Halo!

Tiga Dara Pendekar Siauw-lim Chapter 04

Memuat...

Yap Sian Houw tidak dapat banyak bercerita tentang anak-anak itu karena dia sendiri juga tidak tahu. Dia hanya menuturkan bahwa dia bertemu dengan Nyo Hun Tiong, murid keponakannya yang terkenal sebagai seorang pemimpin rakyat yang memberontak terhadap pemerintah penjajah Mancu, dan bahwa Nyo Hun Tiong telah terluka parah, hampir mati sambil membawa anak-anak ini.

“Menurut dia, anak-anak ini adalah anak dari seorang kawan seperjuangannya yang hampir saja menjadi korban keganasan perwira-perwira kerajaan dan yang berhasil ditolongnya. Entah siapa nama orang tua mereka karena Nyo Hun Tiong tak sempat memberitahukan kepadaku dan anak-anak ini sendiri sudah tak ingat lagi siapa nama orang tua mereka, bahkan she sendiri merekapun telah lupa atau mungkin juga belum tahu!”

Demikianlah, secara singkat Yap Sian Houw menuturkan pengalamannya kepda Thian Hwa Nikouw sehingga pertapa wanita itu menaruh hati kasihan kepada mereka. Sambil mengelus-elus rambut kepala Siang Lan, ia berkata,

“Kasihan sekali anak-anak ini, Nyo Hun Tiong berkata benar, anak-anak ini harus dididik baik-baik dan diberi pelajaran tinggi agar kelak mereka bisa menjaga diri, dan bisa melanjutkan cita-cita orang tua mereka, menjadi pembela kebenaran dan keadilan. Ah, pinni berterima kasih sekali kepadamu yang telah membawa anak-anak ini kemari, Yap-enghiong. Akan tetapi, kaulah yang bertugas memberi pelajaran ilmu silat kepada mereka, karena aku sendiri tak mempunyai kepandaian apa-apa selain mendidik mereka dengan sedikit ilmu menulis dan membaca!”

“Aah, jangan terlalu merendahkan diri, suthai. Siapa yang tidak kenal akan kelihaian gin-kang dan lwee-kang dari Thai-san-pai? Dan siapa pula yang tak kenal akan kehebatan senjata rahasiamu Thi-lian-ci (Biji Teratai Besi).”

“Tidak, Yap-enghiong. Mereka ini harus menjadi muridmu, harus memiliki ilmu silat Siauw-lim-pai yang tinggi. Tentu saja pinni akan mengajarkan apa yang pinni bisa, akan tetapi, pinni tidak mengangkat sebagai murid, bolehlah pinni dianggap sebagai wali mereka.”

“Bagus, itupun sama saja!” kata Yap Sian Houw. “Maksudkupun mareka ini hanya akan kuberi pelajaran dasar- dasarnya saja dan kelak apabila aku berhasil mencari dan berjumpa dengan tokoh-tokoh perguruan Siauw-lim- pai yang terpencar dan belum diketahui tempatnya, aku akan mohon pertolongannya mereka untuk melatih anak-anak yang bernasib malang ini!”

Demikianlah, semenjak hari itu, ketiga orang anak perempuan itu, yakni Siang Lan, Hwe Lan, dan Sui Lan, tinggal di dalam kuil itu dengan perawatan yang amat telaten dan penuh cinta kasih dari Thian Hwa Nikouw. Karena mereka masih terlampau kecil untuk dilatih silat, maka Yap Sian Houw meninggalkan tempat itu dan berjanji akan sering kali datang menengok. Pendekar ini tidak lupa meninggalkan beberapa potong uang emas kepada sahabatnya untuk membantu biaya pemeliharaan tiga orang anak itu.

Siapakah sebenarnya Yap Sian Houw dan Thian Hwa Nikouw ini? Karena mereka berdua ini penolong- penolong dan guru pertama dari tiga anak perempuan yang menjadi calon tokoh terpenting dalam cerita ini, maka perlu kita mengenal mereka lebih baik lagi.

Yap Sian Houw adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang sudah menduduki tingkat tinggi juga, karena ia adalah seorang murid dari Cie Sian Siansu yang menjadi ketua dari Siauw-lim-pai. Yap Sian Houw ini terkenal sebagai seorang pendekar perantau yang baik hati dan gagah perkasa, dan biarpun usianya empat puluh tahun lebih, akan tetapi ia masih tinggal membujang. Hal ini menunjukkan kesetiaan hatinya, karena sesungguhnya ketika ia masih muda, Yap Sian Houw pernah ditunangkan dengan seorang gadis yang cantik. Akan tetapi, tiba-tiba gadis itu menderita penyakit berat dan meninggal dunia karena penyakitnya ini. Semenjak itu, Yap Sian Houw hidup menyendiri dan hatinya yang terluka dan berduka itu lalu mengambil keputusan untuk tinggal membujang saja selama hidupnya.

Di kalangan kang-ouw, namanya sudah terkenal sekali, dan banyak orang-orang gagah memuji-muji namanya. Pendekar ini bertubuh sedang dan berkulit kuning dengan sepasang mata yang amat tajam. Wajahnya boleh disebut tampan dan di tengah-tengahnya jidat terdapat sebuah tanda hitam yang agak menonjol seperti daging jadi, dan oleh karena ini di kalangan kang-ouw ia mendapat nama julukan It-kak-houw (Harimau Tanduk Satu).

Adapun Thian Hwa Nikouw yang kini menjadi wali dari ketiga orang anak perempuan itu, juga bukan sembarang orang. Dia adalah seorang anak murid Thai-san-pai yang memiliki ilmu pedang Thai-san Kiam- hwat yang luar biasa dan dalam ilmu gin-kang (meringankan tubuh), ia amat terkenal sekali. Lwee-kangnya juga sudah matang dan kepandaiannya yang teristimewa adalah senjata rahasianya thi-lian-ci yang membuat banyak penjahat kejam bergidik apabila mengingatnya. Senjata rahasia ini terbuat dari besi dan berbentuk seperti biji-biji bunga teratai yang kecil. Thian Hwa Nikouw telah mempelajari ilmu menyambitkan thi-lian-ci ini sedemikian hebatnya sehingga bukan saja ia telah memiliki kepandaian yang biasa disebut “seratus kali lepas seratus kali kena”, akan tetapi juga ia dapat menyambitkan segenggam thi-lian-ci sekaligus yang menyebar ke seluruh tubh lawan mengarah jalan-jalan darah yang paling berbahaya.

Kalau Yap Sian Houw suka memakan pakaian putih, nikouw ini selalu menggunakan pakaian berwarna kuning. Keduanya telah menjadi sahabat semeenjak enam tahun lebih, yakni ketika mereka kebetulan sekali bertemu di atas Bukit Lin-san untuk membasmi segerombolan penjahat kejam, yang suka merampok dan mengganggu rakyat yang tinggal di dusun-dusun sekitar bukit itu. Tentu saja mereka menjadi girang sekali karena bertemu dengan seorang kawan sehaluan, dan bersama-sama mereka mengobrak-abrik sarang penjahat itu, membunuh para pimpinannya dan memberi nasehat pada anak buahnya, kemudian membakar sarang itu. Semenjak itu keduanya menjadi sahabat baik dan sering sekali saling mengunjungi, atau lebih tepat lagi, Yap Sian Houw sering kali datang menyambangi sahabat baik itu.

Setelah ketiga anak perempuan itu tinggal di Kuil Mustika Naga di kaki bukit Liong-cu-san, paling lama sebulan sekali Yap Sian Houw pasti datang ke tempat itu, bahkan setelah Siang Lan berusia enam tahun, pendekar ini sering sekali tinggal di situ sampai berbulan-bulan, karena selain ia memberi pelajaran silat kepada Siang Lan dan Hwe Lan, juga bujang tua ini terikat harinya oleh anak-anak itu dan timbullah kasih sayang seorang ayah di dalam hatinya. Tiap kali datang, ia selalu membawa oleh-oleh makanan enak dan pakaian indah maupun barang mainan indah sehingga anak-anak itu tidak kekurangan pakaian dan mereka mulai melupakan ayah bundanya dan mulai jadi gembira.

Sepuluh tahun kemudian, pada suatu pagi yang indah, di lereng Bukit Liong-cu-san nampak tiga anak perempuan lari-lari berkejaran dengan gembira. Mereka ini bukan lain adalah Siang Lan dan adik-adiknya. Selama beberapa tahun ini mereka telah mendapat gemblengan ilmu silat dari guru mereka, Yap Sian Houw, dan juga dari Thian Hwa Nikouw mereka diberi pelajaran ilmu menulis dan ilmu silat Thai-san-pai. Kedua orang tua itu merasa girang dan puas sekali oleh karena mendapat kenyataan bahwa tiga anak perempuan itu berbakat baik sekali dan ketiganya mempunyai kecerdikan otak yang mengagumkan.

Setelah menginjak usia belasan tahun, mulai kelihatanlah kecantikan mereka. Yang paling mengherankan adalah persamaan antara Siang Lan dan Hwe Lan. Makin besar, persamaan itu mkin sukar dibedakan, dan karena tubuh Hwe Lan sama tingginya, maka dua anak perempuan ini seakan-akan saudara kembar. Apabila mereka mengenakan pakaian serupa, sukarlah bagi Thian Hwa Nikouw, terutama Yap Sian Houw, untuk membedakan mana Siang Lan dan mana Hwe Lan.

Keduanya memang sebentuk, serupa benar rambut yang hitam tebal dengna beberapa ikal rambut berjuntai di atas alis itu, sepasang mata yang bening tajam dan membayangkan kecerdikan, hidung yang kecil mancung dan bibir yang merah tipis, yang luar biasa manis kalau tersenyum, akan tetapi yang ditarik membayangkan kekerasan hati dan kemauan. Wajah serupa, tubuh sebentuk pendeknya, sukarlah membedakan mana kakak mana adik.

Sungguhpun amat besar persamaan wajah dan bentuk tubuh mereka, sebesar itulah perbedaan antara watak mereka. Siang Lan berwatak pendiam, tak suka banyak bicara, halus dan lembut tutur katanya, lemah lembut gerak geriknya dan ia penyabar benar. Semenjak kecil sudah nampak sifat-sifatnya ini dan selain itu, Siang Lan memiliki pertimbangan yang masak dan pandangan yang mendalam. Oleh karena inilah maka kedua adiknya amat tunduk kepadanya dan biarpun ia selalu mengeluarkan kata-kata dengan halus lembut penuh kasih sayang, namun kedua adiknya itu tak pernah berani membantahnya.

Post a Comment