang (Dorong Roboh Lonceng Emas), yakni dengan memukulkan kepalannya ke arah pinggang to-kouw itu sambil mengerahkan tenaga lwee-kangnya.

Post a Comment