“Kau... kau sakitkah? Punggungmu penuh darah... tentu kau sakit sekali! Baiklah! Aku akan membunuh Lee Song Kang.” Anak yang telah menderita ketakutan dan kekagetan hebat ini tiba-tiba merasa amat kasihan kepada orang yang melepaskan ikatan dia dan kedua adiknya tadi.
Pada saat itu, dari jauh berkelebat bayangan putih yang gesit sekali gerakannya dan tahu-tahu seorang laki- laki berusia empat puluh tahun lebih telah berdiri di tempat itu.
“Nyo Hun Tiong...!” laki-laki itu berseru terkejut sekali dan berlutut di dekat tubuh Nyo Hun Tiong yang tak bergerak. Ia memeriksa nadi tangan dan ketika melihat anak panah yang menancap di punggung itu, ia menggelengkan kepalanya. Ia lalu menggigit bibirnya dan mencabut keluar anak panah itu. Akan tetapi, ternyata bahwa dari luka itu tidak keluar darah, karena darahnya telah mengering. Kembali orang itu menggelengkan kepalanya, lalu mengeluarkan guci arak di dalam saku bajunya dan memberi minum mulut Nyo Hun Tiong yang kini dipangku kepalanya.
Nyo Hun Tiong siuman kembali dan menggerakkan bibirnya perlahan. “Hong-ji... kau harus bunuh... Lee Song Kang...”
“Nyo Hun Tiong...!” laki-laki setengah tua itu memanggil perlahan dan Nyo Hun Tiong membuka matanya memandang. “Yap-supek...!” Nyo Hun Tiong berbisik dan suaranya telah terdengar kosong.
“Siapa yang melakukan hal ini?” tanya Yap Sian Houw, atau supek (uwa guru) dari Nyo Hun Tiong itu.
“Siapa lagi...? Lee Song Kang... yang telah membunuh anak isteriku... membunuh pula banyak kawan-kawan... aha...” Yap Sian Houw memandang ke arah tiga anak itu dengan heran. “Anak ini siapakah?”
Nyo Hun Tiong mengerling ke arah mereka. Kini ia telah sadar dan tidak melihat anak-anak itu sebagai anaknya sendiri, akan tetapi nafsu untuk membunuhnya telah lenyap bersama dengan semangatnya, ia merasa lemah... lemah sekali jasmani dan rohani.
“Mereka ini...?” tiba-tiba Nyo Hun Tiong menggerakkan kedua bola matanya dengan aneh sehingga Yap Sian Houw memandang gelisah. Pergerakan mata seperti ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah berubah ingatannya. “Ha-ha-ha!” Nyo Hun Tiong tertawa geli, “Mereka ini juga korban-korban dari keganasan Lee- ciangkun, bangsat rendah itu! Mereka ini anak seorang anggota pasukanku, dan tentu akan mampus di tangan bangsat Lee kalau aku tidak segera menolongnya... Yap-supek, terimalah permohonan teecu yang penghabisan! Tolonglah supek didik anak-anak ini, beri pelajaran ilmu silat tinggi agar kelak dapat membalaskan sakit hatiku dan sakit hati orang tua mereka, agar mereka dapat membunuh mampus bangsat she Lee itu...!” setelah berkata demikian Nyo Hun Tiong tiba-tiba menangis tersedu-sedu dan jatuh pingsan lagi!
Tiga orang anak kecil itu mendengar suara orang menangis, ikut pula menangis, bahkan yang terbesar berkata, “Akan kubunuh bangsat she Lee itu...!”
Yap Sian Houw menggeleng-geleng kepalanya melihat keadaan ini dan betapapun ia berusaha, kali ini Nyo Hun Tiong pingsan dan tak dapat siuman kembali karena ia telah menghembuskan napas terakhir!
Setelah mendapat kenyataan bahwa Nyo Hun Tiong telah mati, Yap Sian Houw lalu menggali lubang tanah, di bawah sebatang pohon pek, lalu ia mengubur jenazah Nyo Hun Tiong dengan sederhana. Kemudian ia menggunakan pedangnya untuk mencoret-coret beberapa huruf di batang pohon itu dan melihat dari gerak pedangnya yang sekali digerakkan saja sudah dapat mencetak huruf yang indah dan bergaya gagah, dapat diketahui bahwa laki-laki setengah tua ini memiliki tenaga lwee-kang dan kepandaian amat tinggi! Kemudian Yap Sian Houw memandang kepada tiga orang anak kecil itu dan ia merasa suka sekali kepada mereka, anak- anak ini benar-benar mungil dan manis.
“Siapa nama kalian?” tanyanya kepada orang terbesar.
“Namaku Siang Lan,” jawab yang terbesar, lalu menuding kepada adiknya yang hampir sama besarnya dan sama pula mukanya dengan dia. “Dan ini adikku Hwe Lan.”
“Aku Sui Lan!” kata yang terkecil dengan cepat dan cedal sehingga Yap Sian Houw tersenyum geli. Anak-anak ini benar-benar lucu dan harus dikasihani.
“Siapa nama ayahmu dan kalian siapa?” tanyanya pula.
Akan tetapi ketiga orang anak itu saling pandang, agaknya tidak mengerti maksud pertanyaannya. Orang tua itu mengulang pertanyaannya kepada yang terbesar yang mengaku bernama Siang Lan, akan tetapi anak- anak ini benar-benar tidak tahu, hanya menjawab, “Ayahku tinggi besar dan abik sekali. Pakaiannya indah dan pandai bermain-main!”
“Namanya siapa?”
“Namanya...? Namanya... Tia-tia (Ayah)!”
Orang tua itu menggelengkan kepalanya. “Sudahlah, kalau kalian tak tahu nama ayahmu, kau she apa?” Akan tetapi kembali pertanyaan ini sulit dimengerti oleh anak-anak kecil itu yang hanya memandang bodoh. “Lapar...!” tiba-tiba Sui Lan yang berusia dua tahun lebih itu berteriak mulai mewek.
Orang tua itu menjadi bingung dan berkata. “Sabarlah, biar kucarikan makanan di jalan.” “Ayoh kita pergi dari sini!” ia lalu menggendong Sui Lan dan mengajak anak yang lain untuk mulai berjalan, akan tetapi Hwe Lan cemberut dan ebrkata,
“Akupun minta digendong!”
Yap Sian Houw tertawa dan terpaksa ia menggendong Hwe Lan pula yang manja itu. Akan tetapi, biarpun Siang Lan diam saja, dan berusaha untuk berjalan sambil lari-lari agar jangan sampai tertinggal, namun memang bagi Yap Siang Houw sukar sekali untuk berjalan bersama seorang anak-anak yang usianya baru empat tahun lebih. Kalau ia mengajakn anak kecil itu berjalan kaki, sampai kapankah ia akan sampai ke tempat tinggalnya yang jauhnya puluhan li itu?
“Siang Lan mari kau kugendong sekalian!” katanya dan menurunkan Hwe Lan dan Sui Lan.
“Jangan turunkan adikku, biarlah aku berjalan saja, kau gendong mereka!” kata Siang Lan yang menyangka bahwa kedua adiknya akan disuruh berjalan kaki.
Di dalam hatinya, Yap Sian Houw memuji sifat anak ini yang biarpun masih kecil, akan tetapi sudah dapat mengalah dan memiliki watak membela adik-adiknya.
“Aku akan menggendong kalian ketiga-tiganya!” kata Yap Sian Houw dan ia lalu membuat selendang dari ikat pinggangnya yang dikalungkan ke punggung dan kemudian ia menggendong Siang Lan dan Hwe Lan di atas punggungnya, terikat dengan selendangnya itu. Adapun Sui Lan yang terkecil ia pondong dengan tangan kiri, dan dengan cara demikian, pendekar tua itu lalu dapat melakukan perjalanan dengan cepatnya.
“Lopek, apakah kita akan pulang ke rumah ibu?” tiba-tiba Siang Lan bertanya dari belakang pundaknya.
Mendengar pertanyaan Siang Lan ini, kedua adiknya yang tadinya tertawa-tertawa senang karena digendong dan dibawa lari hingga mereka lupa kepada ayah ibu, kini mereka teringat dan mulai menangis.
“Pulang... pulang ke rumah ayah!” Hwe Lan yang menjadi kesayangan ayahnya mulai menjerit-jerit. “Mana ibu...! Aku mau ikut ibu...! Lapar...!” Sui Lan juga memekik-mekik dan menangis.
Bukan main bingung hati Yap Sian Houw melihat keadaan ini. Ia adalah seorang yang tak pernah menikah dan tak pernah punya anak, maka biarpun ia sayang melihat anak-anak kecil ini, ia sama sekali tidak tahu bagaimana caranya menghibur mereka. Tiba-tiba ia teringat akan sahabat baiknya yang tiggal di dalam sebuah kuil tak jauh dari situ yakni Thian Hwa Nikouw yang baik hati itu.
Setelah mengambil keputusan ini, Yap Sian Houw lalu merubah arah perjalanannya ke barat. Biarpun tempat yang ditujunya ini lebih dekat dengan tempat tinggalnya sendiri dan ia mempergunakan ilmu lari cepat Hui- heng-sut (Ilmu Lari Terbang), namun setelah hari menjadi senja, barulah ia tiba di depan kuil tua itu di kaki bukit Liong-cu-san. Di tengah jalan ia memetik buah-buahan untuk memberi makan kepada anak-anak itu.
Kedatangan Yap Sian Houw disambut oleh seorang nikouw (pertapa wanita pemeluk agama Buddha) gundul yang usianya lima puluh tahun lebih. Nikouw ini memandang heran melihat kedatangan sahabatnya yang membawa tiga orang ank perempuan kecil.
“Eh, Yap-enghiong, siapakah anak-anak yang mungil dan manis ini? Apakah muridmu?”
“Memang muridku, karena mau tidak mau aku harus menerima mereka ini sebagai murid. Akan tetapi, terus terang saja, Suthai, kalau kau tidak mau membantuku merawat dan mendidik anak-anak ini, rasanya aku takkan sanggup!”
“Mengapa begitu?” tanya nikouw itu. Makin keraslah tangisnya dan kini Hwe Lan yang melihat adiknya menangis keras lalu mulai ikut-ikutan menangis pula. Siang Lan yang terbesar lalu memeluk kedua adiknya dan juga menangis, sungguhpun tangisnya berbeda dengan tangis kedua adiknya, karena anak ini menangis dengna perlahan dan hanya air matanya yang mengucur deras, berbeda dengan kedua adiknya yang seakan- akan saling berlomba tak mau kalah keras tangisnya. “Nah, inilah yang menjadi sebab mengapa aku tidak sanggup!” kata Yap Sian Houw sambil menggeleng- gelengkan kepalanya. Thian Hwa Nikouw tersenyum, lalu ia pondong Hwe Lan dan Sui Lan, dibawa masuk dan Siang Lan digandengnya, dibujuk-bujuk dan ia mengambil klenengan kecil dari meja sembahyang, dibunyikan dan diberikan kepada dua orang anak itu yang segera menjadi diam karena tertarik dan suka hatinya.
“Dan ini pula sebabnya maka terpaksa aku mohon kebaikanmu untuk membantuku mendidik anak-anak ini, Thian Hwa Suthai!” kata Yap Sian Houw pula setelah nikouw itu keluar lagi dengan tiga orang anak perempuan yang sekarang telah diam itu. Sui Lan bermain klenengan kecil, Hwe Lan mendapat tambur kecil, dan Siang Lan diberi setangkai bunga merah yang dibuat dari kain merah. Selain itu ketiga orang anak itu masing-masing memegang sepotong roti pemberian nikouw itu.
Thian Hwa Nikouw tersenyum. “Yap-enghiong, bisa saja kau mengganggu ketenteraman hidupku. Akan tetapi, ini bukan berarti aku menolak permintaanmu. Tidak, bahkan aku menerima dengan senang sekali. Pinni (Aku) merasa seakan-akan cahaya matahari yang mulai surut itu bertambah hangat dan bercahaya. Anak-anak ini akan kupelihara baik-baik dan akan menghibur jiwaku. Aku suka menerima mereka, Yap-enghiong. Akan tetapi mereka ini anak-anak siapa dan bagaimana mereka kaubawa ke sini?”