Halo!

Suling Emas Chapter 111

Memuat...

"Aih kiranya Nona seorang pendekar yang lihai!"

Nikouw itu mengangkat kedua tangan didepan dada. Lu Sian cepat-cepat membalas, menjura dan berkata,

"Sudah lama mendengar nama besar Suthai dan setelah bertemu muka, ternyata membuat aku yang muda kagum dan heran luar biasa."

"Omitohud...! Pinni hanya seorang nikouw yang lemah, kepandaian apa sih yang patut dikagumi? Dahulu pinni terlalu malas berlatih silat sehingga dari ilmu silat Siauw-lim-pai yang maha hebat itu, tidak ada seperseratus bagian yang dapat pinni miliki."

"Melawan usia tua dan berhasil merupakan kepandaian yang paling hebat di dunia ini, yang akan menjadi kebanggaan kaum wanita,"

Kata Lu Sian.

"Aihh, agaknya si bocah nakal Kwan Bi ini yang membocorkan rahasia, ya? Ah, Nona apa sih artinya awet muda bagi seorang pendeta macam pinni? Pinni memang mempelajari ilmu dan pengobatan untuk melawan usia tua, akan tetapi sekali-kali bukan menghendaki awet mudanya, melainkan menghendaki kesegarannya agar jangan terlalu mudah diganggu penyakit!"

Setelah bercakap-cakap sebentar, Lu Sian minta diri, lalu pergi bersama Yap Kwan Bi. Kemanakah mereka pergi? Kembali ke rumah penginapan? Sama sekali tidak. Dua orang muda hamba nafsu ini menyerah bulat-bulat kepada nafsu mereka sendiri, dan semalam itu mereka bersenang-senang, bersenda gurau dan bermabok-mabokan dibuai nafsu, didekat telaga dalam hutan. Yap Kwan Bi adalah seorang pemuda yang sama sekali belum ada pengalaman. Tentu saja bertemu seorang wanita seperti Lu Sian, dia benar-benar jatuh. Kwan Bi dimabok nafsunya sendiri yang baginya sama sekali bukan merupakan nafsu, melainkan berubah menjadi cinta kasih murni, cinta kasih yang tidak hanya terbatas pada darah daging, melainkan menjiwa.

Cinta kasih suci murni! Sama sekali ia tidak tahu bahwa ia menjadi permainan nafsu belaka, tidak tahu bahwa perbuatannya itu sudah termasuk perbuatan maksiat, perjinaan yang sama sekali tidak patut dilakukan oleh seorang yang menghargai tata susila dan kesopanan, lebih tidak patut dilakukan oleh seorang pendekar atau satria. Bagi Lu Sian, dia memang sudah tidak peduli lagi! Kalau ia menyukai seorang pria, siapapun juga dia, harus dia dapatkan. Bukan untuk dicinta selamanya, melainkan untuk menghibur hatinya, dan untuk dipermainkan atau dipatahkan cintanya kemudian! Lu Sian tidak percaya lagi kepada cinta kasih murni, ia hanya mau tunduk kepada cinta nafsu, hanya untuk sementara waktu saja. Ia tidak mau lagi ditundukkan cinta, sebaliknya ialah yang akan mempermainkan cinta kasih orang!

Dua hari kemudian, tepat seperti yang diceritakan oleh Kwan Bi kepada Lu Sian, di Siauw-lim-si yang besar diadakan upacara sembahyangan. Para tamu yang datang dari segenap penjuru di sekitar wilayah itu, terdiri dari bermacam golongan. Nama Siauw-lim-pai sudah amat terkenal sehingga banyak tokoh kang-ouw memerlukan datang pula. Sembahyangan itu diadakan untuk merayakan hari lahir Ketua Siauw-lim-pai yang keseratus tahunnya! Kian Hi Hosiang, Ketua Siauw Lim Pai, sudah amat tua dan pikun, namun masih dihormat dan dicinta oleh semua anak muridnya. Memang jasanya amat besar ketika ia masih kuat, berkat keuletannya dan disiplin keras yang ia jalankan di Siauw-lim-si, maka partai persilatan ini menelurkan banyak murid-murid pandai dan pendekar-pendekar yang terkenal sebagai penumpas kejahatan. Nama Siauw-lim-pai makin harum, disegani kawan ditakuti lawan.

Kini Kian Hi Hosiang sudah terlalu tua, sudah pikun sehingga kerjanya hanya bersamadhi saja. Sementara urusan Siauw-lim-pai diserahkan kepada muridnya yang paling dipercaya, yaitu Cheng Han Hwesio murid pertama dan Cheng Hie Hwesio murid kedua. Cheng Han Hwesio tepat memang menjadi calon ketua karena ia berwatak tekun, jujur, keras hati berdisiplin, dan sebagai seorang hwesio (Pendeta Budha) ia sudah menjauhakan diri daripada urusan duniawi. Adapun Cheng Hie Hwesio, yang usianya juga sudah lima puluh tahun lebih ini biarpun dalam hal disiplin sama dengan Cheng Han Hwesio, namun sikapnya halus dan ramah-tamah. Cheng Hie Hwesio inilah yang terkenal sebagai hwesio pengawas para murid Siauw-lim-pai. Kalau ada seorang murid Siauw-lim-pai melakukan penyelewangan sehingga menodai nama baik Siauw-lim-pai biarpun murid murtad itu berada di tempat sejauh seribu lie, dia takkan dapat terbebas jangkauan tangan besi Cheng Hie Hwesio yang pasti akan datang menangkapnya dan menghukumnya sesuai dengan peraturan persilatan Siauw-lim-pai!

Para tamu disambut oleh hwesio-hwesio Siauw-lim-si dan dipersilakan duduk di ruangan depan yang amat luas. Adapun semua hwesio setelah terdengar bunyi kelenengan keras nyaring, berkumpul di ruangan dalam untuk mulai upacara sembahyangan. Asap hio dan nyala lilin membuat suasana menjadi serem. Di barisan belakang para hwesio nampak pula murid-murid bukan hwesio yang terdiri dari laki-laki dan wanita, semua bersikap gagah bersemangat. Mereka ini adalah murid-murid Siauw-lim-pai bukan pendeta, baik yang masih belajar ilmu silat di kuil besar itu maupun yang sudah bekerja di luar, yang memepergunakan kesempatan itu untuk ikut memberi hormat dan selamat kepada sukong mereka serta ikut melakukan sembahyang. Hanya beberapa orang murid, kesemuanya murid-murid Kian Hi Hosiang, yang diwajibkan melakukan penjagaan dan perondaan disekeliling tembok yang memagari Siauw-lim-si.

Seperti telah diceritakan oleh Yap Kwan Bi kepada Lu Sian, pemuda ini termasuk seorang di antara murid-murid yang ditugaskan menjaga. Dia murid termuda Kian Hi Hosiang, murid tersayang, biarpun usianya masih amat muda. Pada saat di ruangan depan kuil Siauw-lim-si penuh tamu dan di ruangan tengah diadakan upacara sembahyangan, maka di bagian belakang bangunan kuil yang besar dan luas itu sunyi senyap, tak terdapat seorang manusia pun. Akan tetapi pada saat itu, kesunyian bagian belakang kuil itu terganggu oleh berkelebatnya bayang-bayang orang yang gerakannya ringan bagaikan burung. Bayangan ini bukan lain adalah Lu Sian. Dengan mudah saja ia tadi muncul dari tembok bagian selatan. Setelah mendapat "tanda aman"

Dari Yap Kwan Bi yang berjaga disitu, Lu Sian lari melompati tembok selatan dan dengan ringan tubuhnya melayang turun kepekarangan belakang, terus menyelinap dan berindap-indap masuk melalui bangunan-bangunan kecil disebelah belakang Kuil Siauw-lim-si.

Ia menjadi kagum sekali. Baiknya malam tadi, diantara cumbu rayu, ia telah mendapat gambaran dan keterangan yang amat jelas tentang keadaan Siauw-lim-si ini dari Kwan Bi. Andaikata tidak mendapat keterangan yang jelas lebih dulu, kiranya akan sukar baginya untuk mencari tempat yang dimaksudkan yaitu kamar kitab. Bukan main luasnya kuil ini, banyak bangunan-bangunan kecil yang sama bentuknya. Akan tetapi ia telah mendapat keterangan jelas, maka ia mulai menghitung dari kiri kekanan. Bangunan yang ke tujuh belas dari kiri, itulah kamar kitab! Dengan jantung berdebar Lu Sian mendorong daun pintu. Matanya menjadi silau dan kepalanya pening ketika ia lihat deretan kitab diatas rak buku. Bukan main banyaknya. Kitab-kitab tebal dan sebagian sudah hampir lapuk! Bau di kamar itu amat tidak enak, bau kertas membusuk. Namun ia sudah mendapat keterangan pula dideretan mana letak kitab yang ia kehendaki, maka terus saja ia menghampiri rak dan memeriksa di rak paling atas di ujung kiri.

Setelah membuka dua tiga buah kitab wajahnya berseri. Sebuah kitab yang amat kecil, hanya sebesar telapak tangannya, bersampul kuning. Inilah kitab yang ia kehendaki. Kitab pelajaran Im-yang-tiam-hoat, ilmu menotok jalan darah yang amat terkenal dari Siauw-lim-pai! Cepat ia membuka kancing bajunya sehingga tampak baju dalamnya yang berwarna merah muda. Kitab kecil itu ia masukkan di balik baju dalam, menyelinap di antara buah dadanya. Tempat aman! Dikancingkannya lagi baju luarnya dengan hati girang ia berlompatan menuju kebelakang. Matanya bersinar-sinar dan ia berjanji dalam hati akan menghadiahi Yap Kwan Bi dengan cinta mesra sebagai upahnya! Bibirnya sudah bergerak hendak memberi tanda dengan suara mendesis seperti yang sudah mereka janjikan ketika ia melihat bayangan tubuh Yap Kwan Bi di atas tembok. Akan tetapi tiba-tiba berobah wajahnya dan ia cepat menyelinap dibalik sebuah arca penjaga taman.

Post a Comment