Halo!

Suling Emas Chapter 96

Memuat...

Kim-mo Taisu memandang muridnya dengan mata berseri-seri akan tetapi diam-diam dia merasa malu kepada diri sendiri bahwa ia harus bicara secara berputar-putar dan seakan-akan ia menipu muridnya ini yang tidak mau belajar ilmu silat! Ia melihat betapa muridnya memandangnya penuh perhatian, sinar matanya memancarkan kepercayaan dan ketaatan yang tulus. Terharu hati Kim-mo Taisu. Bocah ini hebat, memiliki bakat yang baik sekali disamping watak yang keras dan bersih. Entah apa sebabnya, mungkin pandang mata itulah, yang membuat Kim-mo Taisu benar-benar tertarik dan jatuh sayang kepada anak ini. Ia merangkul pundak muridnya dan berkata halus.

"Bu Song, kau mengasolah. Kau tentu lapar, bukan? Nah, coba kau mencari makanan seperti yang kau lakukan ketika kau mendaki bukit ini selama tiga hari tiga malam."

"Baiklah, Suhu."

Bu Song lalu memasuki hutan di sebelah kiri, menyusup-nyusup sampai jauh dan akhirnya dengan hati girang ia mendapatkan sebuah pohon apel yang buahnya banyak yang sudah tua dan matang.

Segera ia memanjat pohon itu dan memetik banyak buah apel yang kulitnya kuning kemerahan dan baunya sedap mengharum itu. Buah-buahan itu ia masukkan kedalam kantung uang sampai penuh. Tiba-tiba telinganya mendengar bunyi kelenengan kuda, nyaring sekali bunyi itu, bergema diantara pohon-pohon. Suara yang menyelinap kedalam telinganya seakan-akan berubah menjadi jarum-jarum yang menusuk telinga dan masuk merayap melalui urat-uratnya, membuat Bu Song menggigil dan tak dapat pula ia mempertahankan diri, buah-buah berikut pundi-pundi uang terlepas jatuh disusul tubuhnya jatuh pula dari atas pohon! Untung baginya, Pohon itu tidak terlalu tinggi, juga ketika ia terjatuh, tubuhnya tertahan oleh cabang dan dahan di sebelah bawah sehingga ketika ia terbanting keatas tanah, Bu Song hanya merasa pinggul dan bahu kirinya saja yang agak sakit.

Begitu ia melompat bangun lagi, suara itu masih terngiang ditelinganya, membuat kepalanya pening dan tubuhnya sakit-sakit. Betapapun ia menahan dan menutupi telingan dengan kedua tangan, tetap saja suara itu menembus masuk. Saking sakitnya, serasa seperti jantungnya ditusuk-tusuk jarum, Bu Song bergulingan diatas tanah, merintih-rintih. Ingin ia melompat dan lari ketempat suhunya, namun suara kelenengan itu makin keras dan kini ia sudah bangkit berdiri lagi. Tiba-tiba ia teringat akan nasihat suhunya.

"Kalau kau berhasil menunggang naga, apa pun didunia ini tidak akan mampu mengganggu badan dan pikiranmu."

Menunggang naga adalah istilah untuk duduk memusatkan perhatian kepada masuk keluarnya hawa pernapasan.

Teringat akan ini, cepat-cepat Bu Song mengerahkan tenaganya untuk duduk bersila, kemudian mengerahkan pula segenap tekad dan kemauannya untuk menarik semua panca indera, terutama pendengarannya, menjadi satu dan memaksa diri "menunggang naga"

Seperti yang pernah ia latih dibawah petunjuk suhunya. Sebentar saja anak yang bertekad membaja ini telah berhasil "tenggelam"

Kedalam keadaan diam, tekun menunggang naga pernapasannya sendiri sehingga lupa pula akan suara kelenengan yang mempunyai daya mujijat tadi! Suara kelenengan masih terdengar nyaring, akan tetapi kini seakan-akan hanya lewat diluar daun telinganya saja, tidak mampu masuk karena telinga itu telah ditinggalkan "penumpangnya"

Atau penjaganya yang sedang seenaknya menunggang naga!

Setelah lama suara kelenengan itu tidak berbunyi lagi, baru Bu Song sadar bahwa telinganya tidak menghadapi bahaya suara mujijat itu, maka ia lalu melompat bangun, mengumpulkan buah-buah yang berceceran dan membungkusnya didalam pundi-pundi uang. Kemudian ia lari menuju ketempat suhunya. Bunyi kelenengan yang tadi terdengar oleh Bu Song keluar dari sebuah kelenengan kecil yang dibunyikan oleh tangan seorang kakek tinggi besar. Kakek ini menunggang keledai kecil sehingga kelihatannya lucu sekali. Kedua kakinya yang panjang tergantung dikanan kiri perut keledai hampir menyentuh tanah. Namun keledai kecil itu ternyata mampu berjalan cepat dan pandai pula mendaki bukit.

Sambil membunyikan kelenengan, kakek ini melenggut diatas punggung keledai, hiasan bulu diatas kain kepalanya mengangguk-angguk dan jubahnya yang panjang lebar itu melambai-lambai tertiup angin gunung. Ketika keledai itu tiba didepan Kim-mo Taisu yang masih duduk bersila dibawah pohon, kakek itu mengeluarkan seruan tertahan dan keledainya berhenti. Ia lalu melompat turun dan sengaja membunyikan kelenengannya didepan Kim-mo Taisu sambil mengerahkan tenaganya. Terheran-heran kakek itu melihat betapa orang yang duduk bersila itu masih saja duduk, sama sekali tidak bergeming biarpun bunyi kelenengan itu sebetulnya dapat merobohkan lawan tangguh! Tiba-tiba Kim-mo Taisu membuka matanya memandang kakek itu lalu tertawa bergelak,

"Ha-ha-ha! Makin tua kau makin ugal-ugalan saja, Pat-jiu Sin-ong!"

Kakek itu terbelalak kaget. Kelenengannya terhenti dan ia membungkuk untuk memandang lebih teliti orang yang duduk bersila itu. Seorang berusia tiga puluhan, tubuhnya tegap rambutnya riap-riapan mukanya terselimut awan kedukaan, pakaiannya tambal-tambalan dan kakinya telanjang.

"Kau mengenal aku?"

"Beng-kauwcu, apakah usia tua sudah membuat kau menjadi lamur sehingga tidak mengenal lagi bekas calon mantumu? Ha-ha-ha!"

Kim-mo Taisu melompat berdiri.

"Hehh....?? Kau... kau... Kim-mo-eng Kwee Seng...!"

Kakek itu menjelajahi tubuh Kim-mo Taisu dari kepala sampai kekaki dengan pandang mata tidak percaya.

"Cukup Kim-mo Taisu saja, Kauwcu."

"Aha! Jadi kaulah Kim-mo Taisu....?"

Kakek itu lalu merangkul pundak dan tertawa bergelak-gelak.

"Siapa akan mengira...! Dahulu kau seorang sastrawan tampan, sekarang... sekarang..."

"Seorang jembel busuk!"

"Ha-ha-ha! Alangkah akan girang hatiku kalau melihat anakku berpakaian jembel duduk disampingmu bersiulian dibawah pohon! Ahhh, sayang tidak demikian jadinya. Eh, Kwee Seng, menyesal sekali dahulu ada penjahat secara menggelap menyerangmu sehingga kau jatuh kedalam jurang. Sungguh mati, kukira kau sudah hancur di dasar jurang."

"Sebaiknya begitu, sayang nyawaku belum mau meninggalkan tubuh yang buruk nasib ini, masih ingin membiarkan tubuh ini menderita. Pat-jiu Sin-ong, bagaimana kau bisa sampai di sini?"

Kakek itu menarik napas panjang.

"Semua gara-gara Lu Sian, anak durhaka itu. Eh, apakah kau tidak pernah bertemu dengannya?"

Kim-mo Taisu menggeleng kepala, didalam hatinya ia enggan bicara tentang bekas kekasihnya itu.

"Dia sudah pergi meninggalkan suaminya, Jenderal Kam Si Ek! Ahhh, alangkah untungnya kau. Kalau dia menjadi isterimu, agaknya kau pun akan makan hati seperti aku yang menjadi ayahnya. Dia pulang menceritakan bahwa dia meninggalkan suaminya, ketika aku marah-marah kepadanya, ia malah minggat sambil mencuri kitab-kitabku. Benar-benar anak durhaka dia! Aku mencarinya sampai berbulan-bulan. Kau benar-benar beruntung dapat terlepas daripadanya."

Tiba-tiba Kim-mo Taisu tertawa bergelak sambil memandang awan.

"Ha-ha-ha! Pat-jiu Sin-ong, kau bilang aku bahagia karena terlepas daripadanya, bukankah kau juga sudah terlepas daripadanya? Bukankah dengan demikian kita sama-sama menjadi orang bahagia?"

Suara ketawa Kim-mo Taisu bergema di seluruh hutan dan didalam hatinya, kakek itu terharu karena ia mampu menangkap tangis hati yang terkandung dalam suara tawa itu. Maka ia pun tertawa dan berkata.

"Kau benar! Kita harus rayakan ini! Dua orang laki-laki, muda dan tua, tunangan dan ayah, terbebas dari rongrongan seorang wanita siluman! Ha-ha-ha! Kita harus rayakan ini, tunggu... aku membawa arak baik!"

Kakek itu lari kearah keledainya yang makan rumput tak jauh dari situ, mengambil guci arak dari atas pelana, menuangkan arak kedalam dua buah cawan dan membawanya kembali kepada Kim-mo Taisu. Mereka lalu minum arak bersama sambil berangkulan dan tertawa-tawa. Dua orang aneh didunia kang-ouw bertemu dan kecocokan watak mereka mendatangkan kegembiraan sementara. Saking gembira, mereka tidak melihat bahwa seorang anak laki-laki melihat dan mendengar percakapan mereka. Anak ini Bu Song dan mendengar bahwa kakek itu adalah Pat-jiu Sin-ong, wajahnya berubah. Kiranya orang tua itu adalah kakeknya sendiri!

Tentu saja ia sudah mendengar penuturan kedua orang tuanya tentang kakeknya, Ketua Beng-kauw yang berjuluk Pat-jiu Sin-ong bernama Liu Gan. Dan sekarang kakeknya berada disini, kalau mengenalnya sebagai putera ibunya, tentu akan membawanya ke selatan! Menurutkan kata hatinya Bu Song sudah ingin berlari pergi meninggalkan tempat itu, akan tetapi ia teringat akan gurunya yang lapar, maka ia lalu menurunkan buntalan pundi-pundi uang berikut apel, dengan hati-hati dan perlahan ia meletakkan buntalan itu keatas tanah, kemudian berindap-indap sambil menoleh memandang kedua orang yang masih minum sambil tertawa-tawa, pergi dari tempat itu. Dua butir air mata menghias pipinya ketika ia teringat akan ucapan kakeknya tentang ibunya. Setelah dua orang itu tidak tampak lagi. Bu Song lalu pergi secepatnya. Setelah arak yang diminum habis, Pat-jiu Sin-ong melepaskan rangkulannya, melempar cawan kosong kebawah lalu berkata.

"Kim-mo Taisu, sekarang kau bersiaplah, mari kita mengadu kepandaian!"

Kim-mo Taisu menghela napas, melemparkan cawan kosongnya pula keatas tanah.

"Pat-jiu Sin-ong, apa pula ini? Kau tahu bahwa aku takkan bisa mengalahkanmu, dan pula, aku pun tidak ada nafsu untuk bertempur denganmu. Tidak ada alasan bagiku maupun bagimu untuk saling serang."

"Ha-ha-ha, tidak ada alasan katamu? Akulah yang membuat engkau terjungkal kedalam jurang. Nah, sekarang tiba saatnya kau harus membalas dan aku bersedia melayanimu untuk membayar hutang. Aku yang membuatmu menjadi seperti ini, tak usah kau pura-pura, seorang laki-laki harus berani menghadapi kenyataan!"

Akan tetapi Kim-mo Taisu menggeleng kepala.

Post a Comment