Halo!

Suling Emas Chapter 108

Memuat...

"Terima kasih atas kebaikan tuan memberikan kamar tuan kepada saya. Akan tetapi tuan sendiri lalu hendak tidur dimana?"

Laki-laki gendut itu tertawa menyeringai memandang kepada tiga orang kawannya yang juga tertawa gembira. Kemudian dia bangkit berdiri dan melangkah maju mendekati Lu Sian sambil berkata,

"Aiihhh, Nona, mengapa repot-repot? Kamar yang kusewa itu selain bersih, juga cukup lebar sehingga cukup untuk kita berdua. Kalau sudah pulas aku tidak banyak bergerak!"

"Ha-ha-ha-ha! Heh-heh-heh!"

Tiga orang kawannya terpingkal-pingkal.

"Memang tidak banyak bergerak akan tetapi kalau sudah pulas! Ha-ha!"

Si Gendut berkata lagi. Meledak rasanya hati Lu Sian saking marahnya. Pada saat itu muncul seorang pemuda dari kiri, seorang pemuda yang sejak tadi duduk di meja sudut, berpakaian serba kuning. Cepat ia melangkah maju dan menjura kepada Lu Sian sambil berkata,

"Nona, harap jangan melayani mereka. Kau pakailah kamarku, aku dapat tidur bersama dua orang suhengku dikamar belakang..."

Akan tetapi Lu Sian sudah tidak sudi mendengarkan omongan orang lain lagi karena matanya sudah memancarkan cahaya berapi ditujukan kepada si laki-laki gendut. Tiba-tiba tubuhnya bergerak kedepan, sukar diikuti pandang mata saking cepatnya dan...

"plak-plak-plak-plak!"

Muka dan tubuh laki-laki gendut itu dihajar habis-habisan oleh kedua tangan Lu Sian, tanpa sedikit pun memberi kesempatan pada Si Gendut untuk mengelak, membalas, bahkan bernapas. Tubuh Si Gendut itu seperti di sambar petir, tersentak kekanan kiri, kebelakang, terhuyung-huyung dan akhirnya roboh menabrak kursi, kulit mukanya hancur mandi darah, kedua matanya menonjol keluar, hidungnya remuk, telinga kirinya hilang dan napasnya empas-empis mau putus!

"Hayo, mana kawan-kawannya? Maju semua, biar kuhabiskan nyawanya! Bedebah! Keparat bermulut kotor! Hayo kalian bertiga kawannya, bukan? Kalian tadi menertawai aku? Maju semua! Pengecut, anjing bernyali tikus kalian kalau tidak berani maju!"

Lu Sian dengan kemarahan meluap-luap menantang dan memaki.

Pemuda pakaian kuning itu agaknya terkejut menyaksikan sepak terjang Lu Sian yang demikian ganas, juga amat kaget mendapat kenyataan bahwa Lu Sian memiliki kepandaian sehebat itu, terbukti dari gerakan tubuhnya yang ringan tangkas sekali. Si Gendut dan tiga orang kawannya adalah sebangsa buaya darat yang biasa mencari perkara dan mencari keuntungan di tempat-tempat ramai. Tiga orang buaya darat itu melihat kawannya dihajar setengah mati, menjadi kaget dan marah. Tadi mereka hanya melongo karena sedemikian cepatnya Lu Sian bergerak sehingga mereka tak sempat menolong kawan. Kini mereka bangkit serentak dan "sratt-sratt-sratt!"

Tangan mereka telah mencabut golok.

"Awas...! Lari...!!"

Pemuda baju kuning berteriak kaget kepada tiga orang itu. Namun terlambat! Sinar merah mernyambar dari tangan Lu Sian, tidak hanya kearah tiga orang buaya darat itu, akan tetapi juga ada yang menyambar kearah pemuda baju kuning. Pemuda itu dengan gerakan tangkas miringkan tubuh dan tangannya menyambar sebatang jarum Siang-tok-ciam sambil melompat mundur. Akan tetapi tiga orang buaya darat itu sudah terjengkang dan merintih-rintih karena dada mereka sudah tertusuk jarum-jarum berbisa yang dilepas oleh Lu Sian tadi!

"Ah, jarum beracun yang hebat!"

Pamuda baju kuning itu berseru kaget sambil meneliti jarum merah ditangannya. Kemudian ia melangkah maju mendekati Lu Sian, menjura sambil berkata.

"Nona, kumohon dengan hormat sudilah kiranya Nona mengampuni mereka ini dan memberi obat penyembuh racun."

Lu Sian melirik dengan pandang mata dingin.

"Hemm, kau memiliki kepandaian juga!"

Katanya, hatinya panas karena jarumnya dapat ditangkap oleh pemuda itu.

"Apakah kau kawan mereka dan hendak membela mereka?"

Ucapan terakhir ini dikeluarkan dengan nada suara mengancam. Pemuda itu tersenyum dan menggeleng kepalanya.

"Sama sekali bukan, Nona. Sobodoh-bodohnya orang macam Yap Kwan Bi ini, masih belum begitu tersesat untuk bersahabat dengan segala macam buaya darat."

Lu Sian merasa heran sekali mengapa hatinya menjadi lega mendegar bahwa pemuda yang tampan sekali ini bukan sahabat penjahat-penjahat itu. Pemuda ini amat tampan, mukanya halus seperti muka wanita, matanya lebar dan memandang dunia dengan jujur dan berani, senyumnya manis dan dagunya mempunyai belahan yang membayangkan sifat jantan, alisnya seperti golok dan amat hitam.

"Kalau bukan sahabat, mengapa kau mintakan ampun?"

Tanyanya, masih mengagumi wajah yang amat tampan dan benuk tubuh yang tegap dan padat.

"Nona, aku tahu bahwa kau adalah seorang pendekar wanita yang lihai dan orang-orang ini mencari mampus berani mengeluarkan ucapan menghina dan kurang ajar terhadapmu. Akan tetapi, nyawa manusia bukanlah nyawa ayam yang mudah dicabut begitu saja. Pula, dengan melayani segala cacing kecil macam mereka ini, bukankah berarti merendahkan kepandaian sendiri? Mereka sudah cukup mendapat pengajaran, maka sepatutnya kalau mereka diampuni dan diberi obat penawar racun. Alangkah tidak baiknya kalau kota yang tenteram ini dikotori oleh pembunuhan yang disebabkan hal-hal kecil! Aku Yap Kwan Bi yang bodoh mengharapkan kebijaksanaan Nona."

Pemuda itu bicara dengan teratur dan sopan, halus dan mengesankan. Seketika lenyap kemarahan di hati Lu Sian, seperti awan tipis tertiup angin. Ia mencibirkan bibirnya dan pemuda itu memejamkan matanya karena jantungnya sudah jungkir balik didalam dada. Bukan main wanita ini, pikirnya. Belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan wanita secantik ini, dan ketika bibir yang kecil mungil dan merah membasah itu mencibir, memuncaklah daya tariknya sehingga ia hampir jatuh berlutut. Ketika pemuda itu membuka matanya, Lu Sian telah mengeluarkan obat bubuk berwarna kuning, memberikan tiga bungkus kepada tiga orang buaya darat itu sambil berkata,

"Cabut jarum-jarum itu dan bersihkan, lalu berikan kepadaku!"

Tiga orang itu dengan tubuh menggigil menahan sakit membuka baju dan mencabut jarum-jarum yang menancap di dada mereka, dua batang seorang. Setelah membersihkan jarum-jarum itu dengan baju, mereka menyodorkannya kepada Lu Sian yang menerima dan menyimpannya.

"Sekarang minum obat ini seorang sebungkus dengan arak!"

Tergesa-gesa mereka membuka bungkusan obat, meminumnya dengan arak dan seketika rasa gatal-gatal dan panas pada tubuh mereka lenyap. Mereka segera menjatuhkan diri, mengangguk-anggukkan kepala sampai dahi mereka membentur lantai di depan Lu Sian.

"Kalian bertiga tidak lekas pergi membawa teman kalian yang sial ini, apakah menanti hajaran lagi?"

Yap Kwan Bi berseru, muak menyaksikan sikap mereka itu. Tanpa banyak bicara lagi tiga orang itu lalu menyeret tubuh teman mereka yang mukanya dirusak oleh Lu Sian tadi, meninggalkan rumah penginapanKarena semua orang memandangnya dengan mata kagum dan takut, Lu Sian membuang muka dan hendak berjalan keluar meninggalkan tempat itu. Akan tetapi Yap Kwan Bi cepat berkata,

"Nona, aku tidak main-main ketika menawarkan kamarku. Percayalah, tidak ada niat buruk di hatiku. Pakailah kamarku dan aku akan tidur bersama kedua suhengku yang belum datang. Kami bertiga memakai kamar besar."

Tak enak hati Lu Sian untuk menampik terus, memang ia membutuhkan kamar dan pemuda ini amat sopan, amat tampan, amat menarik. Ia segera menjura untuk membalas penghormatan pemuda itu.

"Terima kasih. Kau baik sekali, Saudara Yap. Karena aku harus membalas setiap kebaikan atau keburukan orang terhadapku, maka aku persilakan kau suka menerima undanganku untuk makan dan minum bersamaku sore hari ini."

Yap Kwan Bi adalah seorang pemuda yang belum pernah bergaul dengan wanita. Penawaran ini mendebarkan jantungnya dan membuat kedua pipinya kemerahan. Masa seorang wanita yang datang sendirian mengajak makan minum seorang pemuda? Akan tetapi ia teringat bahwa wanita ini bukanlah gadis sembarangan, melainkan seorang perantauan di dunia kang-ouw, maka hal itu tidaklah amat janggal. Ia cepat-cepat menjura menghaturkan terima kasih.

"Kau baik sekali, Nona. Mari kuantar Nona ke kamar Nona."

Katanya hormat. Lu Sian mengangguk dan memanggil pelayan.

"Pesankan semeja makanan dan minuman untuk dua orang, pilih masakan yang terbaik dan antarkan cepat kekamarku."

"Baik, Li-hiap, baik..."

Pelayan itu mengangguk-angguk dan pergi cepat-cepat untuk melakukan perintah orang. Lu Sian bersama pemuda itu memasuki ruangan dalam, diikuti pandang mata banyak orang yang tadi peristiwa hebat itu. Kamar itu tidak besar, namun cukup bersih. Pemuda itu mengambil bungkusan pakaiannya untuk dipindahkan ke kamar lain dan Lu Sian melihat gagang pedang tersembul keluar dari dalam bungkusan pakaian. Ia tersenyum. Gerak-gerik pemuda ini benar-benar sopan, dan ia demikian tampan, ia demikian tangkas.

"Saudara Yap mari kita duduk bercakap-cakap sambil menanti datangnya hidangan. Silakan."

Mereka duduk menghadapi meja satu-satunya didalam kamar, mulut belum berkata apa-apa, mata sudah saling pandang dan sesaat pandang mata mereka bertaut, sukar dilepaskan lalu muka pemuda itu menjadi merah sekali, ia menjadi bingung dan gugup sehingga Lu Sian tak dapat menahan senyumnya. Melihat seorang pemuda terpesona oleh kecantikannya adalah hal yang lumrah, tidak aneh baginya. Akan tetapi biasanya laki-laki yang terpesona oleh kecantikannya itu memperlihatkan sikap kurang ajar, sedangkan pemuda ini sebaliknya malah menjadi malu-malu dan panik! Ia tahu bahwa kalau ia diamkan saja, pemuda itu akan menjadi makin panik, maka ia segera berkata dengan senyum manis menghias bibir.

"Saudara Yap memiliki kepandaian yang tinggi, sungguh membuat orang kagum sekali."

Pemuda itu tersenyum dan cepat-cepat menjawab.

"Ah, Nona terlalu memuji. Apakah artinya kebodohanku ini dibandingkan dengan kelihaianmu? Justru Nonalah yang membuat semua orang, terutama aku sendiri, menjadi amat kagum."

Pada saat itu pelayan datang mengantar hidangan dan arak yang ia atur di atas meja depan sepasang orang muda itu. Setelah pelayan pergi, Lu Sian menuangkan arak di atas cawan, lalu berkata sambil tersenyum,

Post a Comment