Halo!

Tiga Dara Pendekar Siauw-lim Chapter 05

Memuat...

Sebaliknya, Hwe Lan berwatak keras, mudah sekali marah, dan luar biasa tabah dan beraninya. Semenjak kecilpun ia telah mempunyai keberanian yang luar biasa. Pernah ketika baru berusia enam tahun ia pergi bermain-main seorang diri ke atas gunung dan ketika dicari, tahu-tahu ia berada di atas puncak sebatang pohon besar yang tinggi sekali, mencari sarang burung! Akan tetapi, kenakalan dan kekerasan hatinya bukan terdorong oleh sifat yang jahat, karena ia mempunyai tabiat yang jujur, adil dan sifatnya terbuka, tak suka memakai tedeng aling-aling dalam percakapannya.

Sui Lan mempunyai kecantikan yang melebihi encinya. Dalam usia dua belas tahun telah kelihatan jelas bahwa kelak ia akan menjadi seorang gadis yang luar biasa cantiknya. Terutama sekali sepasang matanya yang lebar dan bening bagaikan mata burung Hong itu, bercahaya gemilang seperti bintang pagi, dan dari sinar matanya yang indah ini saja orang dapat menduga bahwa ia berwatak gembira, jenaka dan suka sekali menggoda orang lain. Selain matanya yang indah ini, wajahnya mirip dengan kedua encinya, hanya ia lebih manis karena di kanan kiri bibirnya terdapat dikik yang membuat dunia ikut bergembira apabila ia tersenyum. Tidak mengherankan apabila gadis cilik ini merupakan matahari kedua dari Kuil Mustika Naga itu dan menjadi kekasih semua orang yang berada di situ. Bahkan Hwe Lan yang ebrwatak galak dan tidak mau mengalah itu terhadap adiknya ini bersikap lemah lembut penuh kasih sayang dan biarpun Sui Lan tidak luput dari kemarahan-kemarahannya, akan tetapi Hwe Lan selalu mengalah.

Dalam hal kemajuan ilmu silat, sukar disebut siapa yang disebut lebih lihai, karena mereka ini masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri, sesuai dengan bakat masing-masing. Siang Lan lebih tekun dan rajin dan karena dalam hal pelajaran mengatur napas, bersamadhi dan mengheningkan cipta, ia memang lebih kuat dan lebih sabar, maka ia mendapatkan tenaga lwee-kang yang lebih kuat daripada adiknya. Juga gerakan kaki tangannya di waktu bersilat, Siang Lan lebih tenang, tepat dan sikapnya waspada sehingga sering sekali Thian Hwa Nikouw diam-diam memuji dalam hatinya bahwa murid yang tertua ini kelak akan merupakan lawan yang luar biasa tangguh dan uletnya bagi setiap orang yang bertempur dengannya.

Hwe Lan mempunyai gerakan yang cepat, ganas, dan setiap pukulan yang dilakukan jika ia bersilat, merupakan serangan yang amat berbahaya. Gadis cilik ini agaknya tidak mau membuang waktu sia-sia dalam setiap gerakan dan selalu mempergunakan gerakan yang tersulit, akan tetapi, yang paling berbahaya bagi lawan. Juga, dalam ilmu menyambit thi-lian-ci, Thian Hwa Nikouw sendiri sampai merasa terkejut dan heran akerna gadis ini cilik benar-benar mengagumkan. Sambitannya cepat, keras, dan jitu, bahkan memiliki gaya tersendiri. Ia maklum bahwa kalau sudah berlatih lama, gadis cilik ini mungkin akan memiliki kepandaian bermain am-gi (senjata rahasia) yang lebih tingga dari dia sendiri.

Sui Lan benar-benar menggembirakan hati semua orang. Bahkan dalam ilmu silat, gadis ini tiada hentinya memperlihatkan wataknya yang gembira, jenaka dan suka menggoda orang. Sering kali dalam latihan silat, ia membuat kedua encinya terkekeh-kekeh dan tertawa geli, bahkan sering kali Yap Sian Houw sendiri terbahak- bahak sambil memegangi perutnya karena dalam latihan bersilat itu Sui Lan tiada hentinya melucu. Akan tetapi, jangan dikira gadis cilik ini tidak dapat kemajuan dalam ilmu silat, karena ia cerdik sekali dan dalam kejenakaannya itu, ia telah menciptakan pukulan yang amat mengherankan hati Yap Sian Houw. Gadis cilik yang amat jenaka ini dalam tiap gerak tipu pukulan, selalu memberi tambahan gaya palsu yang timbul dari sifat kejenakaan dan kelucuannya tanpa disadarinya, gerak tipu yang timbul karena hendak melucu ini bahkan membuat ilmu silatnya menjadi sulit diikuti oleh lawan dan karenanya menjadi berbahaya. Pada pagi hari itu juga, mereka bertiga meninggalkan kuil dan bermain di lereng bukit Liong-cu-san, ini adalah atas ajakan Sui Lan yang nakal. Tadinya Siang Lan tidak membolehkan karena pada waktu itu, Yap Sian Houw telah hampir sepuluh hari pergi dari kuil, sedang Thian Hwa Nikouw berkunjung ke sebuah dusun tak jauh dari kuilnya untuk menolong seorang petani yang menderita sakit. Wanita ini sedikit mengerti tentang ilmu pengobatan, maka tiap kali ada orang kampung datang minta tolong, ia selalu mengulurkan tangan dan menolong sedapat mungkin.

Siang Lan yang amat taat kepada dua gurunya itu, tadinya melarang adik-adiknya yang ingin bermain-main ke lereng gunung, akan tetapi ketika melihat betapa Hwe Lan merengut dan Sui Lan merengek-rengek, terpaksa Siang Lan menurut kehendak mereka, dan dengan gembira kedua adiknya itu lalu berlari-lari ke lereng gunung itu.

“Ah, benar-benar indah di bagian ini!” Sui Lan yang berusia dua belas tahun itu menari-nari di atas rumput hijau dan tertawa-tawa. Memang lereng sebelah barat ini benar-benar indah. Di situ terdapat padang rumput dengan rumput yang hijau segar dan rata bagaikan air samudra yang tenang. Di sana sini nampak bunga-bunga hutan tumbuh tak teratur, akan tetapi menambah sedap pemandangan karena menimbulkan pemandangan yang masih asli buatan alam.

“Sui-moi, jangan ke sana!” tiba-tiba Siang Lan menegur adiknya itu yang menuju ke sebuah hutan yang gelap. “Kata Suthai dulu di hutan siong itu terdapat banyak binatang buas dan duri-duri berbisa!”

“Enci Lan, siapa takut binatang buas. Mereka takkan lebih galak dari Enci Hwe Lan!” jawab Sui Lan yang berlari terus sambil tertawa-tawa.

Mendengar godaan ini, Hwe Lan menjadi marah. “Awas, Sui Lan! Di tempat itu ada harimau dan kalau kau diserang harimau aku tak mau menolongmu!”

Akan tetapi bukannya takut mendengar ucapan ini, Sui Lan bahkan berlari sambil berlompatan dan mulutnya mengeluarkan gerengan menirukan bunyi aum harimau yang sering kali terdengar dari kuil di waktu malam.

Terpaksa Siang Lan dan Hwe Lan menyusul adiknya yang nakal itu dan setelah mereka menyeberangi lautan rumput itu, mereka tidak mencegah Sui Lan lagi oleh karena pemandangan di hutan depan itu tak kalah indahnya.

“Enci Lan! Ence Hwe! Lekas lari, di sini banyak buah tho yang sudah matang.” Sui Lan berteriak sambil berdiri mendongakkan kepala memandang buah yang sudah masak itu.

Ketika Siang Lan dan Hwe Lan sudah dekat, Sui Lan lalu memanjat pohon itu dan memetik buah yang masak itu dengan girangnya. Akan tetapi, pada saat itu, di sebelah atasnya terdapat gerakan keras dan tiba-tiba sebuah bayangan yang besar menerkamnya dari cabang sebelah atas. Sui Lan menjerit, akan tetapi gadis cilik ini cepat meloncat turun. Terdengar gerakan hebat dan seekor macan tutul yang besar melompat pula turun dari cabang ke cabang sambil mengembang kempiskan hidungnya dan memperlihatkan giginya yang tajam.

“Enci... ada kucing besar...!” tariak Sui Lan terbelalak lebar. Memang gadis cilik ini belum pernah melihat harimau, baru mendengar suaranya saja, maka kini melihat macan tutul itu, ia menganggapnya kucing besar.

Sementara itu Siang Lan dan Hwe Lan yang sudah tiba di situ menjadi terkejut melihat seekor kucing sedemikian besarnya.

“Awas, inilah barangkali yang disebut harimau!” seru Hwe Lan dan gadis yang amat berani itu telah melompat paling depan, seakan-akan hendak melindungi adik dan encinya. Dan pada saat itu, macan tutul tadi menerkam dari atas.

“Enci Hwe awas!” Sui Lan berseru sambil melompat jauh dan Hwe Lan yang diserang harimau itu cepat pula melompat ke kiri sehingga harimau itu menubruk tempat yang kosong. Binatang buas itu menggereng marah dan tubuhnya mendekam di tanah, menanti saat baik untuk menerkam. Tubuh binatang yang besar dan kuat itu membuat Sui Lan merasa ketakutan, sedangkan Siang Lan masih dapat menenangkan hatinya dan berkata.

“Hwe Lan, keluarkan thi-lian-ci!”

Mendengar seruan ini, Hwe Lan dan Sui Lan segera merogoh kantung mereka dan mengeluarkan beberapa butir biji teratai besi itu. Ketika itu, Sui Lan berdiri di dekat Siang Lan, di bagian belakan harimau itu, sedangkan Hwe Lan dengan berani dan mata bersinar merah, berdiri di depan binatang itu. Gadis cilik ini sama sekali tidak takut matanya menatap mata harimau, tangan kanan kiri mengepal biji teratai besi dan kedua kakinya memasang kuda-kuda dengan kaki kiri di depan kaki kanan di belakang, tubuh agak membongkok, siap sedia untuk melawan binatang itu!

Melihat harimau itu mengancam Hwe Lan, Sui Lan merasa ngeri dan takut kalau encinya itu diterkam, maka sambil berseru,

“Kucing besar jangan ganggu enciku,” ia menyambitkan thi-lian-ci di tangan kanannya yang cepat menyambar ke arah tubuh binatang itu. Biji-biji teratai yang disambitkan ini jumlahnya ada empat butir, dan karena disambitkan dalam keadaan gugup, maka Sui Lan hanya menyambil asal keras dan kena saja sehingga biji teratai besi itu menghantam tubuh belakang harimau. Akan tetapi kulit harimau itu agaknya tebal karena ketika thi-lian-ci itu mengenai punggung dan bagian perutnya, hanya beberapa helai bulunya saja yang rontok, akan tetapi ia tidak terluka! Sebutir thi-lian-ci itu meleset dari kulit punggungnya dan terus meluncur ke depan. Kebetulan sekali thi-lian-ci ini mengenai daun telinga harimau itu yang segera mengerang kesakitan! Berbeda dengan kulit tubuhnya ternyata daun telinganya cukup perasa ketika disambar thi-lian-ci, terasa perih sekali. Harimau itu membalikkan tubuhnya menghadapi Sui Lan dan setelah mengeluarkan gerengan hebat, ia lalu melompat ke atas menerkam Sui Lan.

Gadis cilik ini masih bengong melihat betapa thi-lian-ci yang disambitkannya tidak melukai kulit binatang itu, maka ketika harimau itu menerkam, ia agaknya terlambat untuk mengelak dan menjerit ngeri melihat tubuh harimau itu menyambar ke atas kepalanya!

“Pengecut, jangan serang anak kecil!” Hwe Lan berseru marah dan melompat ke depan, menubuk harimau itu! Gerakan gadis itu amat cepat dan kecepatan lompatannya melebihi kecepatan harimau itu sehingga sebelum tubuh harimau itu sempat menubruk tubuh Sui Lan, ekornya telah dipegang oleh Hwe Lan dan disentakkan ke belakang. Harimau itu terpaksa melompat turun sebelum sempat mencaka tubuh Sui Lan yang segera melompat mundur dan kini binatang itu meronta-ronta hendak melepaskan ekornya yang dipegang oleh Hwe Lan. Akan tetapi, biarpun tenaganya besar sekali, namun pegangan gadis cilik itu amat eratnya sehingga pegangan itu tak dapat terlepas. Tubuh Hwe Lan sampai terhuyung ke kanan kiri karena ekor harimau itu bergerak dengan kuatnya untuk melepaskan diri.

Siang Lan cepat maju dan memutar ke kiri, lalu kakinya menendang ke arah lambung harimau itu. Tendangan ini dilakukan dengan tenaga lwee-kang yang cukup berat sehingga harimau itu menggaung kesakitan terhuyung-huyung ke kanan membawa Hwe Lan yang terseret ke belakangnya.

Post a Comment