Di antara cabang persilatan yang besar dan terkenal, Siauw-lim-pai memiliki nama besar dan nama ini amat disegani oleh cabang-cabang persilatan lain, tidak saja kerena ilmu silat Siauw-lim-pai memang tinggi tingkatnya, akan tetapi, terutama sekali oleh karena Siauw-lim-pai terkenal sebagai cabang persilatan yang dipimpin oleh orang-orang berjiwa patriot dan gagah berani.
Hal ini terbukti dari usaha perjuangan para anak murid dan tokoh-tokoh Siauw-lim-pai untuk menumbangkan kekuasaan Kerajaan Ceng-tiauw (penjajah dari utara) dan membangun kembali Kerajaan Beng-tiauw. Dan selain ini, banyak pula anak murid Siauw-lim-pai mengembara di seluruh daratan Tionglok untuk melakukan darma baktinya kepada rakyat, membela pihak yang tertindas dan menghancurkan petualangan-petualangan jahat yang mengganggu keamanan kehidupan rakyat jelata.
Pada jaman dinasti Ceng-tiauw, tidak ada penjahat yang lebih kejam dan jahat daripada pembesar negeri. Mereka ini merupakan pengkhianat-pengkhianat bangsa, menjadi hamba kerajaan penjajah dan menggunakan kekuasaan kedudukannya untuk melakukan pemerasan dan penindasan kepada para petani, bangsa mereka sendiri. Pembesar-pembesar macam inilah yang oleh rakyat miskin disebut srigala bertopeng kulit domba. Di luarnya saja ia menjadi seorang pembesar yang berkedudukan tinggi, bersopan santun seperti seorang pelajar, halus tutur sapanya, lemah lembut gerak-geriknya dan pakaiannya indah-indah. Padahal di dalamnya bersembunyi jiwa jahat yang amat kejam, yang dapat melihat orang mati kelaparan sambil menikmati hidangan lezat. Orang-orang yang melakukan pemerasan kepada para petani dengan menggunakan segala macam peraturan dan pajak sebagai kedok kejahatan mereka.
Tokoh-tokoh Siauw-lim-pai paling benci terhadap pembesar-pembesr macam ini, maka banyak pembesar jahat yang dibunuh atau dilukai, diancam bahkan dirampas harta bendanya oleh para pendekar Siauw-lim-pai. Hal ini tentu saja membuat Siauw-lim-pai dibenci oleh para pembesar dan dianggap sebagai sebuah cabang persilatan yang berbahaya sekali bagi keselamatan kedudukan mereka. Mulailah mereka menggosok-gosok atasan mereka sampai kepada Kaisar, mengusulkan agar cabang persilatan Siauw-lim-pai ini dibasmi saja, karena ada gejala-gejala bahwa Siauw-lim-pai hendak memberontak! Memang pada waktu itu, kata-kata memberontak itu merupakan senjata yang paling ampuh untuk menjatuhkan seorang atau suatu perkumpulan.
Namun, para pembesar tinggi sampai kepada Kaisar sendiri, tidak berani sembarangan mengganggu Siauw- lim-pai yang pada saat itu merupakan perkumpulan silat yang amat kuat dan besar. Di mana-mana telah dibuka perkumpulan ini, merupakan kuil Siauw-lim-si di mana terdapat banyak sekali pemuda-pemuda mempelajari ilmu silat tinggi.
Cabang-cabang persilatan yang lain seperti Bu-tong-pai, Go-bi-pai, Kun-lun-pai dan lain-lain memang telah lama iri hati melihat kejayaan Siauw-lim-pai dan sering kali terjadi bentrokan yang timbul karena anak murid masing-masing tak mau saling mengalah. Maka, biarpun tokoh-tokohnya tidak ikut dalam pertikaian ini, setidaknya di dalam hati mereka telah timbul perasaan tidak enak dan bermusuhan. Kini mendengar betapa Siauw-lim-pai mulai dibenci oleh kalangan pembesar di kota raja, cabang-cabang persilatan yang lain itu bersikap masa bodoh terhadap penjajahan bangasa Boan di tanah air mereka.
Kaisar dan para pembaesar yang merasa sangsi untuk mengganggu Siauw-lim-pai, lalu menggunakan akal dan muslihat yang amat licin, yakni mereka lalu mencari hubungan dengan cabang persilatan lain dan meminjam tangan mereka untuk memukul Siauw-lim-pai. Dengan siasat Kaisar, cabang-cabang persilatan itu dihasut dan diadu dombakan dengan Siauw-lim-pai! Maka terjadilah pertempuran hebat yang menjalar kepada tokoh-tokoh besar masing-masing. Padahal, ketua dari berbagai cabang persilatan itu sesungguhnya masih saudara seperguruan sendiri, misalnya Ketua Siauw-lim-pai di Hok-kian yang bernama Cie Sian Siansu dengan ketua-ketua dari Bu-tong-pai dan Go-bi-pai pada waktu itu. Ketua Bu-tong-pai yang berkedudukan di Ouw-pak bernama Pang To Tek, sedangkan ketua Go-bi-pai di Su-coan bernama Pek Bi Tojin. Tiga tokoh yang amat terkenal ini masih saudara seperguruan, karena mereka pernah belajar silat di bawah pimpinan Seng Liong Tianglo. Dengan adanya permusuhan dan pertempuran antara cabang persilatan ini, lemahlah kedudukan Siauw-lim- pai sehingga akhirnya, Kaisar dan kaki tangannya berhasil juga menghancurkan Siauw-lim-pai dan membakar Kuil Siauw-lim-si yang besar dan megah. Tokoh-tokoh Siauw-lim-pai selain banyak yang tewas, juga sebagian besar lalu melarikan diri tersebar di mana-mana mencari tempat persembunyian masing-masing. Semenjak itu, orang tidak mendengar lagi adanya anak murid Siauw-lim-pai, karena para tokoh yang berhasil melarikan diri itu, bersembunyi di gunung-gunung, di tempat sunyi, dan yang berada di dunia ramai tidak menyatakana diri sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai! Akan tetapi semangat mereka tak pernah padam, dan para pendekat Siauw-lim-pai ini, biarpun tidak kuat menentang Kaisar, masih tetap melakukan darma baktinya terhadap rakyat dengan jalan menolong mereka dan membasmi kejahatan-kejahatan setempat dengan mempergunakan kepandaian mereka yang tinggi.
Kaisar sendiri maklum bahwa biarpun Kuil Siauw-lim-si telah dibakar, akan tetapi bahaya dari pihak mereka masih belum lenyap, bahkan Kaisar asing ini yang sangat cerdik selalu mencurigai perkumpulan silat, maka dengan menggunakan pengaruh uang, Kaisar mulai menarik tenaga para ahli silat yang diberi kedudukan tinggi untuk menjaga keselamatan Kaisar dan istana. Banyak orang-orang gagah dapat dibujuk dan diberi pangkat. Mereka ini dikumpulkan di kota raja dan terbentuklah barisan-barisan pengawal Kaisar seperti Kim-i- wi (Pasukan Pengawal Kaisar Berpakaian Sulam Emas) dan lain-lain.
Namun, biarpun kedudukan Kaisar di kota raja amat kuat, para orang gagah yang masih bercita-cita menumbangkan kedudukannya, benar-benar tak kenal takut! Apalagi anak murid Siauw-lim-pai yang masih muda-muda dan berdarah panas. Mereka merasa sakit hati sekali kepada Kaisar ini dan berkali-kali, sambil mengerahkan tenaga para rakyat petani, mereka datang menyerbu dan memberontak di kota raja, membunuh banyak pembesar tinggi, akan tetapi akhirnya mereka sendiri terbunuh oleh para busu (Pahlawan Kaisar) yang gagah perkasa.
Cerita ini dimulai dengan penyerbuan pemberontak yang terdiri dari para petani di bawah pimpinan pendekar muda itu di kota raja.
Para pemberontak yang terdiri dari seratus orang lebih, menyerbu ke dalam kota raja dan di waktu malam gelap itu, terjadilah pertempuran yang hebat sekali. Banyak gedung pembesar tinggi dibakar oleh para pemberontak itu sehingga kota raja menjadi geger dan gaduh.
Setelah para perwira istana keluar memimpin pasukan penjaga barulah para pemberontak dapat dipukul mundur, meninggalkan kawan mereka yang luka atau tewas. Pasukan penjaga mengejar mereka dan pertempuran itu terjadi lagi di luat tembok kota. Karena ternyata bahwa para pemberontak itu dipimpin oleh orang-orang yang berkepandaian tinggi, maka korban yang jatuh di pihak pengejar banyak juga.
Di antara pemberontak ini terdapat seorang laki-laki tinggi besar yang gagah sekali kalau kawannya bertempur melawan pengejar, ia sendiri bahkan melarikan diri dari situ di atas seekor kuda sambil membawa lari tiga anak kecil yang diikat menjadi satu dan ditaruh di atas kudanya. Anak-anak itu menangis, akan tetapi mereka tidak berdaya dan sebentar saja kuda dan laki-laki itu telah lenyap ditelan malam gelap. Pemimpin pasukan pengejar, seorang perwira tinggi besar dan bersenjata golok, segera mengejar pula dengna cepat. Akan tetapi kuda yang ditunggangi oleh orang yang dikejarnya itu lebih baik dan lebih cepat larinya sehingga sukar baginya untuk menyusul.
“Hun Tiong, kau tidak mau mengembalikan anak-anakku?” teriak perwira itu dengan marah sambil mengeluarkan gendewa dan anak panahnya.
“Kembalikan?” teriak laki-laki itu tanpa menoleh. “Aku akan penggal kepala mereka di depan anak isteriku! Ha- ha-ha...!” dan ia lalu membalapkan kudanya makin cepat.
Perwira itu mementang gendewannya dan “Ser! Ser! Ser!” tiga batang anak panah meluncur cepat menuju ke arah punggung orang itu. Laki-laki itu tangan kirinya memeluk tiga orang anak tawanannya, dengan tangan memegang kendali kuda, sedangkan tangan kanannya memegang sebatang pedang. Ia sabetkan pedangnya ke belakang ketika mendengar suara anak panah, akan tetapi anak panah itu lihai dan cepat sekali. Ia berhasil menangkis dan meruntuhkan dua batang, akan tetapi yang ketiga dengan cepat menancap pada punggungnya. “Aduh...!” laki-laki itu menegluh, akan tetapi ia menggigit bibir menahan sakit dan cepat membalapkan kudanya maju ke depan.
“Hun Tiong...! Berhenti...!” terdengar seruan perwira itu, akan tetapi oleh karena malam itu gelap dan laki-laki itu kini telah masuk ke dalam sebuah hutan, perwira tadi tak dapat mengejarnya lagi dan segera kehilangan musuhnya. Ia mencari-cari sampai fajar, berputar-putar di dalam hutan itu, akan tetapi hasilnya nihil. Pada keesokan harinya, perwira itu terpaksa menjalankan kudanya menuju ke kota raja kembali dengan kepala ditundukkan dan wajahnya pucat sekali.