Orang yang berdiri diatas tembok itu sama sekali bukan Kwan Bi kekasihnya! Melainkan seorang laki-laki lain yang berdiri dengan pedang telanjang di tangan dan matanya menyapu ke arah dalam pekarangan! Dari luar tembok melayang naik seorang laki-laki lain yang usianya tiga puluh tahun lebih, dengan gerakan ringan berdiri diatas sebelah laki-laki pertama lalu berkata perlahan.
"Belum kelihatan?"
"Belum, akan tetapi dia tentu akan keluar melalui sini. Mana Liok-sute?"
"Dia menjaga di tembok timur."
"Dan Yap-sute?"
"Sudah dibawa menghadap kedepan. Ah, siapa kira Yap-sute akan sampai hati akan berlaku khianat terhadap perguruan kita. Sayang sekali, kasihan dia yang masih amat muda..."
Dua orang laki-laki itu nampak muram wajahnya dan berkali-kali menarik napas panjang. Dari balik arca itu, Lu Sian menjadi kaget setengah mati. Mendengar percakapan mereka, agaknya perbuatan Yap Kwan Bi menyelundupkannya masuk telah diketahui dan kini Yap Kwan Bi telah ditawan oleh saudaranya sendiri! Tentu saja Lu Sian tidak takut. Ia sudah ingin menerjang naik keatas mempergunakan kekerasan melawan para penghadangnya. Akan tetapi ia segera teringat akan Yap Kwan Bi. Pemuda itu dihadapkan didepan, tentu dihadapkan pada para hwesio pimpinan. Tak mungkin ia mendiamkan saja. Ia harus menolong kekasihnya yang tertawan karena dia!
Dengan pikiran ini, Lu Sian lalu menyelinap diantara bangunan-bangunan itu menuju kesebelah dalam, menuju ke depan! Karena maklum bahwa ia berada ditempat berbahaya sekali, ia bersiap-siap dan waspada. Akan tetapi, diruangan belakang kuil besar yang menjadi bangunan utama itu tetap sunyi sekali. Setelah ia mendekati ruangan tengah, barulah mulai terdengar suara berisik dari para hwesio yang berdoa. Asap hio menyambutnya ketika Lu Sian memasuki lorong yang menghubungkan ruangan belakang dengan ruangan tengah yang menjadi tempat sembahyang. Dari dalam lorong sudah tampak punggung sebuah arca Buddha yang amat besar. Berdebar jantung Lu Sian. Betapapun tabahnya, ia merasa ngeri juga kalau memikirkan bahwa ia akan berhadapan dengan para tokoh Siauw-lim-pai yang merupakan tokoh-tokoh nomor satu dalam dunia persilatan!
Hampir saja ia kembali lagi dan nekat menerjang keluar melalui tembok belakang yang hanya terjaga oleh murid-murid Siauw-lim-pai bukan pendeta. Akan tetapi kalau mengingat akan nasib Yap Kwan Bi, ia membatalkan niat ini dan melanjutkan langkahnya berindap-indap menuju ke depan. Ia terlindung dan tertutup oleh arca besar itu, tidak tampak oleh para hwesio yang berlutut di depan arca dan berdoa beramai-ramai. Lu Sian mencabut pedangnya sambil bersembunyi, agak gelap. Lu Sian memegang pedang dan mengintai dengan hati-hati sekali. Tidak kurang dari lima puluh orang hwesio berlutut dan berdoa. Paling depan tampak seorang whesio yang amat tua, dengan wajah tekun berlutut dan berdoa, matanya dipejamkan. Melihat usianya, Lu Sian dapat menduga bahwa kakek ini tentulah ketua Siauw-lim-pai, yaitu Kian Hi Hosiang. Disebelah belakang kakek ini berlutut dua orang hwesio berusia lima puluh tahu lebih.
Yang sebelah kanan berwajah keras dan berwibawa, dia menduga tentu Cheng Han Hwesio. Sebelah kiri dibelakang kakek itu tentulah Cheng Hie Hwesio yang wajahnya halus tanpa kumis jenggot. Sejenak Lu Sian meragu. Sulit untuk menerobos keluar melalui pintu depan tanpa diketahui, dan ia sangsi apakah ia akan mampu menerobos diantara sekian banyak tokoh hwesio Siauw-lim-pai yang tersohor sakti. Kemudian ia teringat akan cerita ayahnya tentang para hwesio Siauw-lim-si. Selain terkenal sakti, juga para hwesio Siauw-lim-si adalah pendeta-pendeta yang tekun dalam agama. Maka ia lalu mengambil
keputusan dan dengan menekan debaran jantungnya, ia menyarungkan pedangnya kemudian muncul keluar dari balik arca dan berjalan dengan langkah tenang, dada dibusungkan, menuju keluar. Tentu saja gerakannya ini tidak terlepas daripada pendengaran para hwesio yang sedang berdoa.
Namun, tepat seperti perhitungan Lu Sian, para hwesio itu tidak mau menunda sembahyang mereka, sungguhpun mereka merasa terkejut, heran dan juga marah sekali. Bagaimana ada seorang wanita muncul dari ruangan dalam kuil? Padahal sebuah diantara larangan yang amat keras dari Kuil Siauw-lim-si dimanapun juga, adalah hadirnya seorang wanita ke pedalaman kuil! Merupakan pantangan keras karena para tokoh hwesio maklum bahwa diantara segala godaan, yang paling mudah menjatuhkan keteguhan batin para pendeta adalah wanita. Akan tetapi deretan anak murid Siauw-lim-pai yang berlutut paling belakang, yaitu golongan murid yang tidak menjadi pendeta, tidaklah setekun para hwesio itu. Melihat munculnya seorang wanita muda cantik berpedang dari balik arca, terkejutlah mereka dan bangkitlah kecurigaan mereka.
Enam orang murid Siauw-lim-pai sudah melompat dengan gerakan ringan, menghadang di pintu tengah antara ruangan tengah dan ruangan depan. Para tamu yang hadir di ruangan depan juga menjadi heboh. Melihat dirinya dihadang, Lu Sian tersenyum dingin. Ingin ia menyerbu keluar, akan tetapi maklum bahwa cara ini bukanlah cara yang bijaksana. Biarlah ia mempergunakan ketajaman lidahnya sebelum terpaksa mengandalkan ketajaman pedangnya, maka ia berhenti melangkah dan menanti, berdiri tegak dan tetap tersenyum dingin. Ia tahu bahwa murid-murid Siauw-lim-pai yang bukan pendeta itu, biarpun masih banyak diantara mereka yang muda-muda, rata-rata memiliki kepandaian tinggi, karena mereka ini pun merupakan murid-murid Kian Hi Hosiang ketua Siauw-lim.
Memang sesungguhnyalah dugaan Lu Sian ini. Diantara anak murid yang bukan pendeta, memang banyak yang langsung menjadi murid Kian Hi Hosiang, bahkan murid-murid bukan pendeta inilah yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi karena mereka ini adalah murid ilmu silat, bukan murid agama. Diantara para hwesio, kiranya hanya dua orang yang menonjol kepandaiannya, yaitu Cheng Han Hwesio dan Cheng Hie Hwesio, sungguhpun mereka itu sejak kecil hanya belajar agama dan kebatinan, dan baru setelah tua mempelajari ilmu silat. Bahkan tiga orang di antara para murid, yang kini berdiri menghadang, yang usianya di antara tiga puluh dan empat puluh tahun, terhitung suheng (kakak seperguruan) Cheng Han dan Cheng Hie Hwesio, sungguhpun kedua orang ini lebih tua usianya. Mengapa demikian? Karena tiga orang ini sudah lebih dulu menjadi murid mempelajari ilmu silat dari Kian Hi Hosiang.
Akan tetapi enam orang murid Siauw-lim-pai itu hanya berdiri menghadang dengan sinar mata tajam, tidak turun tangan karena memang mereka hanya bermaksud mencegah wanita cantik itu keluar dari situ. Mereka tidak akan mengganggu suasana hening dan penuh khidmat dalam upacara sembahyang itu. Akhirnya selesailah pembacaan doa dan para hwesio itu bangkit berdiri. Segera Cheng Han Hwesio yang keras dan jujur itu membentak,
"Wanita dari mana berani mati memasuki kuil kami tanpa ijin?"
Lu Sian menentang pandang mata hwesio itu sambil tersenyum mengejek, tanpa menjawab. Tak sudi ia menjawab. Pertanyaan begitu kasar. Pada saat itu, para tamu yang melihat sembahyangan selesai, banyak yang mendekat untuk melihat peristiwa aneh itu. Tiba-tiba seorang diantara mereka berseru.
"Ah, dia Tok-siauw-kwi...!!"
Mendengar julukan Tok-siauw-kwi (Iblis Cilik Beracun) ini semua orang kaget sekali. Lu Sian dengan tenang mengerling dan melihat dandanan orang itu seperti piauwsu (pengawal) ia dapat menduga bahwa dia itu tentulah ada hubungannya dengan para piauwsu Hong-ma-piauwkiok yang telah menghancurkan pertalian asmara antara dia dengan Tan Hui. Para pendeta mendengar julukan yang biarpun masih baru namun sudah terkenal itu, terkejut. Kian Hi Hosiang sendiri lalu berkata,
"Omitohud...! Kiranya puteri Beng-kauwcu yang sengaja datang membikin geger! Nona, diantara kami kaum pendeta Siauw-lim-pai tidak pernah ada urusan dengan Beng-kauw, bahkan hubungan antara pinceng dan ayahmu, Beng-kauwcu Pat-jiu Sin-ong, tak pernah dikotori oleh permusuhan, mengapa kau hari ini mengganggu upacara sembahyang kami? Mendengar ucapan yang sopan dan sikap yang sabar dari kakek itu, Lu Sian lalu berlagak penuh kehalusan, menjura dengan penuh hormat dan suaranya lemah lembut dan merdu ketika ia menjawab.
"Harap Losuhu sudi memaafkan saya yang lancang. Karena mendengar dari Ayah bahwa Siauw-lim-pai paling benci kepada wanita dan memberi pantangan bahwa lantai pedalaman kuil Siauw-lim-pai tidak boleh diinjak kaki wanita, sekali terinjak kaki wanita akan dicuci dengan abu dapur, maka saya menjadi tertarik dan tidak percaya. Maka, menggunakan kesibukan di Siauw-lim-si ini, saya sengaja mencuri masuk untuk melihat-lihat.
Kiranya tidak ada apa-apanya didalam, yang macam begitu saja melarang terinjak kaki wanita. Sungguh keterlaluan! Akan tetapi, betapapun juga saya mohon maaf kepada Losuhu dan biarlah setelah pulang akan saya ceritakan kepada Ayah bahwa biarpun para pendeta lain di Siauw-lim-si galak-galak dan benci wanita, namun ketuanya amat peramah dan baik hati."
Kian Hi Hosiang tertawa dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Sungguh cocok dengan Ayahnya. Pandai dan keji, baik tangan maupun mulutnya. Sudahlah, Nona cilik, melihat muka Ayahmu dan mengingat bahwa hari ini adalah hari baik, biarlah pinceng menganggap pelanggaran berat ini seperti tidak pernah ada. Kau boleh pergi."
Ia menghela napas panjang.
"Suhu! Ijinkanlah teecu (murid) mengajukan pertanyaan lebih dulu. Munculnya wanita ini sungguh mencurigakan!"
Kian Hi Hosiang mengangguk.
"Boleh, tapi jangan lupa, pinceng telah memberi ampun akan pelanggarannya."
"Pelanggaran memasuki kuil memang telah Suhu beri ampun. Akan tetapi siapa tahu ada pelanggaran lain yang lebih hebat. He, Tok-siauw-kwi, jawablah lebih dulu pertanyaan pinceng sebelum engkau pergi dari sini!"
Lu Sian membalikkan tubuh dan menghadapi hwesio itu dengan senyum mengejek. Panas dadanya mendengar ia disebut Setan Cilik Beracun, sebuah julukan yang diberikan orang kepadanya diluar kehendaknya.
"Heh, setan tua busuk, kalau pertanyaanmu tidak busuk, baru akan kujawab!"
"Kurang ajar, berani kau memaki pinceng?"
Cheng Han Hwesio membentak dan matanya melotot. Lu Sian juga pelototkan matanya.
"Kau menyebut aku Setan Cilik Beracun, aku pun menyebut engkau setan tua busuk, apa bedanya. Bukankah itu berarti antara kita sudah punah, satu-satu?"
Bukan main marahnya Cheng Han Hwesio. Ia adalah seorang diantara murid Siauw-lim-pai yang dipercaya suhunya, bahkan dialah calon ketua kelak, karena sejak saat gurunya mengundurkan diri untuk bertapa, Cheng Han Hwesiolah yang mewakilinya. Karena ini ia senantiasa bersikap penuh wibawa dan sungguh-sungguh, siapa nyana hari ini ia dipermainkan seorang wanita muda, didepan banyak tamu! Kalau ia tidak ingat akan pesan suhunya, tentu ia sudah turun tangan memberi hajaran kepada setan cilik ini!
"Baiklah akan kusebut Nona kepadamu. Nona, tadi Suhu sudah mengampunimu. Akan tetapi, kami tidak percaya engkau akan dapat memasuki pekarangan belakang kuil tanpa diketahui penjaga. Tentu ada yang membantumu masuk. Katakan, siapa dia yang membantumu?"
Diam-diam Lu Sian merasa heran. Para penjaga dibelakang tadi sudah tahu agaknya akan perbuatan Kwan Bi, kenapa kepala gundul ini belum tahu? Ah, tentu saja. Mereka ini tadi sedang sibuk berdoa, tentu hal itu belum dilaporkan. Ia tersenyum lebar dan menjawab,
"Losuhu, kuil ini adalah kuilmu, yang menjaga adalah penjagamu, bagaimana aku bisa tahu akan kelalaian penjagamu? Tentang bagaimana caranya aku masuk kepekarangan belakang, ah, itu kewajibanmu untuk mencari tahu dan menyelidik. Sudah, aku mau pergi."
"Nanti dulu!"
Bentak Cheng Han Hwesio, suaranya mengguntur.
"Eh, hwesio tua, kau mau apa?"
Lu Sian menoleh ke arah Kian Hi Hosiang dan berkata.
"Losuhu yang mulia, muridmu yang satu ini benar-benar tak patut. Terpaksa saya berlaku kurang hormat kepadanya!"
"Cheng Han, mengapa menahan dia? Lebih baik lekas-lekas suruh dia pergi."
Hwesio tua itu mengomel dan diam-diam ia mencela muridnya yang hanya mencari perkara saja menghadapi wanita ini. Didepan begini banyak orang, wanita berandalan ini tentu dapat membuat para hwesio Siauw-lim-si menjadi buah tertawaan orang banyak.
"Suhu,"
Cheng Han Hwesio memberi hormat kepada gurunya.
"dia baru saja berkeliaran di dalam kuil, siapa tahu dia mengambil sesuatu?"